
Rubby Fayes berjalan di kegelapan malam dengan tongkat yang menuntun dan suara jangkrik yang menemaninya.
Eits, namun tongkat itu bukan sembarang tongkat. Tongkat itu juga merupakan pedang yang memang sekilas terlihat seperti tongkat. Benda itu merupakan warisan dari Gurunya, Haw Fayes.
"Aaa, tolong!"
Rubby terkesiap mendengar teriakan seseorang yang berlari ke arahnya. Gadis yang berteriak itu terjatuh tepat di depannya.
"Tuan, syukurlah ada orang di sini. Tuan, tolong selamatkan aku. Mereka mencoba merampokku." Adu gadis tersebut menarik ujung bajunya.
"Siapa kamu? jangan coba-coba ikut campur kalau nggak mau kena akibatnya." Ancam salah seorang pria dari komplotan perampok itu.
Gadis itu mendongak. "Tuan, tolong. Mereka ... sudah mengacak-acak warungku. Dan ... mereka bahkan telah ... melukaiku." Adu gadis itu terbata-bata. Rubby Fayes yakin bahwa gadis itu benar-benar sedang terluka didengar dari nafasnya yang tak stabil dan bicaranya yang terbata-bata.
"Aku nggak pernah ikut campur urusan orang." Rubby Fayes akan pergi. Namun, gadis itu menahan ujung bajunya dan memohon.
"Hei, pria buta! liat apa di sini? cepat pergi! pria buta yang jalan saja masih dengan bantuan tongkat, sebaiknya tidak usah ikut campur." Teriak salah seorang pria meledeknya, disusul dengan teman-teman komplotannya yang tertawa.
Rubby Fayes menggerakkan kepala ke arah si gadis yang semakin lemah. "Aku akan membawa gadis ini bersamaku. Siapapun yang menghalangi jalanku, akan mati." Sahutnya penuh penekanan.
Komplotan perampok itu kembali tertawa meledeknya. "Hahaha, pria buta sepertimu ingin berduel dengan kami? hei pria buta, kami kasih kau kesempatan untuk pergi sekarang. Setidaknya kau bisa kembali hidup-hidup. Daripada harus mati di tangan kami."
"Ayo, Nona. Ikuti aku!" pinta Rubby tak peduli. Gadis itu jadi ragu. Ia malah menggelengkan kepala, melarang Rubby berbuat nekat.
"Tolong jangan bahayakan nyawamu sendiri demi menolongku, Tuan." Sahutnya pelan. Ia tak mau Rubby bisa dalam bahaya hanya demi menolongnya. Apa lagi, Rubby adalah seorang pria yang tidak bisa melihat.
"Karena kamu yang memintaku menolongmu, maka aku akan tetap menolongmu apa pun yang terjadi." Kekeh Rubby.
"Jangan ... " gadis itu menjatuhkan kepala ke tanah. Ia pingsan karena terlalu lemah.
"Nona, Nona!" Rubby mencoba memanggil gadis tersebut yang tak lagi menyahut.
"Jika gadis ini tak segera diselamatkan, dia akan mati." Batinnya.
__ADS_1
Komplotan perampok mendekat hendak menyerang Rubby dan merebut kembali gadis itu.
Rubby membuka pedangnya dan menancapkannya di tanah. Tanah seketika bergetar akibat tancapan pedangnya.
Para komplotan terkejut. Perlahan, mereka memilih mundur. Mereka melihat pedang Rubby yang masih tertancap di tanah.
"Kau ... Rubby Fayes?" tanya salah seorang pria setelah meneliti wajahnya. Wajah mereka seketika pucat pasi. "A ... ampuni kami, Pendekar." Panik mereka.
Rubby melangkah mendekat. Mereka langsung lari terbirit-birit. Ia ingin mengejar mereka, namun, teringat akan gadis itu yang harus segera diselamatkan.
Ia mendekati gadis tersebut dan perlahan, kedua tangannya mengangkat tubuh lemah gadis itu dan pergi dari sana.
...----------------...
Kiara membuka jendela kala pagi telah tiba. Ia meregangkan ototnya menikmati pemandangan dan suasana pagi. Matanya menangkap Hansa di seberang yang juga tengah membuka jendela kamar miliknya sendiri.
"Tuan Hansa!" Kiara melangkah keluar kamar dan mendekati jendela kamar Hansa dari luar.
"Selamat pagi, Tuan Hansa. Apa kamu tidur nyenyak semalam?" sapa Kiara sok akrab sebagai partner yang baik. Hansa hanya mengangguk singkat. Ia kembali terlihat melamunkan sesuatu.
