
setelah selesai makan, aku tiduran di kasur kamarku.
sambil fikiranku melayang mengingat kejadian di taman siang tadi.
tak sadar aku jadi senyum-senyum sendiri dibuatnya.
"mbak Oey" seru ridho membuatku kaget.
"apaan sih dek bikin orang jantungan aja?" omelku pada ridho.
"lagian dipanggil nggak jawab malah senyum-senyum sendiri"
"hehe. maaf deh mbak gak denger" jawabku sambil tertawa.
"bukan gak denger. tapi lagi nglamun, baek-baek mbak, ntar digondol hantu penunggu pohon taman kota Lo?" goda ridho dengan matanya genit.
"dih apaan sih? ngapain sih kesini ganggu orang aja" kudorong badan adikku agar pergi.
"yah mbak, aku mau diceritain donk soal di taman kota?" lagi-lagi mata ridho mengerlingkan ke arahku.
"ngomong apa sih dek? pakai taman kota segala?" jawabku mencoba tenang.
"dih nggak usah panik gitu juga kali mbak, aku tadi lihat mbak sama Akrom. hayo ngapain?" tanya ridho penuh selidik.
Degh!. aku yang kaget bercampur malu dengan pertanyaan ridho menjadi terdiam.
"tenang mbak, semua aman sama aku. asal mbak jujur sama aku" lanjut ridho.
aku yang sejak tadi tiduran beranjak duduk bersila disamping ridho diatas ranjangku.
"jadi kamu tahu kami berdua tadi dho?" tanyaku malu-malu sambil di tarik dan putar-putar ujung kaosku dengan jemariku
"semua mbak. jadi dia orang yang pernah mbak bilang?" tanya ridho.
aku hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"ah sialan, masa aku manggil Akrom jadi kakak sih? ah" gerutunya memaki.
"hehehe, la gimana Lo dho?" tanyaku sambil nyengir kuda.
"ya nggak apa-apa juga sih. lagian aku kenal Akrom dekat mbak, aku percaya sih dia bisa jaga kakakku ini" tangannya memegang pundak ku meyakinkan.
"terimakasih dho" ucapku memandang wajah adikku yang tersenyum seperti ikut bahagia dengan pilihanku.
"lalu pak Rian gimana mbak? nanti malah jadi salah faham Lo" ridho mengingatkanku akan hal itu.
"oh iya ya dho. besok aja mbak bilang waktu dikantor"
"serius ya mbak? biar kalian nggak ada salah faham" sambil menatapku tajam.
"iya adikku sayang" jawabku manja.
"oh iya dek, jangan bilang siapa-siapa ya soal mbak sama Akrom?" lanjutku.
"iya mbak semua aman" ucapnya mantab.
"makasih dho"
"iya mbak. tapi ada syaratnya deh, setelah ku fikir-fikir nggak jadi gratis mbak"
"lah perhitungan sama mbak sendiri" gerutuku.
"tapi masa lagi senang hatinya gitu nggak mau syukuran traktir makan adiknya?" ucapnya sambil bibir dimajukan.
"iya deh iya. kamu mau di traktir apa adikku sayang yang paling ganteng sedunia?" sambil ku acak-acar rambut ridho.
__ADS_1
"ih lebay banget, jijik tau" jawabnya dengan mimik wajah seperti mau muntah.
"aku mau martabak mbak, yang spesial daging sapi telur 6" lanjutnya.
"hadeeh, hoby kok nguras kantong mbak sih dek?" mataku melotot kearahnya.
"yaudah kalau nggak mau, besok waktu ngajar kelasku biar pada rame yang nyorakin" ancam ridho enteng.
"iya deh iya tuan, iya nanti kita beli ya?" jawabku dengan senyum menyeringai.
"nah, it's so good baby" kepalanya manggut-manngut.
malam hari aku keluar sama ridho memberi martabak yang sudah dia tagih.
kami berboncengan berdua, sampai di penjual martabak lalu kupesan martabak telur spesial daging sapi 2 bungkus.
"kok banyak banget mbak 2 bungkus? mana kuat aku habisinnya?" protes ridho atas pesanananku.
"yeee siapa juga yang ngasih semua ke kamu?"
"la itu, tadi, 2 bungkus?"
"ge-er kamu. itu buat bapak ibu juga, enak aja kamu doank makan mereka enggak" sambil kutoyor kepala adiku.
"ohhg kirain, makanya aku kaget, masa iya mbak Tya jadi baik banget gitu?" ledek ridho.
"ish awas ya kamu dek" sambil tanganku terkepal kearah depan wajahnya.
dia hanya tertawa terkekeh.
saat asyik ngobrol, tiba-tiba kami disapa oleh seorang gadis yang ternyata juga sedang antree membeli martabak.
"iya, kamu Risma anak Broatcast kan?" tanya ridho memastikan.
