Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Hari Minggu.


__ADS_3

Dihari Minggu pagi, setelah selesai semua kegiatan mengaji pagi. Akrom segera menuju ke pos keamanan untuk mengambil ponsel yang di titipkan. Lalu segera ia nyalakan untuk menghubungi Cintya.


-akrom-


"Assalamualaikum, dijemput jam berapa?"


Beberapa waktu tidak segera dibalas, ia berjalan menuju kamarnya untuk siap-siap.


"mau kemana krom? tumbenan minggu-minggu keluar?" tanya Misbah yang melihat Akrom mengenakan pakaian untuk pergi.


"jalan lah, nggak ada kegiatan kan hari ini?" jawab Akrom.


"jalan sama si Nisa kamu?" saut Fauzy.


"ngawur zy!! udah jangan gangguin Nisa, awas kamu" ucap Akrom sambil melirik ke arah Dimas.


Sedang Dimas hanya diam saja mendengarkan percakapan teman-teman sekamarnya itu.


"iya iya, nggak ganggu krom, kita juga nyadar nggak bakal bisa deketin si Nisa. dia cinta mati sama kamu" celetuk Fauzy.


"gimana ya? aku ganteng banget sih pasti ya?" ucap Akrom sambil merapikan rambut dengan sisirnya didepan cermin.


"kepedean kamu krom. udahlah sana berangkat, bikin eneg aja kalau kamu kelamaan disini" Fauzy melambaikan tangannya untuk mengusir Akrom keluar kamar.


"eh kampret, ngusir-ngusir kamu ya?" Akrom menoleh ke arah Fauzy dengan sisir di acung-acungkan.


Lalu terdengar ponsel Akrom bergetar ada pesan yang masuk.


-*cintya-


"wa'alaikumsalam, sekitar jam 7 aja ya? biar nggak kesiangan. kamu bisa kan?"


-akrom-


"oke siap, habis ini aku otw yak?"


-cintya-


"iya hati-hati krom*"


"yaudah aku berangkat dulu, assalamu'alaikum" pamit Akrom setelah melihat jam di tangannya menunjukan pukul 6:35 pagi.


"oke hati-hati. wa'alaikumsalam" jawab mereka.


Lalu ia mengendarai vespanya menuju rumah Cintya dengan kecepatan sedang. menikmati perjalanan dan bersenandung lagu untuk mengusir sepi.


Pergi di hari minggu


Bersama pacar baru


Naik Vespa keliling kota


Sampai binaria


Hatiku jadi gembira


Sesampainya disana


Duduk dua-duaan


Makan roti buaya


Dengan lagu kita


Kita menari bersama


Di batang pohon kan kuukir nama kita


Tanda sayang


selalu Sore hari telah menjelang


Saatnya untuk pulang


Vespa mogok di jalan


Turun pula hujan


Berteduh kita di taman


Lihat deh itu melati

__ADS_1


Indah nian berseri


Kan ku petik untukmu


Simpan dalam hati


Nanti ku ambil kembali


Nanti kuambil kembali


Nanti kuambil kembali


---


Song by : Naif : Piknik '72


Setelah beberapa waktu berjalan, sampai ia pada rumah dengan pintu pagar minimalis yang asri. Diparkirkannya motornya dihalaman depan rumah yang sudah bersih dari dedaunan, masih terlihat jelas bekas-bekas goresan sapu lidi di tanah itu.


"Assalamualaikum" Akrom mengetuk pintu rumah itu.


"wa'alaikumsalam, loh Akrom pagi-pagi gini tumben kesini? masuk-masuk krom, silahkan duduk" pak Rohmad mempersilakan.


"dho, ridho. ada Akrom ini Lo" lanjut pak Rohmad mamanggil ridho.


Belum sempat Akrom mengutarakan maksudnya, sudah duluan ridho menghampiri mereka diruang tamu.


"loh krom? mau kemana kau? pagi-pagi sudah kesini?" tanya ridho heran.


"loh nggak janjian sama kamu toh?" tanya pak Rohmad yang juga heran.


"Akrom kesini nyariin Tya pak, mau ngajak jalan tuh katanya" tiba-tiba Cintya muncul dari belakang dengan senyum-senyum yang membuat pak Rohmad semakin heran bercampur kaget.


"loh kok ngajak Tya krom?" tanya pak Rohmad.


"emang mau kemana?" lanjut pak Rohmad.


"eh e. anu itu pak, mau ngajak jalan nyari buku pak" jawab Akrom asal karena ia sendiri tidak menyangka akan kemungkinan pertanyaan itu. karena dia sendiri tidak tahu Cintya mengajak kemana.


"emang sudah buka pagi-pagi begini?" pak Rohmad mengerutkan dahi membuat Akrom semakin bingung.


