Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Berkunjung Kerumah Akrom


__ADS_3

"siap Bu?" sapa Akrom yang sudah menunggu cinta di parkiran motor.


Cintya menghela nafas panjang berusaha membuang kekhawatiran hatinya. "iya krom, ayok" ucap Cintya dengan senyumannya.


"yaudah langsung aja ya? kesorean nanti kalau kelamaan" ajak Akrom segera berangkat. Cintya menjawabnya dengan anggukan kepala.


Saat akan keluar dari area sekolah mereka berpapasan dengan Bu Amel yang sedang berbicara dengan pak Rian. "semangat Bu Cintya, semoga lolos jadi menantu". seru Bu Amel dari agak kejauhan.


"iya Bu doakan saya, saya duluan ya? Assalamualaikum" jawab Cintya sembari berpamitan.


"iya Bu pasti aku doakan, wa'alaikumsalam" jawab Bu Amel melambaikan tangan.


Akrom yang mendengar itu menoleh kearah Cintya dengan wajah heran. meminta penjelasan atas percakapan mereka.


Cintya yang tahu Akrom sedang diselimuti tanda tanya memajukan motornya sejajar dengan Akrom. "nggak apa-apa. nanti aku ceritain, tenang aja" ujar Cintya.


Sedangkan pak Rian yang berdiri dengan Bu Amel pun juga bingung dengan percakapan mereka.


"maksudnya lolos jadi menantu apa Bu?" tanyanya bingung.


"ya Bu Cintya mau ketemu camernya pak, pak Rian sih kelamaan di duluin orang kan?" goda Bu Amel.


"serius Bu? emang orang mana?" tanya pak Rian penasaran.


"wah kalau itu saya kurang tahu ya pak. nggak cerita soalnya" jawab Bu Amel berpura-pura.


Pak Rian hanya diam saja mencoba menenangkan hatinya yang tengah membara tentang rasa cemburunya. meskipun ia sudah berusaha melupakan Cintya, namun nyatanya hatinya masih cemburu mendengar penuturan Bu Amel bahwa Cintya sedang menuju rumah calon mertuanya.


"sudah pak, jangan bengong. di ikhlaskan saja" ledek Bu Amel kearah pak Rian.


Setelah sampai di halaman depan rumah Akrom. Cintya sempat bengong melihat rumah bertema etnis Jawa namun mewah dengan halaman luas dan bangunan yang tinggi serta besar.


"krom, ini beneran rumah kamu krom?" tanya Cintya yang masih duduk di atas motor.


"ya masa kita masuk ke rumah orang lain mbak? nanti di kira maling malah" jawab Akrom dengan nada kesal.


"gede banget krom, aku jadi minder krom" ujar Cintya ragu melangkah di rumah besar itu.


"alah, minder kok soal dunia mbak? udah ayok masuk. apa aku tinggal?" ucap Akrom tidak sabar.


"eh iya tungguin dong krom. ah" pekik Cintya sedikit berlari mengejar Akrom.


"tungguin dong krom, ngeselin deh" gerutu Cintya menarik lengan jaket Akrom yang sedang melepas sepatu di teras rumah.

__ADS_1


"ya habisnya lama banget. pake bengong segala" balas akrom.


"lagian masuk rumah mau pake helm terus?" tunjuk Akrom ke kepala Cintya dengan senyum di kulumnya.


"eh iya, lupa" Cintya nyengir kuda melepas helmnya.


"taruh sini aja" Akrom mengambil helm Cintya dari tangannya untuk menaruh ke meja teras.


"makasih krom" ucap Cintya.


",krom, aku gugup, aku belum siap krom. mana kamu bilangnya mendadak banget" lanjut Cintya memelas.


"udah sampai sini masa mau balik?" tanya Akrom dingin.


"ish, ya nggak gitu. nggak peka banget sih jadi cowok? tenangin kek atau gimana kek. malah sewot terus" gerutu Cintya bersungut-sungut.


"yaudah. bismillah mbak Cintya manis, yang cantik" ucap Akrom meringis menunjukan giginya.


"ih jijik, jelek tau" ucap Cintya menoyor pundak Akrom.


"udah ayok. jangan lupa bismillah." ajak Akrom mempersilahkan Cintya mengikutinya.


"Assalamualaikum" salam Akrom ketika tiba di ambang pintu.


"waalaikumsalam. eh ada Bu guru cantik" jawab Bu maftukhah dari dalam dapur.


