Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Pacaran Di Perpustakaan


__ADS_3

"Bu tahu berita soal pak Rian belum?" Bu Amel pagi-pagi sudah heboh saat Cintya baru saja tiba di ruang guru.


"nggak tahu bu, saya saja baru datang juga ini" jawab Cintya meletakan tasnya di atas meja kerjanya.


"oh iya juga sih. itu loh saya baru dengar kabar tadi pak Rian pagi-pagi nganter surat pengunduran diri" cerita bu Amel antusias.


"memang kenapa bu?" tanya Cintya pura-pura kaget.


"ya nggak tahu bu. katanya mau pindah ke luar pulau gitu bu?" jawab bu Amel.


"yasudah doakan saja semoga lebih baik kehidupan barunya bu" ucap Cintya sedikit acuh.


"iya sih. yasudah lah. ngomong-ngomong gimana kabarnya kerumah calon mertua bu?" tanya bu Amel mengganti topik pembicaraan.


"eh. Alhamdulillah bu, semua berjalan baik. malah saya sudah beberapa kali kesana setelahnya" jawab Cintya tenang.


"wah serius bu? di tanyai latar belakang pendidika, keluarga atau gimana?" tanya bu Amel antusias.


"enggak sih bu, cuma tanya soal kesanggupan saya nnggu Akrom selesaikan kuliah atau enggak aja"


"hah? beneran nggak itu bu?" bu Amel melongo dan melotot mendengar jawaban Cintya.


"serius bu" Cintya meyakinkan.


"wah beruntung sekali pertemuan pertama selancar itu bu" ucap bu Amel ikut senang.


"Alhamdulillah bu" balas Cintya tersenyum manis.


"terus bu Cintya sanggup untuk menunggu Akrom selesai kuliahnya?" tanya bu Amel lanjut.


"ya sanggup saja sih, ayahnya tanya benar-benar ikhlas untuk menunggu atau tidak? karena usia saya yang lumayan matang, khawatir membuat saya tersiksa kalau harus menunggu. tapi di sisi lain beliau juga khawatir kalau memaksa anaknya cepat menikah nanti menjadi PR lagi di waktu sudah berumah tangga" Cintya memberi penjelasan atas percakapannya dengan ayah Akrom.


Bu Amel yang menyimak hanya mengangguk-angguk memahami maksud dari cerita Cintya.


"syukurlah bu dapat mertua yang begitu bijaknya. semoga lancar terus kedepannya ya?" bu Amel tersenyum senang atas keberuntungan teman sesama gurunya itu.


"Aaaaaamiin Yaa ALLOH. terimakasih banyak bu." balas senyum Cintya.


"lagian juga mudah kan lah ya? cuma beda kota aja tiap weekend bisa ketemu" ujar bu Amel tenang menocba menguatkan hati Cintya.


"beda kota apanya? beda benua iya" jawab Cintya ketus.

__ADS_1


"kok beda benua? ngaco ah" bu Amel tertawa menepuk lengan cintya.


"saya serius bu. si Akrom memang mau kuliah di Afrika sana" Cintya menunjuk dengan jarinya ke arah jauh.


"Afrika?" bu Amel heran dengan kata Cintya.


"iya bu Amel. Mesir itu kan di Afrika?" CIntya balik tanya.


"dia mau kuliah di mesir? kok bisa?" tanya bu Amel kaget.


"ya saya sih nggak tahu detailnya bu, cuma dia bilangnya dapat beasiswa kuliah di Al-Azhar lewat pondok pesantrennya" Cintya menerangkan.


"wah diam-diam hebat juga itu anak, nggak banyak tingkah" puji bu Amel yang masih kaget sekaligus bangga muridnya ada yang sampai kuliah disana melalui beasiswa.


"tapi Akrom bilang jangan kasih tahu siapa-siapa, males ribet di tanya-tanyain katanya" ujar Cintya menyiratkan bahwa bu Amel jangan menceritakan ke siapa-siapa.


"iya-iya, aman mah pokoknya. saya nggak bilang siapa-siapa bu Cintya" ujar bu Amel seakan mengerti maksdu dari ucapan Cintya.


"hehehe, makasih bu" ucap Cintya tersenyum manis.


"ayo bu ke kelas?' ajak Cintya setelah mendengar bel masuk pelajaran telah berbunyi.


"oh iya ayo bu" jawab bu Amel menyiapkan bukunya. Lalu berjalan beriringan menuju kelas yang akan di ajar pelajaran masing-masing.


