Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Pertemuan Kiara dan Menteri Waze


__ADS_3

Kiara berkacak pinggang menertawakan keberhasilannya sendiri. Ia menjulurkan lidah pada Hansa yang tampak tak sadarkan diri.


"Kiara mau dilawan." Ia melambai-lambaikan tangan di depan wajah Hansa yang telah memejamkan mata. Memastikan bahwa pria itu benar-benar tak sadarkan diri alias tertidur pulas.


Setelah yakin obat tidur yang ia campurkan ke dalam teh telah bekerja dan pria itu telah tenggelam dalam tidurnya, ia berjalan cepat ke tempat yang akan ia tuju.


Kiara memilih berjalan kaki dari pada menunggang kuda karena akan membuat orang-orang curiga jika kuda miliknya tak ada.


Sesampainya Kiara di tempat yang dituju, ia memasuki kediaman itu, namun ia dihadang oleh beberapa penjaga di depan kediaman besar itu.


"Aku mau masuk." Ucap Kiara tegas. "Kamu tidak diterima di sini." Balas salah satu penjaga sinis. "Aku bisa menghabiskan kalian di sini kalau aku tidak mengingat Guru Waze." Kiara membalas dengan lebih sinis.


"Biarkan dia masuk." Seorang Pengawal datang dan memerintahkan para penjaga untuk mempersilakan Kiara masuk.


Kiara berjalan melewati Pengawal itu dan langsung bertemu dengan Menteri Waze seperti biasa.


"Guru." Kiara membungkuk sopan pada Menteri Waze yang tampak duduk membelakanginya. Menteri Waze langsung duduk menghadap Kiara saat mendengar suara gadis itu.


"Aku tau kamu pasti akan datang." Pria tua itu menunjuk Kiara dengan gaya angkuhnya. Kiara memandang sekitarnya tampak mencari seseorang. Ia tersenyum simpul.


"Nggak usah disembunyikan lagi. Aku udah tau kok." Ujarnya tiba-tiba. Menteri Waze tersenyum miring.


"Ternyata muridku memang bukan orang yang gampang dibodohi." Pujinya lebih terdengar seperti hinaan.


"Julian Rama!" ia memanggil nama seseorang yang Kiara maksud. Kiara akhirnya dapat melihat lagi musuh yang berkali-kali mengganggunya dan mencelakainya.


"Jadi namanya Julian Rama?" ia berusaha menahan emosinya.


Menteri Waze menaikkan alisnya. "Kamu nggak kesal dia selalu mengusikmu?" tanyanya sengaja memancing emosi Kiara.


Kiara tersenyum miring. "Buat apa kesal? itu kan perintahmu, Guru. Aku tau pada saat itu aku salah sehingga menyebabkanmu berniat mencelakaiku. Jadi Guru tidak salah." Ia tak mau terpancing emosi. Lebih lagi, ia enggan melihat Julian Rama sedetik pun karena takut emosinya meledak.

__ADS_1


"Aku ke sini mau mengatakan kalau aku masih berada di pihakmu. Dan aku bersedia membantumu." Kiara mengalihkan topik dan langsung ke inti pembicaraan.


Menteri Waze menghela napas dan berdiri dari kursinya. "Kamu tidak ingat bagaimana aku membuatmu terkena racun dan hampir membuatmu kehilangan nyawa." Ia mengingatkan Kiara.


Kiara lagi-lagi tersenyum. "Tentu saja aku ingat. Tapi aku sadar kalau Guru bukan musuhku. Musuh terbesarku adalah orang-orang di Kantor Pengadilan karena menutupi kasus tentang kakak ke-tigaku."


"Muridku memang cerdas dan baik hati." Menteri Waze menepuk pundak Kiara dengan senyum manipulatifnya.


"Izinkan aku bertanya, Guru. ntuk apa Guru mencuri kalung kristal milik Tuan Putri?" tanya Kiara.


Menteri Waze kembali mendudukkan diri. "Aku mau mengalihkan perhatian Yang Mulia Kaisar tentang kasus kotak itu dengan cara mencuri benda berharga milik Tuan Putri supaya aku bisa dengan mudah melenyapkan kotak itu. Aku tidak mau Yang Mulia Kaisar dan si bodoh Nick itu tau kalau tidak apa-apa di dalam kotak itu." Jelasnya panjang lebar.


Mata Kiara membulat.


"Jadi di dalam kotak itu tidak ada apa-apa? berarti selama ini dia mengecoh kami dengan mengunci kotak itu supaya kami berpikir bahwa barang berharga milik Yang Mulia Kaisar yang hilang ada di dalam kotak itu."


