
“mbak, keluarga kami memiliki masa lalu yang memukul hati kami” Akrom mulai bercerita dengan dengan sorot mata jauh memandang ke depan.
Cintya yang ragu untuk meminta Akrom melanjutkan ceritanya namun di sisi lain ia begitu penasaran.
“aku sebenarnya punya saudara perempuan, dan aku bukan anak satu-satunya” kalimt Akrom terhenti tubuhnya terlihat bergetar.
“dia sekarang sudah suwargi di pangkuan ALLOH” Akrom menunduk menghela nafas.
“Akrom, maaf. Jangan dilanjutkan kalau kamu tidak mau” ucap Cintya memandang ke arah Akrom. Di pandangnya sesosok lelaki yang selalu ia andalkan untuk menjaganya, namun kini ia tengah rapuh mengiba mengingat saudarinya.
“nggak apa-apa, aku harus menceritakan agar kamu tahu alasanku, juga agar kamu tidak tahu ini dari ibu. Kasihan dia harus mengingat sesuatu yang menyakitinya”
“dulu, saudariku. Kak Rania namanya, waktu aku masih kelas 6 SD, dia sdah kelas 1 SMA, dia begitu cantik, pintar dan baik. Kami semua menyayanginya. Dan karena kecantikannya jadi banyak orang yang memperebutkannya, tidak semua dengan jalan baik, suatu ketika ada seorang temannya yang mencegatnya dijalan persis seperti yang kamu alami tadi sore, orang itu menghadangnya juga karena sakit hati di tolak oleh kakakku” Akrom mengatur nafasnya, dadanya sesak oleh rasa sedih dan amarah yang menjadi satu.
“ia akan di perkosa oleh lelaki itu beserta temannya, saat sedang akan di lakukan hal itu, kakakku menendang ******** pria itu hingga tersungkur lalu pergi melarikan diri. Dan di kejar oleh temannya yang satunya” air mata sudah menetes di pelupuk mata Akrom. Cintya yang menyimakpun merasakan hatinya bergetar membayangkan sakit hati yang keluarga Akrom alami.
“dan tiba di jalan raya, karena berkendara ngebut kakakku menabrak sebuah truk yang sedang parker. Karena tidak sempat mengenakan helm ia meninggal di rumah sakit karena pendarahan di kepala” tutup Akrom yang kini menutup wajahnya dengan sajadah yang sejak tadi ada di genggaman tangannya.
“sudah krom, jangan di teruskan” cegah Cintya agar tidak lagi melanjutkan cerita itu karena iapun merasakan pedih, apalagi Akrom sebagai adiknya.
“itulah mengapa kalau kamu ingat, ayah sama ibuku selalu berpesan agar aku menjaga kamu, seseorang wanita yang menjadi pilihanku” lajut Akrom berusaha mengatur nafas agar lebih tenang.
“karena mereka tidak ingin aku seperti kak Rania?” tebak Cintya yang dijawab anggukan oleh Akrom.
“dan karena itu juga ibu selalu memintamu datang kerumah, karena ibu rindu sosok anak perempuan di rumah” ujar Akrom berkaca-kaca mengingat dua sosok wanita yang amat sangat dia sayangi.
Cintya mengangguk-anggukan kepala. Dalam dirinya ia bertekad untuk menjaditeman bagi bu Maftukhah meskipun tidak bisa menjadi kak Rania tapi setidaknya ia bisa menjadi pereda rindu bagi bu Maftukhah.
“besok kita ke makam kak Rania yuk Krom?” ajak Cintya membuat Akrom kaget dengan alimat itu.
“ngapain?”
__ADS_1
“ya jenguk kak Rania Krom. Dia pasti kangen banget sama kamu” ujar Cintya memelas.
“yaudah besok pulang sekolah ya?’’ jawab Akrom menyanggupi.
“Okey bos” ujar Cintya semangat.
“yasudah ayo pulang, udah malam mbak” ajak Akrom melirik jam tangannya.
‘ayok krom, nanti malah di cariin bapak aku” jawab Cintya.
Lalu mereka menuju tempat parkir motor dan melajukan motor mereka untuk keluar halaman masjid dan menuju rumah Cintya, dengan Akrom mengikuti laju motor Cintya dari belakang.
