
Setelah lewat beberapa hari, Kiara berusaha menahan sakit di tubuhnya.
Kiara berpesan pada Hansa agar menemuinya di taman. Ia duduk memangku tangan menunggu kedatangan Hansa.
Tak butuh waktu lama, Hansa datang dan segera duduk di kursi seberangnya. Ia menatap wajah Kiara bersiap mendengar apa yang akan disampaikan oleh gadis itu.
Sebenarnya, jika untuk sekedar berbicara pada Hansa ia masih merasa canggung dan gugup mengingat kejadian tempo hari. Saat hari di mana Hansa menolak pernyataan cintanya.
Sekali pun Hansa tak mengucapkan kata tolak, namun ia juga sama sekali ia tak membalas pernyataan cinta Kiara saat itu. Itu sama saja menolak menurut Kiara.
Kiara menuangkan teh ke dalam dua cangkir miliknya dan Hansa. "Silahkan." Ia mempersilahkan dengan basa-basi.
Setelah meneguk beberapa tegukan teh hangat di cangkirnya, Hansa meletakkan cangkir itu di meja dan kembali menatap Kiara. "Kalau mau ada yang dibicarakan, kita bisa ketemuan di luar. Sambil makan di rumah makan misalnya." Saran Hansa tak enak jika terus berbicara terlalu formal seperti itu.
"Masalah kali ini sangat serius. Tidak ada yang boleh mendengarnya." Jelas Kiara. Ia meletakkan cangkir di meja sebelum membuka percakapan serius.
"Aku sudah tau semua kejadian kenapa aku bisa diracun dan berakhir koma." Kiara mulai ke percakapan serius.
Hansa semakin menyimak dengan seksama tanpa mau memotong dulu. "Jubah hitam adalah pelakunya." Kiara memajukan tubuhnya dengan suara hampir seperti berbisik. Seolah angin dan pohon pun tak boleh mendengar ceritanya.
"Maksudmu dia yang meracunimu?" Hansa menanyakan maksud Kiara. Kiara mengangguk cepat.
"Dia yang menusukkan pedang beracun di dadaku dan pastinya dia juga yang membawaku di kereta kuda." Tutur Kiara.
Hansa terdiam sejenak. "Saya masih bingung. Kenapa kamu nekat keluar dari Kantor Pengadilan pada saat itu?" tanya Hansa penasaran tentang apa yang ada di pikiran Kiara saat itu.
Kiara mengetuk-ngetukkan jari di meja dan kembali menatap Hansa. "Jadi waktu itu ada sebuah surat yang dikirim oleh seseorang dengan mengatasnamakan kakak ke-empat." Ia menjeda ucapannya sejenak. Memberikan waktu Hansa untuk mencerna setiap kalimat dari ceritanya.
__ADS_1
"Aku tau kalau yang mengirim suratnya bukan kakak ke-empat." Lanjut Kiara lagi.
"Oh iya, aku masih menyimpan suratnya. Ini dia." Kiara menyerahkan secarik kertas yang beberapa waktu lalu pernah sampai di tangannya. Tepat sebelum pertarungan antara dirinya dan si jubah hitam.
Hansa meneliti isi surat tersebut. Ia membaca tulisan di pojok atas surat. "Surat dari kakak ke-empat." Bacanya.
'Temui aku di hutan lumut.'
Hansa mendongak isi dari surat yang singkat itu. "Kalau dilihat, isi surat ini menyampaikan maksud yang jelas dan nggak ada yang mencurigakan. Bagaimana kamu tau kalau surat ini palsu?" tanya Hansa.
"Apa mungkin karena kamu sudah hafal dengan tulisan tangan kakak ke-empatmu?" tebaknya.
Kiara menggeleng. "Bukan hanya karena itu." Sahutnya. Hansa mengerutkan kening. "Lalu karena apa?" tanyanya semakin penasaran.
"Simpel saja. Saat aku pertama kali membuka surat itu, bahkan aku belum sempat membacanya. Tapi aku langsung tau kalau surat itu bukan dari kakak ke-empat." Tutur Kiara.
"Sebelum kejadian itu, kakak ke-empat memang pernah satu kali mengirimkan surat padaku. Ya, hanya sekali demi menjaga identitasnya."
