Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Hyra putus dari Fian?


__ADS_3

Hyra mendengar kabar bahwa Fian sedang bersinggah di Kediaman pamannya, Menteri Waze. Itu membuatnya berinisiatif ingin mengunjungi tunangannya itu.


"Pengawal Deon, apa kamu nggak mau ikut denganku?" Hyra memang berniat mengajak pria itu untuk mengawalnya sepanjang perjalanan.


"Maaf Tuan Putri, saya masih ada tugas yang harus diselesaikan." Deon hendak bergegas dari sana.


"Tapi Yanda bilang, aku boleh mengajakmu." Deon menghentikan langkah dan berbalik menatap Hyra datar. Ia tidak bisa membantah lagi kalau sudah berkaitan dengan Kaisar.


"Tuan Putri, mau saya antarkan ke mana?" sahutnya datar. "Temani aku ke Kediaman Menteri Waze. Aku mau bertemu dengan tunanganku."


Deon terdiam sejenak. Ia mengeraskan rahangnya dan menundukkan kepala. Beberapa detik kemudian, ia baru mendongak dan mengangguk bersedia mengawal Hyra menuju Kediaman Menteri Waze untuk bertemu tunangan atau calon suaminya.



Julian sedang berdiskusi dengan Menteri Waze dan Fian. Ia membungkuk untuk melaporkan masalah yang membuatnya risau akhir-akhir ini.



"Tuan, banyak musuh yang sekarang sedang mengincar kita. Kapan kita akan memusnahkan mereka?" ia menanyakan kapan Menteri Waze akan membuat keputusan yang tepat untuk membasmi musuh-musuh yang menghalangi rencana mereka.



Menteri Waze mengangkat sebelah tangannya dengan santai. "Sabar aja." Pintanya tanpa ada sedikit pun beban di wajahnya.



Julian mengerutkan kening melihat reaksi Menteri Waze yang biasa-biasa saja. "Tuan, menurutku, debu yang menempel di jendela harus segera dibersihkan. Kalau tidak, debu itu akan semakin banyak." Opininya.



Menteri Waze tak menanggapi. Ia malah menepuk nyamuk-nyamuk yang terbang di sekitarannya. "Aduh, banyak banget nyamuk. Kapan ya, nyamuk bisa dimusnahkan? padahal aku udah banyak menepuknya sampai mati." Keluhnya.

__ADS_1



Julian menautkan kedua alisnya. Ia paham sekarang. "Kalau mau memusnahkan nyamuk yang jumlahnya udah banyak, lebih baik langsung musnahkan dengan obat pemusnah nyamuk daripada harus capek capek menepuk nyamuknya satu-persatu." Jelas Menteri Waze.



"Tuan bijaksana. Terima kasih telah menyadarkanku. Mohon pencerahannya kalau ada hal yang aku kurang teliti." Ia membungkuk tersadar dari pemikirannya yang salah.



"Nggak apa-apa. Kamu nggak sepenuhnya salah. Kita memang harus membersihkan debu yang menempel di jendela. Tapi nggak masalah kalau lama banget baru kita membersihkannya. Karena meskipun debunya udah semakin tebal, selama debu itu masih bisa dihapus, jendelanya tetap akan kembali mengkilat seperti semula, meski harus mengeluarkan lebih banyak tenaga."



Sesampainya di sana, Deon menunggu di depan Kediaman Menteri Waze. Sedangkan Hyra memilih menelusuri Kediaman itu untuk mencari keberadaan Fian, dan akan menyapa Menteri Waze setelahnya.


Ia melewati taman di sekitar Kediaman itu. Di sana, ia melihat Fian tampak tengah berbincang serius dengan Menteri Waze. Hyra memilih menunggu tanpa berniat mengganggu karena tak mau mengganggu perbincangan mereka. Ia membalikkan tubuh hendak menunggu di depan Kediaman bersama Deon. Namun telinganya tak sengaja mendengar perbincangan Fian dan Menteri Waze. Membuat langkahnya terhenti. Ia kembali berbalik dan memutuskan berdiam diri di sana untuk mendengar apa saja yang mereka katakan.


Fian mengangguk patuh. "Aku tau, Paman. Tapi untuk saat ini, aku belum bisa membatalkan pernikahan kami. Aku hanya bisa mengundurnya. Aku janji aku akan mencari alasan untuk menunda pernikahan kami."


Sayangnya, Hyra tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Ia hanya mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Fian. Bahwa pria itu akan mencari alasan untuk mengundurkan pernikahan mereka.


Hyra bingung. Untuk alasan apa Fian berniat menunda pernikahan mereka? dari cara mereka berbincang, tampaknya tidak ada masalah berat atau masalah pribadi yang membuat Fian harus menunda pernikahan mereka. Hal itu sungguh membuatnya kecewa.