“assalamualaikum” salam Akrom dan Cintya saat tiba di teras rumah.
“waalaikumsalam, masuk bro” jawab Ridho yang tengah main PS di ruang TV.
“nggak ngerjain tugas Dho?” tanya Akrom melihat temannya sedang asyik main PS.
“nih, aku jamin kali ini kamu pasti kalah” ujar Ridho memberikan satu stick PS kepada Akrom.
“huh dasar bocah, ketemu mainan langsung lupa dunia” omel Cintya melihat tingkah Akrom dan Ridho.
“udah deh mbak jangan ganggu, ini urusan cowok” jawab Ridho yang pandangannya tidak bisa lepas dari layar di depannya, sedang Akrom hanya tertawa mendengar perdebatan adik dan kakak itu.
“eh anak ibu sudah pulang?” sapa Bu Wiwid dari dalam kamar setelah selelsai sembahyang.
“iya bu, maaf ya Cintya pulang kemaleman bu?” rengek Cintya memelas mengharap maaf dari ibunya.
“iya nduk, Cuma ibu minta selalu izin, bilang dulu yang jelas kemana? Sama siapa? Ngapain? Apa lagi anak gadis seperti kamu ini nduk. Mengkhawatirkan” omel Bu Wiwid atas keteledoran Cintya.
“iya bu, maaf. Lagian kan aku sama Akrom bu, juga tadi ke rumah Akrom” jawab Cintya meemparkan kea rah Akrom.
__ADS_1
Akrom yang merasa dirinya di sebut langsung tersadar dan mem-pause game di PS’nya.
“lah bro, ngapain di pause? Mau goll nih? Jangan alasan mau lari ya?” omel Ridho yang tidak terima Akrom tiba-tiba mem-pause game mereka.
Akrom tidak mempedulikan ocehan Ridho langsung berdiri kearah bu Wiwid dan mencium tangannya sambil memasang senyuman diwajah yang merasa tidak berdosa itu.
“udah ngobrol disini dari tadi, baru ngeh kalau ada ibu? Ha?” ledek Cintya kearah Akrom atas permainan PS yang membuatnya tidak menyadari sekitarnya.
Akrom yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya menggaruk tengkuk lehernya meskipun tidak sedang gatal, sedangkan Ridho hanya diam saja takut menjadi sasaran omelan kakak dan bu Wiwid selanjutnya.
“lihat tuh bu, si Akrom sama Ridho kalau sudah main nggak tau sekelilingnya bu” ujar Cintya mengkompor-kompori ibunya.
“alah kamu ini, yang ibu omelin kamu kok pakai acara mengalihkan sasaran ke Arom segala nduk?” ujar bu Wiwid.
“yahahaha, nggak kena week nggak kena, ibu lo saying sama Akrom ya?” cibir Akrom ke arah Cintya lalu bergelayut manja kepada bu Wiwid.
“hayah bisa-bisanya kalian berdua rebutan ibu. Pokok intinya kamu Cintya kemana-mana harus izin, meskipun ke rumah akrom, meskipun sama Akrom. Dan kamu Krom ibu minta tolong selalu ingetin itu si Cintya buat selalu pamit” tegas bu Wiwid memperingatkan Cintya dan Akrom bergantian.
“iya bu siap. Insya’ALLOH Akrom selalu ingetin mbak Tya buat izin kemanapu” jawab Akrom semangat menirukan sikap hormat pada upacara.
“bagus, terus kalau kamu gimana? Mau nggak selalu izin kemanapun mau pergi? Kalau nggak mau ya udah nggak usah kemana-mana” tanya bu Wiwid masih dengan nada tegas.
“kan Cintya belum jawab bu? Kok dijawab dulu?” gerutu Cintya.
“iya Cintya akan selalu izin kemana aja bu. Cintya janji” ujar cintya mantab.
“loh nduk baru pulang? Dari mana?” tanya pak Rohmad yang muncul dari mushola rumah.
“eh pak, habis main dari rumah Akrom” jawab Cintya nyengir kuda mencium tangan bapaknya itu. Di ikuti oleh Akrom yang juga mencium tangannya.
“kalian ini kok dekat banget ada hubunan apa memangnya?” tanya pak Rohmad membuat mereka berdua saling pandang.
__ADS_1