
(Akrom POV)
sesampai rumah, aku segera ganti baju dan membersihkan diri.
pondok pesantren masih libur. setidaknya seminggu kedepan, jadi seminggu ini aku masih pulang ke rumah.
malamnya aku duduk di meja belajar sambil menyiapkan pelajaran besok hari. memang belum ada tugas. tapi aku mempelajari untuk pelajaran besok.
lagi-lagi fikiranku hatiku kacau, mengingat kejadian tadi pagi, 'rasanya hatiku belum sepenuhnya ikhlas mendapati kenyataan itu'.
'apa iya aku cemburu?' Tanyaku pada diri sendiri.
kurasa otakku sedang tidak bisa untuk konsentrasi belajar malam ini.
seperti biasa, salah satu cara melepaskan beban fikiranku adalah menuangkan keluh kesahmu pada tulisan.
dan tempat ternyaman menulis adalah halaman-halaman belakang buku tulis.
kuambil sembarang buku didepanku. kubuka halaman belakang ternyata sudah ada tulisanku yang kemarin. akhirnya kuputuskan menulis sekalian dihalaman sampingnya.
Resah Berulang
disudut kota kupahat asa
dinding masjid pesantren menjelma raga
menyandarkan tubuhku berlinang do'a
tentang harokat cinta yang kueja
adakah kau tahu?
setengah mati kau hunus rinduku
saat kucoba menerima diri
kahujam lagi berlipat kali
tolong beri sedikit waktu
agar kubangun ikhlas diriku
beranjak pergilah semoga.
agar tidak kurasa mati merindumu
wahai bunga dimeja depan kelasku.
lalu kemasukan buku dalam tas. dan kupaksakan diri untuk segera tertidur. sudah sesak rasanya dipaksa menuruti hatiku.
****
(Author POV)
__ADS_1
keesokan harinya di sekolah. Cintya ada jadwal mengajar di kelas XII DPIB 2. setelah bel masuk berbunyi ia berjalan menuju kelas.
"assalamualaikum, selamat pagi anak-anak" salamnya setelah masuk kedalam kelas.
"waalaikumsalam Bu" Sahud murid-murid serentak.
"sekarang buka LKS halaman 33 ya?" perintahnya setelah mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya.
"baik Bu" jawab murid-muridnya.
sambil menerangkan pelajaran di bab hari ini. sesekali Cintya melirik ke arah Akrom yang sedang memperhatikan bukunya, namun dengan tatapan kosong dan wajah lesunya.
"oke, bab yang baru saja saya terangkan kalian semua sudah faham?" tanya Cintya kepada murid-muridnya.
"sudah Bu" jawab seisi kelas kompak.
"yasudah. kalau begitu kerjakan soal dihalaman 34. nanti dikumpulkan sebelum jam selesai" perintahnya memberi tugas.
"yah Bu, baru masuk sudah dikasih tugas saja Bu?" keluh salah satu murid di kelasnya.
"kamu nggak mau mengerjakan?" Cintya mendelikan matanya kearah siswa tersebut.
"mau Bu" jawabnya pelan dan takut.
"yasudah bagus. segera kerjakan!" tegas Cintya.
lalu semua murid langsung mengerjakan dibuku masing-masing.
'teet teet teet'
"ayo sudah habis jam nya. segera kumpulkan tugasnya" perintah Cintya sambil merapikan bukunya kedalam tas.
"iya Bu sedikit lagi" jawab beberapa muridnya.
"yasudah saya tinggal kalau gitu, tapi nilai kalian nol" ancam Cintya.
tak ayal seluruh siswa langsung berlarian menyerahkan tugasnya meskipun ada beberapa yang belum selesai. daripada dapat nilai nol.
"masa ngumpulin tugas harus di gertak gitu dulu?" tanya Cintya meledek semua siswa dikelasnya.
"heheheh" jawab beberapa muridnya sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"yasudah terimakasih untuk hari ini, Assalamu'alaikum" pamit Cintya keluar kelas.
"iya Bu, wa'alaikumsalam" jawab seluruh isi kelas.
Akrom hanya memandangi sosok gurunya dalam diam. ada rasa sesal dihatinya telah menanam sebuah asa. hingga akhirnya rapuh dan patah sebelum bertunas merekah.
siang itu tidak ada yang istimewa, hanya kesibukan masing-masing menjalani tugas sebagai guru dan murid di sekolah.
hingga malam hari tiba. didalam kamar, Cintya memeriksa tugas murid-muridnya yang ia berikan siang tadi. saat dia mengambil buku berikutnya, dilihatnya nama pemilik buku di sampul itu 'Akrom Abdul Anam' gumamnya.
