Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bab Empat Belas. gugur setelah sesaat merekah


__ADS_3

"kamu nggak ngajak ibumu krom?" tanya Cintya disela pembicaraan mereka.


"enggak Bu, eh mbak. ibuk pergi sama ayah ketempat teman ayah" jawabnya sopan.


"emang mbak tau ibunya Akrom?" telisik ridho.


"taukah. kemarin waktu ngantar ibu cari jajanan ketemu di toko" jawab Cintya.


mendengar jawaban kakaknya ridho hanya ber-oh ria.


"la kamu gak pergi apel ke pacarmu krom? malah ngapelin si ridho" modus Cintya memastikan.


"eh. enggak mbak" balas ridho gugup.


"yah mbak. ni anak masa pernah pacaran. di deketin cewek-cewek aja cuma di tinggal aja" sela ridho melirik temannya.


"oh. kirain sudah punya pacar kamu krom" katanya dengan penuh kelegaan.


hanya senyum manis yang digunakan sebagai jawaban atas kalimat Cintya.


'alhamdulillah' ucapnya dalam hati.


"krom aku ke WC bentar ya? ada bentrok dalam perutku" pamitnya kepada temannya.


"jangan lama-lama dho" jawab Akrom gugup.


"iya tenang aja. mbakku nggak makan orang kok, cuma gigit aja paling" kata ridho sambil berjalan menuju toilet rumahnya.


"heh awas kamu dho" gertak Cintya sambil mendelikan matanya kearah adiknya.


keheningan menyelimuti mereka, tinggal berdua di ruang tamu.


saling malu-malu dan sesekali mencuri pandang namun langsung memalingkan pandangan kearah lain.


"emang kenapa kamu nggak pacaran krom?" mencoba mencairkan suasana.


"belum ada yang cocok aja mbak."


"emang cari yang gimana?" telisiknya lebih jauh.


"belum kefikiran aja sih mbak, bukannya soal kriteria" jawab Akrom malu-malu sambil menundukkan wajahnya.


"oh gitu. emang lulus SMK mau kemana kamu?"


"mau kuliah mbak, sambil kerja aja"


"kuliah dimana?"


"mungkin di Surabaya mbak. kemarin sudah nyoba cari info beasiswa disana sih" jawabnya yang kini sudah tidak terlalu canggung lagi.


"mbak dirumah aja? nggak pergi kerumah teman?" Akrom yang sudah bisa menguasai kegugupannya meskipun pandangannya belum berani memandang langsung Cintya.


"enggak. besok-besok aja. lagian anak-anak masih pada sibuk"


"oh. iya mbak" lalu mereka kembali terdiam.


"assalamualaikum" salam pak Rohmad memasuki rumahnya.


"wa'alaikumsalam" jawab Akrom dan Cintya serempak.


"eh ada tamu." pak Rohmad menghampiri Akrom dan langsung disambut dengan mencium tangan pak Rohmad. lalu berganti kepada Bu Wiwid.


"mohon maaf lahir batin pak, buk" ucapnya sopan.


"sama-sama krom. dari mana aja kamu? kok lama nggak pernah main kerumah?" tanya pak Rohmad ramah.

__ADS_1


"iya pak, kegiatan pondok lagi padat pak"


"pintar kamu krom, udah mondok, sekolah umum lagi. jadi dunia sama akhirat kamu seimbang" puji pak Rohmad sambil menepuk pundak Akrom.


"iyalah pak. apalagi jadi suami pasti bagus untuk rumah tangganya itu. iya nggak nduk?" goda Bu Wiwid sambil melirik kepada Cintya.


"nah iya buk. bener juga ya? hebat kamu krom" jawab pak Rohmad.


Cintya hanya tersipu malu mendengar godaan ibunya.


"eh iya. ridho mana nduk?" tanya Bu Wiwid.


"ada buk. lagi di toilet"


"yaudah kalian lanjut dulu. ibu mau bersih-bersih dulu" pamit Bu Wiwid.


"silahkan krom camilannya" tawar pak Rohmad.


"sudah pak terimakasih"


"kamu sudah kenal kakaknya ridho kan krom?" tanya pak Rohmad sambil menunjuk putrinya.


"sudah pak, kebetulan ngajar di kelas saya juga"


"oh, kebetulan ya? gimana? galak nggak gurumu yang itu krom?" lanjut pak Rohmad sambil menunjuk putrinya dengan tatapan matanya.


"eh. hehe enggak kok pak. Bu Cintya ramah waktu ngajarnya" balasnya malu-malu.


"ah bapak apaan sih nanya gitu? Cintya Lo nggak galak pak" gerutu Cintya kepada bapaknya.


"ya kan bapak nggak tau nduk, makanya bapak tanya" lalu di selingi dengan tertawa pelan.


lalu ridho muncul dari belakang kembali ikut nimbrung di ruang tamu. disusul oleh Bu Wiwid sambil menenteng paperbag.


"ini punya siapa dho?" tanya Bu Wiwid sambil menunjukan jajanan didalam toples.


"bener krom? makasih banyak ya?" ucap Bu Wiwid.


"iya Bu. itu tadi titipan dari ibuk" jawab Akrom.


