
Bel sekolah mengalun mengisyaratkan jam pelajaran telah usai hari ini. semua siswa dan guru bergegas untuk kembali kerumah masing-masing setelah berjam-jam bergelut dengan pelajaran yang teramat sibuk. terlebih bagi siswa kelas tiga.
Begitupun dengan Cintya. ia bergegas pulang setelah tidak ada tanggungan yang harus ia selesaikan di sekolahnya hari ini.
"pulang bu?" sapa seorang siswi saat sama-sama tengah berjalan menuju parkiran motor.
"iya Niken, kamu juga mau pulang?" tanya balik Cintya ramah.
"iya bu" jawab Niken singkat sembari mengamati ada sesuatu yang beda dari bu Cintya hari ini.
"yasudah saya duluan ya? Assalamualaikum" pamit Cintya hendak menunggangi motornya.
"baik bu, hati-hati. waalaikumsalam" jawab Niken lagi yang masih terpaku mencari-cari sesuatu yang berbeda dari tampilan gurunya hari ini.
"itu kan jaket Akrom?" ucap Niken lirih mengingat-ingat jaket yang beberapa kali ia lihat hingga secara tidak langsung membuatnya hafal siapa pemilik jaket itu.
Saat tengah berdiri menerka-nerka hubungan jaket Akrom yang di kenakan Cintya. melintas Akrom yang juga tengah menuju parkiran motor untuk mengambil motornya agar bisa mengantarkannya menuju pondok pesantren.
"Krom tunggu" panggil Niken setengah berlari menghampiri Akrom yang sudah melewatinya beberapa detik.
"hem. ada apa?" ujar Akrom menghentikan langkahnya.
"jaketmu hitam di pakai bu Cintya?" tanya Niken secara langsung tanpa pendahuluan atas percakapan mereka.
"yang kamu lihat?" tanya balik Akrom melirik ke arahnya.
"yaa, aku yang aku lihat sih jaketmu di pakai olehnya" jawab Niken jujur.
"yasudah, seperti yang kamu lihat sendiri" ujar Akrom datar hendak melanjutkan langkahnya.
"tunggu, aku belum selesai bicara" Niken menarik lengan Akrom supaya tidak langsung pergi.
"lepas" suruh Akrom sembari menarik lengannya dari genggaman Niken. dan langsung saja Niken melepas tarikan tangannya tanpa perintah kedua.
"lalu apa lagi?" tanya Akrom berbalik ke arah Niken.
"kenapa jaket kamu di pakai bu Cintya?" tanya Niken sedikit ragu.
__ADS_1
"memang ada yang salah? kalau aku memberikannya apa itu sesuatu yang mengganggu hidup orang lain?" dengan dinginnya Akrom menjawab pertanyaan Niken. malah lebih terkesan ketus sebenarnya.
"ya enggak sih" ujar Niken menjawab dengan lemas dan menunduk. "masih saja dingin seperti biasanya kamu" gumam Niken dalam hatinya.
"nah, tidak ada masalah kan? aku pulang dulu" balas Akrom sembari memalingkan tubuhnya hendak meninggalkan tempatnya berdiri.
"kamu ada hubungan apa dengan bu Cintya?" lirih suara Niken menanyakan soal hubungan Akrom, jaketnya dan bu Cintya. membuat Akrom yang sudah selangkah meninggalkan Niken menjadi berhenti. ia menarik nafasnya dalam-dalam serta menggaruk bagian bawah bibirnya, menimbang-nimbang untuk saatnya ia jujur kepada Niken.
Akrom berbalik dan melangkah tepat di depan Niken. kini mereka berdiri saling memandang. kegugupan sungguh terpancar dari wajah Niken. baru kali ia bisa melihat Akrom sedekat ini.
"ikut aku" ujar Akrom berjalan meninggalkan Niken menuju lapangan basket yang memang tidak begitu banyak orang disana. ia berjalan tanpa menunggu persetujuan Niken. namun tetap saja Niken menuruti dan megikutinya.
"kamu duduk" Akrom menunjuk sebuah kursi kosong yang jauh dari siswa lainnya, sedang ia berdiri di bawah pohon menghadap kursi itu yang berjarak tidak jauh darinya.
"kamu benar ingin tahu jawabannya?" tanya Akrom namun ragu ia akan menuturkannya. sedang Niken yang sudah duduk di kursi itu mengangguk dan menatap Akrom dengan seksama.
"kamu ingat, kapan hari aku bilang kalau aku sudah mengkhitbah seseorang?" tanya Akrom tanpa basa-basi lagi.
Niken kaget mendengar pertanyaan Akrom. namun ia tak mau berspekulasi dengan maksud dari pertanyaan Akrom yang baru saja ia lontarkan.
"iya aku ingat, aku akan selalu mengingat" Niken menjawab dengan nada mantab namun sorot matanya sedang meminta jawaban lebih lanjut darj maksud Akrom.
