
"Kamu tidak tau siapa aku?" tanya pria itu. Ia melepas masker penutup wajahnya.
Kiara mematung. "Kamu ... " ucapnya tertahan. Ia melihat wajah pria itu lebih dekat. "Kakak pertama?" kagetnya. Ia memeluk Rubby dengan perasaan gembira seperti sedang melepas rindu.
"Kakak ada di sini? aku senang banget ... ." Kiara melompat-lompat girang saking senangnya. Ia memutar tubuh Rubby ke kanan dan ke kiri. "Udah delapan tahun nggak ketemu, kakak sama sekali nggak berubah."
Rubby menjentik adik seperguruan sekaligus adik sumpahnya itu. "Gadis bodoh. Berapa lama kamu meninggalkan kakak-kakakmu?"
Kiara tersenyum manja. "Iya aku salah. Dulu aku mau cari kakak ke-dua dan kakak ke-tiga. Nggak disangka, aku yang saat itu masih kecil dan baru pertama kali keluar dari permukiman kita, malah tersesat dan nggak tau jalan pulang." Ia mengaku salah.
"Tapi saat kamu bernjak dewasa, nggak mungkin kamu masih nggak tau kan, di mana permukiman kita?" timpal Rubby masih tak menerima jawaban adik manjanya itu.
"Iih kakak. Ini juga salah kalian. Saat aku beranjak dewasa, aku memang pernah sekali berkunjung ke permukiman kita. Tapi kalian udah nggak tinggal di sana. Ke mana kalian pergi sebenarnya?" protesnya.
"Bodoh. Kami pergi mencarimu lah." Jawab Rubby. Kiara tertawa kecil. "Iya deh. Makasih karena telah berjuang mencariku ke mana-mana." Ia kembali memeluk kakak pertamanya itu erat.
"Ngomong-ngomong, kenapa kakak bisa tau kalau aku ada di sini? dan ... kakak ke-empat mana?" tanya Kiara.
"Aku kebetulan tau kalau kamu ada di sini. Karena aku tau kalau kamu adalah murid dari Menteri Waze dan tau kalau kamu sedang menetap di Kantor Pengadilan berdasarkan rumor yang beredar. Jadi, aku pergi mencarimu ke kota A. Tapi kamu nggak ada. Lalu aku lanjut mencarimu ke kota B." Jelas Rubby.
"Soal kakak ke-empatmu, dia berpencar denganku untuk mencarimu. Nggak tau sekarang dia ada di mana." Lanjutnya menjelaskan.
Kiara menunduk sedih. "Aku ... se merepotkan itu, ya? aku minta maaf banget ... ." Ia kembali diselimuti rasa bersalah.
Rubby tersenyum dan mengusap pipi Kiara untuk menenangkan adiknya itu. "Gadis bodoh. Kamu nggak merepotkan kok. Kami juga salah. Kami nggak menjagamu dengan baik. Padahal, sebelum meninggal, mendiang Guru berpesan pada kami untuk selalu menjagamu." Tulusnya yang semakin mengundang kesedihan.
"Mm ... kakak ... ." Kiara merengek dan kembali memeluk kakak pertamanya seolah tak mau kembali berpisah.
Rubby mengusap punggung adik ke-limanya menenangkan.
Hansa tiba-tiba datang dan menodongkan pedang ke arah Rubby. "Siapa kamu?" todongnya.
Rubby melepas pelukan Kiara dan beralih pada Hansa. "Pendekar Hansa, benar dugaanku kalau kau juga ada di sini." Sapanya.
Hansa reflek menurunkan pedangnya. Ia menangkup kedua tangan dan sedikit membungkuk. "Pendekar kedua, Rubby Fayes. Benar dugaanku kalau kau ke sini untuk mencari Kiara."
"Pendekar Hansa, tidak tau kapan kita akan bertemu lagi." Rubby bersiap pamit.
"Panggil Hansa saja." Pinta Hansa mencoba ramah.
__ADS_1
"Baik, Saudara Hansa, saya dan Kiara pamit sekarang. Kapan-kapan baru kita bicara santai." Pamitnya. "Adik ke-lima, ayo pulang!" ia menarik tangan Kiara untuk mengajak gadis itu pulang.
Kiara melirik Hansa yang juga menatapnya. "Eh, tunggu!" ia menghentikan kakak pertamanya itu. "Kakak pertama, aku sedang menjalankan misi.
Kasih aku waktu beberapa hari lagi, ya. Aku nggak mungkin meninggalkan Tuan Hansa menjalankan misi seorang diri." Izin Kiara.
