Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Mencari Akrom


__ADS_3

Hulu ke hilir air tetap mengalir, parau malam masih terisak oleh embun. Kebekuan kabar masih bergelayut mengelu hati, cemas Cintya menanti kabar Akrom yang sudah sehari tidak kunjung datang meski sebatas meredam kegelisahan oleh ceritanya.


"kamu dimana sih? apa yang terjadi?" masih dengan mondar-mandir mengitari dalam kamarnya Cintya memegang ponselnya dengan harapan datang pemberitahuan dari Akrom yang muncul dilayar benda pipih di tangannya.


Telah larut malam menyertai hari ini, menina bobokan hati yang gelisah dengan tubuh yang sudah terasa lelah menyangga cemas yang kian mendera. lelap sudah Cintya bersua dengan mimpi yang entah apa saja disana bisa terjadi.


"aku baik-baik saja. sudah jangan cemas" bergetar ponsel Cintya menerima pesan masuk, namun tidak juga membuatnya terjaga dari lelahnya hari karena fikirannya.


subuh segera menjelang bersama suara qiro' yang menggema dari masjid yang saling bersahutan. usai sudah mimpi yang menghiasi tidur Cintya berganti dengan kenyataan yang harus di hadapi semua insan.


"kamu dimana sih?" ketik Cintya pada ruang pesan Akrom sejurus kemudian ia kirimkan setelah membaca pesan Akrom. lagi-lagi kembali pesan itu tertunda diterima oleh Akrom.


"kemana lagi sih?" geram Cintya oleh tingkah Akrom yang tiba-tiba menghilang setelah masalahnya di sekolah. mengukir kecemasan yang kian dalam di benak Cintya.


Diletakan sejenak kekhawatiran dalam dirinya meski tidak bisa sepenuhnya terlepas. Segera di ambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh. dilanjutkan berkeluhkesah atas kecemasan kepada Sang Maha Membolak-balikan Hati. tak lupa bermohon tetap dalam Penjagaan-Nya untuk Akrom.


Surya sudah semakin garang memamerkan sinarnya, berhamburan siswa sekolah menuju kelasnya dengan berbagai alasannya. begitupun Cintya yang terkesan buru-buru memasuki ruangnya mencari guru BK untuk sekedar mencari tahu nasib Akrom.


"pak, kemarin ceritanya Akrom itu gimana?" tanya Cintya tanpa basa-basi saat bertemu guru BK.


"dia di skors oleh kepala sekolah beberapa hari bu, meskipun sudah ketahuan kalau anak kelas dua yang berbuat salah. tapi secara tidak langsung Akrom juga memulai perkelahian dengan memukul duluan" jawab guru BK panjang lebar.


"memang masalahnya apa sih pak?" tanya Cintya lagi yang masih penasaran dengan kejadian yang terjadi antara Akrom dan anak kelas dua.


"ya dari pengakuan mereka, Akrom melakukan hal itu karena dia mendengar kalau ketiga murid kelas dua sedang membicarakan guru di sekolah kita dengan kalimat yang tidak senonoh menurut Akrom." ucap guru BK.


"yang akhirnya membuat Akrom mungkin merasa jengkel lalu memukul mereka dan akhirnya juga terjadi perkelahian itu" lanjutnya.


"lalu anak kelas dua itu gimana?"

__ADS_1


"kalau mereka tidak di naikan tahun ini ke kelae tiga sama kepala sekolah" jawab guru BK dengan santai.


"memang guru siapa yang mereka bicarakan pak?" tanya Cintya yang makin penasaran dengan kenekatan Akrom.


"kalau itu tidak tahu bu, mereka tidak mau mengaku juga" jawab guru BK sambil melirik jam yang mengikat di tangan sebelah kirinya.


"maaf bu, saya ke ruangan dulu ya?" lanjut guru BK berpamitan.


"iya pak, terimakasih informasinya" ucap Cintya berterimakasih telah memberinya informasi setidaknya ia tahu apa masalah Akrom.


Cintya memijit-mijit keningnya memikirkan nasib Akrom yang kini sudah kelas 3, hanya hitungan minggu lagi ia akan mengikuti ujian kelulusan namun malah mendapat masalah seperti ini. "kok jadi nggak bisa nahan emosi banget sih? suka semaunya sendiri" gerutu Cintya lirih sambi mengangsurkan tubuhnya pada kursinya.