"wah enak ini. jangan di suguhin ya pak? buat camilan di dalam aja ya?" ucap Bu Wiwid memelas kepada suaminya.


"yah ibu. kalau tau camilan aja pasti di habisin sendiri" gerutu pak Rohmad.


"ya habis ibu suka pak. enak soalnya" rengeknya seperti anak kecil meminta mainan.


"yaudah terserah ibu aja" pasrah pak Rohmad yang di sambut gelak tawa anak-anaknya.


"sampaikan salam ibu sama ibumu ya krom? terimakasih banyak"


"iya Bu, Insy'ALLOH nanti Akrom sampaikan"


"oh iya krom ibu lupa. ibu minta maaf ya kamu kapan hari lalu ketabrak sama anak ibu ini ya?" tanya Bu Wiwid mengejutkan akrom.


"ah. e-enggak apa-apa Bu. nggak sengaja. Akrom juga nggak kenapa-kenapa" ucapnya sambil tersenyum.


"ah iya krom? yang kamu masuk UKS itu ya? wah mbak sih nggak hati-hati" cerocos ridho menyalahkan kakaknya.


"kan nggak sengaja dho" bela Cintya.


"udah dho nggak apa-apa. luka ku aja udah sembuh ini" Akrom menunjukan bekas luka di sikunya yang sudah mengering.


"ya tapi kan wak-" kalimat ridho terpotong oleh Akrom.


"udah bro. aku nggak apa-apa nih. lagian busnya aja yang ngerem mendadak" kata Akrom mencoba melerai mereka

__ADS_1


'duh, kok dia belain aku? ahh Yaa ALLOH' gumam Cintya dalam hati


"yaudah. sekali lagi kami minta maaf ya krom? atas kejadian itu" pak Rohmad mencoba menengahi mereka.


"iya pak Ndak apa-apa"


lalu mereka kembali asyik ngobrol hal-hal lainnya.


saat mereka asyik ngobrol. datang seorang tamu yang mengagetkan mereka. terlebih bagi Cintya.


"assalamualaikum" salam tamu tersebut.


"wa'alaikumsalam" ucap semua yang ada didalam rumah.


"silahkan masuk" pak Rohmad mempersilahkan tamunya masuk.


"ini temanmu dho?" tanya pak Rohmad yang belum pernah bertemu tamunya ini.


"ini guru saya pak, namanya pak Rian" jawab ridho.


"Oalah, tamumu berarti dho? Monggo nak silahkan duduk" lalu satu persatu di Salami oleh pak Rian.


"kamu disini juga krom?" tanya pak Rian.


"iya pak" jawab Akrom singkat


setelah berbasa-basi, yang dimana Cintya dan ridho hanya terdiam gugup sambil beradu lirikan mata dengan ridho. lalu pak Rian dengan wajah serius berterus-terang kepada pak Rohmad.


"maaf pak, jika saya lancang kesini. maksud saya untuk silaturahmi. kedua saya mohon izin untuk melamar anak bapak, kalau berkenan dalam waktu dekat saya mengajak orang tua saya kesini" ucap pak Rian


sontak semuanya terkejut dengan apa yang barusan mereka dengar.


terlebih untuk Akrom yang wajahnya sudah memerah dengan ekspresi lusuh.


Cintya hanya bengong tidak dapat berbicara. hanya melirik saja kearah orang-orang di sekitarnya.


"boleh. boleh saja nak. tapi soal bagaimananya semua tergantung anak saya, karena yang menjalani dia bukan saya" jawab pak Rohmad bijak.


"bagaimana kamu nduk?" tanya pak Rohmad beralih kepada Cintya.


"s-saya.. eh anu pak. cinty-" jawabnya ragu.


"kamu nggak perlu jawab sekarang nggak apa-apa. saya siap nunggu kok" potong pak Rian.


Cintya yang tengah menunduk hanya bisa berkata "terimakasih pak atas pengertiannya".


lalu suasana menjadi dingin. hening.


"silahkan diminum esnya, suguhannya silahkan dilanjut dinikmati, jangan dilihatin aja, bukan tontonan ini" pak Rohmad mencoba mencairkan suasana kembali.


"iya pak. mari" jawab pak rian


Cintya melirik kearah Akrom yang dilihatnya mendadak lemas. wajah memerah dengan raut yang sangat kusut. dalam hatinya ia merasa tak enak hati. juga takut kehilangan.


lalu setelah beberapa saat, Akrom berpamitan pulang terlebih dahulu, tapi dengan sikap yang kembali dingin. bahkan jauh lebih dingin dibanding biasanya.


"loh kamu kok buru-buru krom?" tanya ridho heran


"nanti di cariin kalau lama-lama disini" jawabnya singkat.


lalu mengucap salam dan berlalu pergi.


'duh pasti Akrom salah faham. gimana ini?' gumam Cintya dalam hati melihat Akrom sudah berlalu dengan motornya.


tak berselang lama pak Rian juga pamit mengundurkan diri.

__ADS_1


Cintya yang cemas segera menuju kamarnya dan menutup pintu, berbaring di atas kasur meratapi kejadian barusan.


.


__ADS_2