
"Aku ... sudah mengantuk. Aku duluan, ya." Sima mencekal tangan Weni dan membuat gadis itu kembali menghadapnya. Weni menunduk dengan mata melihat ke mana-mana. Melihat apa pun. Asal jangan pria di hadapannya.
"Weni, kamu belum menjawabku." Sima menahan tangan Weni agar tidak pergi sebelum menjawab perasaannya.
"Aku benar-benar mengantuk." Sahut Weni pelan tanpa menatap Sima. Sima menghela napas sejenak dan kembali menatap Weni.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kamu menjawabku." Syarat Sima membuat Weni jadi serba salah.
Belum sempat Weni menstabilkan jantungnya, Sima menyentuh dagunya dan membuatnya mendongak menatap pria itu.
"Jawab iya atau tidak." Pinta Sima dengan nada lembut namun penuh penekanan.
Weni terpaksa menatap mata Sima. Kini, ia tenggelam dalam kedua bola mata Sima yang bersinar sempurna menatap sepasang matanya.
Belum pernah sebelumnya, Weni melihat wajah serius Sima seperti saat ini. Ia mengakui, dengan tampang serius begini, ketampanan Sima semakin bertambah. Ya, walaupun ia memang selalu tampan, sih. Tapi kali ini ketampanannya lebih berkali-kali lipat.
Sima menaikkan sebelah alisnya menuntut jawabannya. Weni semakin salah tingkah. Ia bingung harus menjawab iya atau tidak. Karena gadis itu belum pernah menjalin hubungan spesial dengan siapa pun.
"Aku masih menunggu, loh. Aku siap menunggu di sini sampai hari esok atau sampai kapan pun selama kamu belum menjawabku." Ucap Sima.
Weni tersenyum bertahap. Dari tipis sampai lebar sekali. Perlahan, kepalanya mengangguk.
Sima mengerutkan kening. Bingung apakah anggukan kepala itu merupakan jawaban untuk perasaannya atau apa. "Kamu ... terima, nggak?" tanya Sima tak sabar.
Weni menatap ke bawah dan berbisik pelan hingga Sima tak bisa mendengar apa yang diucapkannya. Ya, ia mendengarnya samar-samar, sih. Tapi ia ingin memastikan apa yang dikatakan oleh gadis itu. "Kamu bilang apa?" tanya Sima tak yakin.
Weni mendongak dan menatap Sima dengan senyum mengembang di bibirnya. "Aku bilang iya. Aku juga mencintaimu." Jawabnya sedikit berteriak.
__ADS_1
Sima mengorek telinganya hingga membuat Weni khawatir kalau pria itu mengorek telinga karena teriakannya tadi. "Aku teriaknya terlalu kencang, ya?" Weni memeriksa telinga Sima.
"Bukan itu. Justru aku kurang mendengarnya dengan jelas. Tadi kamu bilang apa?" goda Sima. Weni sontak memukul lengannya pelan.
"Aku bilang iya, aku juga mencintaimu, Sima Fayes." Kali ini teriakannya lebih kencang untuk memastikan pria itu mendengarnya dengan jelas.
"Apa?" Sima mendekatkan telinganya kembali menggoda Weni. Weni mengerucutkan bibir kesal.
"Kalau kamu masih begitu, aku tarik kembali sajalah jawabanku." Cemberutnya berbalik dan berpura-pura akan pergi.
Sima dengan cepat mencegah dengan memeluk tubuhnya dari belakang. "Iya, aku mendengarnya. Terima kasih, Weni. Aku janji tidak akan mengecewakanmu dan akan selalu menjagamu." Sima berucap dan mengecup pipi Weni singkat.
Weni tersenyum senang dan membalikkan tubuhnya menghadap Sima untuk memeluk tubuh pria itu.
Di bawah gelapnya malam yang dihiasi bintang-bintang, kedua insan yang baru saja menjelma menjadi sepasang kekasih itu berpelukan merayakan hari bahagia mereka dengan ditemani bulan yang menyorotkan sinarnya ke arah mereka dan menjadikan mereka bak sepasang penari.
Pagi ini, mereka memutuskan untuk sarapan tepat waktu. Biasanya memang selalu begitu. Tapi ada saja yang lebih suka makan terlambat. Biasanya yang makan paling terakhir demi menghindari keramaian, sering kehabisan makanan.
