Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Menahan Rindu Tidak Seberat Itu.


__ADS_3

"sudahlah mbak, ada sesuatu yang memaksa kita mengambil jalan berat. tergantung hatimu memilih pilihan yang mana, intinya sama-sama berat" ujar Akrom setelah menghela nafas panjang untuk memulai berucap.


Cintya mencerna dalam-dalam ucapan Akrom mengenai aturan dari pilihan yang harus mereka tempuh. "mmm, baiklah. aku setuju denganmu Krom, semoga pilihan kita terbaik"


"Aaaaaamiin, semoga mbak" balas Akrom menyahuti do'a Cintya.


"terus reaksi Niken gimana Krom?" tanya Cintya yang masih merasa tidak enak hati dengan Niken. dan Akrompun menceritakan semua yang terjadi antara mereka berdua.


"Yaa ampun Krom, kasihan Niken Krom" Cintya mengelus dada mendengar cerita Akrom.


"sudahlah mbak, lebih baik seperti itu menurutku, semoga dia mendapat yang terbaik" jawab Akrom menenangkan Cintya.


"iya, semoga ya Krom"


"iya mbak, sudah ayo pulang sudah mau sore mbak" ajar Akrom setelah melirik jam tangannya.


"iya, ayo Krom" Cintya menyetujui ajakan Akrom.


Mereka berdua lalu melajukan motornya menuju rumah Cintya terlebih dahulu untuk Akrom mengantarnya pulang, sebelum akhirnya ia menuju pondok pesantrennya.



malam tetaplah malam, insan-insan menyingsing resah bingar do'a merekah. menyibak dinding embun dingin tak bertepi.


"Krom, sedang sibuk?" buka suara Dimas setelah mereka tiba di kamarnya sehabis kegiatan mengaji malam ini.


"enggak bro, kenapa?" tanya balik Akrom seraya menutup buku catatan miliknya.


"aku sebenarnya malu Krom untuk bilang" ujar Dimas ragu untuk mengutarakan pertanyaan dan pernyataan di hatinya.


"soal Nisa?" tebak Akrom menoleh ke arah Dimas yang nampak murung dan bimbang.


Dimas tidak bergeming dari posisi dan pandangannya, hanya seutas senyum yang ia paksakan cukup untuk dijadikan jawaban.


"apa yang kamu khawatirkan? sedangkan ALLOH sudah menjamin semua makhluk-Nya berpasangan" tanya Akrom lagi.


"semua anak-anak juga tahu Krom, Nisa sukanya sama kamu. aku bimbang untuk memulai dengan apa" kini Dimas menundukan kepalanya merutuki ketidak berdayaannya berada di posisi yang sekarang tengah ia hadapi.


"bisikan do'amu pada bumi, dan langit beserta semesta akan menjawabnya atas izin Pencipta mereka" ujar Akrom menguatkan sahabatnya atas permasalahan yang tengah ia hadapi.

__ADS_1


"mungkin perhatian kecil juga akan tetap berdampak, setidaknya Nisa tahu bahwa ada kamu yang lebih memperhatikan dia daripada aku" lanjut Akrom.


"apakah dia akan melihatku sedang di matanya mungkin hanya ada kamu?" tanya Dimas yang masih belum terbebas kebimbangannya.


"bukankah Tuhan kita Maha Membolak Balikan Hati manusia? kenapa kamu ragu?" tanya balik Akrom yang sedikit gemas atas keraguan sahabatnya itu.


Dimas hanya memandang Akrom dengan tatapan tajamnya. seolah hatinya sedang di hardik oleh kalimat yang telah dilontarkan oleh seorang lelaki sebaya yang berada di depannya.


"kamu benar Krom. mungkin aku yang terlalu ragu atas kuasa Tuhan kita" ucap Dimas yang kini sudah menundukan kepalanya.


"panjatkan cintamu pada sang Maha Cinta" pungkas Akrom mengutip kalimat dari salah satu puisinya yang pernah ia tulis.


"iya bapak pujangga. terimakasih kalimat penutupnya" jawab Dimas yang merasa geli dengan Akrom yang tiba-tiba melontarkan kalimat puitis di ujung pembicaraan mereka mengenai kebimbangan dimas.


"tenang, besok setelah aku berangkat ke Mesir. semoga Nisa bisa melupakanku" ujar Akrom memberi harapan pada Dimas.


"tapi tetap ingat, jaga dirimu dan Nisa. selama belum menjadi mahrom bagimu"


"iya Krom. terus kekasihmu gimana?" tanya Dimas penasaran.


"bagaimana apanya?" tanya balik Akrom.


