
Akrom dan Cintya telah sampai di sebuah halaman sebuah rumah yang besar. "ayo mbak, masuk dulu" ajak Akrom.
"iya Krom, ibu kamu ada dirumah?" tanya Cintya balik.
"ada kayaknya mbak. tunggu sini dulu" pinta Akrom untuk Cintya menunggu di teras agar ia lihat dulu di dalam rumahnya.
"iya Krom" jawab Cintya tersenyum melihat Akrom yang sangat menjaganya agar tidak terjadi pandangan dari orang yang tidak tahu.
"Assalamualaikum buk" salam Akrom setelah masuk ke rumahnya.
"waalaikumsalam, kok pulang nggak bilang-bilang nak? tahu gitu ibu masak yang banyak buat kamu" jawab ibunya.
"biar surprise" jawab Akrom setelah mencium tangan ibunya.
"gayamu Krom, surprise segala" cibir ibunya mengacak-acak rambut putranya.
"ibu mah nggak percayaan sama Akrom, itu surprise tambahannya ada di luar" tunjuk Akrom dengan wajahnya.
"emang ada apa Krom?" tanya bu Maftukhah menoleh ke arah depan rumahnya.
"ibu lihat sendiri aja, Akrom mau ke kamar dulu mau mandi" ujar Akrom sembari melangkah menuju kamarnya.
"dasar anak ibu satu ini, awas aja ibu ke depan nggak ada apa-apa" ancam bu Maftukhah yang tentu saja itu sebuah candaan.
"cek sendiri bu" jawab Akrom sebelum masuk kamarnya dan hilang tertutup pintu.
Saat bu Maftukhah sudah tiba di depan rumahnya, saat mengrluarkan tubuhnya dari ambang pintu, di dapatinya sesosok perempuan dengan seragam guru berhias wajah ayunya yang tersenyum ke arahnya.
"Masya'ALLOH. ini surprise dari Akrom" ujar bu Maftukhah memeluk perempuan yang ada di hadapannya.
"surprise apa bu?" tanya Cintya yang tidak tahu maksud bu Maftukhah.
"ah enggak, itu anak suka bikin ulah. katanya di depan ada surprise buat ibu. ternyata ini toh surprisenya?" bu Maftukhah menjelaskan ke Cintya.
"ah, dasar Akrom aja yang suka mengada-ada bu" balas Cintya yang malu-malu.
"ya maklum lah nduk, itu anak memang suka iseng, ayo masuk dulu" ajak bu Maftukhah menggandeng bahu Cintya.
"iya bu. terimakasih" balas Cintya patuh.
"kamu kemana aja nduk? lama nggak kesini?" protes bu Maftukhah.
"maaf bu, akhir-akhir ini sibuk banget" jawab Cintya jujur.
"mau ujian kelas tiga ya? yang penting kamu juga harus imbangi istirahat nduk. biar tidak kecapekan" ujar ibu Akrom tersebut.
"iya bu, terimakasih banyak bu" jawab Cintya yang senang dengan pengertian dari wanita berusia sekitar paruh baya yang ada di hadapannya itu.
"ini tadi nggak sibuk berarti nduk? makanya main kesini?" tanya bu Maftukhah.
"enggak bu, sudah selesai sibuknya. sama mau anter Akrom ke bengkel" jawab Cintya.
"emang sudah selesai motornya? itu anak motor tua masih di pelihara aja" gerutu bu Maftukhah dengan hoby anaknya.
__ADS_1
"katanya sudah bu. biarkan saja bu, kesenangannya disitu" ujar Cintya berusaha menengahi omelan bu Maftukhah.
"iya nduk, daripada hobynya malah yang enggak-enggak. lebih baik disana sih" balasnya mengalah dengan hoby putra semata wayangnya itu.
"iya bu. memang Akrom kemana bu?" tanya Cintya menyusuri setiap sudut rumahnya dengan pandang matanya.
"ke kamarnya, mau mandi katanya tadi. kamu keburu-buru nduk?" jawab bu Maftukhah yang langsung di sambung dengan tanya balik.
"oh enggak kok bu, Tya nggak ada agenda apa-apa" jawab Cintya
Tidak berselang lama, terdengar langkah kaki mendekati tempat mereka berdua berbincang, sama-sama kedua wanita itu menoleh ke sosok yang menjadi sumber suara langkah kaki itu.
"sudah selesai mandinya Krom?" tanya ibunya.
"kalau belum masa Akrom keluar bu?" jawab Akrom seenaknya dan menjatuhkan badannya di kursi sebrang mereka berdua.
Dengan jawaban itu, sontak Akrom mendapat teror delikan tajam dari mata Cintya beserta raut wajah yang mendukung kegalakan Cintya.
Akrom melirik ngeri ke arah Cintya. namun tidak dengan bu Maftukhah, karena itu hal lumrah dari anaknya itu.
"oh iya ibu lupa Krom, tolong ambilkan minum buat Bu Cintya" perintah bu Maftukhah.