Namun kali ini, mereka berkumpul untuk sarapan bersama. Termasuk Weni. Meski statusnya tidak sama dengan mereka, namun ia selalu diajak makan bersama karena mereka tidak membeda-bedakan status.
"Aku sudah selesai. Aku izin duluan, ya." Sima bangkit dari kursi dan hendak melangkah meninggalkan meja makan dan para penghuninya yang duduk mengitari meja makan itu.
Weni mendongak dan menahan tangan Sima. "Mau ke mana?" tanyanya. Sima menoleh dan tersenyum manis padanya. "Aku ada urusan sebentar. Aku duluan, ya." Jawabnya super lembut. Ia melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Aku ikut." Weni bangkit dan berlari kecil menyul Sima yang berjalan di depannya. Meninggalkan piringnya yang masih berisi lauk-pauk dan separuh nasi yang belum ia habiskan.
Kiara dan yang lainnya saling menatap bergantian. Namun Kiara kembali melanjutkan makannya dengan acuh.
__ADS_1
"Apa mereka jadian?" tanya Sima pada Kiara yang hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
Sekali pun kakak ke-empat dan Weni memang berpacaran, ia sendiri tidak akan kaget. Karena dari awal ia tahu bahwa kakaknya itu memang menyimpan rasa pada Weni begitu pun sebaliknya.
Ia melanjutkan makannya meski ia dapat melihat lewat ekor matanya bahwa Hansa yang duduk di samping Bari sedari tadi menatapnya. Namun Kiara menyikapinya dengan cuek dan berusaha tidak peduli.
Setelah beberapa saat, Kiara yang telah menandaskan sarapannya bangkit dari kursinya. "Aku juga izin duluan, ya." Pamitnya dan melangkah ke arah yang sama dengan Weni dan kakak ke-empatnya tadi.
Ia sungguh penasaran dengan apa yang terjadi pada kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu. Oleh karena itu, Kiara harus memastikan sendiri kecurigaannya tentang hubungan Weni dan kakak ke-empatnya. Meski ia yakin bahwa mereka memang menjalin hubungan spesial. Tapi ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Lebih tepatnya, ia akan menyaksikan dengan matanya.
Kiara berkacak pinggang. Ia kesal sendiri jadinya. Karena sedari tadi ia telah beberapa kali berputar-putar mengelilingi Kantor Pengadilan untuk mencari keberadaan Weni dan kakak ke-empatnya. Namun ia sama sekali tak menemukan keberadaan mereka.
Matanya membulat seketika. "Jangan-jangan kakak ke-empat membawa Weni keluar." Duganya. "Tidak salah lagi. Dasar kakak ke-empat." Ia yakin bahwa pikirannya tidak salah. Kakak ke-empatnya pasti sedang melakukan kencan pertama mereka.
"Lagi ngapain di sini?" tanya sebuah suara dari belakang. Kiara berbalik untuk melihat orang itu. Benar saja, ia memutar bola matanya kesal. Giliran ia sedang mati-matian menghindar dari pria itu, ia malah berpapasan dengannya di mana pun ia berada.
Kiara melanjutkan langkahnya berniat tak menghiraukan Hansa. Namun, Hansa mencekal tangannya.
"Kamu masih marah padaku? apa karena saya tak menjawab pernyataan cintamu?" tanya Hansa menatap dalam kedua bola mata Kiara.
Kiara melirik tangannya dan melepaskannya dari genggaman Hansa. "Kamu mau ngomong apa? langsung ngomong aja. Aku benar-benar tidak ada waktu untuk berbicara denganmu." Kiara mempersilahkan Hansa untuk berbicara. Penasaran juga sebenarnya tentang apa yang akan dikatakan oleh pria itu.
Namun, Hansa kembali terdiam tak mengatakan apa-apa. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu untuk mengucapkannya.
Kiara memutar bola mata jengah. "Sudahlah. Sudah ku duga juga. kamu memang selalu seperti ini." Ia hendak kembali melanjutkan langkahnya.
Namun langkahnya terhenti saat Hansa akhirnya mengucapkan kalimat yang berhasil membuatnya mematung.
__ADS_1
"Kiara, saya cuman mau bilang, hanya karena saya tidak menjawab pernyataan cintamu bukan berarti aku menolaknya."