Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bab Delapan Belas. Bunga Bersambut


__ADS_3

kalau boleh mbak tau, apakah penanggalan di puisi kamu adalah hari dimana kamu mendapat kekecewaan itu?" Cintya memberanikan bertanya lebih jauh


"iya mbak" jawab Akrom tegas yang seolah sudah tidak ada rasa sungkan lagi mengalir dari dirinya, untuk saat ini ia hanya perlu melepaskan kegundahan hatinya.


Deg!!.


jantung Cintya semakin keras berdegup, nafas seakan tercekat di tenggorokan.


hatinya berdebar mencerna setiap jawaban yang diberikan Akrom.


"jika bunga dimeja depan kelas itu mencarimu apakah suasana akan berbeda?" tanya Cintya memastikan.


"untuk mencari pot bunga lain? sedang ia sudah singgah didalam vas yang terbuat dari marmer?" balas Akrom dengan senyum sinis terukir di bibirnya.


"tidak semua bunga tepat untuk vas dari marmer, bonsai indah itu lebih tepat berada dalam pot besar meskipun hanya terbuat dari beton" balasnya dengan nada tidak mau kalah.


Akrom menoleh kearah Cintya, dengan sorot mata yang seperti orang bingung. lalu kembali menundukan pandangannya.


"Akrom, bunga dimeja depan kelas itu sedang mencari tempat yang ia rasa nyaman. dia tidak perlu vas mewah dari marmer" Cintya memberanikan diri mengucapkannya.


"hah? maksudnya?" Akrom menolehnya kaget dengan pernyataan Cintya.


"begitulah krom" jawab Cintya pelan.


dipandangnya wajah Akrom yang masih dengan raut kebingungan.


'aduh Cintya ge-er banget kamu jadi orang? iya kalau bunga yang dimaksud Akrom itu kamu? kalau bukan?' maki-maki Cintya dalam hatinya melihat reaksi Akrom masih dingin.


"maaf krom, sepertinya bunga yang kamu maksud tidak sesuai dengan yang ku tangkap. maaf aku terlalu ge-er berucap tadi. saya duluan" pamit Cintya yang sudah tidak mampu menahan rasa malunya.


lalu ia berdiri dan berjalan membelakangi Akrom menuju tempat parkir sambil mengusap air mata di pipinya. ada rasa sakit ketika harapannya tidak sesuai dengan kenyataan yang di rasa Akrom.


"mbak" panggil Akrom secara tiba-tiba. mendadak langsung menghentikan langkah kaki Cintya.


"maaf kalau mungkin saya menyinggung atau tidak sepatutnya saya jalani. tapi jujur, saya bahkan tidak tau harus bagaimana dan mengapa semua terjadi" kini Akrom berjalan mendekati Cintya.


Cintya hanya hanya berdiri terdiam membelakangi Akrom, menyembunyikan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"sudahlah krom, kamu laki-laki, kamu harus memperjuangkan apa yang seharusnya kamu perjuangkan" Cintya mencoba tegar menerima kenyataan bahwa 'Bunga Dimeja Depan Kelas' itu bukan dirinya.


"benarkah?" tanya Akrom mendongakkan wajahnya kearah wanita didepannya yang terlihat hanya tubuh bagian belakangnya.


"iya, kamu harus Yaqin" jawab Cintya akan melanjutkan langkah kakinya.


"tapi apakah benar bunga didepan meja kelasku tidak sedang berada di vas marmer?" tanya Akrom sedikit berteriak karena Cintya sudah meninggalkannya beberapa langkah.


sontak pertanyaan itu menghentikan langkah kaki gadis itu, wajahnya merona merah mendengarnya, bibirnya kelu tak bisa berucap. hanya air mata yang semakin deras mewakili semua rasanya?


"Bu guru, ada muridnya bertanya kok diam saja?" lanjut Akrom yang kini suaranya semakin mendekat.


