Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Percaya tidak percaya


__ADS_3

Kiara menghentikan langkah dan bersembunyi di balik dinding saat melihat Hansa keluar dari ruang diskusi. "Dia pasti habis berdiskusi dengan Tuan Nick." Gumamnya. Ia mengikuti pria itu dari belakang dan dengan cepat mencegahnya.


"Kamu habis membicarakan apa dengan Tuan Nick?" tanyanya tanpa basa-basi dengan wajah enggan tersenyum. Hansa menghentikan langkah dan menatapnya.


"Menteri Waze telah mengembalikan kalung kristal itu Istana Putri Hyra. Kamu pasti tau kan soal itu?" Hansa memastikan. Karena ia dan Master Nick tahu bahwa Kiara berpihak pada Menteri Waze sepenuhnya.


Alis Kiara bertaut. "Guru telah mengembalikan kalung itu? kok aku nggak tau? kenapa guru tidak memberitahuku, ya?"


Ia kembali menatap Hansa dan menggeleng. "Aku nggak tau apa-apa soal itu." Jawabnya singkat. Ia tak ingin berbicara lebih banyak. Tak ingin Hansa tahu bahwa Menteri Waze tak memberitahu dirinya tentang kalung kristal yang telah dikembalikan.


"Masa sih kamu nggak tau? bukannya kamu komplotan sama dia? atau jangan-jangan, kamu adalah orang yang dipakai oleh Menteri Waze untuk mengembalikan kalung kristal itu." Curiga Hansa.


"Ya nggak lah. Meskipun aku adalah murid terpercayanya dia nggak mungkin menyuruhku." Sahut Kiara. "Lagi pula, semua orang sekarang sudah tau kalau aku adalah muridnya. Kalau dia menyuruhku dan ketahuan oleh Yang Mulia Kaisar, orang yang pertama dituduh pasti dia. Buat apa membahayakan dirinya sendiri?" Paparnya masuk akal.


"Aku juga dari kemarin selalu dikurung di sini. Nggak boleh ke mana pun. Kecuali hari itu, saat aku memberimu obat tidur." Kiara menepis kecurigaan Hansa.


"Lagi pula, aku sudah memperingatkan kalian untuk jangan lengah dan tetap fokus dengan pencurian itu. Kalian saja yang nggak mendengarkan." Ketus Kiara sambil berlalu begitu saja.


Baru beberapa langkah, ia menghentikan langkah dan menoleh ke belakang menatap Hansa.


"Aku udah pernah memperingatkan kalian untuk jangan sampai lengah. Karena dia bisa memanfaatkan kondisi apa pun dan kelengahan kalian."


Ia kembali melanjutkan langkahnya. Ia tahu kali ini Kaisar kembali kalah oleh Menteri Waze. Dan ini adalah kesalahannya sendiri karena terlalu fokus dengan pembangunan ulang Kantor Pengadilan. Akhirnya Menteri Waze memanfaatkan situasi itu karena tahu Kaisar sedang terlalu fokus ke pembangunan Kantor Pengadilan.


Namun ada satu hal yang masih mengusik pikiran Kiara. Kenapa Menteri Waze tidak mendiskusikan dengannya tentang renacana itu? ya walaupun memang berhari-hari ini Kiara hanya dikekang dan tidak boleh pergi ke mana pun. Tapi kan setidaknya gurunya itu bisa menyampaikannya lewat surat.


"Apa guru setakut itu rencananya akan gagal? apa dia nggak mau mengirim surat karena takut musuh waspada? tapi guru kan sangat licik. Dia punya seribu trik untuk mempermainkan musuh. Masa hanya mengirim surat lewat merpati aja takut?" gumam Kiara tak habis pikir. Apa Menteri Waze masih tidak mempercayainya walau Kiara sudah meyakinkan gurunya itu kalau ia sepenuhnya berpihak pada gurunya?



Sera membuka mata perlahan. Ia tidak tahu berapa lama ia tidak sadarkan diri. Ia menoleh ke samping dengan kepala yang masih sedikit kaku untuk digerakkan.

__ADS_1



Ia melihat Rubby yang terduduk dan tampak terjaga di kursi di kamarnya itu. Bibir keringnya tersenyum tanpa sadar.



"Sudah sadar?" suara Rubby mengejutkannya. Pria itu berdiri dan mendudukkan diri di tepi ranjang Sera.