"Alhamdulillah baik nduk, kamu sama keluarga gimana? sehat semua kan?" balik tanya Bu maftukhah dengan senyuman yang tidak berhenti mengembang.


"Alhamdulillah sehat semua Bu" jawab Cintya lembut.


"anaknya nggak di tanyain kabarnya Bu?" sela akrom di perbincangan mereka berdua.


"ah, kamu mah udah ibu tanyain krom. bosen nanya terus" ledek Bu maftukhah.


"hemm. ayah kemana Bu?" tanya Akrom mencari-cari sosok ayahnya di sekitar ruang itu.


"belum pulang krom, tadi telfon ibu katanya ya sebentar lagi pulang. tunggu dulu deh" ujar Bu maftukhah.


"yasudah Akrom ke kamar dulu kalau gitu Bu" pamit Akrom hendak ganti baju dan bersih-bersih badan.


"iya, tapi jangan lama-lama krom. cepet keluar, Cintya belum sholat duhur kan?" tanya Bu maftukhah.


"belum Bu, tadi tidak sempat mampir." jawab Cintya malu-malu.

__ADS_1


"iya sudah. tunggu Akrom selesai dulu. nanti kamu sholat di kamar Akrom ya?" pinta Bu maftukhah.


",i-iya Bu" Cintya ragu-ragu menjawabnya.


"yasudah krom, cepetan nanti langsung keluar biar Bu Cintya sholat di kamarmu." kini Bu maftukhah memerintah putranya.


"iya Bu. yasudah Akrom duluan" pamit Akrom lagi.


"kamu duduk dulu nduk, ibu nerusin nyiapin makan siang dulu ya? oh iya kamu minum apa?" tanya Bu maftukhah hendak kembali menuju dapur.


"eh tidak usah repot-repot Bu." tolak Cintya halus.


"eeeh nggak bisa. namanya tamu harus di suguhi nduk" paksa Bu maftukhah yang kini sudah membuka kulkas mengeluarkan minuman dingin di dalamnya.


"loh Bu, kok pakai repot-repot segala?" protes Cintya yang merasa sungkan.


"enggak repot nduk, cuma ngeluarin dari dalam kulkas aja kok" jawab Bu maftukhah enteng.


"terimakasih Bu. maaf Cintya boleh bantu ibu masak?" tawar Cintya dengan sedikit ragu.


"nduk, tamu itu nikmati semua suguhan tuan rumah. kok malah ikut repot di dapur?" tolak Bu maftukhah lembut sambil meremas halus pundak Cintya.


"maaf Bu, tapi Cintya sungkan kalau Cintya duduk-duduk saja sedang ibu sibuk di dapur" Cintya beralasan agar Bu maftukhah mengabulkan keinginannya agar tidak lagi sungkan.


"yasudah kalau kamu memaksa, ayo sini nduk" ajak Bu maftukhah menuntun Cintya menuju dapur.


Cintya tertegun mendapati dapur yang rapi dan elegan dengan balutan tema etnis Jawa namun menggunakan aksesoris memasak yang modern.


"kok malah diam disitu? ayok sini nduk" tegur Bu maftukhah lembut melihat Cintya hanya bengong memandangi sekitar.


"dapurnya bagus banget Bu?" puji Cintya melihat dapur yang sedemikian rupa.


"ini ayahnya Akrom yang desain nduk. suka yang model etnis modern seperti ini. ibu sih ngikut aja nduk" ujar Bu maftukhah.


"nyaman banget Bu, kalau gini masak lama juga betah" ucap Cintya sambil tertawa ringan.


"alah bisa aja kamu, ibu lanjutin dulu nduk, nanti keburu siang"


"iya Bu, memangnya rumah sebesar ini tidak ada ART Bu?" tanya Cintya penasaran.


"ada nduk, tapi cuma bagian kebun sama bersih-bersih rumah. kalau untuk cuci baju sama masak ibu usahakan dilakukan sendiri" jawab Bu maftukhah sambil sibuk dengan masakan di depannya.


"memang kenapa Bu?" tanya Cintya penasaran.

__ADS_1


",karena apa yang keluarga saya makan dan kenakan. itu saya mau pastikan kerjaan keluarga saya sendiri. bukan dari orang luar rumah" balas Bu maftukhah ramah.


Cintya hanya manggut-manggut saja tidak berani bertanya lebih jauh. nanti saja mau di konfirmasikan maksud dari ucapan ibunya Akrom kepada anaknya, fikirnya.


__ADS_2