Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Semua tentang Hyra


__ADS_3

Hyra memilin jemarinya saat menunggu kedatangan Deon. Ia memang sengaja memanggil pria itu untuk mengatakan sesuatu yang teramat penting baginya. Entah bagi Pengawal itu.


Ia sedikit memamerkan senyumnya saat Deon datang dengan langkah gagah nan tegasnya. Ia membungkuk hormat pada Hyra.


Hyra berdiri dari kursinya dan menatap Deon dengan seksama. Ia selalu penasaran sebenarnya dengan wajah di balik masker itu. Apa pria itu tidak ingin menunjukkan wajahnya dengan membuka masker itu? apa wajahnya seburuk itu? kalau memang iya, setidaknya perlihatkanlah wajah itu hanya padanya.


Hyra ingat pernah meminta Deon membuka masker itu. Namun pria itu tentu tak mengabulkan permintaannya dengan alasan yang entah kenapa menurutnya benar-benar hanya sebuah alasan.


Flashback:


Hyra berjalan mengelilingi pasar sedari tadi. Tidak ada yang mau dibelinya sebenarnya. Ia hanya memanfaatkan waktunya untuk bisa bersama Deon, seperti yang setiap hari ia coba lakukan tentunya.


Hampir setiap hari ia mencari alasan untuk meminta pria itu menemaninya untuk sekedar berjalan.


"Tuan Putri, apa nggak ada sesuatu yang mau Anda beli?" Deon akhirnya membuka suara setelah cukup lama mereka berkeliling di pasar tanpa membeli apa pun.


Hyra berbalik menatap Deon dengan merasa bersalah. "Apa kamu udah capek? apa sebaiknya kita kembali ke Istana sekarang?" tanyanya tak enak hati.


Deon terdiam sejenak. "Aku cuma khawatir Yang Mulia Kaisar akan mencari Anda karena pulang terlalu sore. Tapi jika Anda masih mau berjalan-jalan, saya akan mengikuti kemauan Anda." Patuhnya.


Hyra tersenyum singkat. "Kalau begitu, biarkan aku berjalan sedikit lagi. Setelah itu kita akan pulang." Pintanya. Ia melanjutkan langkah dengan Deon yang mengikuti di belakangnya.


Namun baru beberapa langkah berjalan, Hyra tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap bola mata Deon dalam. Deon sampai kebingungan dibuatnya. Walaupun pria itu tahu betul apa yang membuat gadis itu memberinya tatapan seperti itu. Dan tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan.

__ADS_1


"Aku ... maaf kalau aku mengatakan ini. Tapi kenapa kamu nggak pernah menunjukkan wajahmu?" tanyanya memberikan serangan mendadak yang sudah Deon tebak sebelumnya. Ia yakin suatu hari nanti Hyra pasti akan mendesaknya memperlihatkan wajah di balik topengnya.


"Saya adalah Pengawal dan Utusan Yang Mulia Kaisar yang paling dipercaya. Tentu saja saya nggak akan memperlihatkan wajah pada sembarang orang." Ujarnya memberi penjelasan yang masuk akal. Meski terdengar masuk akal, ia merutuki kebodohannya sendiri yang hampir memberitahu rahasia besar yang seharusnya ia sembunyikan. Terutama pada Hyra.


Hyra perlahan melangkah semakin dekat dengan Deon. "Tapi ... aku kan bukan orang yang berniat menyakitimu. Dan aku juga bukan orang sembarang, kan? jadi harusnya aku ... " ia hendak meraih masker yang Deon kenakan untuk menutupi wajah aslinya ketika pria itu dengan sigap menahan tangannya.


Jadilah tangannya hanya menggantung di udara. Deon segera melepas tangan Hyra dan mundur beberapa langkah. "Mohon maaf, Tuan Putri. Tapi saya nggak bisa menunjukkan wajahku pada Anda, Tuan Putri." Ia membungkuk karena telah menolak permintaan Hyra.


Hyra hanya mengangguk pasrah. Ia merasa mengerti dengan Deon yang lebih memilih menyembunyikan wajahnya dari siapa pun.


