Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Niken (3)


__ADS_3

Malam begitu saja datang, tanpa permisi mengetuk hati yang tak ingin sepi menjelang. sajak malam kian meradang, menerjang jiwa yang rapuh. terkikis oleh harapan yang kian luruh.


Niken masih saja termenung oleh luka atas sebuah kenyataan yang di utarakan Akrom hari ini. kecewa hadir atas harapannya yang ia lambungkan begitu tinggi. meski iapun menyadari Akrom telah berulang kali bersikap bahwa ia agar berhenti berharap akannya. hanya Niken sendiri masih begitu keras memperjuangkan Akrom walaupun dirasa melelahkan.


Namun kian ia menghayati sakitnya, berulang kali terbersit kalimat Akrom yang di ucapkannya. "cintailah orang yang juga mencintainya" berulang kali ia rasakan bahwa ada benarnya, ia merasakan lelah dan sakitnya memperjuangkan cinta yang tidak terbalas. hingga ia sampai pada sebuah titik untuk mengikhlaskan yang berlalu, dan menuruti saran Akrom memulai yang seharusnya ia jalani. mencintai kepada yang juga menaruh cinta sama dengannya.


...-------...


Keesokan harinya, di sekolah saat sebelum jam pulang sekolah tiba, Cintya mengirim pesan untuk Akrom, mengajaknya mencari buku novel sekaligus jalan-jalan setelah kegiatan di sekolah yang melelahkan. masih ia merindukan Akrom yang beberapa hari lalu sama sekali pernah hilang dari hidupnya.


"loh cantik, nunggu siapa?" goda Akrom saat mendapati Cintya tengah duduk diatas motornya di parkiran sekolah.


"huh sok manis. ayo jalan. bisa-bisa stres aku disini kamu godain terus" balas Cintya atas godaan dari Akrom.


"oh, nungguin aku toh?" jawab Akrom lagi makin melancaran godaannya untuk Cintya.


"rese'. mau jalan nggak nih? nggak mau ya sudah" ancam Cintya yang sudah jengah atas kalimat godaan Akrom.


"iya-iya, ngambekan banget jadi cewek. yasudah ayok" balas Akrom yang sudah pasrah dengan ancaman dari Cintya.


Cintya hanya memanyunkan bibirnya tidak lagi membalas Akrom. dengan langsung memakai helmnya tanpa mempedulikan Akrom yang masih senyum-senyum melihat tingkah Cintya yang tengah salting.


Berdua mereka melajukan motornya keluar dari halaman sekolah, menyusuri jalanan kota menuju tempat mencari buku novel yang tengah di inginkan oleh Cintya.


"kamu suka baca novel mbak?" tanya Akrom di sela kegiatan mereka berdua memilah judul novel yang dirasa menarik hati Cintya.


"iya Krom" jawab Cintya yang tengah sibuk dengan dirinya.


"suka yang genre apa mbak?" tanya Akrom lagi.


"apa aja sih, cuma paling suka ya soal cinta Krom" balasnya lagi.


"hati-hati mbak" sambung Akrom singkat mengulum senyumnya.

__ADS_1


"kenapa hati-hati?" balik tanya Cintya yang heran dengan ucapan yang baru saja di utarakan oleh Akrom, ia menolehkan wajahnya kearah Akrom dengan mengerutkan keningnya.


"jangan sampai dengan seringnya membaca novel soal cinta menjadikanmu menuntut kisah cintamu sama seperti novel. setiap orang punya cara sendiri, punya cerita sendiri, punya kebahagiaan sendiri, serta keluh kesahnya yang beriringan didalamnya" jelas Akrom secara gamblang.


"ya nggak gitu juga kali krom" bela Cintya.


"iya enggak mbak, cuma perlu hati-hati saja. kehidupan nyata tidak sama dengan kehidupan di novel" jelas Akrom lagi.


"iya iya Krom" jawab Cintya dengan senyumnya yang merekah.


Setelah sekian lama mondar mandir mencari judul novel yang menarik hati Cintya. akhirnya Cintya mengambil tiga judul buku untum di serahkan ke kasir untuk membayarnya.


