
Angin dingin beserta butiran air yang terbawanya selama hujan memaksa Akrom untuk menyerah tumbang, setelah beberapa hari ia selalu tidur malam belajar untuk ujian sehabis mengaji membuatnya harus sakit kali ini.
Segala rencana untuk menyusul Cintya kerumahnya sekedar meminta maaf urung ia laksanakan. Meski juga mengirim pesan tiada satupun yang terbalas.
Waktu terus berangsur memaksa berlalu, sajak-sajak kecewa dan sesal terus mengembara. Menjaga setiap nafas seorang insan menanti jawaban. Mengalun maaf yang tak jua tersampaikan.
Akrom masih melalui hari-harinya dengan kecemasan, penyesalannya yang telah membuat Cintya kecewa. Namun apa daya sekedar untuk berkunjung saja ia sama sekali tidak sempat terikat kesibukannya mempersiapkan setelah lulus sekolah.
Dengan kondisi yang belum begitu fit Akrom memaksa untuk ke sekolahnya hari senin. Dimana biasanya sangat jarang siswa kelas tiga yang akan masuk sekolah sehabis ujian nasional.
"mau kemana Krom?" tanya bu Maftukhah heran dengan anaknya.
"ke sekolah bu, sudah pakai seragam gini masih tanya?" balas Akrom sambil tertawa ringan.
"ya tahu ibu nak, tapi kan kamu perlu istirahat hari ini biar kuat" protes ibunya.
"cuma sebentar kok bu, Akrom juga sudah kuat ini" jawab Akrom dengan memeluk lengan ibunya. Persis seorang anak kecil yang merengek pada orang tuanya.
"yasudah, pokok intinya jangan capek-capek kamu nak"
"siap bu, Akrom berangkat. Assalamualaikum" pamitnya mencium tangan ibundanya itu.
"hati-hati Krom. Waalaikumsalam" jawab bu Maftukhah.
Akrom menyusuri jalanan kota yang sebentar lagi mungkin akan ia rindukan. Setelah bertahun-tahun sudah menjadi rutinitasnya menuju sekolah.
Berdiri Akrom memperhatikan parkiran memastikan apakah Cintya telah sampai di sekolah. Setelah memastikan ia lebih dahulu datang. Lalu ia menantikannya di parkiran.
"selamat pagi. Bisa kita bicara sebentar?" sapa Akrom mendekati Cintya yang baru tiba di parkiran.
"maaf, aku sedang buru-buru" tolak Cintya mentah-mentah.
__ADS_1
"Tya, saya bisa jelaskan semua" ujar Akrom tidak peduli dengan tolakan Cintya.
"menjelaskan apa? Mau ngasih tahu kalau habis nongkrong? Sama cewek? Sambil ngopi dan ngerokok?" bentak Cintya tepat di hadapan Akrom.
"ha? Sama cewek?" tanya Akrom yang bingung dengan ucapan Akrom.
"sudahlah, toh kamu juga pasti mengelak. Lanjutkan saja. Tolong jangan ganggu saya" ucap Cintya tersenyum sinis penuh kegetiran lalu berlalu meninggalkan Akrom sendirian tanpa lagi mempedulikan panggilannya.
"dasar cowok brengsek" umpat Cintya dalam hatinya ketika berjalan meninggalkan Akrom.
Akrom pergi ke kantin untuk menantikan jam upacara serta kegiatan belajar setelahnya selesai. Ia menunggu jam istirahat tiba agar bisa menemui Cintya lagi.
Dua gelas kopi dan beberapa gorengan telah menemaninya selama dua jam setengah duduk terdiam di kantin. Sembari sesekali ditemani penjual di kantin yang telah kenal akrab dengannya.
Bel tanda istirahat telah berbunyi. Yang tidak lama setelahnya di ikuti serbuan siswa kelas satu dan dua memenuhi hasrat perut masing-masing.
Di perhatikan satu-persatu wajah yang hendak masuk ke area kantin. Berharap satu di antaranya adalah seorang guru matematika yang telah ia nantikan sedari pagi.
Benar saja, tak lama berselang munculah wajah itu di sela wajah lainnya. Sekejap pandang mereka saling bertemu. Dan sejurus kemudian lenyap setelah sebuah wajah lain menghalanginya.
Setelah sampai disebuah lorong kelas dekat dengan kantor guru. Akrom berhasil menghadang langkah Cintya. "mbak tolong beri waktu aku menjelaskan" Akrom memohon memelas sembari mengatur nafasnya.