"Adik ke-lima, tolong jangan berulah lagi. Ikut aku dan pulang sekarang!" ia kembali menarik tangan Kiara.
Kiara melepas tangannya. "Kakak pertama! setidaknya kita ke kota A dulu. Aku belum pamitan sama Master Nick dan Menteri Waze. Aku nggak bisa hilang begitu saja." Protesnya.
"Kiara, ikuti saja perintah kakakmu." Sambung Hansa yang sedari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan kakak-beradik itu.
Kiara cemberut dan mendekati Hansa. "Tuan Hansa, kamu bukannya mendukungku." Omelnya.
"Saya ... " Hansa jadi bingung Hansa sendiri.
"Kakak pertama, bagaimana pun kakak ke-empat kan belum ketemu. Kita juga harus mencarinya dulu." Kiara menemukan alasan.
Rubby menghela napas panjang dan tampak terdiam. "Kalau begitu, besok kita berangkat ke kota A. Hari ini istitahat dulu. Jangan membantah lagi." Ia melangkah duluan.
Kiara tersenyum lebar. Ia berlari kecil menyusul kakak pertamanya. "Kakak pertamaku memang yang terbaik." Girangnya.
Hansa tersenyum lega.
Ia menyusul di belakang.
...----------------...
Sera berjalan tanpa arah. Ia sendiri tidak tau di mana lokasi tokonya. Lagi pula, tempo hari tokonya juga sudah diacak-acak oleh komplotan perampok yang menindasnya. Ia tak lagi berniat untuk kembali ke tokonya.
Sera berjalan di tengah gelapnya malam. Ia telah berjalan seharian. Sera mengusap-usap bahunya yang terasa dingin akibat dinginnya malam.
Bibirnya tertaut membentuk senyuman kecil. Ia mengingat kenangan terindahnya yang seumur hidup takkan ia lupakan.
"*Nona Sera, mari makan! aku telah membeli beberapa makanan untuk dimakan." Seru Rubby*.
*Sera yang sedari tadi hanya duduk berjauhan sambil memperhatikan Rubby dalam diam mengusap perutnya yang keroncongan*.
__ADS_1
*Ia berjalan ke arah meja yang telah diisi oleh beberapa lauk-pauk. Ia mendudukkan diri di kursi di samping Rubby*.
*Rubby memutar wajahnya ke arah kursi yang diduduki oleh Sera. Ia mendengar bunyi rapuh dari kursi tersebut. "Hati-hati." Benar saja. Setelah mengeluarkan kata peringatan itu, kursi yang diduduki oleh Sera hancur dan menyebabkan gadis itu akan jatuh ke tanah*.
*Rubby menahan tubuh Sera yang akan jatuh ke tanah. Akhirnya, keduanya sama-sama jatuh dengan posisi tangan Rubby yang menahan punggung Sera agar tidak menghantam tanah*.
*Sera tampak meringis. "Nona Sera, kamu tidak apa-apa?" tanya Rubby menyadarkan Sera dan membuat gadis itu terbengong. Ia mematung menatap wajah pria itu*.
*Rubby membantu gadis itu berdiri. Tak mau gadis itu terbengong menatapnya lama*.
*Sera mendongak menatap Rubby malu. Bagaimana dirinya bisa terlihat begitu memalukan*?
*Ia pun bingung apakah harus berterima kasih atau meminta maaf pada pria itu. "Mm, aku ... " ucapnya tertahan*.
"*Nona Sera, silahkan duduk di kursiku saja." Pintanya. Sera mengerutkan kening menatap kursi yang tadi diduduki oleh Rubby*.
"*Lalu kamu?" tanyanya tak enak jika membiarkan pria itu berdiri demi dirinya*.
"*Aku tidak makan. Aku juga sudah kenyang. Nona Sera silahkan menikmati makanannya." Jawabnya dan melangkah masuk ke kamarnya*.
"*Eh, tapi ... " Sera menatap punggung pria itu. Bibirnya perlahan membentuk sebuah senyuman. Sudah lama sejak kecil, ia tidak pernah tersenyum setulus dan sebahagia itu*.
Sera menangkup tangan di dada kala mengenang momen dirinya bersama Rubby. Pria yang selalu hadir untuk menyelamatkannya.
__ADS_1
Sekarang, ia terpaksa harus berjalan sendiri lagi.
"Entah kapan aku akan bertemu lagi dengannya." Gumamnya.