Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Keputusan kakak pertama


__ADS_3

Sahut Sima tiba-tiba. Weni memalingkan wajah menghindari tatapan hangat pria itu. "Sesuatu apa?" tanyanya dengan jantung yang berdebar kencang.


Sima kembali menyentuh dagunya dan membuatnya menoleh. "Aku ... itu ... " Sima tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Bilang nggak, ya? takutnya dia marah lagi."


Batin Sima berselisih dengan pikirannya.


"Tuan Sima mau mengatakan apa?" tanya Weni membuyarkan lamunan Sima.


"Ah, itu ... aku cuma mau bilang bahwa kamu ... itu kamu ... " lagi-lagi Sima menghentikan ucapannya.


Weni menahan senyumnya. Ia tidak sabar ingin mendengar apa yang akan dikatakan pria itu padanya.


"Wajah kamu ... " Sima menghela napas sejenak. "Wajah aku kenapa?" tanya Weni semakin tak sabar.


"Ada debu di wajahmu." Sima akhirnya mengatakannya. Weni mengusap-usap wajahnya. Benar saja. Ada debu yang menempel di pipinya. Sepertinya itu karena ia terlalu sibuk dengan masakannya sehingga ia tidak memperhatikan debu yang menempel di pipinya.


"Sini biar ku bantu." Sima menghapus debu itu dari pipi mungil Weni. Weni sempat terbuai dibuatnya. Namun ia dengan cepat kembali tersadar.


Matanya menatap pria itu dengan kesal.


"Kalau mau memberitahuku tinggal bilang aja. Nggak usah dengan nada romantis seperti itu, dong. Kentara sekali kalau pria ini pasti playboy dan bermulut manis."


Batin Weni kesal.


"Makanya jangan terlalu fokus dengan masakanmu." Ledek Sima menahan tawa. Weni berusaha menyembunyikan wajah malunya.


"Jelaslah aku sibuk dengan masakanku. Kalau tidak ... " ia tak melanjutkan ucapannya. "Masakanku." Ia berlari mendekati kompor dan melihat nasib ikannya yang agak mengering bersama minyaknya. "Kamu membuat ikanku gosong." Omelnya.


"Ma ... matikan apinya." Sima jadi sibuk sendiri bersama gadis itu di dapur.


...----------------...


Sehari setelah kembalinya Sima, Rubby memanggil kedua adiknya itu untuk makan bersama sekaligus mengajak mereka berbincang serius.


"Ada apa?" Kiara sampai di meja makan yang telah terisi dua kakak-kakaknya. Ia segera duduk saat kakak pertamanya memberi isyarat.


"Kita sudah berapa lama tinggal di sini. Besok kita akan pulang." Rubby membuka perbincangan langsung tanpa basa-basi.

__ADS_1


Kiara menaruh sendok dan garpu di meja makan sampai berbunyi. "Mana bisa?" ia berdiri dari duduknya dan mengangkat suara tanpa sadar.


Sima menarik tangannya untuk duduk kembali dan mengisyaratkannya untuk tidak membantah keputusan Rubby.


Kiara menutup mulutnya. "Maaf, kakak pertama. Tapi ... bukankah ini terlalu terburu-buru? kakak ke-empat baru saja kembali dari perjalanannya. Apa kita nggak membiarkan dia beristirahat lebih lama dulu?" Kiara mencoba bernegosiasi.


"Kiara, aku tidak selemah itu. Aku kan sudah biasa melakukan perjalanan panjang. Tidak perlu beristirahat lebih lama. Sudah cukup sehari aku beristirahat." Sima membanggakan dirinya tanpa sadar. Kiara melayangkan tatapan tajam untuknya dan memberinya kode untuk diam.


Sima segera sadar bahwa adiknya itu sedang mencoba mengubah keputusan kakak pertamanya.


"Besok kita akan pulang. Sudah ku putuskan!" Rubby memberi tekanan pertanda keputusannya tak lagi bisa dibantah.


"Tapi ... "


"Tidak ada tapi-tapi. Lagi pula, apa yang kamu dapatkan selama berada di sini? kamu hanya selalu terluka." Rubby memotong ucapan Kiara.


"Tapi masih ada misi yang harus aku selesaikan." Kiara mencoba membantah. "Kamu sepeduli itu dengan mereka dan misi. Mereka sama sekali tidak peduli dan tidak membutuhkanmu, adik ke-lima." Rubby merasa harus menyadarkan adik keras kepalanya itu.


