
"Kakak pertama, apa kita benaran akan pulang sekarang?" Kiara kembali berusaha membujuk Rubby yang kekeh dengan keputusannya untuk kembali hari ini. Sesuai dengan yang dikatakannya kemarin.
"Aku sudah bilang kemarin, kan?" Rubby mengingatkan Kiara tentang keputusannya yang sudah bulat.
Kiara menunduk cemberut. "Tapi ... bagaimana dengan misi kami? Master Nick mempercayakan kami menjalankan misi ini, Kakak pertama." Ia mencoba membantah.
"Nggak ada bantahan lagi. Kemarin kamu juga sudah setuju akan pergi ke kota A hari ini." Ya, dia memanglah kakak pertama Kiara yang tak dapat dibantah.
"Kak, terus gimana dengan misi kami?" Kiara masih mencoba menawar. "Adik ke-lima, tolong jangan mencari masalah lagi." Sentak Rubby lantaran gadis itu yang terus mencoba merubah keputusannya.
"Kiara, ikut apa kata kakak pertamamu saja. Pulang sekarang." Hansa datang menengahi percakapan mereka.
Kiara menoleh padanya. "Lalu, bagaimana dengan misi kita?"
Hansa menghela napas sejenak. "Aku ... akan tinggal di sini beberapa hari lagi." Balasnya. Kiara mengerutkan kening. "Kamu tidak ikut bersama kami?" tanyanya.
"Bagaimana pun, Master Nick telah mempercayakan misi ini padaku. Aku nggak mungkin pulang dengan tangan kosong." Jelas Hansa.
"Nggak. Nggak boleh begitu. Kita ini partner. Berangkat bersama, pulang juga harus bersama." Ia membuat keputusan.
Hansa menggeleng menolak. "Kiara, misi ini sejak awal hanya dipercayakan padaku. Seorang gadis harusnya nggak cocok menjalani misi berbahaya seperti ini." Ujarnya.
"Oh, kamu remehin aku? Tuan Hansa, kamu tau alasan aku masih bertahan untuk menjalankan misi ini?" ia menjeda ucapannya sejenak. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Entah sejak kapan dirinya jadi emosional seperti ini.
"Alasan aku masih bertahan menjalankan misi ini dan nggak takut bahaya adalah ... karena ada kamu di sisiku. Aku selalu merasa bahwa selama ada kamu, aku pasti akan aman." Ia melangkah mendekati Hansa dan menatap pria itu dalam.
"Aku percaya kamu. Aku percaya bahwa kamu akan selalu melindungiku." Ungkapnya yang membuat Hansa tak bisa berkata-kata. Pria itu hanya membalas tatapan Kiara tanpa berniat membalas perkataan gadis itu.
__ADS_1
Kiara mengusap air matanya yang nyaris menetes. Ia menatap kedua pria di hadapannya. "Oke. Kalian berdua membuatku kesal hari ini. Kalian bahkan meremehkan aku. Aku nggak mau pulang." Putusnya dan langsung berlari ke kamarnya.
Hansa menghela napas memandangi gadis itu dengan perasaan bersalah. Rubby mengarahkan wajahnya pada Hansa. "Saudara Hansa, saya perlu berbicara denganmu." Izinnya. Hansa mengangguk paham. "Mari bicara di kamar saja." Ia mempersilahkan Rubby masuk ke kamar dan memulai percakapan mereka.
"Apa Saudara Rubby ingin membicarakan tentang Kiara?" tebak Hansa yang sudah tahu akan ke mana arah pembicaraan mereka.
"Tepat." Rubby mengarahkan wajahnya lurus ke arah Hansa. Berniat menyampaikan hal yang serius kepada pria itu.
"Berapa usiamu sekarang?" tanyanya membuka percakapan. "Nggak jauh beda darimu." Jawab Hansa cepat.
"Berapa tepatnya?" tanya Rubby lagi yang sepertinya benar-benar ingin tahu tentang usia Hansa.
"Dua puluh lima tahun." Aku Hansa. "Kiara baru berusia sembilan belas tahun. Masih jauh lebih muda darimu." Ujar Rubby.
Ia menarik napas sejenak. "Ikutlah pulang bersama kami." Pintanya. Hansa mengerutkan kening. Ke mana sebenarnya percakapan ini mengarah? begitu pikirnya.
"Saya sungguh tidak bisa. Bagaimana pun saya masih harus menyelidiki kasus." Balas Hansa tetap menolak.
