Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Usaha Sera


__ADS_3

Sima menggelengkan kepala berkali-kali. Merasa ngeri jika kejadian yang ada di bayangannya benar-benar terjadi. "Sudahlah. Aku mau membawakan makanan untuk Weni." Ia sendiri menyerah dengan ide konyolnya.



Kota B.



Sera tahu hari ini adalah hari kepulangan Rubby. Hatinya sangat sedih dan tak mau Rubby meninggalkannya. Kalau pria itu pergi, dengan siapa ia akan tinggal? dan dengan siapa pula ia akan bergantung? apa ia harus kembali hidup seorang diri dengan hanya ditemani kesepiannya?



"Aku akan pulang sekarang." Rubby beranjak dari kursinya berniat melanjutkan perjalanannya ke mana pun arah dan tujuannya.



Sera ikut beranjak dari kursi. "Tuan, tunggu!" cegahnya masih berat jika Rubby benar-benar meninggalkannya. Rubby membalikkan tubuh menunggu apa yang akan gadis itu katakan.



"Tuan terlalu baik denganku selama ini. Apa kamu tidak memberiku kesempatan untuk membalas budi?" tanya Sera pelan dan menunduk.



"Tidak." Jawab Rubby cepat dan singkat. Sera mendongak dan menatap wajah datar pria itu. Dengan keberaniannya, ia berlutut di depan Rubby.



"Sebagai balas budiku, tolong terimalah aku jadi muridmu." Mohon Sera. Ia tahu ia pernah memohon hal yang sama pada Rubby yang kala itu tak menggubris permohonannya. Tapi kali ini ia kembali memohon karena tak mau pria itu pergi jauh darinya.



"Aku tidak pernah menerima seorang murid. Aku pamit." Rubby membalikkan tubuh hendak melanjutkan langkah.



"Tuan Rubby!" seru Sera memaksa pria itu kembali menghentikan langkah. Kali ini tak membalikkan tubuh. "Ini bukan hanya untuk membalas budi. Ini juga untukku." Sera berusaha mencegah agar Rubby tak melanjutkan langkahnya.



Rubby masih menyimak tanpa berbalik. "Ini juga demi kebaikanku agar kamu bisa meninggalkanku tanpa perlu khawatir saat aku sudah bisa menjaga diri." Ia berusaha membujuk si datar itu.



"Aku tidak pernah menerima murid. Lagi pula, kamu tidak berpotensi menjadi muridku. Karena kamu tidak akan kuat menjalani kerasnya latihan bela diri." Balas Rubby menohok.



Sera terdiam sejenak. Memikirkan bagaimana lagi cara untuk membujuk pria itu agar mau melantiknya sebagai murid. Hingga matanya tak sengaja melirik pedang yang juga bisa digunakan sebagai tongkat untuk Rubby.


__ADS_1


Sera bangkit dan dengan cepat merebut pedang itu dari tangan Rubby. Ia membuka selongsong pedang dan mengarahkan mata pedang pada Rubby untuk memancing pria itu. Namun Rubby dengan tangkas merebut kembali pedang dan membalikkan serangan. Ia menarik tubuh Sera mendekatnya dan mengarahkan mata pedang hingga hanya berjarak beberapa senti dari leher Sera.



Mata Sera membulat. Ia tidak menyangka Rubby akan membalikkan ancaman. Lebih tidak menyangka lagi dengan posisi mereka saat ini. Sera merasa jantungnya berdegup kencang karena posisi mereka yang sangat dekat seperti ini.



Meskipun bingung harus melakukan apa, tapi diam-diam Sera mengambil kesempatan untuk menatap wajah Rubby yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Jarak wajah mereka semakin dekat ketika Rubby menoleh padanya seperti sengaja mengarahkan kepala lurus dengan wajah Sera.



![](contribute/fiction/6254268/markdown/15512231/1675528292092.jpg)



**Note: Foto hanya ilustrasi**.


Kurang lebih begitu lah. Anggap aja suasananya nggak seromantis itu juga.Tapi posisinya sama kok. Hehehe.



"Lihat bambu itu." Rubby mengarahkan kepalanya pada bambu yang tergeletak di halaman depan penginapan mereka. Sera mengikuti arah kepala Rubby.



