
"Semua letak buku-buku dan barang di ruangan ini telah diubah." Sahut Kiara. Hansa mengerutkan kening.
Kiara melirik sebuah kain yang tampak menutup sesuatu. Ia berjalan dan menyibak kain itu dengan cepat. Di balik kain itu terdapat buku-buku yang menumpuk. Ia membongkar tumpukan buku itu dan menemukan kotak kecil yang tak asing baginya.
"Ini dia! ternyata masih ada di sini." Kiara antusias. "Sst, jangan teriak!" Hansa mendekati Kiara dan melirik kotak kecil di tangan gadis itu. "Buka!" pintanya.
Kiara mengangguk. Ia menghela napas sejenak. "Aku harap, mekanisme kunci kotak ini nggak diacak seperti kotak di Kantor Pengadilan itu." Harapnya. "Ayolah, Kiara. Kamu pasti masih ingat mekanisme kunci ini. Pakai ingatan detektifmu." Gumamnya meyakinkan diri.
Perlahan, tangannya tergerak memainkan mekanisme kunci dari kotak itu. Tak sampai satu menit, bunyi klik terdengar tanda kotak itu terbuka.
"Yes, berhasil!" Kiara tersenyum lebar sampai menampilkan titik di bawah kedua bibirnya.
Mereka mengintip isi dari kotak itu. "Kalung kristal?" Kiara mengangkat benda bersinar itu di udara. Hansa mengerutkan kening. "Ini barangnya?" tanyanya tak yakin.
Kiara menggeleng. "Bukan ini barangnya. Kok barangnya jadi ini?" Kiara bingung sendiri. "Nggak salah lagi. Ada yang menukar benda itu dengan kalung ini untuk mengecoh kita. Kalau yang melihat ini orang yang tamak, mereka pasti akan terhipnotis melihat keindahan kalung ini. Tapi, untungnya kita yang menemukannya." Ujarnya panjang.
Hansa melihat ke sekeliling ruangan. "Kamu yakin tempatnya di sini? kamu salah ingat kali." Hansa kurang yakin.
Kiara menggeleng. "Nggak. Aku ingat seratus persen. Kan aku sudah bilang, di antara kakak-kakakku, ingatanku ini yang paling kuat karena aku diajar menjadi detektif oleh Menteri Waze sejak aku berusia sebelas tahun."
"Terus kenapa begini?" Kalau Kiara saja bingung, apa lagi Hansa. Kiara berdiri dan melihat-lihat rak buku. Ia kembali mengerutkan kening. "Banyak buku-buku yang hilang. Makanya buku-buku ini banyak yang berpindah rak. Ternyata, ada yang sengaja mengambil beberapa buku dari sini." Sadarnya.
"Biar ku tebak. Pasti buku-buku yang hilang adalah buku-buku yang cukup penting dan mungkin cukup berguna untuk misi kita, kan?" tebak Hansa. Kiara menggangguk membenarkan.
Ia memegang kepalanya pusing. "Aku bingung banget ... ." Kedua lututnya merosot ke lantai.
__ADS_1
Telinga Hansa seperti menangkap sesuatu. "Sembunyi! ada orang." Ia menarik lengan Kiara untuk membantunya berdiri dan mengajak gadis itu bersembunyi di bawah jendela.
"Siapa?" Kiara hendak mengintip, namun Hansa melarangnya. "Biar saya aja yang liat." Ia mengintip dari balik jendela dan melihat seseorang berjubah hitam berdiri di depan pintu Perpustakaan.
Ia kembali menunduk saat pria itu mengarahkan kepala ke arahnya. Seperti sadar bahwa Hansa sedang melihat ke arahya. "Apa yang kamu lihat?" Kiara penasaran. "Ada seseorang mengenakan jubah berwarna hitam berdiri di depan." Hansa memberitahu dengan suara pelan. Ia kembali mengintip, memeriksa apa si jubah hitam masih berdiri di depan atau tidak. Namun nihil. Si jubah hitam telah pergi. Tak ada seorang pun yang berdiri di depan pintu Perpustakaan kini.
"Dia udah pergi." Sahut Hansa. "Apa kita udah boleh pergi?" tanya Kiara. Hansa menggeleng. "Jangan sekarang. Saya takut ini jebakan."
Kiara mengarahkan bola mata ke atas. Seperti sedang mengingat sesuatu. "Eh, tadi kamu bilang, dia mengenakan jubah berwarna hitam?" tanyanya memastikan. Hansa mengangguk cepat.
"*Ke mana orang tadi?" ia berhenti sejenak mencari sosok yang tadi dilihatnya. Akhirnya, ia melihat seseorang berjubah hitam dengan penutup kepala berlari di depannya*.
