
"Krom, mbak Rania itu seperti apa sih?" tanya Cintya setelah drama kegundahan hati telah usai.
"dia orangnya baik, penyayang, sayang banget sama ibu. di sekolah sering mendapat prestasi. tapi ya karena kelebihan itu dia jadi dapat masalah, makanya kenapa aku memilih untuk diam di sekolah karena aku belajar dari mabk Rania" ujar Akrom sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"ini mbak" lanjut Akrom menunjukan sebuah foto yang tersimpan di galery ponselnya. Foto seorang gadis cantik dengan senyuman manis menghiasi wajahnya sedang memeluk seorang anak SD laki-laki.
"cantik banget Krom. nggak heran kalau banyak cowok yang suka" puji Cintya melihat foto kak Rania yang membuatnya kagum.
"iya kaya kamu, cantik banget bikin banyak cowok suka" balas Akrom.
"mulai deh ngegombalnya" protes Cintya menyembunyikan wajah meronanya.
"iya deh iya, nggak gombal lagi" gerutu Akrom lemas.
"nah gitu dong sayang" kini ganti Cintya yang menggoda Akrom.
Akrom melengos wajahnya agar tidak terlihat sedang menahan senyum yang kini terukir manis.
"mbak, kamu kenapa jadi guru?" tanya Akrom mengalihkan [pembicaraan.
"ya karena menjadi guru adalah cita-citaku dari kecil Krom, aku suka aja sih berbagi ilmu dan bertemu banyak karakter orang untuk berinteraksi tentang cara menyampaikan pengetahuanku" ucap Cintya semangat.
"tapi pasti mengejar menjadi PNS?" tanya Akrom lagi.
"bagiku PNS itu reward krom. yang terpenting bagiku sih bagaimana ilmu yang aku punya tersampaikan. dan aku menikmati proses ngajar mengajar" jawab Cintya.
"kalau sukuan bukannya punya bayaran yang tidak begitu banyak?"
"memang, tapi sekali lagi aku menikmati krom. kalau orientasi kepada uang kurasa menjadi kurang esensinya"
"tapi bukankah fee untuk seorang guru adalah minimal mencukupi kebutuhannya agar lebih tenang di sekolah?" tanya Akrom lebih kritis.
"gini krom. Alhamdulillah aku dan Ridho sudah tercukupi dari orang tua kami, meskipun tidak mewah namun cukup untuk kami dan cita-cita kami" Cintya menjelaskan dengan wajah serius.
"Syukurlah, semoga kedepannya tetap seperti itu dan tercukupi" balas Akrom bangga dengan pola fikir Cintya.
"Aaaaaamiin krom. untuk saat ini sih aku berpegang demikian, cuma secara realistis kita tidak tahu bagaimana kebutuhan hari nanti"
"iya mbak. semua prinsip bisa berubah tergantung keadaan" Akrom mengamini pendapat Cintya.
__ADS_1
"benar Krom. kalau kamu ingin seperti apa di masa depanmu?" tanya balik Cintya.
"mungkin aku akan lebih serius dengan Studio Arsitek yang sekarang sedang aku kerjakan secara Freelance. dan mengelola kafe serta apapun yang bisa ku kerjakan waktu nanti" jawab Akrom.
"nggak ingin membagi ilmumu selama di pondok dan hasil kuliah di mesir?"
"itu adalah kewajiban, cuma bukan menjadi guru secara formal. aku hanya ingin mengajar di masjid-masjid dan tarbiyah. tidak untuk ceramah atau entahlah nanti"
"memang kenapa?" Cintya meminta alasan dari ucapan Akrom.
"karena terlalu tidak enak hati saja menjual agama mbak, kalau aku mau uang aku harus kerja. sedang membagi ilmu agama itu memang kewajiban" jawab Akrom yang sontak membuat Cintya kaget dengan sebuah penjelasan dari Akrom yang ia rasa sangat menohok.
"maaf kalau alasanku membuatmu mungkin bisa saja tersinggung karena kamu seorang pengajar. tapi harus di bedakan ilmu dunia dan agama yang sedang kita bahas" lanjut Akrom setelah menyadari perubahan raut wajah Cintya.