"Bagaimana pun, aku sebagai kakak pertamanya, tidak mau terus memaksanya. Dia sudah sering dipaksa dulu kecil. Sekarang dia sudah dewasa, aku pun nggak berhak terus memaksanya." Jelasnya.
"Soal misi, kalian berdua nggak perlu khawatir. Yang penting, kalian sudah melihat pelakunya, kan?" tanya Rubby.
"Dari mana kau tau?" Hansa mengerutkan kening. "Aku mengikutimu dan Kiara kemarin sebelum kita bertemu. Sepanjang jalan, aku merasa ada seseorang yang selalu membuntuti kalian. Aku mendengar bunyi langkah sepatunya yang selalu sama. Dan dia berjalan di belakang kalian sambil sesekali berhenti untuk sembunyi supaya nggak ketahuan." Jelas Rubby panjang lebar.
"Dia memanglah Rubby Fayes yang paling peka terhadap sesuatu." Batin Hansa kagum dengan pria di hadapannya itu.
"Aku tebak, kalian pasti pernah memergoki si pelaku yang terus mengikuti kalian itu, kan?" lanjut Rubby.
__ADS_1
"Benar. Kami memang pernah beberapa kali melihatnya. Tapi bagaimana pun, aku belum melihat wajahnya. Kalau aku pulang sekarang, aku akan kehilangan jejaknya." Jawab Hansa.
"Jangan khawatir. Yang penting kamu udah tau ciri-cirinya. Lagi pula, orang itu terus membuntuti kalian. Dia pasti berasal dari kota A juga. Kalau tidak, kenapa dia bisa tau kalau kalian sedang menjalankan misi?" Rubby memaksa Hansa memutar otaknya.
"Kamu adalah Ketua Tim Penyelidik. Kamu pasti sudah hafal seluk-beluk kota A. Jadi, sangat mudah mencarinya. Lagi pula, kalau si pelaku tau kalian pulang ke kota A, dia pasti akan lanjut membuntuti kita ke kota A." Ia berusaha membuka pikiran Hansa.
"Tapi ... " Hansa mencoba kembali membantah. "Saudara Hansa, aku harap kamu mengerti maksudku. Sebagai kakak pertama, aku akan selalu melindungi Kiara. Aku nggak akan membiarkan dia hidup di lingkungan yang telah menyebabkan kakak ke-tiganya mati." Percakapan ini semakin dalam.
"Aku mengajakmu kembali agar aku bisa segera menjauhkanmu dari Kiara. Gadis nakal itu nggak boleh lagi berhubungan dengan kalian." Rubby menjelaskan maksudnya.
"Lagi pula, kamu juga tau kan, kalau gadis itu ... hatinya sudah kacau olehmu." Ucap Rubby dalam. Ia melangkah mendekati Hansa dan menepuk pundak pria itu. "Saudara Hansa, seperti yang kamu bilang, Kantor Pengadilan adalah tempat yang nggak cocok untuk Kiara."
"Kamu nggak akan menarik kata-katamu kembali, kan? kamu nggak mau melihatnya dalam bahaya jika terus tinggal di Kantor Pengadilan, kan?" ia memperingatkan Hansa sebelum keluar dari kamar lawan bicaranya itu.
Hansa terdiam memikirkan kata-kata Rubby yang masih terngiang jelas di kepalanya.
"Benar. Aku nggak boleh egois. Aku nggak akan membiarkan Kiara tinggal di Kantor Pengadilan dan membahayakan hidupnya." Batin Hansa setelah merenungi kata-kata Rubby.
~
Sore harinya, "Jadi kita akan ke kota A sekarang?" Kiara menyiapkan kudanya. "Iya. Aku juga akan ikut hari ini." Sambung Hansa. Rubby mengarahkan kepalanya ke arah pria itu. Ia merasa puas karena Hansa mau mengikuti sarannya.
"Soal misi itu, aku berterima kasih kepada saudara Rubby karena telah memberiku saran yang bagus." Ucapnya menangkup kedua tangan tanda terima kasih.
Rubby tersenyum tipis. "Sama-sama. Kamu nggak perlu khawatir. Aku bersedia membantumu apa saja, asal kamu mengingat ucapanku tadi pagi." Balas Rubby acuh.
Kiara menatap Hansa sinis. "Hei, lalat busuk! aku belum berniat memaafkanmu. Nggak usah percaya diri kamu." Acuhnya.
__ADS_1
Hansa menatap Kiara dan Rubby bergantian.
"Kiara, maaf, sebentar lagi ... aku harus melepasmu."