
sore hari saat sedang bersiap-siap belanja. terdengar pintu depan ada yang mengetuk.
tok. tok. tok.
"assalamualaikum" salam dari luar rumah.
"wa'alaikumsalam, sebentar" jawab jawab Bu Wiwid dari dalam.
lalu dibukakan pintu, ternyata Tantenya Cintya, adik dari pak Rohmad.
"loh kamu dek, kesini kok Ndak bilang-bilang?" kata ibu Wiwid.
"hehe, ini mbak mau antar bingkisan buat saudara-saudara" jawab Tante Lina sambil memberikan bungkusan parcel kepada Bu Wiwid.
"wah terimakasih, masuk dek" jawab ibu Wiwid girang sambil menerima parcelnya.
"mas Rohmad kemana mbak? sama anak-anak kok sepi?" tanyanya sambil duduk di kursi ruang tamu.
"itu masmu lagi kerumah temannya mau ada kerjaan katanya, kalau ridho ya tidur. Cintya ada sebentar lagi keluar paling"
"Oalah, syukur deh kalo Tya dirumah mbak, mau aku ajak ngantar parcel ke tempat saudara-saudara soalnya" lanjut Tante Lina.
tak lama berselang yang sedang dibicarakan datang.
"eh Tante Lina, apa kamar Tante? lama gak kesini sih?" Cintya segera mencium tangannya.
"maaf nduk, Tante agak sibuk kemarin-kemarin"
"oh. iya deh, ini apa Tante?" tanya Cintya.
"ini parcel dari om Tya, oh iya kamu bisa nggak nemenin Tante ngantar parcel ke tempat saudara yang lain?" tanya Tante Lina dengan penuh harap.
Cintya yang bingung gimana menolaknya karena sudah ada rencana mau belanja sama ibunya, mengetahui kebimbangan anaknya akhirnya Bu Wiwid angkat bicara.
"udah gak apa-apa nduk, antar Tante Lina. belanjanya besok aja" ujar Bu Wiwid.
"loh mbak mau belanja sama Tya to? gak jadi kalau gitu aku sendiri aja mbak" sesal Tante Lina.
"gak apa-apa Lin. orang cuma mau belanja jajanan lebaran aja kok" Bu Wiwid menenangkan adik iparnya itu.
lalu mereka berdua pergi kerumah saudara mereka dengan menunda jadwal belanja.
"gimana ngajarnya Tya?" Tante Lina membuka obrolan dalam mobil.
"sejauh ini lancar tant, asyik juga" jawabnya sambil tersenyum.
"ponakan Tante yang cantik ini pasti banyak yang deketin ya di sekolah?" tanya Tante Lina dengan senyum di kulum.
"ah Tya gak mikir gituan tant, masih fokus kerjaan aja dulu"
"ya siapa tau Tya, emang udah punya calon?" selidik Tante Lina.
"belum tant" jawabnya singkat.
"masak perlu Tante carikan?" ledeknya.
"ah apaan sih Tante, Tya masih bisa kali cari sendiri" jawabnya ketus.
"ya siapa tau, cantik-cantik gini masa masih jomblo aja?"
"nanti kalau udah waktunya juga ketemu sendiri tant"
lalu mereka saling ngobrol tentang kabar keluarga mereka.
k*****
keesokan harinya, mereka berangkat menuju toko-toko untuk mencari suguhan diwaktu lebaran nanti yang sempat tertunda.
suasana sore itu sangat ramai para pengunjung toko-toko yang berjejer sepanjang jalan karena sudah mendekati hari raya.
ditengah kerumunan orang-orang yang memilih jajanan, Cintya mencari-cari barang yang sudah tertera didalam list belanjaan.
(Cintya POV)
__ADS_1
tiba-tiba ibu memanggil nama seseorang yang sudah beberapa kali ia dengar namanya.
"krom, Akrom kan?" ibu melambaikan tangan memanggil seseorang.
lalu kutoleh kearah ibu memanggil, datang sesorang yang dipanggil ibu mendekat dengan senyumnya.
