Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Sebuah Kejutan.


__ADS_3

Akrom dan Cintya akhirnya kembali ke tempat tinggal masing-masing setelah di rasa Cintya cukup mendapat penjelasan dari Akrom serta telah puas berbincang tentang berbagai hal lain.


Setelah sampai rumah Cintya membuka pemberian Akrom pagi tadi di sekolah. sebuah kantong plastik berisi kain yang terlihat didalam bungkusnya. lantas dibukanya bungkus plastik dan mengeluarkan isi dua kain berwarna hitam dan biru tua.


"niqob?" tanya-tanya Cintya memperhatikan bentuk potongan dari kain itu.


"iya nih niqob" ucap Cintya lirih pada dirinya sendiri.


Muncul rasa bersalah tadi berucap bahwa belum siap mengenakan niqob sedang paginya Akrom telah memberi apa yang di bahas pada siang hari.


Teringat wajah masam secara tiba-tiba dari Akrom saat dirinya membahas tentang mengenakan niqob seperti yang diminta Akrom.


Cintya berjalan menuju cermin yang ada di kamarnya. ia mencoba mengenakan niqob pemberian Akrom yang ada dalam genggaman tangannya.


"cantik juga?" gumam Cintya memperhatikan tampilan baru dengan hiasan di wajahnya.


Ia kembali teringat jilbab syari pemberian Akrom pertama, di carinya dalam lemari di tumpukan jilbab. setelah menemukan lalu ia kenakan dengan paduan warna yang sama antara jilbab dan niqob.


Tersenyum lebar bibir Cintya yang tertutup oleh niqob mendapati dirinya seolah-olah menjadi orang baru yang lebih anggun.


Ia merasa aman saat senyum manisnya tidak terlihat oleh cermin. Ia merasa tenang saat wajahnya tidak lagi terpantul dari cermin yang tengah ia pandangi.


Dirinya nyaman, hatinya tenang, di pertemukan dengan Akrom sebagai muridnya yang kini menjadi perantara Tuhan untuk menjaganya.


... -----...


Hari berganti, berjalan seperti adanya.


Pagi tetaplah pagi, anggun embun menanti berpadu garang sang surya.


Seindah arunika yang menyapa setiap embun.


Menyingkap jalan pulang santri selesai mengaji pagi.


Pagi ini seperti biasa, sekolah dan kegiatan belajar mengajar berjalan sesuai jadwalnya. Akrom telah bersiap belajar bersama Ridho, Agus dan segenap siswa lainnya.


Pagi ini di awali dengan mata pelajaran matematika, dan masih Cintya yang memberi materi untuk kelasnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak" sapa seorang guru wanita muda mengenakan kerudung syar'i sepanjang pinggul, dengan seragam guru yang tidak lagi pressbody seperti sebelumnya. begitu anggun menyapa seisi ruangan kelas.


"waalaikumsalam" sahut semua siswa secara serentak.


Akrom yang melihat kearahnya mendadak menjadi bengong terpana dengan wajah Cintya yang berubah menjadi sangat anggun mengenakan setelan baru yang juga pertama kali di lihat olehnya.


"heh, biasa aja kali lihatnya" Agus menepuk pundak Akrom dari belakang membuyarkan lamunanan.


"eh apaan sih?" Akrom mengelak dari tuduhan Agus.


"pakai ngeles lagi, udah ketahuan juga" balas Agus meledek Akrom sambil tertawa cekikikan.


"salah lihat kau gus" bantah Akrom masih kukuh menyembunyikan kegugupannya.


"ah udah, berisik kalian" lerai Ridho yang risih dengan adu mulut kedua sahabatnya itu.


Cintya yang juga menyadari kegaduhan di bangku belakang setelah sebelumnya sempat melirik ke arah Akrom yang bengong melihat kearahnya menjadi tersipu.


"yang di belakang tolong untuk tenang ya? sudah saatnya pelajaran" tegur Cintya kepada gerombolan Akrom dan teman-temannya sekaligus meledek Akrom yang mendadak salah tingkah.


"iya bu" jawab Agus, Ridho dan Akrom lirih menyembunyikan wajahnya di atas meja.