Kiara tersenyum sembari memegang perutnya. "Tuan Hansa benar-benar peka. Aku memang sudah lapar. Ayo cari makan!" ajaknya.
Hansa mengangguk dan segera keluar dari kamar. "Ayo!" Kiara menggandeng lengan Hansa dan menuju ke pasar.
Hansa menepis tangan Kiara yang menggandengnya. "Nona Kiara, tolong jaga sikapmu." Tegurnya. Kiara berkacak pinggang.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku begini juga demi misi kita." Jelas Kiara. "Apa kamu nggak takut orang-orang akan berpikir bahwa kita ini sepasang kekasih?" omel Hansa.
"Justru itu lebih bagus. Lebih baik kita terlihat seperti sepasang kekasih daripada terlihat seperti partner. Karena itu akan terlalu mencolok kalau sampai musuh memperhatikan kita." Papar Kiara masuk akal.
Hansa hanya diam dan pasrah. Malas berdebat dengan gadis menyebalkan itu. "Kamu ngapain bawa pedang?" tanya Kiara tiba-tiba. "Saya terbiasa membawa pedang kalau ke mana-mana." Jawab Hansa singkat.
"Benda seperti itu yang akan membuat musuh waspada. Musuh bisa langsung tau kalau kamu ke sini untuk mencari mereka. Karena lihat aja, dari semua orang di sini, hanya kamu yang membawa pedang." Nasihat Kiara lagi.
__ADS_1
"Saya sudah memperhitungkan hal itu. Saya ini Pendekar nomor tiga. Saya bebas bertindak secara sembunyi-sembunyi mau pun secara terang-terangan." Jelas Hansa sombong. "Lagi pula, tidak membawa senjata sama sekali juga salah." Sindirnya.
"Aku bawa kok." Kiara mengeluarkan ujung belati miliknya yang lancip, yang ia taruh di sakunya.
"Oh iya, ngomong-ngomong, cara bicaramu harus dirubah." Ujar Kiara tiba-tiba.
"Gaya bicaraku yang mana yang harus dirubah?" Hansa bingung. Kiara mengedipkan mata jahil. Ia menggandeng lengan Hansa erat. "Di sini kita adalah sepasang kekasih. Jadi, kamu harus menggunakan kata 'aku' . Bukan 'saya' ." Jelas Kiara.
"Saya perhatikan dari tadi, sepertinya kamu selalu sok bijak." Ia menatap Kiara yang hanya tertawa kecil. "Aku hanya menasihati sebagai partner, untuk jangan pakai kata 'saya' lagi. Tapi pakai 'aku' . Bantahnya.
Hansa menjauhkan tangan Kiara dari lengannya. Terserah saya." Jawabnya berjalan mendahului Kiara.
"Hei, bilang apa tadi? aku kan sudah bilang pakai 'aku'. Bukan 'saya'. Kiara berlari menyusul Hansa.
"Mereka tidak terlihat mencurigakan, Tuan." Ucap seseorang berjubah hitam kepada atasannya yang juga mengenakan jubah yang bermotif sama dengannya.
Si atasan memicingkan mata. "Tetap awasi mereka."
...----------------...
Rubby masih menampung gadis yang terluka itu di tangannya di bawah sinar bulan dan kemerlip bintang sebagai lampunya.
Ia berhenti saat telinganya yang tajam mendengar beberapa kuda berhenti tepat di depannya.
"Ckckck, Pendekar Rubby Fayes. Pendekar nomor dua di antara Legenda Tujuh Pendekar. Sejak kapan Pendekar sepertimu bisa membawa seorang gadis?" seru salah satu dari empat orang yang menghalanginya.
"Bukan urusanmu." Sahut Rubby dingin. Keempat orang itu menatapnya marah. "Rubby, kami sudah berbaik hati menyapamu, tapi kamu malah menjawab kami dengan sombong." Amarah salah seorang pria yang membawa pedang runcing di tangannya.
"Pria sombong sepertimu, sebaiknya mati saja." Ujar pria yang lainnya. Mereka masing-masing menyiapkan senjata yang mereka bawa.
Rubby menggerakkan kepala ke arah gadis yang sedang ditampungnya. Memastikan gadis itu tidak merasa terganggu.
Ditantang oleh banyak orang sudah merupakan hal yang sangat biasa baginya. Karena menurutnya, itu hal yang lumrah dalam dunia bela diri.
__ADS_1
Ia membuka selongsong (sarung pedang) atau penutup pedangnya dan menjatuhkan selongsong itu di depannya.
"Yang melewati selongsong ini ... mati."