Sepulang sekolah Cintya tidak langsung pulang kerumah, namun ia berencana mencari kabar Akrom kerumahnya. setelah berpamitan ke Ridho untuk di sampaikan kepada orang tuanya. Cintya melajukan motornya ke arah rumah orang tua Akrom.


"Assalamualaikum" salam Cintya ketika sudah berada di depan pintu rumah orang tua Akrom.


"waalaikumsalam" jawab suara perempuan dari dalam rumah yang terdengar langkahnya mengarah menuju pintu.


"iya bu, Tya mau main kesini aja, kangen sama ibu" jawab Cintya malu-malu sembari mengecup punggung tangan wanita yang ada di depannya itu.


"kangen ibunya apa anaknya?" goda bu Maftukhah mengulum senyum kearah Cintya.


"ibu bisa aja" jawab Cintya malu-malu karena sudah tengsin dengan godaan dari ibu Akrom.


"tuh kan merah pipinya, pakai acara nggak mau ngaku segala? ketahuan nduk" ujar bu Maftukhah membuat Cintya semakin tidak bisa menahan malunya.


"udah, nanti lagi dilanjutin tengsinnya di dalam ya?" lanjut bu Maftukhah menarik tangan Cintya untuk menuntunnya masuk ke dalam rumah.


Bu Maftukhah langsung menuju dapur mengambil air minum dingin untuk menemani camilan yang senantiasa sudah tersedia di atas meja.

__ADS_1


"ah jadi ngerepotin ibu jadinya" ujar Cintya saat ibunya Akrom sudah datang kembali membawa nampan berisi air minum untuknya.


"kalau nggak mau ngerepoti ibu, mending kamu aja yang masakin buat rumah sini aja gimana?" jawab bu Maftukhah menoleh ke arah Cintya.


"masa Tya seenaknya masuk-masuk ke belakang rumah orang bu?" jawab Cintya yang heran dengan jawaban ibu Akrom.


"ya kalau kamu sungkan, sana minta Akrom cepet nikahin biar kamu bisa leluasa" senyum semakin mengembang setelah bu maftukhah selesai mengucapkan jawaban atas pertanyaan Cintya. yang secara langsung membuat guru muda yang tengah berada di depannya semakin menunduk malu.


"bercanda nduk, soal itu terserah kalian berdua, wong kalian yang menjalani. kami sebagai orang tua hanya bisa mengingatkan dan mengarahkan" bu Maftukhah mengusap pelan pundak Cintya.


"terimakasih banyak bu atas pengertian dari ibu dan ayah" jawab Cintya memberikan senyum tulusnya.


"yang penting anak ibu bahagia itu sudah cukup nduk, dan kebetulan bahagianya dengan kamu. ibu berusaha tetap mendoakan kalian" kini tangan yang tadi mengusap pundak sudah beralih mengusap ujung kepala Cintya. terasa seperti melepas kerinduan akan anak perempuannya.


Cintya lantas memeluk tubuh wanita yang suaranya tiba-tiba terdengar serak menahan tangis. degupan jantung terdengar di telinganya, tarikan nafas tersengal terasa juga olehnya.


Cintya tidak berani bertanya, ia hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya tengah terjadi pada bu Maftukhah.


Beberapa menit mereka biarkan berlalu percuma, mereka lebih memilih untuk tetap menikmati waktu dengan tubuh berpeluk merasakan kenyamanan sesuai fikiran satu dan lainnya. menyampaikan rasa terimakasih mendalam dan menikmati nostalgia memeluk seorang putri.


"ayah bagaimana kabarnya bu?" tanya Cintya setelah mereka puas dengan niat dan fikiran masing-masing.


"Alhamdulilllah ayah sehat selalu, kemarin nanya ibu kamu kok lama nggak kesini lagi?" jawab bu Maftukhah.


"hehe, Tya lagi banyak kerjaan soalnya mau ujian sekolah bu" jawab Cintya pula.


"gimana Akrom di sekolah? nakal nggak?" tanya bu Maftukhah balik dengan sedikit tertawa.


"setahuku nilai akademiknya bagus bu, sepertinya sudah siap untuk ujian" jawab Cintya yang menerbitkan senyum bangga pada wajah bu Maftukhah.

__ADS_1


"ngomong-ngomong dia nggak pulang bu?" lanjut Cintya dengan pertanyaannya.


__ADS_2