Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Masa lalu Hyra


__ADS_3

Hyra membulatkan mata terkejut. Ia sudah sangat berhati-hati agar langkahnya tidak terdengar oleh Menteri Waze. Kini kedua mata mereka bertemu. Kakinya seakan mati rasa yang bahkan menyebabkannya tak mampu bergerak apa lagi menjauh dari sana.


Ia melihat Menteri Waze berjalan mendekatinya. Gemetar di tubuhnya makin hebat. Pakaiannya sudah basah oleh keringat. "Tuan Putri, kenapa kamu di sini?" tanya suara mengerikan itu.


Hyra tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya menggeleng pelan, tak bisa memberikan alasan mengapa dirinya ada di sana. Air matanya bahkan sudah mengalir deras bercampur dengan keringatnya.


Menteri Waze tersenyum dengan seringai seram. didukung dengan suasana malam yang gelap gulita membuat siapa pun yang melihatnya akan bergidik ngeri.


"Urus dia!" pinta Menteri Waze pada si jubah hitam di sebelahnya. Si jubah hitam maju dan membekap mulut Hyra dengan tangannya hingga gadis kecil itu terkulai lemas tak sadarkan diri. Ia membopong tubuh gadis itu dan berjalan waspada agar tidak ada yang memergoki mereka.


Menteri Waze memerintahkan si jubah hitam memasuki racun ringan yang hanya dapat membuat Hyra pingsan agar gadis itu tidak membocorkan rencananya pada Kaisar. Ia tidak peduli gadis kecil itu akan membocorkan kebusukannya pada Kaisar saat sadar nanti. Toh, ia sama sekali tidak takut pada penguasa Kerajaan itu.


Tunggu sampai ia mendapatkan keinginannya dan waktunya tepat baru ia akan memberontak dan merebut tahta yang seharusnya menjadi miliknya. Menurutnya. Padahal dilihat dari silsilah keluarganya, ia sama sekali bukan dari keluarga kerajaan.


"Tinggalkan dia di tempat semula." Pintanya pada si jubah hitam yang langsung meletakkan tubuh Hyra di tanah begitu saja. Ia langsung menyuruh si jubah hitam enyah agar tidak ketahuan oleh Kaisar.


Setelahnya, ia kembali ke Paviliun tempatnya dan Kaisar bermain catur sambil berbincang-bincang tadi. Ia beralasan pada Kaisar bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan sehingga ia bisa ada di sini sekarang.


"Yang Mulia Kaisar, kenapa Tuan Putri Hyra dibiarkan bermain di malam hari begini?" Menteri Waze basa-basi.


Kaisar mengerutkan kening. "Aku tidak membiarkannya bermain. Aku menyuruhnya langsung istirahat di kamarnya." Bantahnya.


"Oh ya? tapi tadi saya lihat Tuan Putri Hyra tampak sedang bermain bersama Utusan Tama." Menteri Waze berakting.


"Utusan Tama? kenapa utusan Tama meladeni Tuan Putri bermain semalam ini?" Kaisar mengerutkan kening.


"Saya khawatir mereka masih main selarut ini." Menteri Waze mengerutkan kening risau. Ia memang pandai dalam berakting.

__ADS_1


"Tidak mungkin Utusan Tama masih meladeninya bermain." Kaisar percaya dengan utusan terpercayanya itu.


"Mungkin. Tapi bagaimana pun menurut saya, kita tetap harus mengecek, Yang Mulia." Menteri Waze masih berusaha mempengaruhinya.


Kaisar mengangguk setuju. Ia beranjak dari duduknya ditemani beberapa pelayan dan para Pemgawal di belakangnya, serta Menteri Waze di sampingnya.


Mereka langsung menuju ke area yang dimaksud Menteri Waze. Kaisar menghentikan langkah ketika melihat putrinya terbaring tak sadarkan diri dengan Tama yang memangku kepalanya.


"Hyra!" serunya menghampiri dan meraih putrinya dengan cepat. "Cepat panggilkan Tabib!" pintanya histeris. Para pelayan dan Pengawal tergesa-gesa memanggil Tabib Kerajaan dan mengarahkannya ke kamar Tuan Putri Hyra.


Kaisar mengusap tangan putrinya khawatir dengan kondisi putrinya yang tak kunjung sadarkan diri.


"Yang Mulia, kondisi Tuan Putri sangat parah. Saya takut dia ... " Tabib tak berani melanjutkan kalimatnya.


"Dia kenapa? apa yang akan terjadi dengan Tuan Putri?" desak Kaisar.


"Saya takut dia bisa sadar atau tidak itu tergantung padanya sendiri. Saya takut tidak bisa membantu banyak." Ujar Tabib putus asa.