"menjelaskan apa lagi? Aku sudah lihat sendiri tanpa kamu jelaskan" ujar Cintya berusaha menghalau tubuh Akrom agar ia menyingkir dari jalannya.
"kamu salah faham Tya" ujar Akrom meyakinkan Cintya untuk mau mendengar penjelasannya.
"terserah kamu mau omong apa. Aku sudah menunggumu selama itu tanpa kamu beri kabar. Nomormu di hubungi tidak bisa tersambung. Dan gerimis aku pulang melihatmu berduaan dengan cewek sembari kamu ngerokok? Itu yang mau kamu jelasin? Iya?" bentak Cintya lagi. untung tempat itu sedang tiada seorangpun. Hingga pertengkaran itu tidak ada yang tahu.
"ha?" ekspresi heran Akrom dengan tuduhan Cintya menyebutnya nongkrong bersama wanita.
'Plak' tamparan tangan Cintya tepat mendarat di pipi sebelah kiri Akrom.
__ADS_1
"dasar egois. Jangan cari aku lagi. Benci sama cowok brengsek" umpat Cintya lalu berlalu pergi meninggalkan Akrom yang berdiri terdiam.
Sesak fikiran Akrom dengan tuduhan Cintya. Ingin hati menjelaskan lebih jauh. Tapi sebuah tamparan membuat hatinya sedikit ganjal dan kecewa.
"bagaimana bisa aku menjelaskan dengan kondisi hati seperti ini?" gumam Akrom mengenai kebimbangannya kali ini.
Ia berjalan gontai menuju depan kelas sebalah ruang guru. Hatinya sedang bergejolak tentang penyesalan dan sakit hati yang saling beradu siapa yang memenangkan perasaan Akrom kali ini.
Selang beberapa waktu berlalu, bel masuk kelas berdering nyaring. Sampai detik ini penyesalan dan rasa cintanya untuk Cintya masih merajai dirinya mengalahkan sakit hati.
Cintya berjalan keluar dari pintu ruang guru, menyadari gerak langkah itu membuat Akrom hendak berdiri menyambutnya mengabaikan sakit hati bekas tamparan untuk tetap berusaha meminta maaf.
Namun belum sendi lutut Akrom mengeras mengangkat seluruh tubuhnya, urung ia meneruskan tindakan itu setelah ia dapati langkah lainnya mengiringinya dari dalam ruangan pula.
Akrom hanya duduk terdiam membiarkan langkah-langkah guru sekolahnya melewatinya begitu saja. sembari ia melirik Cintya yang hanya sekejap meliriknya juga di ikuti gerakan mengacuhkannya dengan membuang pandangan.
Duduk murung, ia hanya bisa pasrah kini sakit hatinya mendadak menguasai dirinya. mengutuk dirinya dan keadaan yang sama sekali bukan haknya untuk ia atur semaunya.
Lama ia terdiam dalam kursi itu. Suara dering ponsel bergetar di saku celannya. "halo Assalamualaikum" lemas suara Akrom menjawab telfon.
"waalaikumsalam, Dimana Krom? Sudah siang ini" jawab yang di ujung telfon sana dengan omelan yang menyertai.
"masih di sekolah bu, ini Akrom mau pulang kok" jawab Akrom lebih memilih mengalah dengan keadaan ini daripada bersikeras mengemis maaf Cintya yang sudah ia nyatakan untuk pergi.
"yasudah hati-hati nak" ujar bu Maftukhah yang sudah puas mendapat jawaban dari Akrom sesuai dengan keinginannya.
"iya bu. Assalamualaikum"
"waalaikumsalam" jawab ibu Akrom yang lantas menutup panggilannya.
Ia tarik dalam-dalam nafas yang terasa sangat sesak. Mencoba mengikhlaskan segalanya agar tidak ada rasa berat dalam langkahnya.
__ADS_1
"sekali lagi aku minta maaf. Semoga harimu menyenangkan" tulis Akrom dalam ruang pesan dengan Cintya, menyusul pesan permintaan maaf lainnya yang telah ia kirim. Dan tanpa tanggapan.
Lalu ia menuju motornya untuk mengantar pulang. laju kuda besi yang sangat tidak beringas. Serasa malas berjalan untuk pergi. Namun memaksa mereka untuk akhrinya sampai pada tujuan.