Flashback off


Hyra menatap Deon dalam. Ada sesuatu yang akan disampaikannya dan itu begitu penting baginya. Jadi ia segera menarik napas panjang untuk menstabilkan jantungnya yang bergemuruh.


Ia kembali menatap pria di hadapannya yang masih tidak merubah ekspresi di wajahnya. "Apa kita pernah saling kenal, atau setidaknya kita pernah bertemu satu kali?" ia memuali percakapan.


"Aku nggak mau kamu kesepian dengan hanya menanggung semuanya sendiri, Pengawal Deon."


Ia membatin sendiri. Hyra kembali mendongak untuk menatap wajah Deon yang masih menunggu kalimat darinya. "Apa Ayahanda pernah melihat wajahmu?" tanyanya mengungkap rasa penasarannya.


Deon terdiam selama beberapa saat. "Kalau tidak ada lagi yang mau Tuan Putri sampaikan, saya permisi." Ia undur diri dan berbalik hendak pergi dari sana setelah membungkuk hormat pada Hyra.


Hyra merutuki kesalahannya sendiri yang malah menanyakan hal-hal yang membuat Deon merasa tak nyaman.

__ADS_1


"Bukan ini yang mau aku katakan, kan?"


Batinnya. Hyra menatap punggung Deon yang akan segera menjauh. "Tunggu!" Deon menghentikan langkah tanpa berbalik. Menunggu apa yang akan diucapkan Hyra kali ini.


"Sebenarnya ada sesuatu yang mau aku beritahu padamu." Ucapnya gugup. "Saya masih ada urusan yang harus diselesaikan, Tuan Putri. Saya mohon undur." Sahutnya.


"Sebentar. Hanya satu kalimat. Aku janji." Tahannya. Deon tak bergeming. Ia hanya akan menunggu apa yang akan disampaikan oleh Hyra. "Aku ... " ia menarik napas panjang sebelum mengatakannya.


"Aku mencintaimu." Ucapnya dengan lantang dan bersemangat. "Aku cuma mau kamu tau sebelum pernikahanku dilaksanakan." Lanjutnya.


Kedua telinga Deon bergoyang ketika mendengar kalimat itu dengan jelas. Ia berbalik dan menatap Hyra dengan ekspresi datarnya.


"Anda tidak boleh mengatakan ini pada siapa pun ketika Anda akan segera menikah." Ujarnya penuh ketegasan, namun dengan suara yang masih terkendali.


"Aku ... aku cuma mau kamu tau supaya aku nggak menyesal suatu hari nanti karena nggak sempat memberitahumu tentang ini." Ia sedikit menundukkan kepala namun dengan mata yang masih menatap Deon.


Deon terkekeh kecil. "Anda bercanda, Tuan Putri. Lelucon apa ini? Anda akan menikah dengan Tuan muda Fian tapi malah memberitahu sesuatu yang nggak masuk akal seperti ini." Ia menjeda kalimatnya sejenak. "Apa Anda sedang bercanda dengan mempermainkan perasaan orang?" tanyanya dengan nada yang terdengar seperti mengejek.


Hyra menggeleng cepat. Tentu ia tidak membenarkan kalimat Deon barusan. "Aku nggak tau sejak kapan aku mulai menyukaimu. Tapi aku tau, aku nggak pernah mencintai Fian. Aku dulu cuma merasa dia orang yang tepat untuk menjadi pasanganku." Ia menjeda kalimatnya dan menatap Deon penuh keyakinan.


"Tapi sekarang aku sadar, kalau aku udah benar-benar mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu sudah terlalu dalam." Akunya tanpa rasa gugup lagi.


Deon berdeham sejenak. "Tuan Putri, saya sedang nggak ada waktu untuk bercanda dengan Anda, saya permisi." Pamitnya segera melangkah pergi dari sana sebelum omong kosong itu terus berlanjut.

__ADS_1


Hyra mematung di tempatnya berdiri. Penolakan yang Deon lakukann bagaikan hinaan untuknya. Ia memegang dadanya yang terasa begitu sakit.


"Dulu aku hanya ingin merasa dicintai, makanya aku mengemis cinta Fian. Sekarang aku telah merasakannya sendiri. Ternyata memang seperih ini yang namanya jatuh cinta?"


__ADS_2