"iya krom, aku tahu. hanya saja aku merasa penjelasanmu barusan adalah sebuah pengingatku dan motivasi untuk menjalani peranku sebagai pengajar" kini Cintya sudah kembali dengan raut wajah tenang tidak lagi seperti beberapa detik yang lalu.
"semoga kedepan kita bisa lebih baik untuk peran kita masing-masing" Akrom mencoba menenangkan hati Cintya.
"makasih ya Krom? sudah mengingatkan untuk menjalani peranku menjadi lebih baik" ujar Cintya.
"iya mbak, sama-sama" ucap Akrom lalu menyeruput kopi yang ia pesan.
"ayok mbak, tunggu bentar deh" Akrom menuju kasir untuk membayar makanan yang mereka pesan dan mengambil sebuah kantong makanan.
"nih mbak buat si Ridho" Akrom mengulurkan kantong kresek yang ada di tangannya.
"ngapain itu anak di beliin? ngrepotin aja malah" tolak Cintya.
"yah, gitu gitu juga temen aku kali mbak? udah ah ini" paksa Akrom.
"yaudah deh, makasih ya Krom" Cintya menerima pasrah.
"he'em" jawab Akrom singkat dengan melangkahkan kakinya menuju parkiran untuk mengambil motor yang akan mengantarkan mereka pulang.
Keesokan harinya saat Akrom dan Agus berjalan di lorong kelas berbarengan ketika mereka bertemu di parkiran.
"krom noh krom, bidadarimu krom" tunjuk agus berbisik dengan Akrom saat melihat Cintya berjalan di lorong yang sama menuju arah mereka.
"apaan sih kampret?" Akrom berbisik balik sambil memukul lengan Agus.
__ADS_1
"lah di bilangin malah kena pukul" gerutu Agus mengusap bekas pukulan Akrom.
"sedang di sudut lain Cintya yang tengah berjalan sayup-sayup terdengar bisikan Akrom dan Agus menyebut namanya menjadi malu-malu dan ragu untuk melanjutkan langkahnya ke arah mereka.
"tuh Krom" Agus mendorong Lengan Akrom agar mendekati Cintya saat mereka berpapasan.
"bu, sebentar" ucap Akrom sambil membuka tas ranselnya dan mengeluarkan bungkusan paper bag dari dalamnya.
"ada apa Krom?" tanya Cintya yang bingung langkahnya dicegat oleh Akrom.
"ini buat kamu, di rumah aja bukanya" ucap Akrom emberikan paperbag yang ada di tangannya.
"makasih Krom" ucap Cintya menerima pemberian Akrom.
"ya sudah saya duluan bu, Assalamualaikum" pamit Akrom buru-buru pergi dari hadapan Cintya menarik lengan Agus.
"eh, santai napa? saya duluan bu. Assalamualaikum" ujar Agus yang buru-buru juga karena ditarik oleh Akrom untuk melanjutkan jalan mereka menuju kelas.
"iya, waalaikumsalam" jawab Cintya tersenyum melihat tingkah lelaki pencuri hatinya yang masih berstatus sebagi muridnya dan temannya itu.
"buru-buru napa sih? aku lo nggak ganggu kalian pacaran juga" protes Agus lirih sambil melepaskan tarikan tangan Akrom.
"berisik. kalau kelamaan jadi bikin orang lain curiga nyet" ucap Akrom melepaskan tarikan tangannya ke lengan Agus setelah dirasa cukup jauh dari Cintya.
"lagian kau pacaran satu sekolah sendiri sendiri" gerutu Agus.
"namanya sayang nggak bisa milih gus. datang dengan sendirinya" jawab Agus seenaknya.
"buset bahasa kau sekarang ngomong sayang. padahal selama ini paling anti ngomong soal itu"
"cinta merubah segalanya bos" jawab Akrom meledek.
"ah percuma juga sih jelasin ke jomblo" lanjut Akrom di iringi tawanya.
"ah rese' nih bocah" jawab Agus lemas.
"denger-denger ada yang pacaran nih?" sela Niken siswi lain yang di kenal juga suka sama Akrom nimbrung di pembicaraan mereka berdua.
Akrom dan Agus saling pandang mendapat pertanyaan itu.
__ADS_1