"mmmm eh-. sepengetahuanku seperti itu" jawab Cintya dengan hari berdebar.


"lalu menurut Bu guru. apakah pantas sebuah pot beton yang belum sepenuhnya jadi menawarkan diri menjadi tempat tinggal Bunga bonsai yang sudah tumbuh nyaris sempurna?" tanya Akrom lebih lanjut.


"setahuku bonsai tetap bisa tumbuh semakin indah meskipun pot belum sepenuhnya jadi, berjalan waktu akar bonsai yang terus tumbuh dan improvisasi pengerjaan pot akan menjadikan tanaman itu jauh lebih indah lagi" jawabku membalas perumpamaan itu.


Akrom hanya terdiam mendengar jawaban itu. sungguh ia belum pernah berada di situasi seperti ini. hingga tidak tahu harus berbuat apa.


"kalau boleh tahu, bunga itu siapa?" lirik Cintya menoleh wajahnya kearah pria yang ada dibelakangnya.


dengan sedikit ragu-ragu, Akrom menjawabnya pelan "guru matematika saya di kelas XII" wajahnya menunduk dan matanya terpejam sangat rapat.

__ADS_1


lemas tubuh Cintya seakan tidak kuat menahan irama jantungnya yang semakin tidak karuan, menahan sumbatan nafas yang semakin sesak.


sontak ia membalikan badannya memeluk erat siswanya sendiri, dibenamkan wajahnya di dada bidang Akrom.


air matanya membasahi jaket yang dikenakan Akrom.


Akrom yang kaget hanya diam saja. juga tidak membalas pelukan itu. hanya mematung menahan tubuh gurunya yang sedang lemas memeluknya.


"hiks, Krom, kalau kamu tahu. aku juga merasakan hal yang sama denganmu" ucap Cintya tidak berani menengadahkan wajahnya.


Akrom yang semakin kaget dengan kenyataan ini, hanya bisa mematung mencoba mempercayai bahwa ini sedang nyata terjadi.


tak lama Akrom mendorong tubuh Cintya agar melepaskan pelukan Cintya.


"kenapa krom? kamu menyesal dengan yang baru kita bicarakan?" protes Cintya heran.


"maaf Bu, eh mbak. kita belum muhrim" jawab Akrom pelan.


"maaf krom, aku refleks tadi" Cintya menundukan kepalanya.


mereka terdiam menata detak jantung dengan wajah tersipu canggung.


"maaf mbak saya mendorongmu kasar"


tidak apa krom. aku yang salah" sesal Cintya.


"apa yang mbak utarakan tadi benar?" tanya Akrom.


"yang mana ya? emang aku omong apa?" tanya Cintya balik menyembunyikan rasa malunya telah secara frontal mengutarakan isi hatinya pada Akrom.


"oh, maaf mungkin saya cuma mimpi" Akrom menundukan wajahnya lemas.


"krom?"


"kenapa kamu menjadikan guru matematikamu kelas XII menjadi bungamu?" tanya Cintya sambil berjalan pelan menuju kursi taman.


"mmm. aku sendiri belum tahu mbak, baru pertama kali aku mengalaminya" ucapnya sambil mendudukan tubuhnya ke sebelah Cintya


"memang bagaimana awalnya?" kini Cintya menolehkan wajahnya kearah Akrom.


Akrom menolehkan wajahnya juga kearah Cintya, pandangan mata mereka bertemu.


"saat pertama bertemu, ada rasa tanggung jawab, ada kedewasaan. ada raut cemas diwajahnya yang kutemui diwajahnya pagi itu" Arom menerawang jauh ingatannya sambil tersenyum membuat cintya tambah merona wajahnya, dengan senyum-senyum yang dikulum.


"memang dari mana kamu bisa menyimpulkan begitu?" tanya Cintya malu-malu.


