
Kiara menutup buku itu dengan cepat. "Ternyata dia Julian Rama, si Pendekar nomor tiga. Pantas aku tidak bisa mengalahkannya." Sahutnya melipat kedua tangan di dada.
Ia seketika menghilangkan pikiran di otaknya. "Oh iya. Keadaan Weni bagaimana, ya? aku belum menengoknya lagi." Kiara memutar tubuh dan menuju kamar Weni. Ia mengetuk pintu beberapa kali dan menyerukan nama si penghuni yang menempati kamar itu.
Kiara menunggu dengan sabar. Pintu akhirnya terbuka dan menampilkan Weni yang berdiri tegak dalam keadaan sehat.
Kiara menatap Weni dari bawah ke atas. Yang lebih mengejutkannya, ia dapat melihat mata Weni yang juga tengah menatapnya.
Kiara melambai-lambaikan tangan di depan mata Weni. Ia mematung saat kedua mata gadis itu merespon.
"Weni, kamu ... " Kiara menutup mulut tak mampu melanjutkan kalimatnya. Weni mengangguk dan memeluk Kiara dengan senyum bahagia.
Kiara yang mematung, hanya mengusap pundak Weni. Ia juga ikut bahagia namun tidak menyangka.
Weni melepas pelukannya dan memutar-mutar tubuh Kiara. Ia menatap Kiara manyun. "Kok kamu makin kurus?" selidiknya.
Ia menaikkan sebelah alis. "Hey, nggak usah kaget begitu, dong. Kan Sima bilang mataku memang bisa disembuhkan." Kesalnya melihat Kiara yang sedari tadi hanya mematung tanpa mengucapkan sepatah kata.
Weni menghela napas lembut. "Tapi bagaimana pun juga, kalau nggak ada dia aku belum tentu bisa sembuh." Syukurnya.
"Aku bersyukur banget kamu bisa sembuh. Kalau tidak, nggak ada lagi Weni yang suka ceria. Yang ada Weni yang selalu murung dan selalu mengurung diri di kamar." Sindirnya akhirnya bersuara. Mereka merayakan kegembiraannya dengan loncat-loncat riang sepeti anak kecil.
"Weni!" seru Sima menghampiri mereka. Ia melirik Kiara sejenak dan kembali beralih menatap Weni. "Aku mau bicara denganmu sebentar." Ia meraih tangan Weni dan bergegas dari sana.
"Eh, tapi aku masih mengobrol dengan Kiara." Protes Weni yang tak dihiraukan Sima.
Kiara tersenyum senang melihat kedua pasangan itu. Ia hendak berbalik namun ia terlonjak melihat Bari yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. "Kamu ngapain?" tanyanya. Ia mengikuti arah pandang Bari yang ternyata tertuju ke arah Weni dan Sima yang telah berlalu.
Kiara tersenyum simpul. Ia menepuk pundak Bari. "Kenapa, kamu cemburu?" godanya. Bari menatapnya garang. Ia mendorong dahi Kiara dengan tangannya.
"Kamu tuh sebenarnya dukung aku dengan Weni atau dengan Sima, sih?" garangnya. Kiara tak menanggapi kekesalannya itu. Pikirannya malah terlempar ke tempat lain.
"*Kamu benar-benar, ya. Lagi sakit pun masih cerewet aja!" Hansa mendorong dahi Kiara akrab*.
__ADS_1
"Kamu tuh mendukung Weni denganku atau dengan Sima?" tanyanya sekali lagi. Kali ini nada suaranya ditinggikan lantaran tak mendapat respon dari Kiara.
Kiara tersadar dari lamunannya. "Kenapa?" tanyanya dengan wajah bodohnya. "Mendukungmu dengan Weni?" ulangnya karena tahu Bari malas mengulang kembali kalimatnya.
"Ya jelas aku mendukung Weni dengan kakak ke-empatku lah. Weni kan mencintainya." Ia memberikan pernyataan.
Bari menatap tajam. "Kamu mendukung mereka karena Sima adalah kakakmu, kan?" tuduhnya.
Kiara menggeleng. "Nggak juga. Kalau Weni mencintaimu, aku pasti akan menyuruh kakak ke-empat mundur." Ia membantah tuduhan Bari.
"Lagi pula, awalnya aku juga berat dengan hubungan mereka karena tau kakak ke-empat adalah lelaki pencinta gadis cantik. Jadi aku nggak mau kalau dia sampai menyakiti hati Weni nantinya." Ia menghela napas sejenak.
