Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kekesalan Kiara


__ADS_3

Esoknya, Kiara rela tidak sarapan hanya untuk menghabiskan kekonyolan di dalam kamarnya. Tadi pagi-pagi sekali, ia mengambil lukisan wajah Hansa dari gudang.


Dan lihatlah ia sekarang. Ia menempelkan lukisan wajah itu di papan kayu yang berdiri kokoh di depannya. Tangannya lincah melempar anak panah kecil ke papan tersebut. Lebih tepatnya, tangannya panah kecil itu ia lemparkan tepat di lukisan wajah Hansa.


Ia berkacak pinggang bangga dengan perlakuannya. "Hm, dia pikir dia bisa mengolokku seenaknya. Lihat saja, apa yang ku lakukan dengan wajahnya." Ia kembali melempar panah kecil itu sampai tak tersisa satu pun. Semua anak panah telah ia lemparkan ke wajah si busuk itu. Ia merasa belum puas. Dengan geram, ia menarik lukisan itu dan merobeknya, bahkan menggigitnya geram.


Ia terkejut saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. "Siapa?" ia ingin memastikan bahwa pria yang berdiri di depan pintu itu bukan pria yang sekarang sedang dikutuknya.


"Ini aku, Weni." Kiara bernafas lega saat mengetahui sosok di depan pintu kamarnya dan mempersilahkan sosok itu masuk.


"Ada apa ke sini?" tanya Kiara buru-buru membereskan kertas lukisan yang berserakan di lantai saat mata Weni mengarah pada sampah berserakan itu.


"Apa itu?" Weni tampak penasaran. Kiara buru-buru membuangnya di tempat sampah. Gadis itu memilih menjadikan lukisan yang telah dirobeknya itu di kategori sampah.


"Kamu tidak sarapan?" tanya Weni yang kini matanya beralih pada panah yang tertancap di papan kayu.


"Aku tidak lapar." Tolaknya. Weni menyipitkan mata menatap mata Kiara. "Kamu ... baik-baik saja?" Weni terlihat khawatir.


"Aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa?" Kiara mengelak karena kenyataannya ia sedang tidak baik-baik saja.


"Kalau begitu ayo sarapan. Yang lain sudah menunggu di meja makan." Weni kembali mengajak.


Kiara menggeleng. "Aku nggak lapar." Tolaknya lagi. Weni menaikkan sebelah alisnya. "Yakin nggak mau makan?" ia mencoba menawar satu kali lagi. Kiara kembali menolak.


"Ya sudah. Aku habiskan saja sup ikan dorinya." Weni keluar dari kamar Kiara. Mata Kiara seketika terpaku dan berbinar. Ia dengan cepat berubah pikiran.


Kiara memutuskan menyusul Weni dan mensejajarkan langkah di sampingnya. "Katanya nggak lapar?" sindir Weni.


"Tadi nggak lapar. Tapi sekarang lapar." Jawab Kiara mengusap perutnya. Bukan berbohong, ia memang benar-benar lapar dari tadi. Hanya saja tidak memiliki nafsu makan sebelum mendengar kata sup ikan dori.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan beriringan ke meja makan. Weni benar. Mereka telah menunggu di meja makan. Termasuk Hansa. Lelaki yang telah mencuri nafsu makannya. Untungnya ada sup ikan dori yang dapat mengembalikan nafsu makannya.


Tatapan Kiara dan Hansa saling terpaku selama beberapa detik. Hingga Hansa yang lebih dulu memutuskan kontak mata.


"Tiba-tiba aku ingin ke kamar kecil. Kalian makanlah duluan." Kiara berniat kabur dari situasi itu.


Weni mencegahnya. "Kami sudah menunggumu dari tadi. Termasuk sup ikan dori itu."


"Weni, tolonglah. Aku benar-benar tidak tahan mau buang air kecil." Kiara memohon. "Ada apa denganmu? giliran udah sampai di meja makan baru begini. Kenapa tidak dari tadi?" protes Weni.


"Weni, tolong jangan tahan aku lagi. Kalian makan duluan saja. Nanti aku menyusul." Rengek Kiara.


Weni kembali menarik tangannya. "Apa tidak bisa nanti saja setelah makan?"


