Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bertemu (bonus puisi)


__ADS_3

Hari semestinya tiada kelu


Bernaung kabut di tautan pilu


Mengemas raut harusnya memeluku


Masih saja dingin mengulas ragaku


Lemah, lemah kuberdiri menanti


Bertalu rindu dimana kucari


Sedang seutas kabar tak kutemui


Mengurai lembayung nanar menepi


Kau dingin dipelupuk hari


Panas sanubari meronta sepi


Entah, entah apa terjadi


Semoga hatimu masih disini


Hari berlalu sepi beriringan kegelisahan. seperti itulah sekiranya yang dirasa oleh Cintya. berlalu begitu saja tanpa seorang yang kini sudah seperti menjadi imun bagi waktunya yang harus di lalui.


Tiga hari telah terlampaui tanpa kabar Akrom, siapapun tiada yang tahu. Pagi ini Cintya bergegas pergi ke sekolah berharap bertemu dengan Akrom karena hari ini masa skorsingnya sudah habis.


Sesampainya di sekolah Cintya langsung menuju kelas Akrom, tidak untuk mencarinya hanya berjalan sambil melihat isinya apakah sudah ada Akrom disana. namun lagii-lagi hatinya harus bersabar ketika yang diharapkan belum juga melegakan.


Ia kembali menuju ruang guru dengan langkah lunglai, raut kecema masih menghiasi wajah manisnya. yang beberapa kali harus ia paksakan tersenyum untuk menjawab siswa-siswi yang menyapanya saat berpapasan.


Cintya memutuskan untuk menunggu di depan ruang guru, berharap melihat Akrom melintas masuk ke sekolah.


Lama menunggu, hingga drama mencari alasan ketika di tanya oleh rekan guru yang lain. masih saja belum nampak seorang pangeran muda yang telah menggalaukan hatinya.

__ADS_1


Bel telah berbunyi, menandakan harus segera usai Cintya menunggu, dan segera harus beranjak dari tempatnya untuk melaksanakan tugas.


Di sebuah kelas yang menghadap langsung ke lapangan basket, Cintya mengawali kegiatan mengajar hari ini. mata pelajaran matematika yang sejak kecil menjadi pelajaran kesukaannya. kini ia berusaha menyalurkan ilmu yang ia punya untuk anak didiknya.


Disaat sedang asyik mengajar untuk melupakan kegundahan hatinya, tak sengaja ia melihat kearah lapangan basket yang kebetulan berada benar di depan kelas. dimana sedang ada beberapa siswa yang sedang berlarian mengitari lapangan namun masih dengan seragam kelas, bukan seragam olahraga. dan seorang di antaranya mencuri perhatian dirinya.


"Akrom?" Ucap Cintya dalam hati menyorotkan matanya tajam memastikan ia sedang tidak salah lihat dengan seorang yang ada di penglihatannya.


Kelegaan hatinya membuncah ketika melihat orang yang dirisaukan tiga hari kebelakang telah hadir di depan matanya, meskipun belum memberi penjelasan tentang apa dan mengapa serta bagaimana ia menjalani tiga hari kemarin.


Hati tidak tenang menanti jam istirahat tiba. ada banyak pertanyaan dan kerinduan menggebu memaksa segera bertemu. waktu terasa lambat berlalu, entah berapa kali Cintya berusaha menenangkan hatinya agar tidak mengganggu mengajarnya.


Ketika jam istirahat tiba, cepat-cepat Cintya bergegas keluar kelas untuk menunaikan tujuannya. baru ia berjalan di koridor kelas menuju ruanh guru untuk meletakan buku dan tasnya, ia berpapasan dengan Akrom yang entah hendak kemana ia berjalan sendirian.


"mau kemana?" tanya Cintya saat mereka sudah berjarak sangat dekat.


"ke toilet bu" Akrom menghentikan langkahnya untuk menjawab pertanyaan dari Cintya.


"aku perlu ngobrol!" pinta Cintya dengan nada tegas yang membuat Akrom salah tingkah, ingin sekali ia menghindari pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan muncul setelah ia menghilang tiga hari kebelakang.


"kita ke kantin, aku kembalikan buku ke ruang guru dulu, kamu tunggu sana" perintah Cintya tegas yang tanpa persetujuan Akrom sudah ia langkahkan kaki meninggalkannya.


