
"Krom kamu tahu berita pak Rian hari ini?" bisik Cintya saat mereka berdua di depan rak buku sambil mencari-cari buku bacaan yang menarik hati.
"enggak, apa emang?" tanya balik Akrom dengan nada acuh.
"hari ini dia mengundurkan diri jadi guru disini, alasannya pindah keluar pulau"
"oh, yasudah biarain aja" jawab Akrom dingin.
"nggak ada apa-apa gitu?" tanya Cintya protes dengan ekspresi Akrom yang tiba-tiba menjadi dingin.
"ya aku harus gimana bu? senang sih senang kamu sudah nggak ada yang ganggu, tapi di sisi lain juga kasihan dia harus keluar karena dia belum bisa move on dari kamu" ucap Akrom menjelaskan dengan suara di pelankan.
"iya juga sih, kasihan juga sebenarnya. tapi aku juga takut Krom kalau dia masih ada di sini" ujar Cintya.
"ya semua sudah di atur sama yang Kuasa, jalani aja udah. ini jalannya" Akrom menenangkan Cintya.
"iya Krom, tolong selalu jaga aku ya?" pinta Cintya penuh harap.
"Insya'ALLOH mbak. tapi jujur aku nggak bisa jaga kamu" ucapan Akrom terhenti menggantung.
"maksud kamu?" tanya Cintya heran penuh pertanyaan akan maksud kalimat Akrom.
"ya yang bisa jaga kamu dan kitra semua cuma Tuhan. aku yang kamu rasa bisa jaga kamu juga karena ALLOH menggerakkanku untuk jaga kamu, kalau tidak juga aku nggak bisa jaga kamu bu" ujar Akrom melanjutkan kalimatnya yang tadi sengaja di gantung untuk menggoda Cintya.
"hemmm, aku kira kamu sudah nggak mau jaga aku krom. pakai bilangnya gitu segala" gerutu Cintya menelungkupkan buku di wajah Akrom.
"emang kenapa? nggak mau kehilangan aku ya?" goda Akrom.
"enggak juga sih, cuma biar ada yang jagain aku aja. jadinya aku nggak repot-repot jaga diri" balas Cintya.
"terserah bu, terserah lah" ujar Akrom pasrah dengan jawaban Cintya.
"sok-sokan godain aku, di godain ballik udah nyerah gitu" Cintya menjulurkan lidah meledek kearah Akrom.
"untung masih belum muhrim bu. kalau enggak udah aku cubit itu pipi yang kaya bakpao dari tadi ngajak ribut aja" tunjuk Akrom pada pipi Cintya yang tembem.
"ish apaan sih?" ujar Cintya yang tersipu malu.
"dih itu bakpao jadi makin merah gitu arnanya?" lanjut Akrom semakin semangat menggoda Cintya.
"udah Krom, malu aku" Cintya menutup wajahnya dengan buku di tangannya.
"iya udah iya, nggak godain lagi" Akrom menghentikan serangan godaannya ke Cintya.
"yaudah balik kelas yuk bu? udah bel itu" ajak Akrom sesaat setelah mendengar bel waktu istirahat usai telah berbunyi.
__ADS_1
"ayok Krom, nanti ketemu di parkiran ya?" jawab Cintya.
"siap sayang. eh maaf salah" Akrom meringis karena keceplosan menyebut Cintya.
"ish ngawur, di dengar orang lain lo Krom" protes Cintya yang semakin tersipu malu dengan sebutan dari Akrom, meskipun dalam hati Cintya mengakui bahwa ia tengah sangat bahagia dengan panggilan yang barusan Akrom ucapkan itu.
"sorry, aku keceplosan" jawab AKrom salah tingkah.
"yasudah ayo keluar dari pada kamu tambah ngawur Krom" ajak Cintya mencoba menyembunyikan kecanggungannya.
"iya bu" jawab Akrom singkat.
Lalu mereka berdua keluar dari ruang perpustakaan untuk menuju kelas masing-masing menyelesaikan kegiatan ajar-mengajar di siang itu.
Selesai jam sekolah, Akrom menunggu Cintya di parkiran sekolah berpapasan dengan banyak murid lainnya.
"motormu dimana dho?" tanya Akrom pada Ridho saat keduanya bertemu di parkiran.
"nggak bawa bro, bareng mbak Tya aku tadi" jawab Ridho celingukan mencari kakaknya yang belum kelihatan.
