
"kamu tunggu sini ya? aku cari parkiran di depan, nanti aku balik lagi" ucap Akrom kepada Cintya.
"nggak mau, aku ikut kamu" tolak Cintya.
"nanti kamu malah kehujanan Tya, udah di sini aja. aku janji nggak lama" Akrom meyakinkan.
Cintya hanya menjawab dengan anggukan kepala meskipun bibirnya ia majukan tanda cemberut.
Akrom keluar dari halaman mushola mengendarai motornya untuk di titipkan yang tidak jauh dari tempat itu. namun sebelumnya mampir ke tokok untuk membeli payung. setelah di titipkan Akrom segera kembali ke mushola mengenakan jas hujan.
"ayok kita nunggu bis di pinggir jalan?" ajak Akrom setelah menghampiri Cintya.
"ini tas kamu" Cintya mengulurkan tas Akrom.
"pakai sandal ini aja, sepatunya di masukin tas kresek" Akrom memberikan sebungkus tas kresek berisi sandal yang ia belinya bersama payung.
Cintya memasukan sepatunya di tas kresek dan memakai sandal yang di belikan Akrom.
Dengan memakai payung mereka menunggu bis antar kota di pinggir jalan.
Sudah 2 jam mereka menunggu tidak juga mendapatkan bis untuk mengantarkan mereka pulang. dan hujan masih setia mencurahkan Rahmad Tuhan yang begitu riuh ke muka bumi.
"gimana nih krom? kok nggak ada yang lewat ya?" cintya menunggu cemas hari sudah semakin malam.
"apa nunggu reda? kita naik motor malam?" tanya balik Akrom.
"aku takut krom"
"kamu nginep hotel mau?" tawar Akrom.
"hah?" Cintya menoleh kaget dengan penawaran Akrom.
"hehe, tenang aja aku nggak ngapa-ngapain kok, lagian bisa pesan dua kamar kan?"
"terserah sih, cuma gimana izinnya sama orang rumah?"
"aku yang minta izin" Akrom mengambil ponselnya dan menelfon nomor ridho.
-*Akrom-
"assalamualaikum"
-ridho-
"wa'alaikumsalam, kenapa bro?"
-akrom-
"sorry dho, ini nggak ada bis aku udah nunggu 2 jam disini, dan ini masih ujan"
-ridho-
"waduh, trus rencanamu gimana krom?"
-akrom-
"bapakmu tidur belum dho?"
-ridho-
"belum nih, bentar aku kasih ke bapak"
-bapak-
"hallo krom, gimana?"
__ADS_1
"akrom-
"maaf pak, ini masih hujan deras. saya sama mbak Cintya sudah nunggu bis selama dua jam belum dapat. sekali lagi saya minta maaf, kalau umpama mbak Cintya menginap di hotel dekat sini gimana?"
-bapak-
"waduh, gimana ya krom? bapak juga bingung karena Cintya juga cewek nginepnya sama cowok"
-akrom-
"oh itu, kami pesan dua kamar pak, saya tidur di kamar sendiri."
bapak-
"oh gitu, yasudahlah nggak apa-apa, daripada kalian kemalaman dijalan. tapi bapak pesan jangan macam-macam ya? tolong jagain Cintya"
-akrom-
"nggih pak, Insya'ALLOH Akrom jagain mbak Tya pak"
-bapak-
"yasudah, hati-hati ya? kenapa-kenapa bilang sama bapak"
-akrom-
"nggih pak, sekali lagi Akrom minta maaf ya?"
-bapak-
"iya krom nggak apa-apa, selama kamu tanggung jawab sama Cintya."
-akrom-
-bapak-
"iya krom, wa'alaikumsalam*"
Akrom mematikan sambungan telfon itu.
"gimana?" tanya Cintya.
"sama bapak nggak apa-apa" balas Akrom lega.
"syukurlah. itu di sebelah sana kayanya ada hotel krom" tunjuk Cintya pada sebuah bangunan dua lantai.
"yasudah ayo kesana mbak" jawab Akrom.
"iya ayo"
Mereka berjalan beriringan dengan satu payung melindungi mereka dari deras hujan yang menghujam bumi. Sesampainya disana mereka langsung menghampiri meja receptionist untuk memesan kamar.
"kak, pesan dua kamar dong" ucap Akrom kepada receptionist.
"maaf kak, tinggal satu saja ini" jawabnya ramah.
"wah, gimana ya? sebentar ya kak?" balas Akrom yang dijawab anggukan olehnya.
