
“sebentar lagi matang ini nduk” ucap bu Maftukhah semngat saat mereka berdua duduk di sebuah kursi depan Oven.
“iya bu” jawab Cintya pelan.
Ada misi tersendiri Cintya datang kesana, ia ingin tahu ada asa lalu apa di eluarga Akrom, namun hingga saat ini sama sekali ia belum menemukan waktu yang tepat untuk menanyakan kepada bu Maftukhah.
“ayo kita nikmati di depan nduk” ajak bu Maftukhah menuju ruang keluarga setelah kue yang mereka buat sudah matang dan siap untuk di hidangkan.
Saat tiba di ruang keluarga, sudut mata Cintya menangkap sebuah foto keluarga Akrom dan disana mereka tidak bertiga, namun ada empat orang dengan satu wanita muda yang berusia diatas Akrom, ia nampak begitu cantik. Namun lagi-lagi Cintya masih belum menemukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.
“gimana nduk? Enak?” Tanya bu Maftukhah.
“enak banget bu, Cintya baru sekali ini makan ke seenak ini bu” puji Cintya dengan jujur.
“halah berlebihan kamu nduk. Nanti yang satu Loyang lagi itu kamu bawa pulang ya? Buat orang rumah.” Ucap bu Maftukhah.
“ah malah ngrepotin bu, buat ayah sama orang-orang rumah saja” tolak Cintya halus.
“kan masih ada satu Loyang lagi? Kita kan bikin tiga tadi nduk?” jawab bu Maftukhah membuat Cintya tida bisa menolak.
“baiklah, terimakasih banyak bu. Cintya sudah di ajari bikin kue, pulangnya masih dibawain satu Loyang lagi”
“ya nggak apa-apa nduk. Ibu senang akhirnya punya teman perempuan lagi dirumah ini” ucap bu Maftukhah dengan air mata sudah menetes dari muarana, dengan suara bergear, sorot mata memandang kosong ke depan.
“sudah bu, ibu jangan sedih. Insya’ALLOH Cintya sering kesini nemenin ibu” ujar Cinya menenangkan bu Maftukhah.
“terimakasih banyak nduk” ujar Bu Maftukhah memeluk tubuh Cintya.
“apa yang sebenarnya terjadi? Akrom punya saudara perempuan? Tapi Ridho bilang ada masa lalu keluarga ini? Masa lalu?” gumam Cinya dalam hati tanpa berani menanyakan langsung. Dimana bu Maftukhah hanya sekilas bicara seperti itu saja sudah membuatnya menangis sesenggukan, apalagi kalau diminta menceriakan secara gamblang.
“setidaknya aku sudah tahu sedikit bahwa Akrom punya saudara, dan bagaimana kondisinya sekarang itu kapan-kapan saja dicari tahu. Atau bisa tanya Akrom yang mungkin lebh kuat hatinya” Fikir Cintya yang masih saling memeluk dengan bu Maftukhah.
Setelah mereka berdua ngobrol banyak hal tentang keseharian masing-masing. Tanpa Cintya mendapatkan jawaban lebih dari saudari Akrom. Cintya pamit untuk pulang ketika hari sudah mulai senja.
“Assalamualaikum” salam Cintya sat sampai rumahnya.
“waalaikmsalam” jawab Ridho dari dala rumah.
__ADS_1
“dari rumah Akrom lgi mbak?” lanjut Ridho menanyai Cintya.
“iya dho, bapak sama ibu mana?” tanya Cintya balik.
“itu ada di belakang mbak, eh apa itu?” tunjuk Ridho pada kresek yang dibawa Cintya.
“ini kue dikasih ibunya Akrom. Mbak panggil bapak sama ibu dulu, jangan kamu habisin!” ucap Cintya.
“iya mbak, kue Prol Tape bukan nih?” tanya Ridho membuka bungkusan kresek yang di dalamnya masih ada lagi kotak kue.
“kok kamu tahu dho?” tanya Cintya.
“yaiyalah mbak, ibunya Akrom beberapa kali bikin ini kue. Enak banget juga” jawab Ridho.
“oh gitu ya? Yaudah jangan dihabisin” ucap Cintya memperingatkan Ridho sebelum akhirnya berlalu pergi ke belakang mencari kedua orang tuanya.
Selanjutnya mereka berempat menikmati kue pemberian dari orang tua Akrom.