"pakai ini aja mbak" Akrom menyodorkan beberapa lembaran uang ke kasir setelah selesai menghitung total harga buku Cintya.


ian


"eh apaan sih Krom? aku mampu .bayar sendiri kali Krom" tolak Cintya menahan tangan Akrom.


"siapa juga yang bilang kamu nggak mampu bayar mbak? tapi kalau aku mau bayarin masa nggak boleh?" balas Akrom yang masih memaksa untuk membayarnya.


"masih sekolah gini bisa kali mbak cuma beli buku aja. udah nggak usah nolak. nurut aja" ujar Akrom tegas memaksa Cintya.


"enggak. nggak boleh melanggar perintah guru" Cintya masih kekeuh menolak.


"disekolah jadi guru, kalau disini kan sudah beda" bantah Akrom lagi.


"maaf kak, ini gimana jadinya?" sela sang kasir yang sudah jengah melihat perdebatan di depannya yang tidak kunjung usai.


"pakai ini aja mbak" seru Akrom langsung menyodorkan uang di tangannya mengalahkan Cintya yang kalah cepat karena harus mengambil uangnya dari dalam dompet.


"baik, terimakasih kak" jawab kasir yang sudah kembali dengan senyum ramahnya sesuai seharusnya.


"loh" delik Cintya yang kaget dengan Akrom yang masih memaksanya untuk membayar, dengan kini ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena uang Akrom sudah terlebih dulu di terima kasir.

__ADS_1


Setelah perdebatan panjang yang akhirnya dimenangkan oleh Akrom di depan kasir. kini mereka berdua berjalan keluar toko dan menyusuri jalan menuju kafe untuk mereka beristirahat.


"nanti di kafe aku yang bayar. kamu nggak boleh nolak" ujar Cintya tegas saat mereka sudah sampai di depan sebuah kafe dan siap untuk masuk.


"yaa kita lihat saja nanti mbak" balas Akrom dengan senyum yang misterius.


"ih apaan sih Krom? kalau nggak mau aku yang bayar ya sudah nggak jadi ke kafe. kita pulang aja" Cintya merajuk karena sudah tidak tahu lagi dengan cara apa agar ia bisa memaksa Akrom.


"iya udah, iya. boleh bayar" pasrah Akrom dengan ancaman Cintya.


"oke sip. sekali kali kamu yang nurut gitu dong Krom" kesal Cintya.


"iya bu Guru, sendiko dawuh" balas Akrom membungkukkan badan tanda patuh.


"bagus. ayo silahkan masuk nak" ajak Cintya.


"silahkan ibu duluan, saya mengikuti anda" jawab Akrom sopan menundukan kepalanya.


Akhirnya tanpa berdebat lebih panjang mereka berdua masuk kedalam kafe. menuju meja yang masih tersisa dan segera memesan menu yang di sediakan oleh kafe tersebut.


"mbak, aku sudah bilanh ke Niken soal kita" buka bicara Akrom saat mereka tengah menunggu pesanan datang.


"hah, serius kamu Krom? jangan bercanda deh" tanya Cintya yang kaget dengan ucapan Akrom barusan.


"nggak bercanda mbak, serius aku" balas Akrom menunjukan mimik muka serius.


"nggak kasihan kamu Krom?" Cintya menghela nafas dalam mencoba meredakan kaget yang dia rasa.


"menurut sampean lebih kasihan mana aku kasih tahu sekarang dan dia move on mulai sekarang, atau dia berlarut-larut berharap yang semakin dalam dan kita tahu endingnya kurang lebih sama sia-sianya buat dia?" Akrom mencoba memberi gambaran tentang situasi yang dia hadapi hingga memilih salah satu jalan.


"tapi kasihan dia Krom, aku sesama perempuan bisa merasakan hal yang sama" Cintya mengelus dadanya.


"terus maumu gimana? apa aku sama dia aja? biar kamu nggak merasa kasihan" tawar Akrom yang mulai jengah dengan ketidak tegasan cara fikir perempuan.

__ADS_1


"ya nggak gitu juga Krom, ah males ah" Cintya merajuk atas kalimat Akrom.


__ADS_2