"Kamu sepeduli itu pada mereka dan apa yang kamu dapatkan? apa mereka pernah melakukan sesuatu untukmu. Mereka sama sekali tidak peduli denganmu." Lanjut Rubby masih dengan wajah datar dan intonasi dingin yang selalu menemaninya.


"Mm, kakak pertama, kami akan menurut. Kami tidak akan membantah lagi." Sambung Sima menutup mulut Kiara cepat-cepat saat gadis itu sudah siap membantah.


"Pikirkan baik-baik ucapanku. Jangan hanya peduli pada orang lain yang bahkan tidak pernah memikirkanmu." Rubby meletakkan peralatan makannya di meja dan bergegas dari kursinya.


"Aku duluan. Adik ke-lima lanjutkan makannya." Sima ikut beranjak dari kursinya meninggalkan Kiara seorang diri di meja makan dengan tatapan kosongnya.


"Kamu sepeduli itu pada mereka dan apa yang kamu dapatkan? apa mereka pernah melakukan sesuatu untukmu. Mereka sama sekali tidak peduli denganmu."


"Pikirkan baik-baik ucapanku. Jangan hanya peduli pada orang lain yang bahkan tidak pernah memikirkanmu."


Ucapan kakak pertamanya sangat menusuk ke hati dan membawa Kiara pada kenyataan. Pikirannya tertuju pada tempo hari.



"*Hansa akan berusaha menjaga rahasia itu dengan baik, Tuan. Tapi ... berapa lama kita berniat menyembunyikan rahasia itu dari Kiara? kalau dia tau, dia pasti akan kecewa*."



"*Itu sebabnya aku nggak mau dia tau. Membayangkan saat aku harus mengeksekusi kakak ke-tiganya terus membuatku merasa bersalah. Karena pada saat aku mengeksekusinya, aku jelas-jelas tau bahwa dia difitnah. Kejadian saat itu, sama sekali bukan salahnya*."

__ADS_1



"*Hansa masih berpikir, kalau Kiara tau kakak ke-tiganya meninggal karena difitnah, Hansa tidak dapat membayangkan sekecewa apa dia*."



Kakak pertamanya benar. Ia tidak harus terlalu peduli pada mereka yang tidak peduli padanya. Apalagi jika hatinya harus mencintai seseorang yang tidak pernah mencintainya. Yang lebih parahnya, seseorang yang selalu ia percaya itu bahkan mengatakan hal yang tidak pernah ia sangka keluar dari mulut orang itu.



"*Nona Kiara jangan salahkan saya. Saya pernah memperingatkan dan mengatakannya beberapa kali." Sahutnya.



"Mengatakan apa?" Kiara mengerutkan kening. Berharap balasan selanjutnya dari pria itu tidak begitu menyakitkan.



"Mengatakan bahwa saya tidak suka kamu berada di sini*."



Kiara menghapus air matanya yang nyaris terjatuh. Besok ia harus menyelesaikan apa yang harus ia lakukan.


...----------------...


"Aku hanya mau bilang kalau besok aku akan pulang." Ujar Sima pada gadis yang selalu ia temui.


"Pulang? pulang ke mana?" tanya Weni mengerutkan kening.


"Pulang ke tempatku di kota C." Jelas Sima.


"Kota C? aku tidak pernah pergi ke sana. Aku penasaran sekali dengan tempat itu. Kata orang, tempat itu sangat indah." Bola mata Weni berbinar membayangkan tempat itu.


Sima mengangguk membenarkan. "Tapi, kota C jaraknya jauh dari sini. Bukan seperti kota B yang tidak terlalu jauh dari kota ini."


"Apa kamu akan kembali ke sini? setidaknya hanya untuk berkunjung." Tanya Weni. Sima mengedikkan bahu. "Aku tidak tau apa akan punya kesempatan untuk berkunjung ke sini atau tidak. Tapi percayal, aku adalah orang yang suka berkelana dan berpetualang."


Weni menoleh. "Kamu boleh pulang. Tapi harus berjanji satu hal padaku." Ucapnya tiba-tiba. Sima menoleh menatap gadis itu penasaran.

__ADS_1


"Apa?" tanyanya. Weni menghela napas sebelum mengucapkan keinginannya. "Kalau ada waktu, ajaklah aku ke sana. Aku selalu memimpikan tempat itu." Usulnya.


Sima terdiam sejenak dengan mata yang masih menatap Weni lekat. Ia kemudian mengangguk. "Aku janji."


__ADS_2