
Keesokan paginya Akrom datang ke sekolahnya bertemu ridho di parkiran dan mereka bejalan bersama menuju kelas.
"wih kakak adek datang bareng" ucap Agus yang merangkul kedua temannya dari belakang.
"buset ngagetin aja nih bocah" balas ridho.
"habis pacaran dari mana kau bro?" goda Agus mengedip ke arah Akrom.
"pacaran-pacaran, ngawur aja" Akrom mengelak.
"udah ngaku aja, aku tau kok, tapi tenang rahasia aman" ucap Agus mantab.
Akrom hanya menoleh ke arah ridho dengan tatapan seakan meminta jawaban.
"iya aku udah cerita. tapi tenang cuma kita berdua aja yang tau" ridho menepuk bahu Akrom.
"terserah deh. asal jangan di omongin ke orang lain aja" Akrom memberi peringatan.
"aman cuy" jawab Agus mengerlingkan matanya.
Akrom hanya menghela nafas panjang dan terus melangkahkan kakinya menuju kelas bersama kedua temannya.
Setelah mengikuti pelajaran pagi itu yang terasa melelahkan. saat tiba jam istirahat Akrom awalnya berencana untuk tidur saja di kelas.
"gak ke kantin krom?" tanya ridho mengajak Akrom.
"nggak ah. capek aku dho" jawabnya malas.
",justru capek buat makan krom biar sehat bugar" paksa ridho.
"duluan deh. nanti kalau nggak males aku nyusul"
"beneran loh ya? awas nggak muncul" ancam ridho.
"iya iya brisik. udah sana ganggu aja ah" usir Akrom mendorong tubuh ridho menjauh.
Akhirnya ridho dan Agus pergi meninggalkan kelas menuju kantin. lalu disana mereka segera memesan makan dan menikmati santapan makan siang mereka.
"eh, ridho berdua aja?" sapa Cintya mendatangi meja mereka.
"pasti nyariin Akrom nih" goda Agus membuat Cintya salah tingkah.
"itu lagi lemah letih lesu di kelas Bu." lanjut Agus semakin membuat Cintya tersipu.
"Cintya melirik ke ridho meminta jawaban atas ucapan temannya itu.
"duduk sini ah berdiri aja kaya manekin" ridho menepuk kursi di sebelahnya.
"jadi Agus aku kasih tau hubungan kalian, soalnya ini anak mendesak terus." lanjut ridho hati-hati.
"tapi tenang aja Bu, rahasia aman dengan Agus" sambung Agus mantab.
__ADS_1
"hemmm oke deh, emang Akrom kenapa?" tanya Cintya.
"nggak tau dari tadi kaya nggak semangat gitu, masih kecapekan kali mbak" jawab ridho.
"nah itu panjang umur si Akrom" tunjuk Agus pada Akrom yang sudah tiba di kantin sedang memesan makanan. sontak membuat ridho dan Cintya menunjuk kepada arah sorot pandangan Agus.
Agus segera melambai ke arah Akrom untuk memanggilnya. "sini bapak Akrom tempat dan waktu di persilahkan" ucap Agus dengan mimik wajah senyum-senyum menggoda.
"apaan sih sapi? lebay kau" jawab Akrom lalu duduk di kursi itu.
"duh kah, udah di persilahkan manis-manis juga malah di balas begitu, jahat emang bapak Akrom ini" gerutu Agus.
"iyeee. makaseee" jawab Akrom malas.
"tuh, di cariin kamu, kayanya khawatir juga sih" goda Agus mengerlingkan matanya kearah Cintya.
"hust, apaan sih gus?" ucap Cintya dengan wajah merah merona.
"tuh udah merah gitu wajahnya" lanjut ridho yang kini ikut-ikutan Agus menggoda Cintya.
Cintya hanya menunduk malu dan mencubit pinggang ridho keras. "aawww. sakit mbak ah, nanti aku laporin Kak Seto loh. menyakiti anak-anak" erang ridho kesakitan.
"lagian pakai ikut-ikutan si Agus godain aku, salah siapa coba?" geram cintya.
"iya mbak, enggak lagi mbak. ampun" ucap ridho memelas mencoba menarik tangan Cintya agar melepas cubitannya.
"ada apaan sih?" tanya Akrom kepada Cintya.