"oh, gitu toh" Akrom manggut-manggut mendengar jawaban RIdho.
"kamu nungguin siapa emang?" tanya balik Ridho.
"cakep, bisa main PS kita sampai sore" ujar Ridho gembira.
"enak aja, dia jatah mbak hari ini, kapan-kapan kamu ajak sendiri napa? ganggu jadwal orang aja" sahut Cintya saat sudah berada di sebelah mereka berdua.
"dih pelit amat, lagian main PS juga masih di rumah aja. kan kalian bisa ngobrol meskipun Akrom lagi main PS" protes Ridho.
"emang siapa bilang mau ngobrol dirumah?" tanya CIntya.
"terus kalian mau kemana?" tanya Ridho yang tidak tahu apa-apa.
"lagi mau survey tempat kosong buat masa depan bro" jawab Akrom seenaknya.
"serius napa sih? SMK aja belum lulus udah ngurusin rumah juga" gerutu Ridho atas jawaban Akrom yang ia kenal orang yang sering bercanda.
"lah ini juga serius dho, mau survey tempat masa depan, cuma bukan rumah biasa, tapi makam" jawab Akrom menjelaskan maksud jawabannya tadi.
"tambah ngaco ini anak" Ridho menepuk keningnya sendiri menanggapi jawaban Akrom.
"ngeyel banget jadi orang, serius nanti mau ke makam. ke makamnya mbak Rania" ujar Akrom menjelaskan.
"oh, bilang kek dari tadi. pakai muter-muter segala" gerutu Ridho.
__ADS_1
"hehe, yaudah ayok b\=pulang dulu" ajak Akrom.
"yaudah ayok" jawab Ridho menaiki motornya membonceng Cintya, sedang Akrom mengikuti mereka dari belakang.
Sesampainya dirumah yang sedang sepi, Cintya segera mengganti seragamnya sedang Akrom melepas kemeja seragamnya yang di dalamnya ada kaos yang menjadi **********.
"dek, nanti kalau bapak sama ibu pulang titip izin ya?" Cintya memberi pesan pada Ridho sebelum keluar dengan AKrom.
"beres, asal pulang jangan lupa oleh-olehnya" jawab Ridho se enaknya.
"mau mbak bawain kembang dho?" tanya balik Cintya.
"lagian orang ke makam di mintai oleh-oleh. kamu fikir plesiran apa?" gerutu Cintya melanjutkan kalimatnya.
"hadeh, repot ngomong sama mbak. yaudah aku titip salam sama mbak rania krom" kini RIdho berbicara kepada Akrom.
"siap bro" jawab Akrom singkat menahan tawanya melihat Kakak adik yang selalu suka bertengkar.
"aku duluan dho. Assalamualaikum" salam Akrom pada Ridho.
"yoi hati-hati, titip itu orang galak bro. waalaikumsalam" jawab Ridho yang langsung mendapat lirikan tajam dari Cintya.
Mereka berdua berjalan menuju depan rumah untuk menuju motor mereka yang akan mengantarkan menuju makam untuk mengunjungi kak Rania.
"pakai satu motor aja ya krom?" pinta Cintya saat mereka akan berangkat.
"iya mbak, tapi jangan meluk dari belakang ya?" jawab Akrom sedikit ragu menerima permintaan Cintya.
"iya sayang" jawab Cintya mengerlingkan sebelah matanya.
"mbak jangan gitu ah. bikin grogi aja" protes Akrom.
"lah, masa kamu doang yang boleh manggil sayang? aku enggak boleh?" tanya balik Cintya.
"terserah kamu aja deh mbak, tapi jangan di depan umum, aku malu mbak belum terbiasa. dan belum mau membiasakan" ucap Akrom tegas dengan nada halus agar tidak menyinggung Cintya.
"iya sayang iya, aku ngerti kondisi kok sayang" jawab Cintya semakin menggoda Akrom.
"Yaa ALLOH cobaan apa lagi ini?" gumam Akrom lirih.
"udah ah, ayo berangkat sayang keburu sore lo" ajak Cintya.
"iya mbak iya" jawab Akrom lemas pasrah.
Selanjutnya mereka memulai perjalanan menuju sebuah pemakaman yang berada di daerah rumah Akrom tempat kak Rania diperistirahatkan dengan tenang. tak lupa mereka mampir ke tempat penjual bunga untuk oleholeh kak Rania.
__ADS_1