Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bab sebelas. cintailah cinta secara jantan


__ADS_3

selesai mereka pergi, kamipun segera melanjutkan mencari-cari keperluan yang sempat tertunda.


"ibu sudah kenal Akrom dekat?" tanyaku penasaran sambil berjalan beriringan dengan ibu


"iya lumayan nduk, kan dia teman adikmu,


sering dia main kerumah" jawab ibuku


"dia kan di pondok pesantren Bu? kok kerumah?"


"ya meskipun dipondok masa juga gak boleh keluar?"


"iya juga sih?" jawabku sambil tertawa cengengesan.


"kenapa? kamu suka adik temenmu itu?" goda ibuku.


"enggaklah Bu, ibu sih tadi pakai godain Tya gitu, kan jadi malu aku Bu?" jawabku sambil cemberut.


"hehe, ya namanya guyon nduk" kata ibuku mencoba membujukku.


"guyon tapi Tya malu Bu, apalagi ada Bu maftukhah"


"gitu aja ngambek" ledek ibuku sambil menoel pipi sebelah kananku.


"Bu, tau nggak?"


"nggak tau nduk, kamu belum cerita" potong ibuku.


"yah buk, Tya mau ngomong ibu potong aja sih" gerutuku.


"yaudah maaf. apa nduk?"


"gak jadi ah ibu gitu" jawabku berpura-pura merajuk.


"gitu aja ngambek"


"buk maaf, yang kapan hari Tya cerita sama ibu, hari pertama Tya ngajar Tya nabrak siswa Tya. ibu masih ingat?"


"iya ibuk ingat, kenapa nduk?" kini ibu berhenti sambil matanya tajam menatapku.


"sebenarnya yang Tya tabrak itu Akrom Bu" jawabku ragu dan takut.


"apa? kok bisa?" ibuku terheran-heran.


"ya Tya kan gak sengaja Bu, lagian kan sudah Tya ceritain kronologinya. ibu sih lupaan?"


"eh iya, kamu kaget ya gara-gara bis mendadak menepi dan berhenti" jawab ibuku sambil terkekeh.


"Tya jadi gak enak Bu" jawabku pelan.


"tapi kamu sudah minta maaf kan ndu?" tanya ibuku.


"Tya sudah minta maaf, dan dia sudah maafin Tya, toh juga gak parah-parah Bu"


"yasudah nanti kalau ibu ketemu Akrom lagi, ibu minta maaf juga" jawab ibu menenangkanku.


"makasih Bu"


"iya nduk" lalu menggandeng tanganku mencari belanjaan kami.


****


ditempat lain di atas motor Vespa yang melaju membelah kota dengan syahdunya.


(Akrom POV)


"ibu kenapa sih godain Akrom begitu tadi?" aku membuka perbincangan dengan ibu sambil sedikit keras suaraku karena berpacu dengan angin.


"yah gitu aja marah" ledek ibu.


"ya nggak gitu Bu, kan kasian Bu cintya jadi malu gitu tadi"

__ADS_1


"kalau gurumu cemberut gitu tambah gemesin Lo Krom"


"iya sih, memang cantik dia" ucapku tanpa sadar.


"hayo kamu omong apa?" goda ibuku sambil mencubit pinggangku.


aku yang tersadar akan ucapanku langsung malu. 'bisa-bisanya aku omong gitu'


"ah ngomong apa Bu? ibu salah dengar kali" jawabku beralasan.


"kamu fikir ibu udah budeg krom? masa gitu aja nggak denger?"


"maaf Bu" jawabku singkat.


"hayoo anak ibu udah gede kayaknya ya?" lanjutnya.


"apaan sih Bu? akrom masih mau lanjut kuliah Bu nggak mikir itu dulu" belaku.


"kamu ini, alasan begitu terus"


"la emang nyatanya gitu Bu"


"pokoknya ibu nggak mau ya kamu pacaran-pacaran, kalau cinta langsung nikah" nada ibu tegas mengucapkan wanti-wantinya.


"nah kan, masa Akrom salah kalau alasan Akrom mau kuliah dulu? sedang ibu wanti-wantinya begitu?"


"ya nggak salah sih" ibuku mengangguk yang terlihat dari kaca spion.


"nah makanya Bu" jawabku merasa menang.


"kamu suka sama kakaknya ridho krom?" lagi-lagi ibu membuatku kaget atas pertanyaannya.


"gak tau Bu, Akrom bingung. eh" aku yg sadar atas ucapanku langsung pucat.


'apaan sih kelepasan gitu lagi?"


