
(Cintya POV)
setelah selesai jam pelajaran. aku yang hendak keluar kelas di kagetkan oleh sesosok pria berdiri didepan pintu kelas.
"sudah selesai Bu?" tanya pria itu dengan senyum manisnya.
"eh pak Rian. iya baru selesai" ucapku kaget
"mau ke kantin sekarang?" tawarnya.
"eh iya pak, baik" jawabku gugup.
lalu aku berjalan menuju kantin, dan pak Rian berjalan menjejerkan langkahnya disampingku.
setelah memesan makanan, kami menuju meja yang ada di ujung kantin, kebetulan sedang kosong juga.
"gimana ngajarnya disini?" tanyanya dengan tatapan yang tak lepas dari arahku, yang membuatku tak nyaman.
"sejauh ini baik saja" jawabku singkat.
"bagus, syukurlah kalau begitu" ia menganggukkan kepalanya Pelan.
"pak maaf sebelumnya, saya mau bicara sesuatu" ucapku serius.
"bagaimana Bu?" balasnya dengan wajah yang serius juga.
"dengan apa yang menjadi jawaban saya nanti, saya harap kita bisa sama-sama menerimanya, dan baik juga untuk kita berdua" ucapku hati-hati agar tidak menyinggungnya.
"iya Bu Cintya. bicaralah"
"mmmm, sebelumnya terimakasih hari itu sudah bersilaturrahmi kerumah kami, lalu perihal maksud dan tujuan pak Rian waktu itu, maafkan saya pak, sepertinya saya belum bisa menerimanya" pelan-pelan bicaraku agar tidak terdengar oleh siswa lain, hanya antara kami berdua saja.
kulihat wajah yang tadi tersenyum, serius dan kini tiba-tiba menjadi murung. kekecewaan terlihat jelas di raut wajahnya. hanya seulas senyum yang terkesan dipaksakan.
diantara kami terjerat suasana canggung. hanya dentingan piring dan sendok dari meja sebelah muncul sebagai backsound.
"sekali lagi saya mohon maaf pak, belum bisa menerima lamaran pada waktu itu, akan ada yang jauh lebih baik dari saya untuk pak Rian kedepannya" ucapku meyakinkan.
"kalau boleh saya tahu, kenapa Bu? sudah adakah yang lain?" tanya pak Rian.
aku tidak menjawab. hanya tersenyum saja kearahnya.
"kalau boleh tau siapa Bu?" tanyanya kembali dengan wajah kecewanya.
"maaf pak, saya tidak bisa menyebutkan saat ini" jawabku.
"baiklah, saya minta maaf telah lancang mengganggu milik orang" ucapnya pelan.
"iya pak, tidak apa-apa. semoga hal ini tidak merusak tali silaturrahmi antara kita"
"iya Bu" jawabnya singkat
lalu makanan pesanan kami telah datang, kami menikmati hidangan didepan kami sambil mengobrol.
"kalau boleh tahu Bu, calon Bu Cintya seperti apa?"
"uhuk uhuk" aku yang sedang makanan tersedak mendengar pertanyaan itu.
"hati-hati Bu. pelan-pelan makannya"
__ADS_1
"maaf pak" sambil kuminum es teh milikku.
"yaaa, begitulah pak, dia lebih tau agama daripada saya" jawabku sambil memikirkan Akrom.
"oh iya Bu" balasnya singkat.
saat sedang asyik menikmati makan siangku, tiba-tiba terdengar suara meja yang tertabrak, sontak ku menoleh kearah sumber suara gaduh itu.
Degh.! 'Akrom? haduh bisa salah faham ini nanti'.
"sorry bro, nggak sengaja" ucap Akrom meminta maaf ke meja sebelahku.
"iya bro, nggak apa-apa. lain kali hati-hati" jawab siswa lainnya.
lalu kulihat ia melirik tajam ke arahku, lalu berpindah ke arah pak Rian dengan raut tidak suka.
'haduh mati aku, bisa diem lagi nih anak deh' Gumamku dalam hati.
"itu teman adik kamu kan?" tanya pak Rian sambil menunjuk kearah Akrom yang sudah berlalu.
"iya pak" jawabku singkat.
"kata murid-murid cewek dikelas lain. dia itu kayak primadona, tapi sombong banget nggak pernah respon" pak Rian tersenyum sinis seperti tidak suka.
"bukannya bagus? malah tidak pacaran?" tanyaku membela Akrom.