__ADS_1
setelah di periksanya jawaban dari tugas milik Akrom, lalu di letakkan dalam tumpukan buku yang sudah diperiksa.
namun tanpa sengaja lengan Cintya menggeser sampul belakang buku dan terbuka.
matanya tertuju melihat tulisan yang ada di halaman belakang.
di ambilnya lagi buku itu. didapatinya beberapa puisi.
sampai saat puisi ketiga. sebuah puisi "TENTANG SUBUH' dicernanya baik-baik.
puisi tentang kekecewaan, penyesalan dalam sebuah drama cinta. seperti hancurnya sebuah harapan.
'bunga dimeja depan kelasku' Cintya mencoba mencari maksud kalimat itu dalam-dalam. siapa maksud dari puisi itu.
dilihatnya tanggal puisi itu dibuat, di ingat-ingatnya, dilihat di kalender ponselnya itu adalah hari dimana Akrom berkunjung lebaran dan bertamu juga pak Rian.
'lalu apa maksudnya ini? ah kamu jangan ge-er ttya" ucap hati Cintya dilanda kebingungan.
lalu dibacanya puisi selanjutnya yang berjudul "Resah Berulang". dibacanya dengan teliti tulisan yang menyuratkan kekecewaan yang menimpa berulang.
tentang sebuah upaya mengikhlaskan keadaan yang mengecewakan.
tentang bunga dimeja depan kelasnya
'siapa sih ini?' gumam Cintya semakin bingung.
lalu dilihatnya tanggal tulisan itu dibuat.
'ini kan kemarin? memang ada apa kemarin?' fikirannya jauh mengingat-ingat kejadian apa yang mungkin ia ketahui tentang Akrom kemarin.
'yang ku tahu Akrom pergi meninggalkan aku dan ridho didepan kelasnya. dan yang ku tahu sebelumnya sepertinya dia melihatku ngobrol berdua dengan pak Rian dan saat pak Rian memegang pundak ku. lalu?" Cintya berfikir keras akan kejadian hari kemarin dan mengaitkan dengan puisi di hadapannya.
"hah. apa iya bunga dimeja depan kelas itu aku?" Cintya tak percaya dengan apa yang terjadi.
disatu sisi ia sedang berbunga hatinya, meskipun entah benar atau tidak tulisan itu tentangnya, setidaknya dia merasa sebagai bunga dimeja depan kelas itu.
disisi lain, dia khawatir kalau itu benar. maka Akrom sudah pasti akan menjauhinya. karena yang diketahu Akrom adalah pak Rian melamar Cintya namun Akrom tidak tahu apa jawaban Cintya.
terlebih Cintya masih ingat waktu di taman kota, Akrom memberinya selamat atas lamaran itu dengan wajah tidak suka dan langsung pergi tanpa kata.
"duuuuh gimana ini? hatiku jadi berdebar nggak karuan gini sih?" tak terasa titik air mata Cintya mengalir melewati pipinya dan jatuh di buku Akrom yang masih dalam tangannya.
ada kebahagiaan dan ketakutan dalam satu waktu. disesalinya dirinya tidak berkutik oleh keadaan.
setelah Cintya melanjutkan memeriksa semua tugasnya. rasa ingin istirahat tapi hati tidak tenang.
ia putuskan untuk sholat sunah hajat untuk menenangkan hatinya, agar lebih tenang menjalani apa yang harus dijalani. entah dengan perasaan baru atau apalah yang Tuhan suguhkan padanya.
setelah selesai menunaikan 4 rokaat 2 salam. ditengadahkan tangannya dan berdo'a memohon bimbingannya.
"Yaa Tuhan, jikalau rasa yang hamba alami adalah benar dari Engkau, mohon peliharalah di antara kami, dan pertemukan kami diwaktu yang tepat. dan jikalau bukan, tolong ikhlaskan kami. Aaaaaamiin" setelahnya diusapkan telapak tangannya ke wajah yang basah oleh air mata.
...------...
__ADS_1
terimakasih masih setia membaca tulisan ini. author akan terus mengoreksi cara tulis, gaya bahasa dan stukturnya agar lebih enak dibaca.
sekali lagi terimakasih banyak