'Brak'


Ia menendang kotak berisi peralatan obat-obatan Tabib. "Kenapa tidak bisa? kamu tidak berguna! bukannya kamu adalah Tabib paling berpengalaman?" teriaknya.


Sang Tabib sontak berlutut menghadapi amarah Kaisar. "Yang Mulia, tolong tenang. Saya bisa menyembuhkan racun di dalam tubuhnya. Tapi saya tidak tau kapan Tuan Putri akan sadar." Jelasnya gemetaran.


"Racun? racun apa? jawab sejujurnya!" pinta Kaisar terkejut.


"Yang Mulia, Tuan Putri ... Tuan Putri terkena racun." Lapor Tabib terbata. "Tapi beruntungnya racun yang menyerangnya adalah racun ringan. Jadi saya bisa menghilangkan racun di dalam tubuhnya, Yang Mulia. Hanya saja saya tidak tau kapan Tuan Putri akan sadar."

__ADS_1


Kaisar sangat menyayangi Putri Hyra. Itu sebabnya Tabib takut beliau tidak sabaran menunggu putri satu-satunya sadarkan diri. Keadaan seperti ini tidak pernah ia biarkan terjadi pada Putri Hyra. Ia sangat menjaga putrinya agar tidak terluka. Bahkan semut pun tidak boleh menggigitnya.


"Bagaimana mungkin bisa ada racun di dalam tubuhnya?" wajar saja Kaisar terkejut. Seingat dia, Hyra tidak pernah makan makanan yang tidak sehat apa lagi yang mengandung racun.


Tabib tampak ragu ingin menjawab. "Saya pikir, ada yang sengaja meracuni Tuan Putri." Duganya. Matanya melirik Menteri Waze dan memberikan kode. Rupanya ia sudah menerima suapan dari Menteri Waze dan bekerja sama dengan pria itu.


Kaisar mengerutkan kening. "Siapa? siapa yang berani meracuni Tuan Putri?" teriaknya memaksa pelakunya mengaku.


"Yang Mulia, sebaiknya kita membahasnya di luar saja. Tuan Putri harus istirahat." Saran Menteri Waze.


Kaisar sadar akan tingkahnya. Ia mengecup kening Hyra singkat dan berjalan keluar menuju singgasananya. Kaisar duduk di singgasana dengan wajah mengkerut. "Siapa yang berani melakukan tindakan jahat pada Tuan Putri?" tanyanya tak sabaran.


"Yang Mulia, saya curiga dengan seseorang." Menteri Waze maju dan memulai aktingnya.


"Siapa yang kamu curigai?" tanya Kaisar. Menteri Waze melirik Tama yang berdiri di sampingnya. "Saya melihat Tuan Putri bermain dengan Utusan Tama saat Tuan Putri masih sehat-sehat saja. Setelahnya, saya tidak tau lagi apa yang terjadi." Lapornya.


Tama melirik dan mengernyit. Ia tahu Menteri Waze pasti akan mengarang cerita dan menuduhnya macam-macam. "Yang Mulia, saya memang bermain dengan Tuan Putri. Tapi saya bisa menjamin kalau saya tidak melakukan apa pun yang dapat membahayakan nyawa Tuan Putri." Ia membantah tuduhan Menteri Waze.


"Oh ya? kalau bukan kau, siapa yang melakukannya? sepanjang malam ini kan dia bersamamu." Menteri Waze balik membantah.


"Yang Mulia, tolong percaya saya. Kalau saya yang meracuni Tuan Putri, saya pasti tidak berusaha menyadarkannya dari pingsan saat Yang Mulia datang tadi." Tama membela dirinya dengan berusaha tetap tenang.


"Bisa saja karena kamu tidak mau kabur, karena takut akan menjadi tersangka. Jadi kamu hanya pura-pura panik dan menyadarkan Tuan Putri supaya Yang Mulia tidak mencurigaimu." Menteri Waze terus memojokkannya.


"Diam!" pinta Kaisar marah. "Tama, kalau bukan kamu pelakunya, kenapa kamu tidak menuruti perintahku untuk langsung membawa Tuan Putri ke kamarnya, melainkan mengajaknya bermain di malam hari begini?" Kaisar melontarkan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Tama. Ia tidak punya bukti yang kuat untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.


"Kalian semua keluar! Menteri Waze pergilah! aku yang akan mengurus Utusan Tama." Titah Kaisar. Menteri Waze membungkuk dan pamit.

__ADS_1


"Sayang tidak bisa melihat pertunjukannya secara langsung." Batinnya.


"Apa yang kau lakukan, Tama?" suara Kaisar menggelegar di seantaro ruangan."


__ADS_2