"ah nggak, tadi nanyain kamu krom, khawatir waktu aku sama ridho bilang kalau kamu nggak semangat kaya biasanya" ucap Agus sedikit ngotot.
"emang iya?" tanya Akrom kepada Cintya mencari kebenaran dari ucapan Agus.
Cintya yang malu-malu hanya tersenyum saja tanpa berani melihat kearah Akrom.
"emang kenapa kau seharian nggak semangat krom?" tanya ridho.
"dapat ta'ziran dari pondok aku, semalaman selesaikan bersihin toilet putra se pondok" jawabnya malas.
"gara-gara kamu nggak masuk pondok kemarin?" Agus ikutan bertanya.
"iya begitulah" jawab Akrom singkat sambil menyeruput es teh yang sudah datang.
"kasihan anak mama, maaf ya?" ucap Cintya dengan wajah memelas yang di buat-buat.
"idih jijik. apaan sih Bu?" balas Akrom memicingkan matanya seperti orang sedang jijik.
"wah rese' ya? di kasihani malah gitu" ucap Cintya sewot.
"iya deh iya. makasih udah di kasihani" balas akrom malas.
"Selesai makan mereka segera kembali ke kelas. begitu juga Cintya kembali ke ruang guru.
__ADS_1
"krom nanti pulang sekolah kemana?" bisik Cintya saat berjalan beriringan ke arah kelas. dengan ridho dan Agus berjalan di depannya.
"nggak kemana-mana Bu, kenapa?" tanyanya balik.
"jalan bentar mau nggak? ke taman kota nyari batagor yuk?" ajak Cintya.
"ya nanti tunggu aja di parkiran Bu" jawab Akrom juga dengan suara pelan.
"oke, yaudah aku langsung ke ruang guru ya?" pamit Cintya kepada tiga muridnya itu.
"iya Bu" jawab mereka bertiga.
Setelah tiba waktu pulang sekolah Akrom sudah menunggu Cintya di parkiran sekolah.
"hey krom, maaf ya nunggu lama?" sahut Cintya menghampiri Akrom buru-buru.
"enggak, barusan juga aku nyampe sini" jawabnya.
"jadi berangkat?" tanya Cintya memastikan.
"ayok, keburu sore nanti malah" jawab akrom sambil mengenakan helm miliknya.
Mereka mengendarai motor beriringan menuju taman kota. Setelah memarkirkan motornya mereka berjalan mencari batagor untuk di nikmati sambil ngobrol di kursi taman kota itu.
"krom, aku minta maaf ya?" ucap Cintya memulai pembicaraan.
"soal?" tanya Akrom heran.
"ya gara-gara aku maksa kamu buat jalan keluar kota jadi banyak banget tanggungan kamu krom, sampai di hukum pihak pesantren juga" ucap Cintya dengan wajah menyesal.
"santai aja, gitu doang juga" balas Akrom dengan senyumnya.
"meskipun kamu bilang cuma gitu doang tetep aja aku nggak enak krom"
"kalau nggak enak terus mau apa? mau nggak jalan lagi sama aku?" tanya Akrom.
Cintya hanya diam saja dengan pertanyaan Akrom itu. "ya nggak juga sih, aku malah pengen sering-sering sama kamu" ucap Cintya jujur.
"nah makanya, nggak usah bilang gitu lagi. cuma kalau untuk saat ini ya jangan sering-sering. kita kan juga belum muhrim. takutnya ada sesuatu yang kebablasan dengan kebiasaan itu" Akrom memberi pengertian panjang lebar.
"iya krom, kalau aku ada salah kamu ingetin ya? kamu boleh kok marahin aku kalau emang kamu rasa itu perlu" pinta Cintya memelas.
"aku nggak mungkin marahin kamu mbak, jujur itu sama sekali aku tidak berhak atas tindakan itu. cuma kalau ingetin ya Insya'ALLOH aku berusaha terus" jawab Akrom halus.
"makasih ya krom?" ucap Cintya senang.
"iya Cintya"
Mereka mengobrol banyak hal ringan untuk menikmati siang di taman kota itu.
Hingga dirasa sudah waktunya pulang, dan Akrom pun juga terasa badannya capek ingin segera istirahat di pondok. akhirnya mereka memilih untuk pulang.
__ADS_1