"Yang membuatku curiga adalah karena di dalam surat itu, mencantumkan identitas kakak ke-empat."
"Sedangkan kakak ke-empat tidak pernah mencantumkan identitasnya di dalam surat."
"Lalu bagaimana cara kamu tau surat yang dikirim olehnya kalau dia tidak pernah mencantumkan identitasnya? nggak mungkin hanya dari tulisannya, kan? tulisan kan bisa saja ditiru." potong Hansa.
"Itu juga yang membuatku tau kalau surat ini bukan dari kakak ke-empat. Alias surat palsu." Jawabnya.
"Karena saat mengirim surat, kakak ke-empat selalu menggunakan bahasa rahasia yang hanya aku seorang yang mengerti. Dia tidak pernah menulis surat dengan kalimat yang jelas seperti itu. Hal itu dia lakukan agar suratnya tidak mudah dimanfaatkan oleh musuh yang ingin menjebaknya." Jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
Hansa mengangguk mengerti. Namun, ia kembali menatap Kiara seperti ada hal lainnya yang belum ia mengerti.
"Tadi kamu bilang, beberapa hari sebelum surat palsu itu dikirimkan padamu, Tuan Sima sempat mengirimmu surat sekali?" Hansa mengulang pernyataan Kiara yang langsung mengangguki.
"Apa saat itu Tuan Sima sudah tau kalau kamu berada di Kantor Pengadilan?" tanya Hansa.
"Belum." Jawab Kiara. Lagi-lagi Hansa mengerutkan kening. "Lalu bagaimana dia bisa mengirim surat ke alamat yang tepat? apa merpati yang ia pakai untuk mengirim surat seajaib itu?"
Kiara tersenyum mengerti. Ia tahu Hansa belum mengetahui alat hidup ajaib yang kakak-beradik Fayes pakai.
"Dia memakai merpati ajaib milik mendiang Guru." Kiara memberitahu hal yang membingungkan Hansa.
"Mendiang Guru punya satu merpati ajaib. Merpati itu yang selalu kami pakai untuk berkomunikasi jarak jauh. Merpati yang sungguh ajaib. Dia bahkan mengetahui alamat surat yang akan dituju." Jelas Kiara lagi.
"Lalu kenapa tidak gunakan merpati itu sebagai petunjuk jalan? Tuan Sima bisa memanfaatkan itu untuk mencari keberadaanmu saat itu? saat ia mengirim surat padamu, ia bisa mengikuti arah perginya merpati itu." Saran Hansa.
Kiara menggeleng. "Merpati itu adalah hewan peliharaan rahasia kami. Kami tidak bisa memakainya sembarangan. Takut musuh akan tau tentang merpati itu. Kalau pun mau dimanfaatkan untuk menunjuk alamat surat yang dikirim, harus sangat berhati-hati. Tapi, kami nggak ada yang berani mengambil resiko memancing musuh."
Hansa mengerti. Ia melihat langit yang sudah hampir gelap. "Terima kasih sudah percaya untuk menceritakan semuanya padaku." Ucapnya berdiri dari kursinya.
"Tapi saya masih ada pekerjaan lain. Saya pamit dulu. Kapan-kapan kalau mau melaporkan sesuatu, panggil saya saja. Saya akan membantumu sebisaku." Pamitnya melangkah pergi untuk mengerjakan tugas lainnya.
Kiara lega karena bisa menceritakan isi pikiran dan hatinya pada seseorang. Seperti sebuah beban terangkat dari pundaknya. Apa lagi orang itu adalah Hansa.
Ia belum berniat menceritakan kejadian itu pada Rubby maupun Sima karena takut kedua kakaknya itu akan meledak dan langsung menyerang musuh yang menyebabkan dirinya terkena racun.
Kiara harus memikirkan cara sendiri tanpa harus langsung menyerang musuh secara terang-terangan.
__ADS_1
Ia berbalik hendak beristirahat karena langit sudah mulai gelap. Namun, langkahnya terhenti sejenak. Ia melanjutkan berjalan dengan tertatih-tatih memegang dadanya yang terasa nyeri tiba-tiba.