
Hari berganti, pagi telah datang menyapa kembali. memulai setiap cerita baru yang harus terjadi.
"Bu. nanti pulang sekolah sibuk?" tanya Akrom saat berpapasan Cintya waktu menuju kelas.
"enggak krom. kenapa?" tanya balik Cintya yang menghentikan langkah kakinya sejenak.
"mmm, nanti ikut aku ya?" ajak Akrom.
"kemana?" tanya Cintya penasaran.
",ke rumahku, di minta ayah"
'hah, ngapain krom?" Cintya kaget dengan ajakan Akrom yang di minta oleh ayahnya.
"makanya nanti ikut, tanya sendiri sama ayahku, aku aja nggak tau mau ngapain" jawab Akrom datar.
"hah, malu aku krom" Cintya memelas atas kebimbangannya.
"nggak usah malu, santai aja. yaudah aku duluan Bu, assalamualaikum" ucap Akrom meninggalkan Cintya yang masih bimbang, setelah terdengar bel masuk berbunyi.
"eh krom..." panggil Cintya tidak di gubris oleh Akrom yang sudah berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya.
"hemmm, wa'alaikumsalam" lanjutnya lirih lalu berjalan lagi menuju kelas yang akan ia ajar pagi itu.
Sepanjang hari di sekolah Cintya gusar menerka-nerka tentang apa yang akan terjadi di rumah Akrom. pertemuannya kembali dengan Bu maftukhah dan pertemuan awal dengan pak Mahfud.
"kenapa Bu? kok murung aja? biasanya istirahat begini ke kantin?" tegur Bu Amel saat keduanya sedang di ruang guru.
"eh Bu Amel. nggak kenapa-kenapa Bu" jawab Cintya berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"alah pakai bilang nggak kenapa-kenapa. tapi wajahnya di tekuk terus gitu?" ledek Bu Amel sambil merapikan bukunya yang ada di atas meja guru.
"hehehe. ketahuan ya?" jawab cinta nyengir kuda.
"ketahuan jelas kalau itu Bu, ada apa sih?" tanya Bu Amel dengan wajah serius.
"Bu Amel boleh tanya?" Cintya menoleh kiri-kanan memastikan tidak ada orang lain yang sekiranya bisa mendengar percakapan mereka.
"boleh lah, asal nggak tanya suami saya aja" jawab Bu Amel sembari tertawa ringan.
__ADS_1
"nggak nggak Bu, bercanda saya. mau tanya apa? siapa tahu bisa bantu" Bu Amel menawarkan waktu untuk bertukar fikiran dengan Cintya.
"dulu, waktu Bu Amel pertama di ajak kerumah calon mertua gimana perasaannya?" tanya Cintya lirih takut terdengar orang lain.
"walah. mau ketemu camer nih Bu?" goda Bu Amel.
"ah Bu Amel di tanyai serius malah ngeledek ah" Cintya pura-pura cemberut.
"iya-iya. ah baperan di godain gitu aja ngambek" ucap Bu Amel menahan tawanya.
"ya pastinya deg-degan sekali Bu. bingung membawa diri, pokoknya banyak hal yang membuat semakin berdebar deh" lanjut Bu Amel.
"gitu ya? di tanyain apa aja waktu itu?" tanya Cintya lebih lanjut.
"ya di tanya latar belakang, ditanya sudah siap nikah apa belum, yah seputaran itu sih Bu. soalnya mertua masih dengan adat kita sih. sangat konsen dengan latar belakang menantunya" jawab Bu Amel dengan pandangan seakan jauh mengingat waktu yang telah lampau.
Cintya menyimak semua perkataan Bu Amel dengan antusias. hanya sekali anggukan dan senyuman untuk menanggapi cerita Bu Amel tersebut.
"emang Bu Cintya mau ketemu camer?" Bu Amel balik menanyakan mencari kepastian.
"hehe. belum tahu sih Bu, yang pasti anak mereka ada hubungan denganku. dan mereka tahu soal hubungan kami" jawab Cintya malu-malu.
"maksudnya kok belum tahu gimana Bu?" tanya Bu Amel penasaran.
"seumuran dengan Bu Amel gini kan juga sudah cukup untuk menikah?" lanjut Bu Amel menerka.
"dia jauh di bawahku Bu usianya. masih sekolah malah..." jawab Cintya menghentikan ucapannya, sadar ia sudah terlalu terbuka dengan hubungannya.
