Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bab Dua Puluh Tiga. Kencan Pertama.


__ADS_3

"drrt drt drt" getar ponsel membangunkan ku dari tidur siang.


sebuah panggilan masuk ke WhatsApp miliku, kulihat Akrom memanggil. mataku yang semula berat mendadah menjadi terang.


"hallo Assalamu'alaikum krom?" salamku dengan gemetar. baru sekali ini aku telfon dengannya.


"wa'alaikumsalam. ada apa mbak?" Suara sangat dingin terdengar dari ujung telfon sana.


"kamu dimana?"


"ada apa?" dia balik nanya.


"bisa nggak sih nggak pakai dingin gitu?" protesku dengan nada manja.


"iya maaf, ada apa?"


"mmmm, aku mau minta maaf"


"soal?"


"tadi siang di kantin" jawabku menggantung karena cemas dengan responnya.


"oh iya, santai aja. itu doank?" jawabnya datar.


"iiiih nyebelin banget sih?" suaraku berteriak gemas.


"ada lagi?" tanyanya mengulang.


"taulah krom, aku males ngomong sama kamu" lalu kumatikan telfon itu tanpa pamit.


'aaaa' Akrom nyebelin' ku acak-acak rambutku sebal dengan sikap Akrom.


'drt drt drt'. ponselku bergetar lagi dan terlihat panggilan dari Akrom. lalu ku angkat telfon itu.


"kenapa lagi bocah nyebelin?" tanyaku sewot.


"dimana?" dia balik bertanya dengan nada dingin.


"dirumah" jawabku sewot.


"ngapain?"


"kenapa nanya-nanya?" kataku sebal.


"orang tanya itu dijawab" dengan nada datar.


"tiduran, ngantuk, capek" jawabku ngegas.


"capek kenapa?" tanyanya lagi.


"capek ngadepin bocah dingin super cuek dan nyebelin"


lalu di tutupnya sambungan telfon secara sepihak.


'dih makin nyebelin aja sih ini bocah?' gemasku sambil menepuk-nepukan tanganku ke bantal.


"tok tok tok" terdengar suara pintu rumah ada yang mengetuk.


'haduuuh siapa lagi siang-siang bertamu? nggak tau orang lagi ngantuk apa?' gerutuku.


lalu aku keluar kamar, dan kubuka pintu kamar adiku, ternyata dia sudah tidak ada. tinggal aku sendiri dirumah.


'ah kurang ajar sih ridho, keluar nggak pamitan. jadi aku sendirian dirumah' makiku dalam hati.


"cklek". ku buka pintu ruang tamu.


Deg. rasanya jantung seakan mau copot melihat orang yang sedang berdiri didepan pintu dengan senyum manisnya.


tanpa kusadari, sontak aku meloncat memeluknya. seperti orang yang tidak mau kehilangan.


"iish bocah nyebelin" kataku sambil wajahku kubenamkan dalam dadanya, dengan suara terisak.


"mbak lepasin" balasnya tegas.


"nggak, aku nggak mau lepasin kalau kamu nyebelin gitu" kataku merajuk.


"yasudah. mbak tolong lepasin" jawabnya lagi dengan suara yang kini berubah menjadi lembut.

__ADS_1


"nah gitu donk. kan enak didengarnya" aku tersenyum dengan air mata sambil memandang wajahnya yang merona.


"sejak kapan kamu disini? perasaan juga barusan telfon" tanyaku heran sambil mengusap air mata di pipi.


"dari tadi lah, situ aja nggak denger suara vespaku Dateng, ngorok aja sih" ledeknya.


"nih buat kamu" lanjutnya seraya tangannya mengulurkan papper bag.


"apa ini? martabak bukan?" tanyaku manja.


"dih baru nangis langsung nyari makanan, laper? lagian mbak itu makan terus tapi tetap kecil aja?" ledek Akrom.


"biarin, gini-gini kamu suka. hayoo?" balasku dengan tersenyum menantang.


"iya deh iya" jawabnya sambil menggaruk tengkuknya.


"ini apa krom?" tanyaku sambil mengangkat buntalan plastik.


"kerudung mbak"


"warnanya bagus banget krom, nanti aku coba ya?"


"iya mbak"


"eh iya sampe lupa. masuk krom".


"iya mbak, ridho dimana?" tanya Akrom.


"nggak tau, keluar dia. tapi nggak pamit" jawabku sambil masuk kedalam rumah.


"berarti mbak sendirian dirumah?" Tanya Akrom menghentikan langkahnya.


aku berbalik badan kearahnya dan menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.


"mmmm, di terus sini aja mbak" lalu di duduk dikursi teras.


"emang kenapa krom?" tanyaku heran sambil ku ikut duduk di kursi lain yang terpisah meja diantara kami.


"dirumah nggak ada orang lain mbak" jawabnya singkat.


"tapi kalau disini dilihatin tetangga krom".


"mbak masuk dulu deh, pakai krudung mbak" lanjut Akrom.


"tuh kan. kamu itu Lo sebenarnya manis kalau perhatian gini krom, nggak usah sok dingin seh" ucapku manja sambil melihat kearahnya.


"udah sana pakai kerudung dulu!" perintahnya mengulang.