Di hari ke empat setelah Cintya pulang dari rumah Akrom. Motornya di cegat oleh seorang pria yang menghadangnya di sebuah jalan kecil yang sempit.
“siapa anda?” tanya Cintya berusaha tenang.
Lalu oran yang menghadang itu membuka helm dn menunjukan wajah yang dipenuhi amarah.
“pak rian?” pekik Cintya kaget.
“iya saya bu. Kamu dari mana?” tanya pak Rian seperti orang yang sedang cemburu.
“bukan urusan anda” ucap Cintya malas.
“habis dari rumah calon metua ya? Beruntung sekali anda dapat calon mertua kaya? Apa karena itu saya anda tolak?” tanya pak ian tersenyum sinis.
“ada maslah apa sih anda? Bukankah sudah jelas saya menolak anda? Mengapa masih mengganggu urusan saya?” taya Cintya dengan nada meninggi.
“uh galak sekali bu guru satu ini? Makin cantik saja tahu nggak?” pak Rian mencolek dagu Cintya yang langsung ditepis oleh Cintya sebelum menyentuhnya.
__ADS_1
“benar-benar galak juga ya? Kalau saya memaksa anda untuk menerima saya di tempat seperti ini gimana bu?” tanya pak Rian dengan senyuman licik menunjukan situasi sekita yang benar-benar sepi dari lalu lalang orang lewat.
“anda jangan macam-macam, anda ini pendidik jangan melakukan hal bodoh” ucap Cintya mencoba menghilangkan rasa takut.
“saya sudah gila karena kamu bu Citya, marilah menikah denganku saja” ujar pak Rian yang kini sudah memegang erat tangan Cintya menyeretnya ke tepi jalan membuat Cintya berteriak minta tolong namun sebelum ada kata yang keluar sudah tertutup oleh bungkaman tangan ak Rian yang begitu kuat untuk tenaga wanita.
Saat mereka berdua sudah menjauh dari jalan raya dan mereka tertutup oleh sebauh pohon besar, terdengar suara motor berhenti dan si pengendara memanggil-manggil nama Cintya.
Ada secerca harapan dalam diri Cintya untuk menyelamatkan dirinya, dan pak Rian menjadi takut akan kehadiran orang yang tidak ia inginkan itu.
Cintya mencoba menjerit dengan suara dalam setidaknya agar terdengar oleh si pengendara motor yang memanggil namanya.
“hey, lepasin!” teriak si pemotor yang masih mengenakan helm full face ketika menemukan mereka berdua.
“anda jangan ikut campur urusan kami” gertak pak Rian.
“ah kelamaan” sebuah pukulan telak mengarah tepat di pelipis pak Rian membuatnya terkapar lemas. Tak cukup sampai di situ, dan beberapa kali tendangan sepatu di ikuti umpatan-umpatan dai si penendang mengarah tepat mengenai perut pak Rian yang membuatnya semakin tidak berdaya.
Cintya segera melepaskan diri berlindung dibelakang tubuh si pemotor yang menolongnya.
“anda jangan sekali-kali coba menyentuh dia lagi! Atau anda mendapat yang lebih dari ini!” ucap orang itu dengan nada tegas sambil tanannya menarik kerah baju pak Rian yang masih terkapar ditanah.
“terimakaish” ucap Cintya kepada lelaki itu saat ia sudah membalikan badannya.
“saya antar anda pulang” ucapnya datar.
“terimakasih, tapi rumah saya jauh, tapi tenang saja jalannya ramai kok” tolak Cintya halus.
“sudah cepat kembali ke motor kamu, saya antar kamu sampai rumah” tegas lelaki itu membut Cintya bingung. Ia juga khawatir dengan orang yang akan mengantarnya saja ia tidak tahu.
Menyadari kebimbangan Cintya, lelaki itu mendekatkan kepalanya kedepan Cintya dan membuka kaca helmnya, terlihat sebuah wajah yang diterangi oleh pendar cahaya matahari sore, sebuah wajah yang sangat dikenali olehnya.
Namun saat hendak menyebut nama itu, buru-buru mulut cintya ditempeli oleh jari telunjuk lelaki itu,tanda untuk jangan bersuara.
“udah ayo pergi dulu, nanti kita ngobrol ditempat lain” ucapnya menarik tangan Cintya untk pergi,
Cintya menaiki motor matic kesayangannya, sedang lelaki itu mengendarai sebuah motor sport ber-CC besar.
__ADS_1