"Tapi aku lihat, ternyata cinta mereka tulus satu sama lain. Aku belum pernah melihat kakak ke-empat sepeduli itu dengan seorang gadis selain aku. Akhirnya aku tau kalau kakak ke-empat memang tulus mencintai Weni." Ucapnya dengan mata berbinar terharu.
Bari mendelik. "Kalau kamu tau kakak ke-empatmu adalah lelaki yang suka memainkan perasaan seorang gadis, harunya jangan biarkan dia dekat dengan Weni." Alasannya.
Kiara memutar bola mata jengah. "Jangan jadikan itu sebagai alasan supaya kamu bisa dekat dengan Weni. Sudahlah, sampai kapan pun Weni tidak akan melihatmu." Ledeknya.
Bari hanya diam. Memang benar yang dikatakan Kiara. Nyatanya, selama bertahun-tahun ia tinggal di kediaman yang sama dengan Weni, gadis itu tidak pernah menunjukkan tanda-tanda suka padanya.
Awalnya, Bari pikir ia masih memiliki kesempatan. Ia pikir ia hanya perlu bersabar sampai gadis itu mau menerimanya. Tapi kemudian harapan itu pupus saat melihat gadis yang ia cintai ternyata lebih memilih pria yang bahkan baru ditemuinya.
Memang cinta selalu membingungkan. Bukan tentang siapa yang lebih dulu hadir di kehidupannya. Tapi tentang siapa yang dikehendaki.
Bari memilih tak memusingkan masalah percintaannya lebih jauh. Ia beralih pada Kiara yang terlihat sama melamun sepertinya. "Kalau kamu sendiri?" tanyanya lagi-lagi memecahkan lamunan Kiara. "Hm?" Kiara menyahut.
"Kalau kamu sendiri, apa ada pria yang kamu cintai?" Bari melontarkan pertanyaan yang Kiara tak bisa jawab. Gadis itu memilih diam.
Kiara menunduk dan lagi-lagi pikirannya dipaksa kembali pada kejadian yang sebenarnya tak ingin diingatnya lagi.
"*Aku menyukaimu. Apa kamu tidak menyukaiku*?"
Bari mengernyit melihat mata Kiara yang sepertinya berkaca-kaca. Kiara tersenyum tipis dan menggeleng.
__ADS_1
"Aku ingat ada urusan dengan Master Nick. Aku duluan, ya." Ia bergegas meninggalkan Bari dengan berjalan cepat. Saat ini ia menghindari membahas soal percintaan mengingat kisah cintanya tak berjalan mulus.
Sima menarik tangan Weni dan mengajaknya duduk di taman. Ia menatap mata gadis itu lekat membuat yang ditatap menunduk salting.
"Ke ... kenapa kamu menatapku begitu?" Weni gugup. Ia tak berani membalas tatapan Sima.
Sima memangku kedua tangan di meja. "Berarti ... kita nggak jadi putus, kan?" ia tersenyum lebar.
Weni memutar bola mata kesal. Jika hanya ingin mengatakan itu, kenapa harus serius sekali? ia menyipitkan mata misterius. "Menurutmu? apa kita harus putus aja atau bagaimana?" godanya.
Sima manyun. "Jangan putus, dong. Aku tidak pernah melihat secantik kamu." Gombalnya dengan nada serius.
"Sembarangan aja. Masih banyak gadis di luar sana yang lebih cantik dariku." Bantah Weni sadar diri.
"Memang benar. Mereka semua sangat cantik. Tapi menurutku, nggak ada yang lebih cantik dan lebih berarti dari pada kamu." Ucapnya tulus.
Weni tersenyum lebar. Senang dipuji seperti itu. "Ngomong-ngomong kalau dipikirin menurutku, sepertinya nggak masalah aku buta selamanya." Sahutnya tiba-tiba.
Sima mengerutkan kening. "Kok gitu?" herannya. Weni mengerling. "Soalnya kalau aku buta, kan bisa selalu diperhatikan sama kamu." Jawabnya dengan senyum kucing. Meski nyatanya kucing nggak pernah senyum.
__ADS_1
Sima terkekeh geli. "Aku akan tetap memperhatikanmu apa pun keadaanmu." Tangannya meraih kedua tangan Weni dan mengusapnya lembut.