"iya, eh ada Bu Cintya juga?" lalu dia mencium tanganku.
"iya, kamu juga beli martabak juga?" tanyaku.
"iya Bu, eh maaf Bu, kok sama ridho?" tanyanya pelan.
"oh iya, ridho ini adik kandung saya" balasku ramah.
"oh iya Bu, maaf saya kira pacarnya" sambil ia menggaruk kepalanya.
"oh iya dho, titip salam buat temanmu Akrom ya? suruh buka chatku" gadis itu merengek pada ridho.
'hah, dia siapanya Akrom? kok minta balas chat segala?' seakan mengetahui keterkejutan ku, ridho melirikku.
"ya besok deh kalau nggak lupa" jawabnya enteng.
"jangan lupa dho, poloknya harus" gadis itu memaksa ridho yang terlihat seperti malas meladeninya.
"iya iya besok deh, yaudah aku mau Balik dulu pesanku udah jadi" ujar ridho sambil menarik tanganku.
segera kubayar martabak itu dan ridho membawa kantong kresek berisi dua kotak martabak itu.
lalu kami berpamitan pulang duluan kepada Risma. "kami duluan ya? assalamualaikum"
"iya Bu hati-hati, dho jangan lupa ya? wa'alaikumsalam" katanya sambil tertawa genit.
ridho hanya mendengus dan meninggalkannya.
__ADS_1
saat diatas motor ingin rasanya introgasi ridho tentang gadis itu tadi.
"dho itu tadi siapanya Akrom?"
"dia itu sejak kelas 1 suka akrom mbak,. tapi ya gitulah Akrom gak pernah respon"
"emang kenapa?" tanyaku heran.
"ya meskipun dia jadi primadona anak kelas lain, tapi sepertinya cara dia bikin Akrom il-feel"
"kok bisa il-feel?, kan dia cantik dek?"
"mana ada Akrom suka sama cewe genit gitu mbak? selama aku kenal Akrom, cewek yang pernah bersentuhan dia cuma mbak aja deh, malah peluk lagi" jawab ridho sambil tertawa.
"ish apaan sih kamu dek?" aku yang malu lantas kecubit pinggang adikku.
"habis mbak sih, ditempat umum peluk-peluk segala. mana di dorong lagi sama Akrom, emang enak?" lanjutnya sambil tertawa lebih keras.
"iiiiish awas kamu dek" kembali kucubit pinggangnya kali ini jauh lebih keras.
"aduh mbak ampun mbak" erang ridho.
"nggak, biar tau rasa, makanya jangan macem-macem godain mbaknya" gigiku menggertak gemas dan mataku melotot ke arahnya.
"iya mbak ampun mbak, nggak gitu lagi, lepasin mbak nggak bener nyetirnya nih" mohon ridho.
"hish. awas aja kamu ledekin mbak lagi" ancamku.
"iya mbak, nggak lagi" ucapnya sambil terus tertawa.
"memang kamu besok mau sampaikan ke Akrom soal cewek itu tadi?" tanyaku penasaran menyela tertawanya.
"males mbak, palingan juga tetap nggak di respon sama si akrom, ya biar dia diem aja sih aku jawab gitu tadi"
aku yang mendapat jawaban itu hanya bisa btersenyum tenang dan lega. senang rasanya.
"kenapa? mbak cemburu sama cewe itu tadi?"
"nggak sih, cuma kaget aja. kan belum pernah tau" jawabku beralasan.
sasampainya dirumah, kami sekeluarga menikmati martabak telur 2 porsi itu bersama-sama.
"wah ada apa ini? tumbenan beli banyak banget?" tanya bapakku sambil tangannya mencomot sepotong martabak.
"ada yang lagi syukuran pak" sambil mata ridho melirik kearahku dengan alis dinaik turunkan.
"syukuran apa nih?" kini giliran ibu mengerlingkan sebelah matanya ke arah ridho lalu kearahku.
"itu loh, syukuran putri bapak sama ibu udah terlihat calonnya" lanjut ridho menggodaku.
"hah, siapa nduk? jadi kamu nerima teman gurumu itu?" tanya bapak sambil mulutnya penuh dengan martabak.
"bukan pak, mbak jelasin mbak. apa aku yang jelasin nih?" ridho semakin melancarkan serangannya untuk menggodaku.
"heh, siapa sih? ini dua bocah yang serius kenapa sih?" kini giliran ibuku yang mendelik kearah kami.
"ada deh Bu, belum saatnya. nanti bakal Tya kenalin ke kalian deh" jawabku nyengir kuda.
"awas ya nduk, jangan macem-macem Lo" bapak memperingatkanku.
"siap bapak, tenang saja" jempol tanganku kuarahkan kepada bapak meyakinkannya.
dan kami teruskan acara makan martabak sampai habis sambil saling bercerita tentang banyak hal.
__ADS_1