Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kencan?


__ADS_3

"Tu ... Tuan?"


"Jika sudah baikan, silahkan pergi." Pinta Rubby acuh. Ia melangkah melewati Sera yang masih berdiri mematung.


"Tu ... Tuan!" Ia reflek berhenti saat gadis itu kembali memanggilnya. Sera membalikkan tubuh dan kembali menatap wajah Rubby.


"Ternyata kamu. Orang yang lagi-lagi menyelamatkanku." Batinnya.


Rubby mengerutkan kening menunggu Sera yang tak kunjung bersuara. "Kalau tak ada yang mau Nona katakan, saya permisi." Pamitnya kembali membalikkan tubuh hendak pergi dari taman itu.


"Tuan, tunggu!"


Rubby kembali berbalik. Sera yang merasakan gejolak kegembiraan di hatinya berlari dan reflek memeluk Rubby tanpa sadar.


"Sykurlah, aku bertemu denganmu lagi." Rubby yang terkejut hanya menepuk pundak Sera dua kali. Mencoba menyadarkan gadis itu.


Sera yang tersadar, dengan cepat melepas pelukannya. Ia menunduk malu. "Ma ... maaf. Sera nggak bermaksud ... " ia jadi salah tingkah sendiri.


"Kalau tidak ada yang ingin Nona katakan lagi, aku permisi." Rubby kembali mencoba menjauh dari Sera. Namun, Sera segera menahan tangannya.


"Apa kamu yang menyelamatkanku? " tanya Sera gugup. "Bukan aku. Lebih tepatnya, Kantor Pengadilan yang bersedia menyediakan kamar untukmu." Jawab Rubby tanpa berbalik.


Sera menurunkan tangannya dari lengan Rubby. "Sebelumnya ... Sera tidak tau kalau namamu adalah Rubby. Dan lebih tidak tau lagi kalau ternyata ... kamu adalah seorang Pendekar." Akunya dengan kepala menunduk dan suara lembutnya.


"Sera minta maaf atas minimnya pengetahuanku." Ia membungkuk sopan. "Sekali lagi, Sera berterima kasih banyak." Ucapnya menatap Rubby yang membelakanginya.


"Berterima kasihlah pada Kantor Pengadilan.


Mereka yang membantumu kali ini." Balas Rubby dingin.


"Sera tau. Tapi bagaimana pun juga, Sera harus tetap berterima kasih padamu. Karena, kamu sudah berkali-kali menolongku." Sahut Sera.


"Saya permisi, Nona. Kalau sudah baikan, sebaiknya Nona pulang saja." Rubby melangkah pergi tanpa menghiraukan ucapan terima kasih Sera.


...----------------...


Kiara duduk menyendiri di depan kamarnya sembari memeluk lutut. Ia melihat Hansa yang tampak sedang berbincang dengan Bari tak jauh dari kamarnya.


"Panggil nggak, ya?" pikirnya.

__ADS_1


Ia menghela napas sejenak. "Tuan Hansa!" serunya setelah dua hari tak menegur pria itu.


Hansa menyuruh Bari pergi menjalankan tugasnya. Sementara ia berjalan menghampiri Kiara yang memanggilnya.


"Nona Kiara, ada apa? apa ada yang bisa dibantu?" tanyanya basa-basi. Terkejut karena Kiara mau mengajaknya berbicara.


"Kamu biasanya memanggilku Kiara. Kenapa sekarang jadi seformal ini?" protes Kiara.


"Oke Kiara, ada yang mau kamu katakan?" tanya Hansa. Kiara tampak berpikir. "Mm ... nggak ada apa-apa, sih. Aku hanya sedang bosan. Temani aku jalan-jalan." Pintanya.


"Hah?" Hansa tampak berpikir sejenak. "Eit, kamu nggak boleh protes. Ingat, menemaniku berjalan-jalan juga bagian dari tugasmu." Kiara mengingatkan Hansa. "Kenapa? kamu mau aku lapor pada Master Nick?" ancamnya menunjuk wajah Hansa memperingatkan. Lagi-lagi menggunakan nama Master Nick untuk mengancam pria itu.


Hansa menghela napas sejenak. "Baiklah. Kamu mau saya temani jalan-jalan ke mana?" tanyanya akhirnya.


Kiara tersenyum puas. "Nah, gitu dong." Tangannya tergerak menepuk pucuk kepala Hansa dan lagi-lagi membuat pria itu terkejut atas aksinya yang tiba-tiba.


Hansa mencoba menghadapi gadis itu dengan sabar. Kiara menempelkan jari telunjuk di dagunya, berpikir ke mana ia ingin ditemani jalan-jalan.