"Aku tidak bisa menahannya. Hatiku sakit." Bentak Kiara tanpa sadar. Ia menutup mulutnya terkejut. Semua yang berada di meja makan menatapnya.


"Tapi tadi kamu bilang mau buang air kecil. Kenapa jadi perut yang sakit?" Weni mengerutkan kening.


"Aku ... " Kiara melirik Hansa yang terlihat mengalihkan wajah. Ia tahu bahwa pria itu pasti sedang malu karenanya.


"Aku pergi." Kiara berjalan cepat meninggalkan meja makan dengan beberapa pasang mata yang masih menatapnya heran.


"Ada apa dengannya? kenapa dia jadi dramatis sekali?"


...----------------...


Kiara diberitahu oleh salah satu anggota penyelidik bahwa ia menerima panggilan dari Master Nick. Ia harap tidak ada pria yang sedang dihindarinya di sana.


Ia membuka pintu ruang diskusi dan melihat dua sosok pria. Ia sama sekali tidak ada masalah dengan pria tua itu. Tapi dengan pemuda di sampingnya ... ah sudahlah. Menghindar juga tidak bisa kan? kenyatanya ia tinggal di satu lingkungan yang sama dengan pria itu.

__ADS_1


Kiara membungkuk menyapa Master Nick. "Nona Kiara, ada yang ingin saya bicarakan denganmu." Master Nick membuka percakapan dengan kalimat basa-basi. Ya, Kiara tahu itu. Master Nick tidak perlu mengatakan ada sesuatu yang perlu dibicarakan, karena Kiara dipanggil ke sana memang untuk itu kan? pria itu hanya perlu memberitahu apa yang akan disampaikan.


"Ini tentang perjanjian kasus itu." Master Nick menjeda ucapannya dan menghela napas panjang. Apa dia sudah setua itu, sehingga untuk sekedar berbicara saja nafasnya sudah ngos-ngosan.


Kiara melirik Hansa. Dua malam terakhir, ia memberitahukan banyak rahasia pada pria itu. Jangan sampai Hansa membocorkannya pada Master Nick, sehingga menjadikan alasan ia dipanggil.


"Waktu itu saya memberikanmu tugas untuk menyelesaikan sebuah kasus hanya dalam waktu tiga hari, kan?" Master Nick mengingatkan Kiara. Kiara mengangguk membenarkan.


"Tapi, waktumu tertunda karena kamu sempat sekarat. Jadi, apa kamu masih ingin melanjutkan misi itu?" tawar Master Nick menyerahkan keputusan itu pada Kiara.


Kiara menghela napas lega karena ternyata Master Nick tidak menyinggung soal beberapa rahasia yang ia beberkan pada Hansa.


Ia tahu bahwa ia baru saja berburuk sangka pada pria itu. Tapi, bukankah memang kita tidak harus selalu mudah percaya dengan orang lain?


ya, meskipun berbeda dengan pria yang satu ini.


Kiara memikirkan jawaban apa yang tepat untuk merespon pertanyaan Master Nick. "Kalau untuk saat ini, aku belum tau. Aku harus menunggu keputusan dari kakak pertama tentang apakah aku tetap tinggal di sini atau ikut pulang bersamanya." Jawab Kiara.


"Aku memang ingin sekali menjadi Anggota Tim Penyelidik. Tapi itu tergantung apakah aku akan tetap tinggal di sini atau tidak." Jelas Kiara sesekali melirik Hansa yang juga sempat meliriknya.


Master Nick mengangguk dengan jemarinya yang tak bisa berhenti memainkan jenggot. "Oke kalau begitu. Ikut kata Nona saja." Master Nick setuju.


"Kalau begitu, saya mohon undur diri." Pamit Kiara membungkukkan tubuh dan berjalan keluar dari ruangan itu.


Ia tiba-tiba terpikir tentang Menteri Waze. Guru yang melatihnya hingga menjadi seorang detektif handal.


Ia juga teringat tentang Perpustakaan Menteri Waze yang terbakar hari itu. Lebih tepatnya, sengaja dibakar oleh seseorang.


Bagaimana kabar pria tua itu, dan bagaimana kabar Perpustakaannya, ya?

__ADS_1


__ADS_2