Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Dirumah Pak Mahfud.


__ADS_3

Setelah pulang dari taman kota, Akrom sengaja mampir ke rumahnya untuk memberikan kabar gembiranya yang mendapat rekomendasi beasiswa dari pondok pesantren.


"Assalamualaikum" salam Akrom yang langsung masuk kedalam rumah.


"wa'alaikumsalam cah Bagus. tumben pulang nggak ngabari ibu nak?" jawab ibunya mengulurkan tangan untuk bersalaman lalu mencium kepala putranya tersebut.


"lagi pengen mampir aja Bu, kangen sama ibu" jawab Akrom manja dan mengambil air putih dari dalam kulkas.


"kamu fikir kamu doang yang kangen? kamu kira ayah sama ibu nggak kangen?" ledek Bu maftukhah mengecakan pinggang.


"hehe. iya Bu, ayah belum pulang Bu?" balas Akrom nyengir kuda.


"belum, paling juga bentar lagi pulang nak, kamu sudah makan?" lanjut Bu maftukhah.


"belum Bu, Akrom lagi pengen masakan ibu" jawab Akrom.


"yasudah ganti baju dulu, terus makan sama ibu, sekalian ibu panaskan dulu makanannya" perintah Bu maftukhah pada anak semata wayangnya ini.


Akrom melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya untuk mengganti baju, bersih-bersih lalu segera menyusul ibunya di ruang makan.


Saat sedang asyik menikmati masakan ibunya, ayah Akrom datang dari tempat kerjanya.


"Assalamualaikum, Bu di depan ada motor Akrom, lagi pulang dia?" sapa ayah Akrom sedikit keras dari ruang tamu.


"wa'alaikumsalam, tuh anaknya yah" jawab Bu maftukhah menunjuk ke arah Akrom yang sedang makan.


"jagoan ayah tumbenan pulang nak?" ucap pak Mahfud memeluk kepala putranya.


"lagi kangen rumah aja yah, gimana kabarnya yah?" tanya Akrom sopan sembari mencium tangan ayahnya.


"Alhamdulillah ayah sama ibumu sehat krom" ucap pak Mahfud mendudukan dirinya di kursi ruang makan.


"eh ayah, ganti baju dulu, bersih-bersih sana trus makan bareng" omel Bu maftukhah kepada suaminya itu. membuat Akrom hanya tersenyum dengan celotehan ibunya kepada sang suami.

__ADS_1


"iya deh, tungguin ayah ya?" pinta pak Mahfud kepada Akrom yang hanya dijawab dengan anggukan kepala dan senyum di bibirnya.


Selang beberapa menit pak Mahfud sudah tiba di ruang makan untuk bergabung dengan anak istrinya menyantap makan bersama yang akhir-akhir ini jarang mereka lakukan, sejak akrom tinggal di pondok pesantren.


"gimana sekolahnya krom? lancar?" tanya pak Mahfud antusias.


"Alhamdulillah yah, lancar. pondok juga lancar" jawab Akrom dengan mimik sedikit ragu.


"kamu kenapa krom?" tanya bu maftukhah yang menangkap gelagat aneh dari mimik wajah putranya tersebut.


"mmm, Bu, yah. Akrom mau meminta izin sama ayah dan ibu" ucap Akrom masih dengan nada. penuh keraguan.


"izin apa? kamu mau nikah krom?" sela pak Mahfud penasaran.


"bukan yah, Akrom mau izin kuliah di Al-Azhar yah, dapat beasiswa dari pesantren" Akrom mengucapkan pelan.


Bu maftukhah dan pak Mahfud sama-sama kaget dengan ucapan Akrom barusan, bagai di sambar petir di hari yang panas terik. terlebih Bu maftukhah yang sudah lama merindukan putranya karena sedang menempuh pendidikan di pesantren kini sedang meminta izin untuk kuliah di tempat yang lebih jauh lagi.


tak terasa air mata menetes dari manik indah Bu maftukhah yang selalu teduh. Akrom yang melihat itu segera bangkit dari kursinya berlutut memohon maaf kepada ibunya.


Bu maftukhah hanya diam saja memeluk kepala putranya, membuat Akrom semakin gundah belum juga ada jawaban dari ibunya.


"Bu, biarkan Akrom mengejar cita-citanya Bu. ayah juga kangen dengan putra kita, ayah juga ingin selalu bersamanya disini. tapi dia perlu mempersiapkan dirinya dengan caranya, sebelum nanti akhirnya pulang untuk kita" ucap pak Mahfud yang kini tengah bangkit juga mengelus pundak istrinya yang sedang menangis sesenggukan.


