Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Nikmatilah Lara Untuk Sementara.


__ADS_3

"lewat yang mana ini Krom?" tanya cintya saat mereka akan masuk area pemakaman dengan Cintya berdiri dibelakang Akrom,


"disana mbak" jawab Akrom menunjuk dengan tatapan matanya.


Akrom berjalan di depan melewati deretan makam dengan Cintya berada di belakangnya berpegangan pada lengan Akrom.


"ini mbak" ucap Akrom berdiri tepat di sebuah pusara yang bersih, disana tertulis nama Rania Naura Lisa bintu Mahfud.


Lalu Akrom jongkok menyingkirkan beberapa dedaunan jatuh yang menutupi gundukan tanah menyelimuti jasad yang berbaring di bawahnya.


"mbak tenang selalu dengan Syafaat Kanjeng Nabi dan Rohmad ALLOH ya?" ucap Akrom mengusap-usap batu nisan kak Rania.


"mbak, kenalin ini Insya'ALLOH akan jadi adik kak Rania, Kak Rania tenang aja ibu sekarang udah punya teman wanita" lanjut Akrom masih dengan posisi sama menapat nisan dari pusara seorang yang sangat ia sayangi.


Sedang Cintya yang mendengarkan monolog Akrom tersentuh hatinya mengetahui betapa ia sangat menyayangi kakak dan ibunya. juga Cintya terharu mendengar Akrom yang menyebutnya akan menjadi adik kak Rania, tak terasa bulir air mata telah jatuh membasahi pipinya.


Akrom mengimami membacakan Yasiin dan beberapa doa untuk mendoakan kak Rania, setelahnya mereka menaburkan bunga di makam itu.


"mbak, saya Cintya yang Akrom bilang akan menjadi adik mbak Rania. saya pamit pulang dulu ya? selalu tenang disana" ucap Cintya mengusap batu nisan sebelum bangkit dari jongkoknya untuk berdiri meninggalkan pusara itu.


Akrom dan Cintya berjalan meninggalkanpusara kak Rania setelah semua keperluannya dirasa sudah cukup terpenuhi.


"cuci kaki dulu mbak" ajak Akrom menuju tempat kran air yang biasa digunakan untuk cuci tangan dan kaki para peziarah.


"memangnya kalau habis dari makam cuci tangan dan kaki untuk apa krom? biar nggak di ikuti penunggu makam?" tanya Cintya dengan wajah polosnya.


"nggak tahu sih kalau soal itu, tapi yang aku tahu bahwa makam itu tempatnya orang bersemayam, akan menjadi banyak kuman dari pembusukan tubuh manusia, jadi agar kita tidak membawa bakteri kerumah makan cuci tangan dan kaki itu perlu" jawab Akrom dari sisi ilmiah.


"oh gitu?" sahut Cintya manggut-manggut setuju dengan penjelasan Akrom.


"krom makam mbak Rania kenapa nggak dibikin penutup dari beton kaya orang-orang?" tanya Cintya lagi saat mereka sudah di atas motor melaju arah pulang.


"kalau madzhab Imam Hambali hukumnya makruh mbak, kecuali ada alasan tertentu. karena kami orang biasa bukan ulama yang di makamkan di tanah wakaf mereka sendiri. jadi kami memilih untuk tidak membangun makam" jawab Akrom memberi penjelasan.


"oh gitu ya? baru tahu aku malah Krom" balas Cintya menanggapinya.


"ya begitulah mbak. intinya jangan mengganggu makam lainnya aja sih. ini tanah milik umum"


"jadi nantipun kalau aku meninggal, aku tidak ingin makamku di bangun. cukup batu nisan di atas kepala dan kakiku saja mbak" lanjut Akrom.


"krom jangan bilang gitu ah" ucap Cintya memeluk tubuh Akrom secara erat dari belakang.


"mbak lepasin ah, belum muhrim tau?" protes Akrom akan pelukan Cintya.


"habisnya kamu bilang gitu sih?" ujar Cintya melepaskan pelukannya.


"memang ada yang salah? kita semua akan mati mbak, baik cepat atau lambat. kita semua hanya menunggu waktu saja" jawab Akrom.


"iya aku tahu. cuma jangan bilang gitu. aku takut" suara Cintya bergetar terdengar seperti orang yang akan menangis.


"udah nggak usah nangis, jelek tahu" ledek Akrom sambil melihat wajah Cintya yang cemberut dari pantulan cermin spion motornya.


"ih jahat. habisnya kamu bilang gitu sih" Cintya membenamkan wajahnya di punggung Akrom tanpa memeluknya lagi.


"udah. manisnya hilang lo nanti. yah mendung deh" ucap Akrom mengulum senyum.


"ih genit, lagian mana ada mendung panas cerah banget gini?"

__ADS_1


"bukan mendung yang di atas. tapi mendung di hatiku melihat pujaan hati menangis gini" goda Akrom yang membuatnya menerima cubitan keras dari CIntya tepat di pinggang kanannya.


"auw sakit mbak, seneng banget deh nyubit orang? kena kasus KDRT ini mah" Akrom meringis geli menerima cubitan CIntya.


