
"terlepas apa yang sudah kamu dengar dari orang lain. aku mau menekankan bahwa aku tidak menjanjikan apa-apa dan tidak memberi harapan apapun" ujar Akrom pelan namun tegas.
"coba beri tahu aku bagian mana yang membuatmu terganggu hingga menyusulku kesini" lanjut Akrom memberi waktu Cintya mengutarakan ke gundahannya.
"sebelumnya aku akan bercerita bagaimana kami memulai pembicaraan tentangmu, kami bertemu di toilet pagi tadi dan dia menangisi dirinya yang hancur setelah kamu bilang telah mengkhitbah seorang gadis setelah bertahun-tahun lamanya dia menunggumu dengan harapannya dan kamu itu" ujar Cintya menceritakan semua yang dia alami tadi pagi dengan Niken.
"iya benar, aku tahu dan tadi pagi aku bilang begitu. terus?" jawab Akrom dengan tenang.
"apa yang sudah kamu janjikan, oh iya maaf salah. oke bukan janjikan. saya ganti katanya dengan kalimat atau perbuatan apa yang membut Niken begitu kekeuh bertahan dengan harapannya untukmu?" tanya Cintya.
"aku berlaku seperti biasa, begitupun soal perempuan. mbak, kamu sudah tahu aku belajar dari mbak Rania bagaimana aku harus bersikap dan berlaku kepada perempuan? aku tidak membicarakan apa-apa. hanya aku mengucapkan bahwa aku tidak ingin pacaran, hanya setelah waktunya nanti aku akan mengkhitbah, melamar dan menikahi seorang wanita. dan yang perlu di garis bawahi, aku tidak menyebutkan wanita itu siapa apalagi aku menyebutkan itu adalah Niken" jawab Akrom panjang lebar menjelaskan keadaan yang di alaminya.
"apakah itu kesalahanku ketika seorang wanita berharap yang aku sendiri sama sekali tidak memberi harapan?" imbuh Akrom membela dirinya.
Cintya terdiam bimbang harus bagaimana. Satu sisi ia percaya Akrom, di sisi lain ia merasa iba & cemburu dengan Niken. Juga di sisi lain ia merasa telah merusak harapan Niken, meskipun ia tidak tahu latar belakang cerita percintaan Akrom.
"Krom, jujur aku bingung, aku percaya kamu dan sayang kamu. tapi aku juga tidak tega dengan harapan seorang perempuan yang sudah tinggi dan jauh ke kamu" ujar Cintya jujur.
Akrom terdiam sejenak mencari solusi dari yang membuat Cintya bimbang. sebelum akhirnya menjawab ucapan Cintya "sedang aku tidak memberi harapan apapun mbak. bukan salahmu atau salahku juga kan? toh aku sendiri juga sudah bilang bahwa aku tidak bisa menerimanya"
"aku takut kalau suatu saat dia tahu dan kecewa denganku krom" ujar Cintya.
"suatu saat pasti tahu mbak. entah kapan dan dengan cara bagaimana atau dari siapa. tapi soal membenci atau tidak itu urusan orang lain" jawab Akrom mencoba menenangkan kegundahan Cintya.
"krom," panggil Cintya.
"hemm?"
"jika nanti dia tahu atau memang harus memberi tahu, tolong jangan membuat terluka yang makin dalam ya?" pinta Cintya yang iba karena sudah menganggap Niken adalah adiknya sendiri disaming statusnya yang sebagai murid Cintya.
"Insya'ALLOH mbak. aku tidak bisa menjanjikan. mungkin tidak terlalu masih bisa. tapi kalau tidak luka sepertinya sulit" balas Akrom dengan wajah serius dan di simak dengan seksama pula oleh Cintya.
"karena aku terlalu tampan membuat wanita begitu terpesonanya" lanjut Akrom menahan senyum dan tawanya.
__ADS_1
Cintya yang sudah menyimak dengan seksama dan serius tiba-tiba wajahnya berubah menjadi menjadi masam, mata sedikit mendelik serta mulut agak menganga.
"Kroooom serius kenapa sih?" gerutu Cintya memajukan bibirnya.
"nggak usah di imut-imutin gitu. udah imut" goda Akrom melihat Cintya yang menjadi makin menggemaskan dengan wajah merajuknya.
"mulai deh, aku timpuk nih" ancam Cintya memelototkan matanya mengangkat sendok minuman di tangannya yang sudah siap untuk melayang.