"masih sekolah?" Bu Amel heran dengan jawaban Cintya. membuat Cintya semakin kelabakan dengan pertanyaan itu.
Cintya hanya mengangguk lemah dengan kepala menunduk kebawah menyesali ucapannya yang sudah keceplosan.
"boleh saya menebak Bu?" tanya Bu Amel serius dengan suara lirih berbisik.
Cintya menoleh ke arah Bu Amel. ia tidak menjawab hanya pandangan saja yang mengisyaratkan meminta lanjutan ucapan Bu Amel.
"Akrom ya?" tebak Bu Amel lirih.
Cintya semakin membelalakkan matanya dengan tebakan Bu Amel yang sama sekali tidak meleset.
__ADS_1
"biasa aja kali Bu, sampai melotot gitu itu matanya" lanjut Bu Amel.
"kok Bu Amel tahu?" tanya Cintya yang heran dengan tebakan Bu Amel.
"yaiyalah, kemana-mana sama Akrom, ke kantin sama akrom meskipun tanpa adik Bu Cintya" ucap Bu Amel enteng.
"Bu tolong jangan bilang siapa-siapa ya?" rengek Cintya memelas.
"aman Bu. itu kebahagiaan kalian tidak ada hak saya ikut campur Bu. tapi pesan saya Bu Cintya harus ekstra sabar menunggu seorang pemuda mencapai segala impiannya, harus ekstra sabar menghadapi fikirannya yang mungkin masih labil" ucap Bu Amel menenangkan Cintya.
"iya Bu, terimakasih banyak atas sarannya. tapi kalau boleh jujur, beberapa bulan aku kenal Akrom dia lumayan dewasa Bu, bahkan beberapa hal dia jauh lebih dewasa dari saya" Cintya menceritakan berbagai hal yang sudah di laluinya, sedang Bu Amel antusias mendengarkan ceritanya.
"kalau soal sabar menunggu, insya'ALLOH saya bisa ikhlas menunggu Bu. dia juga bilang mau kuliah di Al-Azhar." ujar Cintya semakin terbuka setelah tahu kesanggupan Bu Amel untuk menjaga rahasia mereka.
"wah hebat si Akrom, nggak kaget dengar kabar itu. soalnya dia sering dapat penghargaan selama sekolah disini" puji Bu Amel.
"Alhamdulillah Bu" ujar Cintya sambil tersenyum malu-malu.
"nggak salah Bu kalau di sekolah sini setahu saya banyak siswi yang suka sama Akrom" goda Bu Amel.
"iya kah Bu? tahu dari mana urusan percintaan muridnya?" tanya Cintya meledek Bu Amel.
"dari cerita-cerita murid siswi kelas lain saat saya habis ngajar di kelas Akrom. lagian sering lihat di sekolah Akrom berusaha di deketin siswi-siswi Bu. hanya saja aku lihatnya Akrom selalu menghindar. begitu sejak kelas 1 disini" jawab Bu Amel panjang lebar.
"siswa siswi di sekolah memang boleh pacaran Bu?" tanya Cintya penasaran dengan cerita Bu Amel.
"sebenarnya dilarang Bu, kami khawatir dengan hal-hal yang tidak di inginkan. cuma kalau sekedar seperti itu, sekedar suka aja sih mungkin masih bisa di tolerir lah" jawab Bu Amel lagi.
Cintya hanya manggut-manggut atas penjelasan Bu Amel.
"memang kapan mau kerumah camer Bu?" kini Bu Amel ganti bertanya pada Cintya.
"nanti pulang sekolah" jawab Cintya sambil nyengir kuda.
"pantesan murung terus dari pagi. sudah tenang aja Bu, memang begitu auranya kalau pertama kali bertemu, tapi sebenarnya semua tidak semenakutkan itu kok" ujar Bu Amel menenangkan.
"iya Bu, makasih ya sudah nenangin saya"
"iya sama-sama Bu Cintya" ujar Bu Amel.
__ADS_1
"yasudah ayo kembali ke kelas Bu, itu sudah bel masuk" lanjut Bu Amel mengajak Cintya kembali mengajar di kelas mereka masing-masing setelah jam istirahat selesai.
"iya Bu. ayok" Cintya bangkit dari kursinya menenteng tas yang berisi buku pelajaran.