"iya deh aku masuk, lagian itu wajah kenapa jadi merah gitu?" godaku sambil tertawa terkekeh. sedang Akrom hanya diam memalingkan wajahnya ke arah lain.


lalu aku masuk rumah dan segera memakai kerudungku.


sebelum aku kembali ke depan, kusempatkan membuat minuman untuk Akrom.


"nih diminum krom" kuletakan nampan berisi 2 gelas eh sirup dan toples berisi camilan.


"iya mbak, makasih" jawabnya singkat.


"kamu kenapa kesini tiba-tiba? nyari aku atau ridho?" godaku lagi.


"nyari yang ada aja deh" jawabnya sambil menahan senyumnya.


"dasar, cowok dingin paling nyebelin bisa tersenyum manis juga ternyata?" godaku lagi membuatnya salah tingkah.


"tadi aku tanya Lo krom?" sambungku.


"eh iya, aku kesini mau minta maaf mbak. tadi aku siang sudah salah faham. dan bodohnya aku menghindari kamu Tanpa mencari kejelasan terlebih dahulu" jawabnya dengan wajah menunduk.


"emang kamu tahu dari mana?" tanyaku heran.


"tadi aku telfon ridho. makanya aku kesini mau minta maaf" ucapnya memelas dengan wajah yang tetap menunduk.


"nggak, aku nggak mau maafin" kataku pura-pura ngambek untuk menggodanya.


"masa udah aku kasih pelicin kerudung tadi masih marah?" tanyanya mengulum senyum.


"hah, tadi itu berarti sogokan? ini bocah ya bener-bener nyebelin ish!!" gerutuku sambil memalingkan wajah kearah lain dan tangan kulipatkan di dadaku.

__ADS_1


'aku yang berniat menggoda kok malah jadi yang marah-marah gini yak?' gumamku.


"dih, dikasih sogokan itu harusnya terimakasih. ini malah marah" katanya dengan nada yang mengejek.


"ya habis kamu, ngasih nggak ikhlas. ada maunya aja" kataku melotot kearahnya.


"hehehe. jadi dimaafin nggak nih?" tanyanya dengan nyengir kuda.


"hemmm. nanti deh di fikir-fikir lagi" jawabku balik menyerang godaannya.


Akrom kulihat hanya diam menundukkan kepala sambil menggaruk kepalanya.


lalu aku tertawa terpingkal melihat ekspresi wajah pria yang sedang kebingungan itu.


"lah malah ketawa?" mulutnya melongo heran.


"habis kamu gemesin banget krom, yaudah aku maafin. tapi ada syaratnya"


"apa syaratnya?" tanyanya.


"kalau ada apa-apa. kita bicarakan bersama ya? jangan sampai jadi salah faham" sorot mataku menatap wajahnya.


"iya mbak, sekali lagi aku minta maaf" sesalnya.


"oh iya, dan satu lagi. jangan panggil mbak kalau berdua gini" pintaku.


"trus manggil apa donk?"


"panggil Cintya aja, atau Tya"


"nggak sopan ah, masa yang lebih muda manggil yang lebih tua nggak pakai mbak?"


"tuh kan mulai nyebelin lagi, emang kenapa kalau aku lebih tua? kamu nyesel?" tanyaku dengan mata melotot.


"dih ngambekan amat jadi orang? lagian aku masa bilang nggak suka atau nyesel sih?" tanyanya dengan disipitkan sebelah.


"nggak juga sih" jawabku nyengir kuda.


"hemmm. yaudah deh" nadanya pasrah.


"yaudah apa?"


"yaudah Cintya"


"nah cakeep" sambil kuanggukan kepalaku.


"krom, kamu ingat dulu waktu di mushola pas hujan-hujan waktu masih romadhon?" tanyaku sambil menerawang kejadian waktu itu.


"iya, kenapa?"


"waktu itu kenapa kamu ninggalin aku sendirian? takut tau. mana sekolah sepi lagi" tanyaku dengan bibir cemberut.


"justru karena sepi mbak, aku takut ada syetan di antara kita" jawabnya santai.


"ya tapi aku sendirian jadinya, kalau ada genderuwo genit godain aku gimana?" tanyaku asal.


"yah genderuwo disana mah nggak berani, sereman kamu deh kayaknya" balasnya jauh lebih asal.


"iiih aku serius. ah bodo amatlah krom. males, males ngomong sama kamu"


"hahaha, tenang mbak, aku waktu itu cuma pindah ke teras depan kelas kok, aku masih nungguin kamu sampai pulang. cuma dari jauh aja" jawabnya membuatku meleleh.


'yaa ampun krom, jangan buat aku jadi gilaa gini dong? pliiisssss' gumamku sambil tersenyum-senyum sendiri.


"nggak usah senyum-senyum gitu, biasa aja. aku orangnya emang baik kok" ujar Akrom PeDe dengan senyum yang ditahannya.


"ish ge-er" balasku malu-malu.


"la itu wajahnya aja udah merah banget gitu?" Akrom terus menggodaku.


aku langsung membuang mukaku ke arah lain menyembunyikan raut wajahku yang sudah terasa panas. menata detak jantung yang sejak tadi berdegup tidak karuan sambil malu-malu tersenyum.


...-------...


...terimakasih yang sudah mengikuti tulisan saya sejauh ini....


...mohon tinggalkan jejak beserta kritik dan saran untuk tulisan saya....

__ADS_1


...terimakasih banyak semua....


...love you all....


__ADS_2