"nah nah nah, nah iya kan?" delik ibuku menghadap wajahku.


"krom, ingat kata ibu ya krom?" memperingatkanku tagas.


"iya Bu" jawabku singkat sambil melakukan motor menuju pulang.


(Author POV)


serupa gelap menghadang Mega


disela resah menuntun pulang


puan mengiba bersajak do'a


disimpul harap mensyukuri terang


^^^dingin, beku dikening mengayun^^^


^^^partitur Tuhan menyeka malam^^^


^^^beranjak bait malam ke bait siang^^^


^^^air wudhu telah menetes enggan mengambang^^^


diterbit mimpi menelan ragu


berkisah harapan ditelan pelan


merancau beserta serpihan dedaunan


mendera jingga tak kunjung datang


^^^jangan, janganlah ia datang^^^


^^^sedang diri tak tahu mengapa^^^

__ADS_1


^^^ku tak bisa merangkak kemana^^^


^^^di ujung subuh nanti akankah terang?^^^


menari pena Akrom menggambarkan kekalutannya, di secarik kertas dimeja belajarnya.


kini ia sedang mencari cari seperti apa hatinya yang sedang di alami.


ia beranjak memandangi rembulan yang tengah di ujung barat saat sepertiga awal malam.


'tok. tok. tok.'


suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunannya.


"krom, kamu sudah tidur?" tanya ibunya dari balik pintu


"belum Bu" segera dibukanya pintu kamarnya


"kenapa? kok kelihatan murung?"


"ah enggak Bu" bohong Akrom.


"nak, ibu pernah muda, ibu tau kamu menyimpang kebimbangan" senyum Bu maftukhah menenangkan putra semata wayangnya.


"kamu sudah besar nak, cerita sama ibu" tangannya meraih rambut akrom dan mengusapnya pelan.


Akrom berjalan menuju pinggir ranjangnya dengan wajah yang kusut.


"buk, anakmu sedang bimbang. antara Akrom tahu atau tidak jatuh cinta itu seperti apa? antara benar atau tidak jatuh cinta kepada sesorang yang Akrom sendiri ragu untuk menjalaninya" jawab Akrom bergetar pelan.


sambil tersenyum Bu maftukhah meraih tubuh tegap anaknya dalam pelukannya.


pelukan yang hangat, menenangkan seorang pemuda yang hatinya sedang berkecamuk.


"kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?"


"belum Bu"


"kamu pernah merasakan ini sebelumnya?"


"belum juga Bu"


"nak, cinta tidak ada yang salah. hanya saja kemana kamu membawanya, memperlakukannya"


lalu diam, hanya senyuman dibibir Bu maftukhah yang mengusap kepala putranya.


"nak, kamu laki-laki, jatuh cintalah dan cintailah cintamu secara jantan" kata Bu maftukhah terdengar lembut namun pelan.


"maksud ibu?" tanya Akrom penuh penasaran.


"kamu sudah berani jatuh cinta? masa gak bisa mencerna kata-kata ibu?" sambil memegang pipi Akrom dengan senyumnya.


"lagian ibu wejangannya malah jadi teka-teki sih" gerutu Akrom.


"ya biar anak ibu ini tidak main-main soal jatuh cinta" tegas Bu maftukhah.


"iya Bu, terimakasih" ucapnya sambil kembali membenamkan tubuhnya dalam dekapan yang sangat bisa membuatnya tenang.


lama mereka terdiam, menikmati suasana yang sudah lama tidak terjadi semenjak Akrom beranjak dewasa, terlebih memilih tinggal di pondok pesantren.


"ibu ngantuk krom, ibu ke kamar dulu ya?"


diliriknya jam dinding kamar sudah menunjukan pukul 10 malam.


"iya Bu, terimakasih sudah mengingatkan Akrom" lalu melepaskan pelukannya meskipun masih ingin berlama-lama dikehangatan itu.


sepeninggal ibunya dari kamarnya. Akrom membaringkan tubuhnya berbantal sebelah lengan. memikirkan peringatan ibunya.


tak juga menemukan jawaban. ia memutuskan untuk sholat 4 rokaat sunah hajat.


"Duh Gusti, peliharalah hamba dari segala gejolak yang berkecamuk, hamba sungguh tak kuasa berjalan tanpa Lindungan-Mu"

__ADS_1


selesai dia membereskan sajadah dan telah mengganti pakaiannya dengan baju kaos oblong, dan segera tidur agar tak semakin banyak fikiran dalam otaknya yang memaksanya bekerja keras memikirkannya.


__ADS_2