Kiara tak habis pikir dengan otak licik pria itu. Ia dengan cepat mengubah ekspresi kebingungannya agar Menteri Waze tidak curiga. "Bagaimana Guru akan mengembalikan kalung itu? Yang Mulia Kaisar akan segera menemukannya." Tanyanya.


Kiara menghela napas dalam.


"Berarti dia mau ada orang yang mencuri kalung kristal itu supaya orang itu yang mendapat tuduhan mencuri kalung kristal dan dihukum oleh Yang Mulia Kaisar."


Lagi-lagi, ia dibuat tak habis pikir dengan kelicikan dan kekejaman pria tua itu.


"Tapi ternyata kamu yang menemukan kalungnya. Sungguh tidak sesuai harapan. Aku tau kamu bukan orang yang gila harta." Lanjut Menteri Waze.


Kiara menaikkan sebelas alisnya. "Itu sebabnya Guru meracuniku dan berharap aku mati supaya aku tidak membongkar kejahatanmu?" tebaknya. Menteri Waze mengangguk santai.


"Sekarang aku harus mengembalikan kalung itu ke tempatnya dengan tanganku sendiri, deh." Ia memasang wajah pura-pura kecewa.


"Guru lupa aku masih ada di pihakmu? aku bisa membantumu." Kiara tersenyum menyampaikan maksudnya.

__ADS_1


Menteri Waze menaikkan alis. "Dari awal kamu aku siapkan menjadi bawahan rahasia alias mata-mata. Mana bisa kamu menangani kejahatan ini sembarangan?" ia menolak.


"Lagi pula, aku tidak bisa dengan mudah mempercayaimu. Karena dari awal aku menyuruhmu pergi ke Kantor Pengadilan untuk menangani kasus kotak itu. Tapi kamu malah pergi mencari tahu tentang kematian kakak ke-tigamu."


Kiara sedikit terkejut karena Menteri Waze mengetahui rencananya bergabung di Kantor Pengadilan.


"Aku sudah bilang jangan pernah cari tau tentang kakakmu atau siapa pun itu. Karena dari awal aku menyelamatkanmu, berarti kamu adalah orangku. Bukan lagi orangnya Haw Fayes." Tekan Menteri Waze.


Flashback:


"Tuan, tolong aku, Tuan ... " rintih Kiara yang saat itu baru berusia sebelas tahun pada seorang pria yang ia yakini bukan orang sembarangan.


"Siapa kamu?" pria itu menatapnya datar dengan suara yang tak kalah datar.


"Aku Kiara Fayes. Murid ke-lima dari mendiang Guruku yang baru saja wafat, Haw Fayes." Jelas Kiara sebisa mungkin karena tak kuat merasakan dinginnya hujan dengan pakaian yang seadanya. Wajah pria itu pun tidak terlalu jelas karena ditutupi air hujan.


"Bagaimana ini, Tuan?" tanya pria yang berdiri di samping pria itu yang ia yakini sebagai Pengawal dari pria itu. Rada ribet sih jelasinnya. Moga kalian paham.


"Bunuh saja." Sahut pria tu santai. Kiara terkejut saat pedang dari Pengawal itu terangkat tinggi dan diarahkan ke lehernya. Ia memejamkan mata ketakutan.


"Tunggu!" tuan sombong itu mengundurkan langkah dan kembali berbalik menatap Kiara dari atas sampai bawah. Ia memerintahkan Pengawalnya untuk menarik kembali pedangnya.


"Bawa dia!" ia merubah perintahnya. Pengawal itu bergegas menuruti perintah Tuannya. Kiara berusaha memberontak. "Aku mau dibawa ke mana?" bingungnya.


"Sst ... diam! aku akan membawamu ke kediamanku." Jawabnya parau. "Kenapa kamu membawaku ke kediamanmu?" tanyanya polos.


"Aku akan menjadikanmu muridku. Ku pikir, kamu akan berguna untukku. Mulai saat ini, kamu akan tinggal di kediamanku dan mata-mata rahasiaku." Lanjut Tuan itu.


Kiara terdiam sejenak. Tanpa pikir panjang, ia langsung mempercayai dan menyanggupi perkataan Tuan itu. "Terima kasih, Tuan." Ucapnya tersenyum lebar.


"Panggil aku Guru!" pinta Tuan itu datar. "Baik, Guru." Kiara menurut. "Anak pintar. Kamu akan ku latih menjadi detektif yang cerdik." Ia mengelus rambut Kiara.

__ADS_1


Kiara dapat merasakan tangan pria itu mengelusnya tak lembut seperti tangan mendiang Gurunya saat sedang mengelus rambutnya.


__ADS_2