
Beberapa bulan kemudian.
...-----------...
Malam berujung di semenanjung siang
menyibak Selasar aroma tubuhmu
resah, pilu beradu meresah
Melakukan diri diujung sendu.
dingin, dingin menghujam kaki
membelenggu langkah berhenti
jangan paksa berlari
sedang aku tercaci menahan diri
sempurna malam menghujam fikiranku
rembulan tersimpul merelakan sinarnya
ingin ku gapai disana bayang wajahmu
sedang ranting menahanku sekedar melangkah
Akrom merenungi dirinya di teras asrama putra pondok pondok pesantren. malam selalu menjadi waktu yang memberi kenyamanan untuk musabahah tentang segala keadaan.
Beberapa bulan terakhir ini dirinya sedang ada rasa kerinduan dengan Cintya, memang mereka sering bertemu tapi hanya sekedar sapa. karena sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian tengah semester.
Namun di satu sisi lain ia merasa sudah terlalu sedekat itu dengan wanita, ada penyesalan pada dirinya tidak begitu ketat menjaga dirinya. juga diri Cintya.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar merutuki dirinya atas apa yang sedang terjadi.
Ditempat lainpun, Cintya juga sedang merasa rindu dengan kurangnya waktu yang bisa membuat mereka sekedar ngobrol berdua, waktu Cintya habis untuk menyiapkan ujian semester.
...------...
Keesokan harinya. Cintya berencana mengajak Akrom makan siang di kantin untuk sekedar bercengkrama menikmati waktu yang terbatas.
"krom, nanti istirahat ke kantin yuk?" ajak Cintya yg telah menunggu Akrom di parkiran.
"Insya'ALLOH Bu" jawabnya datar dan langsung melangkahkan kakinya pergi tanpa melihat Cintya.
Cintya yang melihat perubahan signifikan Akrom hari itu sangat kaget. "apa aku ada salah? atau Akrom sedang ada masalah atau sesuatu?" gumamnya sambil memandang punggung Akrom yang semakin jauh dari pandangannya.
Tiba waktu istirahat, Cintya segera menuju kantin untuk menunggu Akrom seperti ajakannya tadi pagi.
Lama ia menunggu Akrom tidak juga kunjung datang, dia coba mengirim pesan hanya di baca tanpa ada balasan. Ia telfon berulang kali pun juga tidak di jawab.
__ADS_1
"kenapa sih krom?" tanyanya dalam hati.
"eh Bu Cintya, sendirian aja Bu?" sapa Aldo kepada Cintya yang membuatnya sedikit kaget.
"eh, oh iya saya sendiri" balasnya menyembunyikan kekagetannya.
"boleh saya duduk disini?"
"oh silahkan, ini untuk umum kok kursinya" jawab Cintya.
"tambah cantik aja Bu?" puji Aldo sambil tersenyum.
"ah kamu bisa aja" jawab Cintya tersipu.
"serius Bu, makin hari makin cakep"
"ngomong-ngomong pulang sekolah nanti bisa jalan sebentar Bu? saya mau traktir makan siang" lanjut Aldo melancarkan godaan khas playboynya.
"maaf do, saya nanti langsung pulang aja sih" tolak Cintya halus.
"oh iya, kalau saya mau main kerumah Bu guru cantik boleh?" pinta Aldo tak menyerah.
"eh, emmm silahkan aja sih. nggak apa-apa" balas Cintya yang tidak bisa menolak.
"baiklah, kalau gitu saya nanti main ya?" ucap Aldo memastikan. Cintya hanya menjawabnya dengan anggukan, meskipun sedikit ragu. karena dia tau dari murid-murid lain kalau Aldo murid yang playboy.
Saat sedang mengobrol, mata Cintya menangkap sosok muridnya yang tengah berdiri membelakangi tidak jauh dari posisinya duduk saat ini, dengan wajah sedikit menoleh dan mata tajam melirik ke arahnya.
"aduh ada dia lagi, bisa salah faham ini anak, malah tambah runyam deh" gerutu Cintya dalam hatinya.
Setelah penjual itu memberikan gelas mika yang berisi es jeruk kepada murid itu, lantas murid itu berlalu pergi tanpa menolehnya lagi.
"krom, please aku bisa jelasin, jangan salah sangka dulu" sesal Cintya dalam hatinya menyesali keadaan yang tak bisa di tolaknya.
"kenapa Bu? kok murung gitu?" tanya Aldo membuyarkan lamunan Cintya.
"eh, ee-enggak, nggak kenapa-kenapa" jawab Cintya menyembunyikan kegugupannya.