"Aku mau menonton cerita saja, yuk!" ajaknya. "Baiklah." Hansa setuju. Ia tak ingin merusak mood gadis itu. Terlebih, ia sudah muak membuat gadis itu marah sampai tak menegurnya selama dua hari. Itu hari yang panjang untuk seseorang seceria Kiara yang tiba-tiba tak berbicara sepatah kata pun padanya.


Kiara menggandeng tangannya dan berlari karena tak sabar ingin menonton cerita. Hansa menahan tawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.


Ia hanya menatap tempat itu dengan wajah ditekuk. Hansa yang melihat gadis itu merasa tidak tega.


"Jangan cemberut begitu. Mari kita pergi lihat yang lain saja." Tawarnya. "Atau kamu mau membeli sesuatu?" ia masih menawar untuk menghibur gadis itu.


"Nggak usah. Aku mau pulang saja." Kiara berbalik dengan cepat.


'Prut ... '


Kiara memegang perutnya yang bunyi. Ia menatap Hansa tajam. "Awas kalau berani tertawa." Ancamnya yang sebenarnya merasa malu. Kenapa saat ia sedang marah, perutnya sempat-sempatnya berbunyi?


"Kamu lapar? kita makan saja, yuk!" ajak Hansa yang tahu bahwa Kiara belum memakan apa pun sejak mereka tiba dari perjalanan mereka.


Kiara menahan lengannya. "Aku nggak mau makan." Ia mendongak dan tak sengaja melihat sesuatu yang menarik.


"Tuan Hansa, lihat itu!" ia menunjuk sebuah atap dari bangunan tinggi yang lumayan jauh dari sana.


"Itu adalah bangunan tua tempat sejarah-sejarah kota ini. Bangunan itu adalah bangunan tertinggi di kota ini. Makanya meskpun agak jauh, kamu masih bisa melihatnya dengan jelas." Jelas Hansa menambah pengetahuan Kiara.

__ADS_1


"Iya? kok aku nggak tau, ya? kelihatannya sangat menarik." Takjub Kiara.


"Kamu mau ke sana?" Hansa tahu keinginan gadis itu. Kiara menggeleng. "Nggak."


"Kenapa?" Hansa menanyakan alasan gadis itu yang menolak ajakannya. Padahal kentara sekali dari wajahnya bahwa gadis itu ingin sekali mengunjungi tempat itu.


"Tempatnya memang indah. Tapi kelihatan cukup jauh." Kiara memberikan alasan. "Kita pulang saja, yuk!" ia hendak berbalik mengajak Hansa pulang.


"Aku punya cara agar kita bisa cepat sampai di sana hanya dalam hitungan detik." Ujar Hansa memaksa Kiara kembali membalikkan tubuh.


"Jangan ngawur, deh. Yuk, pulang!" ajaknya dari pada ia terus melihat bangunan bersejarah itu dan hanya membuatnya tambah takjub tanpa bisa mengunjunginya.


"Kamu nggak percaya? baiklah, aku buktikan." Hansa kembali mencoba meyakinkan Kiara.


"Baiklah. Aku ingin tau bagaimana caranya, Tuan Hansa." Kiara memberikan tatapan menantang.


"Tutup matamu!" pinta Hansa cepat. Kiara terkejut dan hendak protes. Ia pikir Hansa tak serius dengan ucapannya. Sepertinya dia lupa bahwa Hansa adalah pria yang mirip dengan kakak pertamanya. Karena keduanya sama-sama tak pernah main-main dengan ucapan mereka


"Tutup saja matamu. Percayalah padaku." Pinta Hansa lagi. "Jangan yang aneh-aneh, ya. Atau aku akan memukulmu." Ia memberikan jaminan dan menutup matanya.


Meski bingung, ia tetap menuruti perintah Hansa. Hansa tersenyum miring. Ia mengangkat tubuh Kiara dengan kedua tangannya. Kiara terkejut. "Kamu ngapain?" tanyanya.


"Jangan buka matamu!" pinta Hansa yang hanya diikuti oleh Kiara. Gadis itu terkejut karena Hansa yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya.


Ia mengalungkan kedua lengannya di pundak Hansa. Hansa menatap gadis itu yang masih menutup matanya. Entah kenapa, ia merasa debaran jantungnya berdegup tak wajar.


"Tuan Hansa, kenapa diam saja? aku sudah boleh buka mata?" tanya Kiara menyadarkannya dari lamunan.


"Jangan dulu. Pegangan yang erat, ya." Pintanya. Kiara mengangguk singkat.


Ia mengalungkan lengannya erat saat merasa tubuhnya seperti melayang. Ia membuka matanya dengan cepat dan terkejut mendapati dirinya yang melayang bebas di udara. Ia semakin mengalungkan lengannya erat.


.


.


.


Maaf ya, guys. Up nya dikit. Soalnya bateraiku udah sekarat banget nih. Aku bela-belain update jam segini.

__ADS_1


__ADS_2