"sekarang udah berani genit godain aku ya?" ledek Cintya.


"kenapa? nggak boleh?" balas Akrom.


"ya terserah kamu sih" jawab Cintya tersenyum senang.


"dih ngapain senyum-senyum?"


"habisnya kalau kamu gini jadi nyenengin kelihatan manis. nggak dingin kaya ayam yang di frezzer seminggu" ucap Cintya dengan nada manjanya.


"halah malah di ledek deh" ucap Akrom.


"hemm, Krom kamu nggak pengen nongkrong dulu?" tanya Cintya tersirat ingin mengajak Akrom nongkrong.


"kamu mau nongkrong?"tanya balik Akrom.


Cintya mengangguk kepala cepat dengan senyuman manjanya. "iya Krom, yuk?"


"ke kafeku aja yuk? sekalian mau ngecek vespaku mbak. gimana?" tawar Akrom.


"iya ayok Krom" jawab Cintya semangat.


Lalu Akrom membelokan arah laju motornya menuju kafe miliknya sekalin melihat vespa yang ia service di bengkel milik bang Safi'i.


"bang motor gimana?" sapa Akrom saat sudah tiba di bengkel bang Safi'i.


"Alhamdulillah bang, sekalian test drive yang jauh agak lama aja bang, biar sekalian tahu ada kurangnya nggak. takutnya ada yang kelewatan malah" ujar Akrom.


"siap" jawab bang Safi'i yang tengah sibuk melanjutkan pekerjaanya service motor lainnya.


"saya duluan ke kafe dulu bang. lanjutin deh" pamit Akrom menuju kafenya.


"mau pesen apa mbak?" tanya Akrom pada Cintya saat mereka sudah berada di kursi yang tersisa.


"mmm, es mocca aja krom" jawab Cintya.


"oke bentar aku pesenin" Akrom meninggalkan Cintya menuju meja kasir memesan menu untuk mereka.


"Krom" panggil Cintya saat Akrom sudah kembali ke meja mereka.


"hemm?"


"aku kok jadimerasa takut ya jauh dari kamau? saat aku fikir-fkir kita bakal jarang ketemu langsung, jadi jarang lihat kamu yang ngeselin ini di depanku" ujar Cintya.


"dasar, orang lagi sok galau gini masih sempetnya ngeledek" gerutu Akrom membuat Cintya meringis manis menyembunyikan kegundhan hatinya.


"mbak, ini cuma sementara. aku berjalan seperti ini juga untuk masa depan yang jauh lebih lama" ujar Akrom mencoba menenangkan kegundahan hati Cintya.


"iya aku tahu krom, cuma aku belum tahu bagaimana sepinya hari-hariku disini tanpa ada kamu"


"atau kamu mau aku nikahin sebelum aku berangkat dan kamu ikut aku kesana?" tanya Akrom.


"enak banget kalau ngomong? terus kerjaanku gimana?" tanya balik Cintya.

__ADS_1


"iya juga sih. terus gimana dong?" tanya Akrom lagi yang mencoba membiarkan Cintya berfikir lebih dalam menepian kegundahannya.


"tapi juga kasihan kamu kalau harus mengubur cita-citamu" ujar Cintya lemas.


"tunggu deh" ucap Akrom meninggalkan meja mereka menuju kasir dan berbicara sesuatu kepada kasir kafenya.


"kamu dengerin lagu ini, kamu resapi liriknya. pejamkan matamu relaks" Pinta Akrom yang mau tidak mau di turuti oleh Akrom saat terdengar intro lagu yang diputar melalui sound cafe itu. Cintya segera memejamkan matanya berusaha menenagkan dirinya dan menyandarkan dirinya pada sandaran kursi. Lalu Cintya meresapi setiap lirik lagu yang di putar.


Sementara teduhlah hatiku


Tidak lagi jauh


Belum saatnya kau jatuh


Sementara ingat lagi mimpi


Juga janji janji


Jangan kau ingkari lagi


Percayalah hati lebih dari ini


Pernah kita lalui


Jangan henti disini


Sementara lupakanlah rindu


Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku


Dan sementara akan kukarang cerita


Tentang mimpi jadi nyata


Untuk asa kita berdua


Percayalah hati lebih dari ini


Pernah kita lalui


Takkan lagi kita mesti jauh melangkah


Nikmatilah lara


Untuk sementara saja


Untuk sementara saja


Oleh: Float "Sementara"


"gimana?" tanya Akrom saat Cintya membuka mata setelah selesai lagu itu di nyanyikan.


"semoga segala jatuh bangun kita berjauhan menjadi cerita yang indah di kemudian hari ya?" ujar Cintya penuh harap hingga tetesan air mata mengalir halus id pipi yang manis itu.


"selalu yaqinkan hingga ALLOH mengabulkan keinginan. nikmatilah segala proses kita untuk lara tak lagi singgah" Akrom tersenyum setelahnya untuk menguatkan Cintya.


Sedang Cintya Mengangguk pelan dengan senyuman yang kini mulai terpancar tenang di raut wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2