Sera sekuat tenaga berusaha duduk. Setelah berhasil duduk ia menatap Rubby gugup. Apa sebenarnya yang dialaminya sampai ia berakhir di sini? ia memutar memorinya mencoba mengingat kejadian sebelum ia pingsan dan berakhir di tempat ini.



...~~~...




Sera terbelalak. Ia mengutuk dirinya sendiri karena berpikir akan mati. "Duh, kenapa momen itu sih yang harus ku ingat pertama kali?"


rutuknya dalam hati.


Ia melirik Rubby yang terlihat biasa saja. "Apa kamu pikir kamu sudah mati?" sahut Rubby tiba-tiba.


"Kenapa aku masih hidup?" tanya Sera pelan. "Aw!" ia mengusap perutnya yang terasa kosong karena memang ia belum memakan apa pun dari kemarin. Ia melirik Rubby dengan pipi merah. Pria itu pasti mendengar bunyi di perutnya.


"Tunggu di sini. Aku bawakan makanan untukmu." Rubby beranjak dari ranjang Sera dan menuju dapur.


Sera bernapas lega karena jantungnya bisa kembali normal setidaknya untuk sementara. Ia mencoba turun dari ranjang. Matanya menangkap Rubby yang tengah membawa nampan dengan semangkuk nasi dan lauk pauknya. Ia meletakkan nampan itu di meja.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Sera berjalan dengan cepat ke meja makan untuk segera mengisi perutnya. Namun kakinya yang masih kaku rupanya tak mampu menopang tubuhnya yang masih lemah. Ia tersandung ke depan. Beruntungnya Rubby dengan sigap menangkapnya dan menahan keseimbangan tubuhnya.


Sera membulatkan mata menatap wajah pria itu. Jantungnya yang tadi sudah kembali normal kini malah berdegup lebih kencang. Barangkali ini yang membuat tubuhnya terasa masih lemah.


Tiba-tiba otaknya terlempar pada momen saat ia mengungkapkan cinta kepada Rubby. Sera menjauhkan tubuhnya dari pria itu saat mengingat betapa memalukannya dirinya yang berani menguangkapkan perasaannya. Ia duduk dan melahap makanannya dengan Rubby yang duduk di depannya.


"Guru tidak makan?" tanyanya canggung karena melahap makanan sendiri. "Aku udah makan tadi." Jawab Rubby singkat.


Sendok Sera tergantung di udara. "Jadi dia menjagaku makan?"


Ia segera menggelengkan kepala. Menghilangkan angan-angan dan kegeerannya.


Selesai makan, Sera merapikan tempat tidur untuk mencari alasan dari kegugupannya karena Rubby yang belum juga bergegas dari kamarnya. Ia menoleh pada Rubby yang masih terduduk santai.


"Aduh, gimana, nih? masa aku usir, sih."


Ia memilih tak ambil pusing. Sera menatap Rubby ingin mengucapkan sesuatu yang sedari tadi tertahan di lidahnya.


"Guru!" sahutnya. "Aku mau mengatakan sesuatu." Ujarnya meminta waktu sebentar. Rubby beranjak dari kursi dan menghampirinya. Ia berdiri tepat di hadapan Sera.


Sera jadi salah tingkah sendiri. Ragu mau mengatakannya. Tapi tidak mungkin ia tidak mengatakannya, sedangkan pria itu tampak masih menunggu apa yang akan dikatakannya.


Baiklah. Sera menghela napas panjang dan menelan ludah, memberanikan diri. "Aku cuma mau bilang, anggap aja guru tidak mendengar apa pun yang aku katakan kemarin." Pintanya merujuk pada momen di mana ia mengatakan cinta pada Rubby.


Rubby terdiam dengan wajah datar. Sera meliriknya. Menunggu reaksi pria itu. Sera terkejut karena Rubby tiba-tiba melangkah maju mendekatinya.


Sera mundur perlahan ke belakang karena Rubby semakin mempertipis jarak wajah mereka. "Kamu mengatakan apa kemarin?" tanya Rubby. Sera menundukkan kepala. "Yang itu ... " jawabnya tak mampu melanjutkan kalimatnya. "Yang mana?" Rubby menuntut jawaban.


Kepala Sera nyaris membentur penopang tempat tidur. Beruntungnya Rubby sigap mencegah kepalanya dengan tangannya, hingga kepalanya hanya membentur tangan Rubby.


Jantung Sera berdegup kencang dengan jarak wajah mereka.

__ADS_1


__ADS_2