"*Hey, berhenti!" teriak Kiara yang sudah pasti mendapat banyak tatapan tidak suka dari orang-orang yang berlalu lalang*.
Kiara menceritakan hal itu pada Hansa yang langsung mengerutkan kening. "Dia melepasmu begitu saja?" tanyanya yang langsung diangguki oleh Kiara.
"Kali ini juga dia memilih melepaskan kita. Apa sebenarnya tujuan orang itu?" Kiara bingung. "Jangan langsung mengambil keimpulan. Belum tentu dia melepaskan kita. Siapa tau ini hanya jebakannya." Ujar Hansa.
"Pokoknya kita harus cari cara buat keluar dari sini." Hansa mencari jalan keluar yang mungkin akan lebih aman untuk mereka lewati. Ia memicingkan mata merasa ada yang kurang nyaman. "Aneh. Kok ruangannya tiba-tiba jadi panas." Sahutnya.
__ADS_1
"Aw, sakit!" teriak Kiara. "Sst ... ." Hansa menempelkan jari telunjuk di bibirnya mendengar teriakan Kiara. Namun ia terkejut saat melihat tangan Kiara yang berdarah dan terlihat menghitam.
Ia menundukkan kepala dan mencoba menyentuh tangan gadis itu. "Api. Dia membakar tempat ini." Mereka terkejut saat api mulai bermunculan di dinding di samping mereka. "Tanganku kena api." Sahut Kiara melemah saking terkejutnya. Api tersebut sudah mulai membesar.
Hansa menatap gadis itu. "Kamu harus tenang. Kita keluar dari tempat ini, oke?" Hansa memberikan tatapan lembutnya untuk pertama kalinya. Ia mencoba menenangkan Kiara yang terlihat syok.
Ia menggenggam sebelah tangan Kiara. "Kita keluar dari sini. Aku janji akan membawamu keluar dari sini apa pun yang terjadi." Hansa merangkul pundak gadis itu dan membantunya berdiri.
"Kamu ... bilang apa tadi? kamu ... menyebut diriku 'aku'? bukan 'saya'. Aku ... senang mendengarnya." Gumam Kiara tersenyum lemah.
"Bagus. Perbanyaklah bicara! supaya kamu nggak mikirin sakitnya." Saran Hansa. Kiara memejamkan mata perlahan. "Aku ... meninggalkan kakak-kakakku saat aku baru masih berusia sebelas tahun. Saat itu, aku pergi untuk mencari kak Tama dan kak Liam untuk mengabari mereka tentang kematian Guru." Kiara menatap Hansa sejenak.
"Kamu boleh ngomong apa aja. Aku akan mendengar." Ujar Hansa di tengah dirinya sedang berjuang mencari jalan keluar.
"Aku ... sangat sedih saat itu. Beliau bagaikan seorang ayah bagiku. Dan ... sampai sekarang, aku bahkan nggak tau di mana makam beliau. Karena begitu beliau meninggal, aku langsung berlari seperti orang gila untuk mencari kak Tama dan kak Liam meski aku nggak tau di mana keberadaan mereka. Tapi, karena aku masih kecil dan baru pertama kalinya turun gunung pada saat itu, aku jadi tersesat." Kiara memberi jeda di tengah ceritanya.
"Tapi, aku tetap melanjutkan perjalananku karena nggak tau harus ke mana lagi. Di pertengahan jalan, aku bertemu Menteri Waze. Dia mengangkatku sebagai muridnya begitu mendengar bahwa aku adalah murid Haw Fayes. Makanya di legenda, yang terkenal hanya ke-empat kakak-beradik Fayes. Karena dari usia sebelas tahun aku udah nggak sama kakak-kakakku lagi." Tuturnya panjang.
"Haw Fayes meninggal? kenapa nggak ada yang tau tentang kematiannya? beliau kan seorang Legenda Pendekar nomor satu." Heran Hansa.
"Pasti ... kakak-kakakku sengaja merahasiakannya demi menghormati mendiang Guru kami dan agar musuh-musuh beliau, nggak merasa puas." Jawab Kiara.
Kiara semakin lemah. "Tuan Hansa ... apa kita udah di luar? aku boleh tidur nggak? aku ngantuk ... ." Izinnya.
"Ada sebuah bilik di balik rak yang paling ujung ini ternyata. Sepertinya, di sini ada jalan keluar. Kamu bertahan sedikit lagi, ya. Jangan tutup matamu. Terus bicara!" pintanya.
__ADS_1
Suara Hansa sudah terdengar sayup-sayup di telinga Kiara. Perlahan, kedua matanya tertutup.
"Kiara, Kiara!"