"nih timpuk aja, malah bisa buat kenang-kenangan bekas luka dari kamu" tantang Akrom menyerahkan kepalanya ke arah Cintya.
Namun tak di sangka Cintya benar-benar memukulkan sendok di tangannya kepada Akrom. hanya saja tidak di kepalanya namun di punggung tangan Akrom yang asyik bertengger di atas meja.
"aduh. udah di siapin kepala kok malah ke tangan?" protes Akrom mengusap-usap punggung tangannya yang terasa panas.
"kan kalau kepala nggak sopan? apalagi kamu bakalnya jadi kepala keluarga" jawab Cintya tersenyum menggoda.
"dih balas dendam gara-gara di godain, jadi godain aku balik" balas Akrom.
"iya deh, kamu udah buka yang tadi pagi aku kasih?" tanya Akrom.
"belum sempat Krom, nanti ya?" jawab Cintya dengan senyum manja.
"hmmm, iya deh" Akrom menghela nafas seperti orang pasrah.
"Krom, aku keingat dulu kamu pernah memintaku untuk mengenakan cadar kan?" ujar Cintya mengingatkan akan pembicaraan mereka di hari lalu.
"iya mbak. kenapa?" tanya Akrom dengan nada antusias.
"maaf ya Krom? bukan tentang aku mau atau tidak. namun setelah aku fikirkan mungkin aku perlu waktu ya Krom?" ucap Cintya pelan-pelan takut menyinggung Akrom.
"oh, kalau boleh tahu kenapa?" wajah Akrom mendadak menjadi masam.
"menurutku lebih efektif ketika aku mengajar dan berinteraksi dengan muridku menunjukan mimik wajah krom, tolong kamu bisa mengertii ya?" Cintya menjelaskan dengan pelan.
__ADS_1
Akrom menganggukan kepalanya pelan mendengar penjelasan dai Cintya.
"menurutmu gimana?" tanya Cintya cemas dengan raut wajah Akrom yang mendadak menjadi masam dan lemas.
"kalau menurutmu itu bisa membantumu dalam kegiatan *** agar lebih efektif dalam penyampaian. ya tidak ada salahnya" jawab Akrom berusaha memahami dan menerima argumen Cintya.
"terimakasih ya krom? sudah mau mengerti aku?" ucap Cintya dengan tatapan mata teduh.
"iya mbak, sama-sama" balas Akrom dengan senyumnya meskipun terkesan seperti di paksakan.
"kok senyumnya begitu?" protes Cintya yang merasakan ada yang aneh di senyum Akrom.
"enggak apa-apa mbak" jawab Akrom singkat.
"kamu keberatan?" tanya Cintya memastikan.
Akrom menghembuskan nafas besar mencoba menenangkan hatinya.
"sejauh ini tidak, hanya aku merasa ada sesuatu yang sayang untuk di nikmati orang lain" jawab Akrom singkat namun memiliki banyak maksud di dalamnya.
"maaf ya krom? untuk saat ini aku belum bisa mengabulkan permintaanmu? mungkin suatu saat aku akan berusaha berdamai dengan segala pertimbanganku untuk melakukan permintaanmu" ucap Cintya dengan wajah memelas agar Akrom mau lebih mengerti lagi.
"nggak perlu di paksakan, semua juga butuh proses dan pertimbangan yang lebih jauh mbak untuk melangkah ke depan" balas Akrom menenangkan rasa bersalah Cintya.
"sekali lagi terimakasih Krom untuk pengertianmu, cara pandang kamu lebih dewasa dari seharusnya" puji Cintya yang begitu bangga dengan cara Akrom menilai sebuah masalah.
"aku hanya berusaha ingin menghadapi sebuah masalah dengan solusi dan revisi, bukan mencaci mencari kambing hitam untuk membenarkan nafsuku saja. karena di setiap masalah pasti ada sudut pandang lain yang menunjukan kesalahan kita" ujar Akrom menjawab pujian Cintya.
"serius ini kalimat dari bocah tengil yang masih jadi muridku?" ledek Cintya.
"kalau aku nggak tengil mungkin kamu malah nggak suka aku kali mbak" balas Akrom mencibirkan mulut.
"iya juga sih, yaudah tengil aja terus kamu Krom" sahut Cintya yang di susul tertawa lepas mereka berdua.
__ADS_1