"tinggal satu kamar nih. gimana?" tanya akrom pada cinta yang menunggu di kursi lobby.
"yaaah, gimana dong krom? nggak ada hotel lain juga" balas Cintya.
"yasudah" jawab Akrom yang langsung kembali ke meja receptionist.
"yaudah kak, satu aja nggak apa-apa" ucap Akrom sambil memberikan KTP dan uang sesuai harga yang tertera di list sewa kamar yang tersisa.
__ADS_1
"baik kak, silahkan ini kuncinya. kami antar ke kamarnya"
"iya kak" jawab Akrom sambil melambai memanggil Cintya untuk mengikutinya.
Mereka berjalan menuju kamar yang dimaksud dengan panduan receptionist di depannya.
"silahkan kak, kalau perlu apa-apa tinggal hubungi kami" ucap receptionist ramah.
"iya kak, terimakasih" balas Akrom sambil memberikan selembar uang untuk tip.
"trus kamarmu mana krom?" tanya Cintya dengan wajah bingung.
"kan udah aku bilang tinggal satu? nggak apa-apa kan kita berbagi kamar?" tanya Akrom dengan alisnya di naik turunkan.
"hah! ngawur kamu krom." sontak Cintya kaget dengan penuturan Akrom.
"udah nggak apa-apa, namanya juga darurat"
Cintya hanya terdiam mencoba menata detak jantungnya yang sudah tidak karuan membayangkan bakal tidur satu kamar dengan Akrom.
"udah sana mandi, belum mandi seharian kan? bau tau" ucap Akrom yang tengah duduk di kursi depan ranjang.
"kamu jangan ngintip ya?" ucap Cintya dengan menunjukan jari tangannya ke arah Akrom seakan sedang menegaskan kata-katanya.
"iya, kalau nggak khilaf" balas Akrom sambil tersenyum penuh arti.
"ish. ngeselin kan? udah ah aku nggak mau mandi. takut sama kamu" omel Cintya sambil mendudukan dirinya di tepian ranjang tempat tidur.
"lah kok nggak mandi? bau itu lo" goda Akrom.
"bau juga biarin. mending bau daripada di intip sama kamu!" ucap Cintya bersungut-sungut.
"hahaha, nggak nggak ah, gila apa? aku masuk kamar sama kamu berdua gini aja udah gelisah banget mana sempet ngintip" ucap Akrom sambil memandangi luar jendela yang menyuguhkan derasnya hujan malam ini.
"bener ya? awas kalau kamu ngintip. sekali ketahuan mau nggak mau kamu harus langsung nikahin aku" Cintya memperingatkan dengan sorot matanya yang tajam.
"iya aku janji, lagian aku juga udah janji sama bapak kalau aku nggak macem-macem kok. udah sana mandi" perintah Akrom dengan senyum dikulum.
"awas kalau ngintip!" ucap Cintya meninggalkan Akrom menuju kamar mandi.
"eh kemana?" tanya Akrom menghentikan langkah Cintya.
"ya mandi lah krom. kamu kira Kemana?" balas Cintya dengan nada malas.
"emang nggak ganti baju?"
"oh iya ya, lupa" balas Cintya menepukan tangan ke keningnya.
"emang mau ganti baju disini? aku nggak ngintip kalau itu" goda Akrom.
"ish nyebelin, dasar bocah mata keranjang" sahut Cintya yang dibalas tertawa pelan Akrom.
Setelah Cintya memasuki kamar mandi, Akrom membuka ponselnya untuk membuka pesan-pesan masuk yang belum sempat dibalasnya.
Selang beberapa menit. Cintya sudah keluar dari toilet dan sudah mengganti bajunya dengan pakaian lebih santai namun masih tertutup dengan kepalanya di bungkus handuk, dan Akrom hanya meliriknya sekejap.
"habis keramas?" tanya Akrom masih dengan matanya tertuju pada ponselnya.
"iya, habis kena air hujan takut jadi migrain" jawab Cintya dengan tangannya sibuk menata baju bekas ia pakai untuk di gantung di gantungan baju yang tersedia di kamar itu.
"kamu cepetan mandi" lanjut Cintya menyuruh Akrom.
"iya Tya" balas Akrom sambil berjalan menuju kamar mandi.
Sepeninggalan Akrom, Cintya merebahkan tubuhnya di ranjang kamar hotel. Rasa lelah setelah seharian berkendara dan jalan-jalan membuatnya tertidur dalam sekejap.
__ADS_1