"Bu Cintya sedang sakit? kok kelihatan pucat gitu?" sorot mata Aldo meneliti setiap sudut wajah cantik Cintya yang membuatnya tidak nyaman.
"eh, iya nih agak nggak enak badan, aku duluan ya?" Cintya beralasan untuk segera menghindar dari Aldo.
"mau di anterin ke UKS Bu?" tawar Aldo.
"oh nggak usah, saya mau ke ruang guru aja. mau istirahat dulu" jawab Cintya beranjak dari kursinya meninggalkan Aldo sendiri.
Di carinya Akrom ke kelasnya. tapi kelas itu kosong tidak ada anak sama sekali untuk di tanyai.
Cintya melanjutkan pencariannya ke perpustakaan. disanapun dia tidak menemukan Akrom, hanya ditemui Agus yang sedang mencari-cari buku bacaan.
"Gus lihat Akrom nggak?" tanya Cintya pelan.
__ADS_1
"enggak Bu, tadi terakhir ketemu di kelas, katanya ke kantin sih" jawab Agus.
"tadi ke kantin, cuma langsung pergi lagi nggak tau kemana. aku cari di kelas juga nggak ketemu"
"wah kalau itu saya nggak tau Bu, di sini juga nggak ada"
"yaudah kalau gitu, makasih ya?" ucap Cintya.
"iya Bu, sama-sama" balas Agus.
Setelah dicarinya setiap lorong kelas-kelas. dan tetap tidak menemukan. akhirnya Cintya memutuskan kembali ke ruang gurunya. ia berencana menunggu Akrom nanti setelah pulang sekolah di parkiran.
...------...
Saat jam istirahat selesai Agus menanyai Akrom yang tadi di cari Cintya tapi tidak ketemu.
"dari mana bro? di cariin pacarmu tadi" tanya Agus saat Akrom menghampiri kursinya yang berada didepan kursi Agus.
"pacar Akrom siapa Gus?" tanya teman bangku sebelahnya penasaran.
"ah kepo kau, masih menjadi rahasia" balas Agus yang keceplosan bicara.
"pelit kau Gus. siapa krom? kaget aku denger kau punya pacar" tanyanya lagi kini langsung kepada Akrom.
"ah ngarang itu si anak semprul, jangan di percaya" jawab Akrom sambil menepuk kepala Agus dengan buku tulis.
Agus yang mendapat tamparan dari Akrom hanya bisa pasrah, ia menyadari bahwa telah kelepasan ngomong soal pacar Akrom. sedang ia sendiri sudah berjanji menjaga rahasia itu.
"ah, penasaran aku" ucap temannya itu yang masih kekeh mencari tahu.
"aku nggak punya pacar bro, lagian masih sekolah mikirin pacaran" ucap Akrom mencari alasan.
ridho yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka hanya terdiam Saja, sambil sesekali melirik kearah Agus seakan ingin menghakiminya atas kecerobohan ucapannya.
Setelah bel pulang sekolah tiba. Akrom segera menuju parkiran cepat-cepat tanpa mempedulikan temannya yang memanggil untuk berjalan santai menuju parkiran. di fikirannya hanya ingin segera pergi dari parkiran untuk menghindari Cintya yang ia yakini pasti akan menunggunya disana.
Akrom sudah mengenakan helm dan menyalakan Vespa kesayangannya. namun langkahnya untuk melajukan si kuda besi tertahan oleh panggilan seseorang yang sudah ingin di hindarinya.
",krom tunggu" ucapnya dari kejauhan sambil berjalan cepat ke arah Akrom.
"bisa jalan berdua? ada yang perlu aku bicarakan" lanjut Cintya saat sudah berdiri tepat di samping Akrom.
"soal apa Bu? disini aja" jawab Akrom datar.
"jalan yuk? biar lebih enak krom" pinta Cintya memelas.
"maaf Bu, saya nggak bisa kalau harus jalan berdua" jawab Akrom.
",kenapa? yaudah aku nggak jadi omong sesuatu kalau kamu nggak mau jalan" ucap Cintya berpura-pura merajuk untuk menggoda Akrom.
"yasudah nggak apa-apa, saya duluan. Assalamualaikum" pamit Akrom cuek tanpa mempedulikan reaksi Cintya ia melajukan motornya pergi dari parkiran.
__ADS_1
Cintya yang mendapat perlakuan Akrom seperti itu sangat kaget dan merasa aneh.
"krom kamu kenapa? aku minta maaf kalau aku salah, tapi tolong jelaskan dan dengar penjelasan ku kalau kamu mungkin perlu penjelasan" ucap Cintya dalam hati dengan di iringi mata yang sudah mengembun, dan bersiap meluncurkan buliran air mata.