Ia menahan tangisnya agar tidak pecah saat itu juga. Ia mundur perlahan ke belakang. Entah bagaimana caranya, ia ingin segera pergi dari sana. Namun, karena tak memperhatikan langkah, kakinya tak sengaja menyandung sebuah batu dan membuatnya terjatuh. "Aw!" pekiknya.


"Siapa di sana?" teriak Menteri Waze. "Nggak apa-apa, Paman. Biar aku yang urus." Fian melangkah dengan cepat untuk memeriksa seseorang di sekitar sana yang mungkin mendengar perbincangan mereka.


Hyra sadar bahwa Fian tengah menuju ke arahnya. Ia dengan cepat berdiri tanpa memedulikan rasa perih di kakinya.


Sekuat tenaga ia berusaha menjauh dari sana. Tapi terlambat. Karena Fian telah melihatnya lebih dulu. "Tuan Putri, Anda ngapain di sini?" Fian menarik tangan Hyra dan membawanya jauh dari sana. Ia tak ingin Menteri Waze mengetahui keberadaan Hyra.

__ADS_1


Hyra menatap Fian tajam. Ia benar-benar kecewa dengan pria itu. "Kamu mendengarnya?" Fian menunduk.


"Kenapa? kenapa kamu tega melakukan ini padaku?" protes Hyra. Tangisnya bahkan sudah pecah. Fian menggeleng. "Aku nggak bisa memberitahumu." Sahutnya pelan.


Hyra membuang muka. "Jadi, apa benar kamu akan tetap berusaha menunda pernikahan kita?" meski ia yakin ia tahu jawabannya. Tapi ia ingin mendengar pria itu menyampaikan padanya secara langsung.


Fian terdiam sejenak. Ia mendongak dan menatap Hyra lurus. "Kalau memang harus, aku akan melakukannya." Jawabnya.


'Pak'


Hyra memberikan tamparan keras di pipi Fian. Ia sedikit terkejut sebenarnya. Karena ia belum pernah menampar siapa pun seumur hidupnya. Lebih tidak pernah bertemu orang sekejam Fian.


"Kalau kamu melakukan itu, lebih baik kita nggak usah menikah saja sekalian." Setelah mengucapkan itu, Ia berlari menjauh dari sana dengan kekecewaan di hatinya.


Fian menatap punggung Hyra. Ia mengeraskan rahangnya. "Apa pun masalahnya, aku akan tetap menikahimu, Tuan Putri."


Hyra kembali ke kereta kencana dengan wajah yang masih penuh kesedihan. Ia menaiki kuda tanpa mengatakan sepatah kata. Deon menyadari hal itu. Tapi ia memilih tak bertanya apa pun, karena itu menyangkut masalah pribadi Tuan Putri.


Tanpa diperintahkan pun, ia memerintahkan para Pengawal yang mengawal Hyra untuk kembali ke Istana.


Sesampainya di Istana, ia menangis sejadi-jadinya di pangkuan Kaisar. Berkali-kali pun Kaisar bertanya penyebab ia menangis, ia tidak memberitahunya dan hanya menangis tanpa henti. "Yanda, aku nggak mau menikah lagi." Sahutnya mendongak.


Kaisar terkejut. "Apa maksudmu nggak mau menikah? kamu kan akan menikah dengan keponakan Menteri Waze."


Hyra mengerucutkan bibir. "Pokoknya aku nggak mau menikah." Kekehnya. Kaisar menghela napas panjang. "Ya udah. Sekarang kamu kembali ke Istanamu. Yanda masih ada urusan." Pintanya membelai rambut Hyra lembut.


Hyra membungkuk dan pamit dari sana. Sepeninggalnya Hyra, Kaisar duduk termenung untuk beberapa saat. Sebenarnya ia tahu penyebab putrinya sedih. Karena ia tahu Menteri Waze bukanlah orang yang tepat untuk menjadi keluarga putrinya. Tapi pernikahan itu tetap seharusnya terjadi. Tidak bisa dihindarkan.


"Deon!" serunya. Deon masuk dan membungkuk. "Apa ada perintah, Yang Mulia?" tanyanya. Kaisar menatapnya sejenak.


"Kamu hiburlah Tuan Putri!" pintanya. Deon sempat terkejut. "Saya tidak pantas, Yang Mulia." Ia berniat menolak perintah itu.

__ADS_1


"Pergilah! ini perintah. Karena hanya kamu yang bisa menghiburnya." Kaisar bersikeras. Mau tak mau, Deon harus memenuhi perintahnya.


__ADS_2