"kerjakan tugas yang pertemuan lalu sudah kita bahas, kerjakan dalam waktu dua jam pelajaran" perintah Cintya memberi tugas kepada murid-muridnya.


"baik bu" jawab murid sekelas dengan serempak meskipun dengan nada yang berbeda-beda, kebanyakan adalah nada malas karena memang pelajaran matematika adalah pejaran yang tidak begitu di gemari oleh para siswa.


"bailah waktu sudah mau habis silahkan kumpulkan tugasnya" sahut Cintya setelah waktu berjalan hampir dua jam pelajaran. dan satu persatu murid mulai mengumpulkan tugasnya termasuk Akrom yang maju kedepan mengumpulkan buku yang berisi tugas ujian hari ini.


"apa nih?" gumam CIntya dalam hati menemukan secarik kertas warna yang terselip di buku tugas Akrom yang terbuka. CIntya membuka secarik kertas itu dan membaca isinya.


"nanti ke perpustakaan ya?" begitulah isi secarik kertas itu, kalimat yang singkat berisi ajakan.


Begitu selesai jam pelajaran di kelas Akrom selesai Cintya melanjutkan mengajar dikelas lain, begitupun Akrom melanjutkan pelajaran lain sebelum tiba waktu istirahat sekolah.


"ada apa Rkom ngajak kesini?" ucap Cintya pelan saat tiba diruang perpustakaan sekolah waktu istirahat kali itu.


"ya nggak ada apa-apa. mau kamu temenin aja" ujar Akrom meringis manja.


"tumbenan manja banget? hemm?" goda cintya memicingkan mata genit.

__ADS_1


"ya kalau nggak mau ya udah, nggak apa-apa" gerutu Akrom pelan,


"dih habis sok-sokan manja sekarang ngambek, dasar bocah" ledek Cintya yang sebenarnya tengah bersenang hati melihat Akrom yang tiba-tiba jadi manja.


"biarin" jawab Akrom dengan nada dingin.


"pakai acara nulis surat aja? sok romantis eisghties, padahal juga ada tehnologi yang bernama ponsel" lanjut Cintya yang masih senang meledek seorang murid yang sudah berani mengkhitbahnya itu.


"romantisan mana tulisan tangan pakai surat atau sekedar pesan di gawai?" balas Akrom membantah ucapan Cintya.


"iya juga sih, emang kamu kesini cari apaan Krom?" tanya Cintya mengalihkan pembicaraan karena dia kalah debat.


"pengennya cari buku soal mesir sih, cuma sampai sini jadi males. karena apa yang mau dicari tahu? lebih enak ketemu orang sana tanya langsung secara real" ucap Akrom menjelaskan.


"terus kita ngapain disini?" protes Cintya heran.


"ya nggak ngapa-ngapain pengen sama kamu aja bu" ucap Akrom tersenyum mengerlingkan sebelah matanya.


"ih genit banget?" Cintya mencubit lengan Akrom.


"auw sakit" pekik Akrom kaget.


"sssttt, berisik. perpus nih jangan berisik" sahut siswa lain menegur Akrom yang berbicatra sedikit keras.


"sorry bro sorry" balas Akrom nyengir kuda.


Sedang Cintya tertawa tertahan melihat reaksi Akrom yang mendapat teguran dari orang di ruangan itu.


"nyebelin, bikin ulah malah di ketawain" gerutu Akrom melihat ke arah Cintya.


"terus kamu mau apa? berani? hah?" tantang Cintya mengecakkan pinggang dengan bola mata melotot membuat Akrom mati kutu.


"ya nggak mau apa-apa sih" Akrom kembali tampak lemas dengan ketidakberdayaannya di hadapan Cintya.


"nanti jadi ke makam kan?" tanya Cintya mengalihkan pembicaraan lagi.


"iya bu, habis pulang sekolah langsung atau ganti seragam dulu?" tanya Akrom balik.


"lebih enaknya ganti baju dulu sih krom, nggak enak kalau masih pakai seragam kesana" ucap Cintya mengetuk-ngetuk dagunya.


"oke deh, nanti ke rumah kamu dulu ya bu?" tawar Akrom.

__ADS_1


"iya nggak apa-apa. nanti mau pulang kabari aja lagi" ujar Cintya.


"siap bu" jawab Akrom menyanggupi ajakan Cintya.


__ADS_2