Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Permintaan Akrom


__ADS_3

“di penjual es depan berhenti yuk mbak? Haus” ajak lelaki itu saat mensejajarkan laju motor mereka. Cintya hanya menjawabnya dengan anggukan tanda setuju.


Setelah sampai di depan warung penjual es cendol. Mereka berdua memarkirkan motor mereka berjejeran.


“bang es cendolnya dua” ucapnya kepada penjual es.


“sekali lagi makasih ya Krom?” ucap Cintya saat mereka berdua sudah duduk di kursi warung itu.


“sama-sama, lagian sampean masih disana mau nyebut namaku? Bisa-bisa kena masalah nanti sama itu guru kalau tahu yang nonjok itu aku” jawab Akrom tertawa terkekeh.


“iya maaf kelepasan Krom. Hehe” jawab Cintya nyengir kuda.


“lagian itu orang nggak pakai ba-bi-bu langsung kamu hajar aja?” lanjut Cintya.


“ya habisnya nyentuh-nyentuh kamu mbak, udh di bilangn suruh lepas nggak mau malah nantang, ya udah dari pada kelamaan ngobrol, sikt aja udah” jawab Akrom enteng.


“sejak kapan jadi orang kasar dan galak gitu?” sindir Cintya untuk memprotes kebrutalan Akrom yang di lihatnya begitu menakutkan.


“sejak lihat seseorang yang aku sayangi di sentuh oleh orang lain yang bukan muhrim dan mahromnya” jawab Akrom dengan mata melotot tajam masih tersimpan amarah.


“maafin aku ya krom? Tidak bisa menjaga diriku baik-baik” ucap Cintya melemah agar amarah Akrom tidak lagi meninggi.


Akrom menghela nafas panjang dan dalam lalu mengeluarkannya. “nggak mbak, nggak apa-apa. Besok lagi kalau kerumah jangan lewat jalan itu, lewat jalan besar aja. Meskipun sedikit memutar tapi itu ramai jadi lebih aman” Akrom memberi tahu Cintya.


“iya Krom”


“dan satu lagi, soal yang terjadi kamu sama pak Rian jangan bilang siapa-siapa, biar kita aja yang selesaikan. Takut orang lain akan kefikiran” Ucap Akrom memperingatkan.


“iya Krom, itu motor siapa Krom?” lanjut Cintya mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk motor sport yang terparkir disebelah motornya.


“motorku sih, Cuma jarang di pakai. Bikin pegel-pegel” jawab Akrom enteng.


“enakan naik vespa ya?” goda Cintya.


“iya lah, naik vespa bawaannya romantic mbak” kelakar Akrom di ikuti oleh tawa mereka berdua.


“la terus kok kamu bawa itu? Vespamu kemana?” tanya Cintya.


“tadi vespaku rasanya nggak enak, jadi aku bawa ke bengkel, ternyata harus nginep disana jadinya aku ppulang ambil motor ini, kata ibu kamu juga baru pulang” cerita Akrom yang di simak oleh Cintya.


“pas waktu muter-muter bentar kok lihat motor kamu terparkir di tempat sepi berdua doing? Yaudah aku berhenti juga” lanjut Akrom.


“emang itu orang ngapain sih?” Tanya Akrom.


“ya gitu itu lah krom” jawab Cintya malas


“gitu itu itu yang gimana? Emang aku dukun bisa nebak fikiran orang?” tanya Akrom.


“ya kamu tahu sendiri kan? Dulu dia suka aku bahkan ngejar-nejar. Udah aku tolak ternyata sampai sekaang masih belum bisa move on. Malah tadi sempet mau nekat” Cintya menjeaskan kronologinya.


“wah resiko” ucap Akrom menggantung.


“resiko apa?” tanya Cintya penasaran.


“Resiko punya pasangan cantik bnget gini” jawab Akrom menahan senyum.

__ADS_1


“idih bocah, pakai gombal segala” jawab Cintya salah tingkah.


“ya buktinya, banyak banget yang suka” lanjut Akrom menggoda Cintya.


“resiko pasangan cantik jadi banyak yang suka di fikir nanti dulu mas, sekarang ngademin fikiran pakai ini dulu, monggo” celetuk penjual es di sela pembicaraan mereka membuat Cinya semakin salah tingkah.


“tapi bener kan pak? Ini cantik banget?” tanya Akrom pada penjual itu membuat Cintya semakin kaget dan tersipu.


“kalau saya masih muda, saingan sampean nambah satu lagi mas” jawabnya dengan tertawa lepas.


“walah malah mau jadi saingan saya bapak ini” uja Akrom menimpali celetukan si penjual es.