DEG.
dia hadir seperti menuntaskan keperluan rindu hati Cintya yang tak diketahuinya.
'kenapa dia disini? mana senyum manis lagi. Yaa ALLOH tolong kondisikan wajah saya' gumamku dalam hati sambil mengatur detak jantungku yang sudah tidak karuan.
"assalamualaikum Bu," salam Akrom mencium tangan ibuku.
"wa'alaikumsalam nak, gimana kabarmu?"
"Alhamdulillah baik Bu, ibu sendiri gimana?" tanya Akrom balik.
"Alhamdulillah ibu juga baik nak"
"oh iya kenalin ini kakaknya ridho krom" ibu menyenggolkan sikunya hingga membuatku kaget.
"eh, oh iya, Bu?" tanyaku ke ibu yg baru sadar dari lamunanku.
"nglamun apa si kamu nduk?" ledek ibuku.
"eh nggak Bu. hehe" jawabku seenaknya.
"oh iya Bu, Akrom sudah kenal Bu, Bu Cintya guru saya dikelas" jawabnya ramah sambil tersenyum.
"oh iya ibu sampai lupa, dia ngajar di sekolahmu ya? maklum sudah tua nak" lalu ibu tertawa.
"kamu ngapain disini?" lanjut ibu.
"saya ngantar ibu saya belanja keperluan lebaran Bu" jawabnya sopan.
"oh gitu. mana ibumu?" tanya ibuku.
"lagi masuk Bu, paling sebentar lagi juga keluar"
"Assalamualaikum" sapanya ramah.
"wa'alaikumsalam" jawab kami serempak.
"kamu ibu cari-cari kok disini nak?" sapa wanita itu kepada Akrom.
"oh iya Bu, kenalin ini ibunya ridho teman Akrom, dan ini kakaknya" sambil menunjuk dengan jempolnya kearahku yang sejak tadi hanya diam mematung.
"oh ibunya ridho. perkenalkan saya Maftukha ibunya Akrom" sambil tangannya bersalaman kepada ibuku.
"saya Wiwid ibunya ridho" dengan senyum ibu membalas salamannya.
"ini anak saya namanya Cintya" lanjut ibu sambil menunjukku.
"Cintya Bu" aku yang kaget langsung kucium tangan Bu maftukhah.
"aah cantik sekali kamu nduk" puji Bu maftukhah yang langsung membuatku menahan malu.
"ah ibu bisa aja" jawabku dengan wajah yang mungkin sudah sangat memerah.
"iya ibu serius, kalau ridho sudah sering ketemu, nggak nyangka ibu sama kakaknya cantik-cantik ternyata" sambung Bu maftukhah.
"ah sampean juga cantik banget Bu, pantesan si Akrom juga ganteng gitu" jawab ibuku yang membalas pujian dan mungkin juga menggoda Akrom yang hanya diam saja.
lalu kami bercengkrama dengan akrabnya. yang ku tau ternyata selama ridho sering kerumah Akrom, atau sebaliknya Akrom main kerumah kami, ternyata ibu akrom dan ibuku belum pernah bertemu.
"kamu sudah menikah nduk?" tanya Bu maftukhah membuatku kaget dan malu-malu.
"saya belum menikah Bu, masih baru lulus kuliah" jawabku dengan wajah yang kurasa sudah sangat merah menahan malu.
"oh masih muda, pantas saja manis imut-imut gini, tapi udah punya calon?" lanjutnya.
"belum Bu, belum mikir kesana dulu" kutundukan wajahku yang sudah tidak kuat menahan jantungku yang semakin berdebar.
__ADS_1
"oh, yaudah konsen sama cita-cita kamu dulu nduk, siapa tau kamu selesai dengan cita-citamu Akrom udah siap" goda Bu maftukhah dengan alisnya dinaik-turunkan.
bluss, jantungku semakin bergedup kencang dan tubuh melemas, kulirik Akrom yang sudah membulatkan matanya kaget dengan perkataan ibunya barusan.