Akrom melangkah lemah menuju kantin, dengan harapan disana sudah penuh dan bisa dijadikannya alasan. iya, dia sebenarnya tidak ingin ke toilet. itu hanya sebuah alasan.


Sesampainya di kantin, ia melihat kesana kemari. 'sial' gumamnya setelah di dapati ada beberapa meja yang masih kosong. memang kantin siang ini tidak seramai biasanya.


"kenapa masih berdisi disini? ayo keburu di isi orang" tegur Cintya saat Akrom hanya berdiri mematung di depan kantin.


Tidak ada jawaban dari Akrom, dia hanya mengikuti langkah Cintya menuju salah satu meja yang masih kosong. dengan tidak lupa memesan makanan. sedang Akrom hanya membeli segelas es untuk meredakan kegelisahannya yang sudah jelas membayangkan serbuan pertanyaan akan datang dari Cintya.


"oke, kamu pasti tahu apa alasanku kali ini ngajak kamu kesini kan?" Cintya langsung berucap tegas dengan sorot mata tajam sesaat setelah mereka duduk berhadapan.


Akrom mengulas senyum sesaat dengan mengangguk pelan. ia merasa seperti terdakwa yang sedang di introgasi oleh penyidik.


"dari mana kamu?" lantas pertanyaan itu menjadi awal dari rangkaian pertanyaan lain yang akan di lontarkan oleh Cintya.

__ADS_1


"mencoba mencari ketenangan" jawab Akrom singkat.


"ke?" lanjut Cintya dengan pertanyaan memburu.


"gunung"


"kenapa nggak bilang? apa aku tidak begitu penting untukmu membagi cerita?" Cintya menyerbu dengan pertanyaan bernada tegas dengan sedikit rasa kecewa yang jelas terpancar dari raut wajahnya.


Akrom hanya diam tidak langsung menjawab, cuma seutas senyum yang samar menghiasi wajah yang tengah tegang.


"kenapa tidak menjawab? apakah itu jawaban dari kamu membenarkan pertanyaanku?" lanjut Cintya yang menunggu jawaban Akrom namun tidak ia dapatkan.


Akrom menunduk seperti sedang memikirkan berbagai hal. buru-buru ia meminum es yang ia pesan hingga kandas. "kamu selesaikan makanmu, aku jawab semua pertanyaanmu tapi tidak di sini" ucapnya setelah sedotan tidak lagi berada di mulutnya.


"kenapa tidak di sini saja?" tanya Cintya heran.


"apa kamu tidak merasa? kita terlihat seperti orang pacaran yang sedang bertengkar dimuka umum" ucap Akrom pelan membuat Cintya terdiam sesaat mencerna kalimat Akrom.


"habiskan makananmu, aku tunggu" lanjut Akrom meletakan kedua tangannya di atas meja.


"kamu nggak makan?" tanya Cintya yang merasa risih kalau harus makan di tunggui.


"aku sedang tidak ingin makan" ujar Akrom singkat menatap Cintya dengan tajam.


Cintya memaksa untuk mengabaikan rasa risihnya, karena harus makan di depan Akrom yang terus saja memperhatikannya dengan seksama tanpa jeda.


"pelan aja makannya, aku nggak buru-buru" sela Akrom melihat Cintya menyuapkan makanannya dengan tergesa-gesa.


"aku risih kalau makan terus di lihatin" ujar Cintya mengutarakan isi hatinya.


"mungkin kamu harus membiasakan. karena nantinya aku akan terus memandangmu saat berada di depanku" balas Akrom tenang dengan senyum tipis di bibirnya.


Pipi Cintya mendadak menjadi merah merona, raut wajah yang sedari tadi terlihat garang kini sudah seperti kepiting rebus. dengan segala salah tingkahnya yang mencoba menutupi rasa malunya, menjadi pandangan baru bagi Akrom. sungguh lekat ia memperhatikannya, menjadikan semakin salah tingkah Cintya dibuat.


"kamu jangan lihat aku untuk saat ini, aku mau habiskan makanku" perintah Cintya mencoba bersikap tenang. namun bukannya Akrom menurut, ia malah semakin memposisikan tubuh dan kepalanya lebih lurus kearah Cintya.

__ADS_1


"ih rese" gerutu Cintya yang Akhirnya meneruskan makannya, namun kini ia mengangkat mangkok mie dan memalingkan tubuhnya kesamping.


__ADS_2