"ya nggak gimana-gimana. semua seharusnya berjalan seperti adanya. hanya raga yang tidak bertemu bukan komitmen yang tidak menyatu kan?" jawab Akrom sembari menyalakan sebatang rokok yang sudah terselip di jemarinya.


"benar katamu, justru raga yang sering bersua itu lebih berat kan?" Dimas menyuarakan pendapatnya sepasang kekasih.


"betul, kita akan berat melangkah maju, dan kita akan selalu susah payah menahan hawa nafsu, sedang rindu tidak seberat itu" Akrom membenarkan pendapat Dimas.


"aku setuju. rindu tidak seberat itu. menahan tidak bertemu tidak semenyiksa menahan hawa nafsu ketika sudah bersama" kini Dimas pun berganti menyetujui pendapat Akrom.


"nah, itu dia" Akrom menjetikan jari telunjuk dan jempolnya lalu menunjuk ke arah Dimas. dimana mereka sama-sama setuju pendapat satu sama lain perihal rindu dan kasih sayang.


"ngomong-ngomong pacarmu memangnya siapa Krom? aku penasaran" kini Dimas mengalihkan pembahasan menjadi soal Akrom.


"guruku sekolah" ujar Akrom singkat lalu menghisap benda silinder putih dan mengeluarkan asapnya pelan.


"serius napa Krom?" tolak Dimas atas jawaban Akrom yang ia nilai tengah bercanda.


"lah, aku serius Dim. guru baru di sekolah. kakaknya si Ridho. temenku yang dulu kita pernah ngopi bareng" jawab Akrom yang membela jawabannya.

__ADS_1


"serius kamu Krom? emang beda usia berapa kamu sama gurumu?" tanya Dimas penasaran.


"lupa, mungkin ya 4 atau 5 tahunan" jawab Akrom seenaknya sambil menikmati tembakau yang ia bakar.


"gimana rasanya memenjalin hubungan dengan yang lebih dewasa?" goda Dimas yang juga penasaran dengan kisah cinta Akrom.


"ya seperti usianya. lebih dewasa dan matang, setidaknya tidak berkelakuan seperti cinta anak remaja" jawab Akrom sembari memandangi langit kamar.


"lebih nggak banyak drama dan nggak ribet ya?"


"iya, betul sekali. sudah nggak lagi ngurusin hal yang nggak penting Dim" ujar Akrom membenarkan tebakan Dimas lagi.


"tapi sebenarnya hal itu juga nggak melulu tergantung usia sih, usia berapapun kalau pola fikirnya sudah dewasa juga bisa" lanjut Akrom menambahkan kalimatnya.


"karena pada dasarnya dewasa itu kan dari pola fikir Krom? ada orang yang usia dewasa tapi masih berfikir seperti anak-anak" imbuh Dimas lagi.


"nah, seperti itulah Dim." Akrom merebahkan tubuhnya pada tikar kamar yang masih di isi oleh mereka berdua, dimana teman kamar lainnya masih asyik ngobrol di luar kamar selepas kegiatan mengaji.


"kalau menjadi pacar guru sendiri, gimana komentar siswa dan guru lainnya Krom?" tanya Dimas yang masih sangat penasaran.


"sejauh ini aku tidak dengar Dim, dan aku juga nggak mau dengar" jawab Akrom enteng.


"lagian aku tahu, kamu orangnya juga bukan yang suka memamerkannya kan? lebih suka menyembunyikannya" tebak Dimas lagi yang sudah hafal dengan karakter teman sekamarnya itu.


"untuk apa di publikasikan? bukankah itu sesuatu yang mudhorot?" Akrom berbalik tanya.


"kalau mudhorot kenapa kamu melakukan?" debat Dimas yang selalu merasa senang bertukar fikiran dengan Akrom.


"perasaan itu datang dari Yang Maha Membolak-balikan Hati manusia, kita tidak bisa menolak atau meminta. yang kita bisa hanya menjaga dan mengolah agar tidak menjadi sesuatu yang akhirnya berstatus haram" Akrom menjelaskan alasannya.


"apakah didalam kegiatanmu berpacaran tidak menimbulkan sesuatu yang bisa menjadi haram?" serang Dimas lagi.


"itulah mengapa tadi aku bilang menahan rindu tidak seberat menahan hawa nafsu" jawab Akrom mengulangi kalimatnya yang tadi.


"sejauh ini kamu bisa menahan?" goda Dimas.


"Alhamdulillah dan Insya'ALLOH" jawab Akrom mantab.


Dan berlanjut obrolan mereka berdua tentang cinta yang semakin seru. hingga akhirnya datang teman sekamar lainnya yang akhirnya memaksa mereka mengakhiri obrolan itu. berganti topik lain yang lebih umum untuk di konsumsi bagi teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2