"iya Bu, cuma ya gayanya sih saya kurang suka. rada' sombong tuh anak sama murid lainnya" jawab pak Rian dengan wajah tidak sukanya.
"maaf pak, sepertinya setiap orang punya pendirian dan cara hidup masing-masing deh" kini nadaku sedikit meninggi dan sewot.
lalu ku minum es teh dan menghentikan makanku yang masih tersisa setengah.
tanpa salam dan menunggu persetujuanku langsung kuambil tas dan berjalan menuju kasir untuk membayar makananku dan meninggalkan kantin.
dari ujung lorong kelas, kulihat Akrom belok kearahku. namun tiba-tiba ia berbalik badan dan pergi menuju arah lain.
"krom!" panggilku namun dia tidak mempedulikannya.
lalu belok ke lorong kelas lain dan hilang setelah ku kejar dia.
'ah pasti masak sih ini anak' gumamku menarik nafas panjang.
saat pulang sekolah, cepat-cepat ku melajukan motormu dan menuju ke perempatan, berharap bertemu Akrom disana.
jika ia naik motor, pasti lewat sana. dan kalaupun naik bus dia pasti juga menunggunya disana.
ku hentikan motorku, dan ku toleh kiri-kanan dan mencari-cari, tidak ada sosok Akrom disana.
setelah ku yakinkan betul dia tidak ada disana. lalu kuputuskan untuk pulang kerumah.
"Assalamualaikum" salamku masuk rumah.
"wa'alaikumsalam mbak" jawab ridho yang tengah nonton tv dengan seragam masih lengkap di tubuhnya.
"kenapa cemberut aja mbak?" tanya ridho heran.
"pusing dho" jawabku sambil menghempaskan tubuhku di sova sebelah tubuh adikku.
"kenapa? soal Akrom apa pak Rian nih?" godanya.
__ADS_1
"keduanya dek" jawabku datar dengan mataku menatap kosong kearah langit-langit.
"wah keren emang, bisa-bisanya berhubungan sama dua primadona sekolah" seloroh ridho sambil tertawa.
"ck. kamu ini dek. mbak pusing" lalu ku usap-usap wajahku dengan kasar.
"kenapa sih mbak? belum bisa ngomong sama pak Rian?" mata ridho melirik kearahku.
"ya justru itu dek" lalu ku ceritakan semua yang kualami siang tadi dikantin kepada ridho.
"hemmm. trus kenapa mbak nggak jelasin ke Akrom?"
"jelasin gimana? tadi mau ketemu aja dia menghindar. pulang sekolah juga nggak ketemu" pasrahku.
"akrom sih gitu mbak, ada apa-apa jarang bilang, coba kalau dia bilang pasti aku kasih tau yang sebenarnya terjadi mbak" ridho memberiku pengertian.
"trus mbak harus gimana lagi dho?" tanyaku lemas.
"hemmm" hanya itu yang menjadi jawaban ridho. lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"udah aku kirim kontak Akrom ke whastapp mbak, bicara sendiri aja" bilangnya setelah itu.
lalu ku ambil ponselku dan terlihat pesan dari ridho berisi kontak Akrom.
"yaudah nanti deh mbak hubungi, mbak mau istirahat dulu" aku bangkit dari kursi.
"oh iya, bapak sama ibu kemana dek? kok sepi?" lanjutku bertanya pada ridho.
"lagi kerumah Tante mbak, mau ada hajatan katanya"
"Oalah pantesan sepi" sambil kulangkahkan kaki ke arah kamarku.
lalu ku ambil baju ganti dan pergi ke kamar mandi, selesai mandi lalu kuganti baju untuk bersantai dirumah.
kurebahkan tubuhku di kasur, lalu ku ambil ponsel. ku buka pesan dari ridho dan mengklik kontak Akrom. dan segera kukirimkan pesan ke padanya.
-cintya-
Assalamualaikum.
-akrom-
Wa'alaikumsalam.
-cintya-
Akrom?
-akrom-
iya, siapa ini?
-cintya-
Ini Cintya krom.
lalu tidak ada lagi balasannya, kulihat ia sedang online. lalu semenit kemudian ia ofline.
'sepertinya dia benar-benar marah' aku yang pasrah dan sudah lemas memikirkan masalah ini. kuputuskan meletakan ponsel di sebelah bantalku. hatiku sangat tidak karuan saat ini.
__ADS_1
"