"yang paling ku ingat kalimat 'maaf dek mbak nggak sengaja. kamu nggak apa-apa kan dek? mbak antar ke sekolah ya?" Akrom menirukan suara wanita dengan bibirny mencong-mencongkan.


"enak aja kamu, mana ada aku begitu?" balas Cintya yang memerah wajahnya bila mengingat kejadian waktu itu.


"ya yang saya lihat seperti itu" Akrom menahan tertawanya.


"iiiih awas ya kamu krom, pakai nertawain segala. aku jadi malu" Cintya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sambil kepalanya digeleng-gelengkan.


"sayangnya belum muhrim mbak, jadi nggak berani saya lihat wajah guruku yang sedang malu ini, pasti makin merona itu pipinya" goda Akrom mengetahui Cintya tak berkutik.


"dah lah, aku mau pulang, di godain brondong aja disini" Cintya merajuk berpura-pura ngambek.


"ih gitu aja ngambek, masa iya guru yang harunya berwibawa jadi ngambekan gitu?" lanjut Akrom yang belum puas menggoda Cintya.


"habisnya kamu nyebelin krom, mentang-mentang udah berani ungkapin perasaan ke cewek jadi makin nyebelin gitu" gerutunya.

__ADS_1


"hehe biarin, salah sendiri siapa yang suruh datang kesini?"


"iya, sepertinya aku salah datang kesini tadi" ucapnya sewot.


"yaudah gih, balik aja" Akrom terus menggodanya.


"beneran ya? aku pergi ya? biar dapat vas marmer?" tantang Cintya membalas godaan Akrom.


"eh jangan donk. saya cuma bercanda" kini Akrom memelas kalah.


"huuuu, Cemen gitu aja udah mau nangis" ledek Cintya.


"nangis sih nggak, cuma paling nggak mau makan aja" jawab Akrom.


"dih kenapa nggak mau makan?"


"lagi puasa. wleeek" lalu Akrom tertawa penuh menang.


"ihh nyebelin ya kamu" dicubitnya lengan Akrom.


"eits, nggak boleh pegang-pegang. bukan muhrim" Akrom memperingatkan.


"iya pak ustadz. siaaap 86" balas Cintya dengan diangkat sikap hormat seperti sedang upacara


"nah gitu, pinter sudah" balas Akrom.


"tuh kan nyebelin lagi, dasar nggak sopan sama gurunya ya?" ledek Cintya.


"salah siapa yang selalu bilang 'kalau disekolah panggil Bu, kalau di luar ya panggil mbak aja'?. siapa yang bilang gitu hayo? jadi ya di luar kan bukan Bu guru lagi" balas Akrom menirukan suara Cintya yang di lebay-lebaykan.


"tau ah. susah ngomong sama kamu" kini bibirnya di simpulkan kedepan.


"tuh kan. ngambekan lagi" kini Akrom semakin suka menertawakan gurunya itu.


"krom?" panggil Cintya.


"iya?"


"bagaimana kalau orang-orang tidak setuju atau suka dengan perasaan kita saat ini?" tanya Cintya dengan raut wajah cemas.


Akrom menghela nafas kasar "bagiku tidak ada masalah, semua hanya tentang waktu, cuma saya selalu ragu akan kamu"


"kenapa denganku?" tanya Cintya heran.


"apa tidak ada rasa yang membebanimu dengan statusku sebagai muridmu?" tanya Akrom balik.


"semua orang punya masa depan krom, kamu tidak selamanya menjadi muridku" jawab Cintya mantab.


"kita jalani, semua yang didepan kita selesaikan bersama, semua hanya tentang waktu" jawab Akrom datar namun juga tak kalah mantab.


lalu mereka berdua duduk menikmati suasana kelegaan hati bersama.


sampai mereka tidak sada sejak tadi ada sepasang mata yang fokus melihat tingkah laku mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.




...terimakasih dukungan dan kunjungannya....


...jangan lupa kritik dan sarannya....

__ADS_1


...terimakasih banyak...


__ADS_2