
Menurut Sima, adiknya itu telah menjelma jadi gadis yang cantik. Terakhir kali ia melihat adiknya saat gadis itu masih berusia sebelas tahun. Hari di mana mendiang Gurunya wafat.
Namun ada juga banyak hal yang menurutnya tidak berubah dari gadis itu. Meski mereka hanyalah saudara seperguruan sekaligus saudara yang diangkat melalui sumpah, dengan kata lain mereka bukan saudara yang lahir dari rahim yang sama, namun ke-lima kakak-beradik Fayes benar-benar saling menjaga bahkan lebih dari saudara kandung.
Terutama Kiara. Gadis itu lah yang paling mereka khawatirkan dan tak pernah lolos dari pengamatan mereka sedetik pun. Bahkan namanya pun tak ada dalam julukan kakak-beradik Fayes. Dunia hanya mengenal ke-empat kakak-beradik Fayes. Tidak ada yang ke-lima.
Hingga saat di mana Guru tercinta mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Membuat gadis nakal itu lolos dari pengamatan mereka. Hingga terjadi lah perpisahan selama delapan tahun itu. Dan selama delapan tahun itu pula, mereka sibuk mencarinya ke mana-mana.
...----------------...
Aku merasa lelah dengan tubuhku yang terus terbaring tanpa mau sekedar membuka mata. Padahal aku sudah rindu dengan langit-langit kamarku. Aku rindu dunia luar. Aku rindu akan sinar matahari dan bulan.
__ADS_1
Dan yang terpenting, aku rindu dengan semua orang yang ku sayangi.
Aku mungkin tidak sadar apa yang sedang ku alami. Aku bahkan tidak sadar bagian manakah dari diriku yang saat ini sedang mengeluh?
Mungkin saat tersadar dari koma, aku akan melupakan keluhan ini dan tersadar bahwa selama ini aku sedang koma dan otakku tidak dapat bekerja.
Ingin sekali aku berteriak bahwa aku ingin keluar dari sarang kegelapan ini. Di sini bahkan tak ada setitik pun cahaya. Aku hanya terkurung dalam kegelapan.
Aku masih ingat betul suara berat pria yang terdengar sendu namun menenangkan itu.
Aku bahkan ingat suara langkah kaki pria itu saat mendekati ranjangku. Aku ingat suara seruan dan ajakan dari pria itu yang menyuruhku untuk bangun.
__ADS_1
memang aku kenapa? aku hanya merasa sedang terpenjara di suatu ruangan yang hanya dipenuhi dengan kegelepan. Di sini, aku tak perlu melakukan aktifitas seperti yang biasanya ku lakukan. Aku hanya merasa seperti orang yang duduk memeluk lutut di sudut ruangan.
Hari itu, saat aku mendengar bisikan lembut dari pria yang dapat menenangkan hatiku dari segala ketakutan yang ku rasakan, setidaknya aku ingin bisa menyunggingkan senyum tanda terima kasih.
"Kiara, bangunlah! aku minta maaf karena tidak menjagamu."
Kalimat itu yang pria itu ucapkan berulang kali di telingaku. Aku berharap pria itu kembali dan menuntunku keluar dari tempat ini dengan suaranya yang merdu.
Karena pria itu juga, aku tahu bahwa mungkin namaku adalah Kiara. Sebelumnya, aku bahkan tak sadar dengan semua tentang diriku. Aku tak sadar kehidupan apa yang aku jalani kini? yang lebih parahnya, aku bahkan tak mengerti yang sedang aku jalani ini apakah sebuah kehidupan atau kematian?
Aku juga tidak tahu apa arti dari kehidupan itu sendiri.
__ADS_1