"Hancurkan bambu itu dengan tangan kosongmu sebelum matahari terbenam. Kalau matahari terbenam dan kamu masih nggak bisa menghancurkan bambu itu dengan tanganmu, jangan minta aku melantikmu sebagai murid." Pinta Rubby berbalik masuk ke penginapan.




Namun ia beralih pada bambu yang dimaksud oleh Rubby. Sera menahan keterkejutannya melihat bambu yang tampak keras dan sepertinya mustahil bisa dihancurkan olehnya.



Sera menghela napas panjang menguatkan diri. "Baik." Setujunya.



Di dalam kamarnya, Rubby membersihkan pedangnya dengan sapu tangan miliknya, seolah sesuatu yang menjijikan baru saja menyentuh pedang itu.



Matanya kosong dengan pikiran yang sedang tak bersama raganya.



Sera bangkit dan dengan cepat merebut pedang itu dari tangan Rubby. Ia membuka selongsong pedang dan mengarahkan mata pedang pada Rubby untuk memancing pria itu. Namun Rubby dengan tangkas merebut kembali pedang dan membalikkan serangan. Ia menarik tubuh Sera mendekatnya dan mengarahkan mata pedang hingga hanya berjarak beberapa senti dari leher Sera.


Jarak wajah mereka semakin dekat ketika Rubby menoleh padanya seperti sengaja mengarahkan kepala lurus dengan wajah Sera.

__ADS_1




Rubby memikirkan kembali bagaimana gadis itu berani menyentuh pedangnya. Karena selama ini tidak ada yang berani dan berhasil menyentuh pedang sekaligus tongkat penunjuknya itu. Bahkan ia selalu mewanti-wanti adik-adiknya untuk tidak asal bermain menggunakan pedangnya.



Rubby mengarahkan kepala ke arah jendela kamarnya. Ia tahu gadis itu masih ada di halaman yang mengarah langsung dengan jendelanya. Ia tahu gadis itu masih berusaha menghancurkan bambu keras itu dengan tangan kosongnya.



Ia cukup takjub karena gadis itu menerima syaratnya walaupun ia tahu jika dilihat dari tenaga dan kekuatan gadis itu akan mustahil menghancurkan bambu keras itu. Namun meskipun begitu, ia masih menanti suara keluhan dari gadis itu yang tak kunjung didengarnya.



Saat matahari sudah terbenam, Rubby keluar dan duduk di kursi di halaman penginapan untuk mengawasi Sera yang belum menyerah juga.



"*Tekad dan sifat keras kepalanya mirip dengan adik ke-lima*."



Lima menit lagi, matahari akan terbenam. Namun Sera belum juga menghancurkan bambu itu. Ia malah merasa tubuhnya sudah sangat lemah dan tangannya terasa kebas alias mati rasa. Namun ia terus mencobanya untuk membuktikan pada Rubby bahwa ia tidak selemah itu.



Menurut ukurannya jika dilihat dari langit, kira-kira sekitar dua menit lagi matahari akan tenggelam. Sera semakin khawatir. Namun tekadnya juga semakin kuat. Ia melihat langit yang sudah hampir gelap.



Matanya kembali beralih pada bambu yang sudah hampir hancur dan menatap bambu itu tajam dan penuh tekad. Dengan mengumpulkan sisa kekuatannya, ia memukul bambu itu hingga hancur. Untunglah bambu itu hancur. Karena ia telah mengeluarkan kekuatan terkahirnya. Jika bambu itu belum hancur juga, maka tidak ada harapan lagi untuknya.



Sera tersenyum senang dan menatap Rubby yang sedang duduk dan tampak mengawasinya sedari tadi. Ia menghampiri pria itu untuk menunjukkan bukti dan hasil dari perjuangannya.



"Tuan Rubby, aku ... " kalimatnya terpotong saat Rubby tiba-tiba menyodorkan botol kecil padanya. Ia menatap Rubby dengan mengerutkan kening.



"Oleskan obat itu di tanganmu. Lukanya akan segera sembuh." Pinta Rubby singkat. Ia kembali melangkah masuk ke penginapan karena hari sudah mulai petang.



Sera tersenyum lemah menatap pundak Rubby dan botol obat itu bergantian. Ia membuka tutup botol itu dan menghirup aromanya dalam-dalam. Karena setiap obat pasti ada aromanya masing-masing.


__ADS_1


"*Aromanya seperti obat yang pernah ia pakaikan padaku saat pertama kali kami bertemu*."


__ADS_2