“udah krom, malu tahu” ucap Cintya lirih menarik lengan Akrom agar menghentikan pembicaraan itu dengan si penjual es karena wajah cintya sudah sangat memerah karena malu.


“tuh kan dengar sendiri? Kamu sih cantik banget” jawab Akrom juga dengan suara lirih.


“terus kamu mau protes kalau aku cantik banget?” tanya Cintya menantang.


“protes ke yang membuat ya enggak ih, tapi protes ke yang diberi kecantikan sih iya” jawab Akrom sambil menyeruput es dari dalam gelas.


“hah? Protes gimana? Ak aja Cuma dapat krom, nggak bisa memilih” protes Cintya balik yang tidak terima dengan protesan Akrom.


“protes mengelolanya sih” ujar Akrom tenang.


“hah maksudnya?” tanya Cintya penasaran.


Akrom beranjak membayar es yang mereka berdua pesan saat setelah kedua isi gelas mereka telah kanas tidak tersisa.


“ayo sholat dulu, nanti aku jelaskan” ajak Akrom saat mendengar suara Adzan Maghrib berkumandang dari depan masjid yang terletak tidak jauh dari temapt mereka.


“kamu sudah telfon orang rumah kalau pulang kemaleman? Nanti dicariin lo” Akrom mengingatkan Cintya.


“belum krom, ponselku lowbatt” jawab Cintya.


“yaudah nih” Akrom memberikan ponselnya kepada Cintya, dan Cintya mencari kontak Ridho untuk di telfon.


-Ridho-


‘Assalamualaikum bro, ada apa nih sore-sore telfon?’


-Cintya-


‘dek ini mbak pinjem hp’nya Akrom, ibu dimana dek?’


-Ridho-


‘eh mbak, busyet kemana aja nggak pamit? Dicariin ibu dari tadi, mana hpnya nggak aktif lagi’


-Cintya-


‘maaf dek hp mbak lowbatt, ini aku lagi sama Akrom nanti mbak certain, sekarang ibu dimana? Aku mau ngomong’


-Ridho-


‘iya mbak sebentar’

__ADS_1


-Ibu-


‘hallo nduk kamu dimana? Kok belum pulang? Hp kamu mati ya?’


-Cintya-


‘iya bu maaf, Cintya izin pulangnya kemaleman, tapi ini sama Akrom kok bu. Dan maaf batrey hp Cintya low, tadi nggak sempet ngisi bu’


-Ibu-


‘yasudah tapi jangan malem-malem ya nduk?’


-Cintya-


‘iya bu, kalau gitu udah dulu ya bu? Mau maghriban dulu, oh iya samapikan ke bapak ya?’


-Ibu-


‘iya nduk, nanti ibu bilang ke bapak, kalian hati-hati ya? Assalamualaikum’


-Cintya-


‘Waalaikumsaam bu’


“makasih Krom” ujar Cintya menyodorkan ponsel Akrom untuk dikembalikan.


“iya, udah ayok sholat dulu” ajak Akrom menuju masjid, sesampainya disana mereka berjalan ke tempat wudhu masing-masing dan melaksanakan sholat maghrib di tempat jamaah masing-masing.


Selesai Sholat lalu mereka menuju tangga serambi untuk mengenakan sepatu mereka.


“kamu nggak ke pondok Krom?” tanya Cintya.


“hari ini tadi aku izin untuk pulang malam” jawab Akrom tenang.


“emang bisa gitu?” tanya Cintya lagi yang penasaran.


“ya bisa lah, senior kok” jawab Akrom dengan nada banga.


“hu, mentang-mentang senior belagu” egek Cintya.


“biarin, belagu mah harus” balas Akrom PeDe.


“terserah deh, terus yang soal tadi itu gimana Krom? Soal kamu protes sama aku?” tanya Cintya melanjutkan pembicaraan mereka yang tadi.


Akrom menghela nafas dalam dan menghembuskannya kasar sebelum menjawab pertanyaan dari Cintya.


“Mungkin untuk kita aneh, dan kamu akan mengira aku mondok di pesantren yang bukan Salaf sehingga jawabanku bisa membuatmu berfikir aku sedikit ekstrem” jawab Akrom tehenti.


“maksud kamu?” tanya Cintya yang tidak sabar.


“kamu mau nggak pakai niqob?” tanya Akrom sedikit ragu. Membuat Cintya terdiam kaget dengan permintaan Akrom.


“maksud kamu pakai cadar?” tanya Cintya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Akrom.


“kenapa?” tanya Cintya mencari alasan dari pola fikir Akrom.

__ADS_1


__ADS_2