"tapi ibu selalu kangen Akrom yah" balas Bu maftukhah.


"iya Bu, ayah tau. tapi Akrom adalah laki-laki Bu, langkahnya masih jauh. kalau ibu kekang dia di pangkuan ibu, bagaimana dia menjadi seorang pria? ayah yakin sejauh apapun Akrom tetaplah anak kita, yang pasti akan pulang untuk kita meskipun tanpa di minta" pak Mahfud menjelaskan untuk menenangkan istrinya itu.


Bu maftukhah terdiam mencerna kalimat yang di ucapkan suaminya. menimbang-nimbang segala kemungkinan serta menawar hatinya untuk masa depan putranya itu.


"krom berdirilah nak" ucap Bu maftukhah menarik pundak Akrom agar berdiri.


"krom, kamu benar mau kesana?" tanya Bu maftukhah memegang kedua pipi putranya yang juga basah dengan air mata yang mengalir di keduanya.

__ADS_1


"Akrom berangkat kalau ibu meridhoi, Akrom akan membatalkan meski dengan alasan apapun jika ibu menginginkan Akrom tetap disini" jawab Akrom pelan namun dengan nada mantap sambil menundukan wajahnya.


"krom, ibu menginginkan Akrom tetap disini sama ibu" ucap Bu maftukhah.


Akrom yang mendapat jawaban itu hanya bisa diam saja sedikit menganggukan kepalanya pelan. serta berusaha tersenyum atas segala permintaan ibunya itu.


"tapi nak, ibu tidak akan pernah hidup tenang setelah ibu menghancurkan masa depanmu, cita-citamu, ibu hanya akan bisa memaki ke egoisan ibumu ini, ibu hanya akan mengutuk diri ibu sendiri kalau putra yang ibu sayangi tidak mendapat apa yang baik untuknya" lanjut Bu maftukhah panjang lebar.


Akrom yang mendengar perkataan itu hanya terdiam menelaah maksudnya. "maksud ibu?" Akrom menanyakan kepastian maksud dari ucapan ibunya tersebut.


"pergilah meraih cita-citamu nak, ibu akan bangga denganmu meski harus menunda lagi kerinduan ibu sama kamu" Bu maftukhah tersenyum lebar memberi kelegaan pada hati Akrom.


Akrom langsung bersimpuh mencium tangan ibunya. "terimakasih banyak bu, Akrom janji untuk membuat ibu tidak perlu terlalu lama menunggu Akrom menyelesaikan kuliah disana"


"nak, jangan pernah berjanji. lakukan saja agar kamu tidak di tagih oleh ibu dan lainnya" Bu maftukhah mengelus kepala putranya yang kini tengah dibenamkan di lututnya.


"baik Bu, terimakasih banyak atas segala kesabaran ibu untuk Akrom" ucap Akrom menangis atas segala pengorbanan ibunya itu.


"ibu selalu bangga denganmu, dan kebanggaan ibu telah mengubur segala hal yang kamu rasa itu adalah pengorbanan" ucap sang ibu penuh kelembutan kasih sayang.


"sudah, kembali ke kursimu. lanjutkan makannya, ibu nggak mau anak ibu kekurangan makan" perintah Bu maftukhah menarik lengan Akrom agar bangkit ke kursinya.


"kamu kapan berangkatnya krom?" tanya pak Mahfud yang kini sudah kembali duduk di kursinya setelah sejak tadi ikut memeluk istri dan anaknya.


"Insya'ALLOH sebulan setelah lulusan yah, soalnya waktunya mepet untuk mulai pembelajaran" jawab Akrom semangat.


"lalu kamu disana tinggalnya gimana krom?" tanya Bu maftukhah cemas.


"ada beberapa senior Akrom di pesantren yang disana Bu, sama mahasiswa lainnya. mereka juga sudah menyiapkan tempat dan segalanya untu mahasiswa baru dari Indonesia." Akrom memegang telapak tangan ibunya.


"kamu harus sering-sering ngabarin orang rumah ya?" pinta Bu maftukhah.


"iya Bu, siapa lagi penyemangat Akrom kalau bukan ibu?" tanya Akrom menggoda ibunya.

__ADS_1


"halah sok-sokan bilang gitu. nah itu Bu guru cantikmu?" Bu maftukhah balas menggoda.


__ADS_2