"yah ibu, baru juga duduk" protes Akrom namun tidak dengan tindakannya. ia langsung bangkit menuruti perintah ibunya. dan perjalanannyapun tak luput dari tatapan tajam Cintya atas tingkah Akrom.
Setelahnya mereka mengobrol sebentar bertiga sebelum akhirnya berangkat menuju bengkel untuk menjemput motor Akrom.
Setibanya di jalan, Cintya protes dengan nada garang atas tindakan Akrom "kalau sama orang tua jangan gitu lah Krom"
"iya, tapi kamu keterlaluan" Cintya masih bersikukuh.
"iya mbak, maaf" ujar Akrom yang tidak ingin memperpanjang masalah.
"iya. asal tidak kamu ulangi" masih dengan nada tegas ala Cintya.
"iya mbak" jawab Akrom yang terus melajukan motor dengan santai. hingga tiba di bengkel tempat vespa Akrom.
Setelah ngobrol sebentar lalu mereka berdua pulang, yang tentu saja Akrom mengantarkan Cintya terlebih dulu kerumahnya sebelum akhirnya Akrom kembali ke pondok pesantrennya.
----'
Hari berjalan seperti kuda, tidak lagi terasa lambat. sebaliknya ia datang begitu cepat menghantarkan siswa kelas tiga SLTA untuk menemui waktu ujian kelulusan nasional.
Dan pagi masih baru saja menyapa, namun motor Akrom sudah sampai dirumah Cintya beserta si penunggangnya.
"tumbenan sudah sampai aja? sebentar bapak panggilkan Ridho" sapa pak Rohmad. yang langsung disambut Akrom dengan bersalaman dan mencium tangannya.
"eh, iya pak, gak perlu repot-repot. saya..." serba kikuk Akrom setelah tiba-tiba pak Akrom menawarkan diri, padahal bukan itu yang menjadi tujuannya pagi ini.
"nggak apa-apa, sudah tunggu sini bapak panggilkan" potong pak Rohmad yang langsung melangkahkan kakinya menuju dalam rumah.
"mau kemana pak?" tanya Cintya yang berpapasan dengan bapaknya di teras rumah.
"mau panggil adikmu, itu si Akrom sudah sampai" jawabnya.
__ADS_1
"emang Akrom mau nyamperin Ridho?" tanya Cintya lagi.
"loh, kan mau bareng ke sekolah?" jawab pak Rohmad.
"enak aja, Akrom itu mau nganter Tya ke sekolah tempat Tya jaga ujian" ujar Cintya memberi tahu bapaknya sembari menahan tawanya.
"loh, kamu mau jemput Tya apa Ridho Krom?" tanya pak Rohmad sedikit berteriak ke arah Akrom.
"mau jemput mbak Tya pak" jawab Akrom sambil meringis.
"gitu tadi nggak bilang kalau mau jemput Tya" omel pak Rohmad dengan nada bercanda.
"Akrom mau bilang bapak buru-buru ke dalam sih" balas Akrom sambil tertawa pelan.
"lagian Ridho sudah gede bisa berangkat sendiri pak" imbuh Cintya sembari mengenakan sepatunya.
"yasudah kalian hati-hati" ucap pak Rohmad menghela nafasnya melihat kelakuan anak-anak muda itu.
"nggih pak, kami duluan" pamit Akrom mendekat ke pak Rohmad untuk mencium tangannya.
"iya Krom, nitip Tya" balas Pak Rohmad menepuk pelan bahu Akrom.
"baik pak, siap. salam untuk ibuk"
"Tya duluan pak" imbuh Cintya pamit kepada bapaknya.
"iya nduk. hati-hati" balas pak Rohmad.
"iya pak, Assalamualaikum" salam pamit mereka berdua serempak.
"waalaikumsalam" balas pak Rohmad.
Tidak berselang waktu lama Akrom dan Cintya berlalu, Ridho turut keluar rumahnya untuk berangkat ke sekolahnya mengikuti ujian kali ini.
"mbak Tya sudah berangkat pak?" tanya Ridho saat memakai sepatunya.
"barusan berangkat sama Akrom" jawab pak Rohmad yang tengah duduk di sebelahnya.
"oh, di anterin Akrom ke sekolahnya?" tanyanya lagi.
"mestinya iya lah, masa iya mbak Tya di antar ke sekolahmu?" jawab pak Rohmad dengan pertanyaan balik.
"iya kayaknya pak" jawab Ridho lagi seenaknya.
"mestinya iya, bukan kayaknya iya" geram pak Rohmad.
"hehehe, iya ya pak? yasudah Ridho berangkat dulu. do'akan lancar pak" pamit Ridho kepada Ayahnya.
"iya nak, yang serius. sudah pamit ibumu?" pesan pak Rohmad.
"nggih pak sudah. Assalamualaikum" jawab Ridho menyalami tangan bapaknya.
"hati-hati dho. waalaikumsalam" jawab pak Rohmad. lalu segera Ridho melajukan motornya menuju ke sekolah.
__ADS_1