"maksud kamu..." ucapan Niken terhenti. nafas seakan menggantung di tenggorokannya saja. spekulasi awal yang ia ragukan ternyata benar adanya. air mata mulai mengkristal memenuhi kedua manik indah milik Niken. terlebih sakit di hatinya adalah bu Cintya yang sudah ia anggap sebagai kakaknya untuk menceritakan hal lebih privat, dan juga ia telah menceritakan keluh kesah kisah cinta yang ia perjuangkan padanya. namun yang ia terima adalah dialah yang di maksud oleh Akrom.
"ya, seperti itulah" ucap Akrom memalingkan wajahnya, ia hanya menjaga hatinya agar tidak menjadi iba melihat tangis Niken di hadapannya.
"Nik, aku tidak akan bilang bahwa di luar sana banyak yang lebih baik, bukan karena aku jumawa. hanya saja itu tidak akan berarti bagimu" ujar Akrom setelah beberapa menit mereka saling terdiam. hanya terdengar isak tangis Niken sembari menutupi wajahnya.
"tapi yang aku tahu, di luar sana masih ada dan bahkan banyak orang yang mencintaimu. cintailah orang yang juga mencintaimu" lanjut Akrom setelah ucapannya terjeda karena tarikan nafas panjangnya yang dalam.
"dan kamu juga harus tahu Krom. berat untuk tidak mencintaimu" balas Niken dengan suara seraknya yang juga masih tertahan oleh telapak tangan yang menutupi wajahnya.
"dan semestinya kamu juga tahu. akan menjadi lebih berat jika harus menanggung sakit karena cintamu tidak terbalas Nik" ucap Akrom namun kini suaranya lebih lembut. lebih seperti seorang teman yang sedang memberi pengertian.
"dan aku harap, kamu bisa ikhlas menanggung sakitmu kali ini dan segera beranjak dari perasaanmu" ujar Akrom lagi.
"apa kamu fikir mudah beranjak dari orang yang sudah terlanjur aku harapkan?" tanya Niken mendongakan wajahnya memandang melas kearah Akrom.
__ADS_1
"nah itu kamu tahu, aku juga tidak bisa memaksakan pilihan hatiku kan?" tanya balik Akrom menjawab pertanyaan dari Niken. sontak saja pertanyaan itu membuat Niken semakin sakit rasa di hatinya.
"gini. kamu tahu kenapa aku to the point seperti ini?" tanya Akrom selanjutnya. sedang Niken hanya menjawabnya dengan gelengan kepalanya pelan.
"aku tidak ingin kamu semakin larut dalam penasaranmu, aku juga tidak ingin lebih jauh kamu berharap denganku. dan aku juga tidak ingin kamu mengetahui hal ini dari orang lain yang entah itu bisa di tambah atau kurangi penjelasannya. yang bisa saja membuatmu salah faham dengan kami" Akrom menjelaskan semuanya panjang lebar.
Niken semakin lama semakin bisa menguasai hatinya. hingga isak tangirnya berangsur reda. hanya sisa-sisa air yang bermuara dari matanya tipis mengalir menyusuri pipinya.
"tersenyumlah, cintailah orang yang juga mencintaimu, dan aku rasa itu ada banyak di sekolah sini" Akrom berusaha menghibur dan menguatkan hati Niken. ada rasa iba yang mengetuk hatinya.
"tidak perlu kamu menghiburku" balas Niken masih bersuara serak.
"aku hanya tidak ingin kamu melewatkan cinta yang seharusnya kamu cintai" jawab Akrom. sedangkan Niken hanya meresapi nasehat Akrom.
"sudah, ayo pulang. di cariin orang tua kamu nanti" ajak Akrom sudah berdiri tepat di depan Niken.
Niken hanya terdiam, melihat kiri kananya sudah sepi. tidak ada alasan lagi untuk tetap disini.
"aku antar kamu pulang" ucap Akrom sembari berjalan ke arah parkiran.
"nggak usah, aku bisa sendiri" tolak Niken jutek.
"nggak apa-apa. anggap ini permohonan maafku" paksa Akrom yang tidak bisa ditolak oleh Niken.
Lalu mereka berdua sudah bersiap dengan tunggangan mereka masing-masing. seperti halnya dengan mengantar Cintya pulang. Akrom akan mengikuti laju kendaraan Niken hingga sampai dengan selamat menuju rumahnya.
"sampai Krom" ujar Niken saat mereka berhenti di pinggir jalan sebelum masuk ke halaman rumahnya.
"oh sini rumah kamu?" tanya Akrom melihat bangunan rumah yang menjulang tinggi.
"iya, mampir Krom?" tanya Niken setengah mengajak.
"aku langsung saja, terimakasih" tolak Akrom sopan.
"iya hati-hati, terimakasih sudah di antar" balas Niken sembari tersenyum yang ia paksakan.
"sama-sama. Assalamualaikum" salam Akrom hendak melanjutkan perjalanannya menuju pondok pesantrennya.
__ADS_1
"waalaikumsalam" jawab Niken yang masih setia memandang punggung Akrom yang semakin jauh meninggalkan tempatnya berdiam diri. lalu ia masuk ke rumahnya saat Akrom sudah benar-benar tidak terlihat.