"ya mungkin nyari di luar kota pak, biar nggak kehabisan" jawab ridho yang menyadari kegugupan Akrom.


"nggih pak" jawab Akrom singkat yang masih dipenuhi kegugupan.


"yasudah bapak kedalam dulu, mau mandi habis jalan-jalan tadi" pak Rohmad berjalan meninggalkan mereka di ruang tamu.


Cintya yang sejak tadi menahan tawa akhirnya melepaskan tawanya setelah pak Rohmad pergi meninggalkan mereka.


"eh ngawur sih, pakai ngejebak aku" gerutu Akrom melirik Cintya yang masih belum puas tertawa.


"emang mau kemana sih?" tanya ridho penasaran.


"nggak tau, mbak'mu yang ngajak, dan aku nggak dikasih tau kemana" jawab Akrom dengan mengangkat bahunya.


"kemana emang mbak?" tanya ridho lagi namun kini kepada Cintya.


"mbak juga belum tahu dho" jawabnya dengan wajah polos menahan tawa.


"ah sialan sih emang, pake acara ngejebak aku lagi" gerutu Akrom.


"mending kita main PS aja krom, sama mbak Tya nggak jelas pasti" ajak ridho.


"dimana?" tanya Akrom.


"eits. enak aja, aku yang nyuruh dia kesini kok kamu yang ngajak main? nggak bisa donk" potong Cintya.


"ya habis mbak sih gitu, nggak jelas ngajaknya"


"ya terserah aku donk dho, kok kamu yang protes?" balas Cintya.


"udah ah, jangan dibikin rebutan gini donk, iya-iya aku emang keren" ucap Akrom melerai meraka berdua.


"dih najis, itu menurutmu aja krom" ridho menggidikan bahunya dengan ekspresi jijik.


"kepedean kamu krom" Cintya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"ya habis kalian ribut rebutan aja" Akrom membela dirinya.


"aduuuh apaan sih kalian ini ribut aja? ada apa sih?" tanya Bu Wiwid yang tiba-tiba muncul dari dapur.


"eh ada Akrom. tumben pagi-pagi udah kesini?" lanjut Bu Wiwid menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


"iya Buk, diajak mbak Tya katanya" jawabnya sambil mencium tangannya.


"kamu mau ajak kemana nduk?"


"eh. e-belum tau Buk. heheh, nanti Tya fikirin mau kemana" jawabnya cengengesan.


"wooo, kamu ini nduk. udah sana mandi kalau mau jalan, tapi sarapan dulu. bentar lagi matang" perintah Bu Wiwid.


"siap Bu" jawab Cintya sambil tersipu, sedangkan Akrom tersenyum setelah balas dendam.


"kamu sudah izin orang tuamu krom? kalau mau jalan?" tanya Bu Wiwid.


"oh iya Bu, aku lupa kalau mereka mau sowan ke pondok, saya telfon dulu Bu" Akrom segera mengambil ponselnya dan mencari kontak ibunya.


-*akrom-


"assalamualaikum Bu"


-,ibu-


"wa'alaikumsalam nak, gimana kabarnya?"


-akrom-


"Alhamdulillah baik Bu, ibu sama ayah jadi sowan ke pondok?"


-ibu-


"belum tau ya krom, bapak kayanya masih ada perlu ini nak, ada apa?"


-akrom-


"ya nggak kenapa-kenapa Bu, kalau bapak sama ibu nggak jadi kesini, Akrom mau izin jalan boleh Bu?"


-ibu-


"sama siapa nak?"


-akrom-


"sama Cintya Bu, kakaknya ridho"


-ibu-


"mau kemana?"


-akrom-


"belum tau Bu, dia yang nentuin, tapi Akrom belum dikasih tau"


-ibu-


"ada-ada aja anak muda jaman sekarang. iya boleh, tapi kamu harus jaga Cintya. jaga diri kamu juga, ingat pesan ibu dulu kan?"


"akrom-


"iya Bu, Akrom ingat, Akrom pegang pesan ibu"


-ibu-


"yasudah. kamu hati-hati, salam buat keluarga disana ya?"


-akrom-


"baik Bu terimakasih, Akrom duluan ya? Assalamualaikum"


-ibu-


"iya nak, wa'alaikumsalam*"


Akrom memutuskan telfon dengan ibunya lalu dimasukan ponsel kedalam saku.


"gimana? sudah izin ibumu krom?" tanya Bu Wiwid.


"sudah Bu, Alhamdulillah boleh. sama ibu titip salam buat keluarga semua" jawab Akrom.


"syukurlah, salam balik buat ibumu ya krom?"


"nggih Bu, nanti Akrom sampaikan" balas Akrom ramah.


Lalu mereka sarapan bersama dirumah Cintya sebelum berangkat pergi.

__ADS_1


__ADS_2