"ini kok kurang satu? siapa yang belum?" tanya Cintya setelah menghitung jumlah tugas yang sudah di kumpulkan di mejanya.


Sesaat setelahnya Akrom berjalan sedikit berlari menghampiri mejanya menyerahkan tugas miliknya.


"baru selesai di kerjakan?" tanya Cintya dengan nada sedikit ketus.


"hehehe, maaf bu" jawab Akrom meringis menggaruk belakang kepalanya.


"ya sudah, sana kamu kembali ke bangku kamu" perintah Cintya tegas.


"baik bu, terimakasih" balas Akrom lirih lalu berjalan kembali ke bangkunya.


"baiklah, kalian buka bab selanjutnya. kalian pelajari dulu nanti kita bahas bersama sambil saya periksa PR kalian" perintah Cintya kepada seluruh siswa di dalam kelas itu.


Saat mulai memeriksa tugas muridnya, Cintya melihat ada secarik kertas yang di lipat di atas buku tugas Akrom, yang di tumpuk ada di deretan paling atas karena memang ia paling terakhir mengumpulkan.

__ADS_1


"apa lagi ini?" gumam Cintya mengambil secarik kertas itu dan membuka isinya.


"bunga indah di meja guru depan kelasku kini lebih merekah indah, hanya kini semakin menawan ia menjaganya, terimakasih untuk kejutannya. semoga saya menjadi orang yang bisa menikmati indahnya penjagaan bunga itu." baca Cintya dalam hati dengan hati berbunga-bunga dan bibir tersenyum manis.


"Aaaaaamiin" ucap Cintya refleks mengucapkannya sedikit keras setelah selesai membaca isi surat dari Akrom.


Sontak semua pasang mata di dalam kelas mengarahkan pandangannya ke arah Cintya, kaget dan heran dengan suara Cintya yang memecah keheningan kelas.


"ada apa bu?" tanya salah satu murid karena heran dengan Cintya yang tiba-tiba berucap seperti itu dengan cukup keras.


"eh nggak apa-apa, nggak kok. hehe. kalian lanjut aja" jawab Cintya sambil nyengir kuda yang juga kaget karena kelepasan mengucapkannya.


Ia masih tersipu, dan melirik ke arah Akrom yang sedang menenggelamkan wajahnya pada buku di atas mejanya dan menutup kepala bagian belakang dengan kedua telapak tangannya.


Sedang di area bangku belakang Ridho mencolek lengan Akrom yang berada di atas meja dan berbicara dengan suara berbisik.


"pasti gara-gara kamu tuh" ucap Ridho.


"apaan? kok aku segala?" bantah Akrom yang posisinya masih sama tanpa menoleh ke arah Ridho.


"ngaku aja bro, aku lihat kau nulis di kertas yang ada di buku tugasmu. lalu aku lihat mbak Tya membacanya sebelum bilang amin kenceng" Ridho memberi alasan atas tebakannya.


Akrom tidak menjawab malah semakin kencang ia menelungkupkan kepalanya di atas meja.


"sama mbak Tya pakai pakaian seperti itu juga pasti gara-gara kamu" lanjut Ridho melancarkan serangannya ke Akrom.


"iya-iya, gara-gara aku dho, sorry deh" jawab Akrom menoleh ke arah Ridho.


"ya aku sih nggak masalah bro, malah terimakasih sih. setidaknya kecantikan & tubuh mbakku nggak jadi pusat pandangan orang-orang jahil" jawab Ridho tenang.


"orang-orang jahil kaya kamu dho?" ledek Akrom.


"enak aja, mana ada aku jahit ngelihatin body cewek?" bantah Ridho.


"ngaku aja, ngapain kemarin nongkrong di depan sekolah SMEA sebelah kalau nggak lihatin cewek-cewek?" ledek Akrom lagi dengan suara sedikit keras dan di ikuti oleh tertawanya.


"eh jangan keras-keras geblek, nanti ketahuan anak-anak" Ridho membungkam mulut Akrom yang terlihat tengil.

__ADS_1


"hey, bisa tenang nggak? itu yang belakang berisik terus dari tadi? atau mau keluar aja?" tegus Cintya terdengar galak.


"iya bu, maaf" jawab Akrom dan Ridho lirih dengan serentak.


__ADS_2