"ibu apa-apaan sih? Akrom masih mau kuliah Bu!" jawabnya cetus dengan wajahnya kulihat juga memerah.
"ya gak apa-apa to krom, namanya jodoh siapa yang tau" jawab Bu maftukhah.
"iya nggak Bu?" lanjutnya yang kini sambil tersenyum kearah ibuku.
"saya sih nurut anak-anak saja Bu. yang penting bisa membahagiakan mereka" jawab ibuku.
"sama yang 'alim ilmu agamanya, biar anak-anak jadi lebih dekat sama Gusti ALLOH.
kayaknya Akrom boleh juga" lanjut ibuku sambil terus menggoda dengan senyumnya.
lalu mereka tertawa bersamaan, sedang aku dan Akrom hanya menunduk malu yang sudah tidak ketulungan lagi.
"ish ibu ini, Akrom murid Tya Bu" jawabku mencoba menepis rasa gugupku.
"ya gak apa-apa to nduk. emang kamu gak mau krom sama yang lebih tua dari kamu?" kini ibuku ganti menggoda Akrom.
"eh, jodoh sudah ada yang ngatur Bu" itulah jawaban yang bisa kudengar darinya.
"loh kamu guru Akrom di sekolah nduk?" kaget Bu maftukhah.
"iya Bu"
"lha kan malah kebetulan kalian bisa lebih kenal satu sama lain" ledeknya sambil terkekeh.
"iya Bu, Bener itu" ibuku ikut menimpali perkataan Bu maftukah dan mereka membali menertawakan kami yang hanya bisa berdiam malu tak berkutik.
"kalau Akrom nakal di sekolahan hukum aja nduk gak usah sungkan" ujar Bu maftukhah di sela tertawanya.
"eh, Akrom di sekolah gak bikin masalah kok Bu" jawabku jujur.
"ah ibu, Akrom di sekolah diem aja Bu" bela Akrom.
"ya kalau kamu diem aja itu gak sekolah krom, tapi tidur" ledek ibunya lagi.
"yasudah Bu, sudah sore nih, ayo pulang" tiba-tiba Akrom mengajak ibunya pulang.
"loh, ibu masih ngobrol sama besan ini Lo nak" ledek ibunya sambil terkekeh.
"halah ibu ini Akrom masih mau kuliah Bu"
"ayolah hidangan buka puasa belum tersaji dirumah Bu" bantah akrom.
"yasudah ayok" jawab Bu maftukhah menuruti anaknya.
"kami duluan Bu" pamit Bu maftukhah pada kami.
"iya Bu, hati-hati ya? krom jangan ngebut-ngebut" jawab ibuku sambil mencium pipi kiri kanan dengan ibunya Akrom.
"iya Bu siap" jawab Akrom sambil mencium tangan ibuku.
"ibu duluan nduk, itu si anak ganteng udah gak sabar mau buka puasa kayaknya" pamitnya sambil meledek Akrom.
"iya Bu, hati-hati dijalan ya?" balasku mencium tangannya.
lalu Akrom hanya tersenyum kepadaku dengan telapak tangganya disatukan memberi salam.
'bisa nggak sih krom senyumnya biasa aja? bikin aku makin jantungan aja' batinku sambil membalas senyumnya dengan telapak tanganku yang juga kusatukan untuk membalas salamnya
"assalamualaikum"
"wa'alaikumsalam" jawab kami berdua.
lalu kulihat Akrom mengambil alih tas belanjaan ibunya untuk dibawa dan di letakan di motornya, lalu mereka berlalu menggunakan Vespa biru yang dikemudikan Akrom.
.
TERIMAKASIH SUDAH SETIA MENUNGGU UP'NYA LANJUTAN TULISAN AUTHOR.
__ADS_1
jangan lupa jejaknya ya kak? terimakasih banyak