
Cintya bergegas begitu bel pulang sekolah berbunyi, di parkiran sekolah ia berdiri menanti. satu persatu siswa ia perhatikan dengan harapan Akrom ia ketemukan. sayang waktu berjalan lama dan ia tak mendapatkan apa yang di nanti.
Cintya teringat sesuatu dan mengambil ponsel dari dalam tasnya, mencari sebuah kontak untuk selanjutnya ia panggil.
tuut. tuut. tuut. suara yang terdengar dari panggilan telfon milik Cintya.
-Akrom-
"hallo, assalamualaikum" jawab dari seberang panggilan sana. iya dia memang sedang menelfon Akrom menanyakan dimana dia sekarang.
-*Cintya-
"waalaikumsalam. dimana?"
-Akrom-
"perempatan menunggu bis"
-Cintya-
"hah, maksudmu? mau menghindar lagi? mau kamu apa sih? katanya tadi mau ngobrol sepulang sekolah*?" omel Cintya yang jengkel dengan tingkah Akrom kali ini.
-*Akrom-
"aku mau ambil motor di bengkel"
-Cintya-
"sudah, aku anterin kamu, tunggu disitu*" tegas Cintya yang sudah tidak bisa menahan sabarnya karena Akrom yang terus menghindarinya.
-Akrom-
"*nanti kamu kejauhan, kamu bilang aja mau dimana? nanti aku susul"
-Cintya-
__ADS_1
"udah nggak ada gitu-gituan. aku kesana. kamu tunggu, kecuali kamu sudah nggak mau berhubungan denganku*"
Kalimat terakhir Cintya seakan menjadi sebuah cambukan yang membuat Akrom seketika tidak lagi bisa mengucapkan bantahan barang sepatah kata apapun.
-Akrom-
"iya aku tunggu" ucapnya pasrah, di ikuti dengan Cintya tanpa mengucap apapun lagi begitupun salam. serta merta menutup sambungan telfonnya sepihak.
Akrom berjalan sedikit menjauh dari kerumunan orang di halte yang menunggu angkutan. Ia berdiri di depan sebuah toko yang sedang tutup, sedikit masuk agar mendapat naungan dari terik panas matahari.
Di lihatnya baik-baik dari arah sekolahnya. barangkali disana terlihat Cintya sudah muncul ia akan sedikit maju kepinggir jalan dimana tempatnya berdiri sekarang sedikit masuk yang membuatnya sedikit tersembunyi dari pandangan.
Tidak berselang lama, terlihat Cintya sudah dekat dengan motor matic kesayangannya. Akrom segera melangkah ke pinggir jalan sedikit melambai ke arah Cintya memberi tahu posisinya.
"naik" perintah Cintya ketus tanpa memandang ke arah Akrom yang juga tengah gusar.
Tanpa perintah kedua, Akrom sudah berada di atas jok motor Cintya, lebih tepatnya berposisi sebagai penumpang. dan tanpa sepatah kata apapun Cintya memutar gas motornya sedikit kasar, membuat Akrom sedikit kaget hampir jatuh kebelakang.
Cintya melajukan motornya sedikit kencang. Akrom yang di belakang tidak berani memprotesnya, baru kali ini ia melihat seorang Cintya sebegitu emosinya. ia hanya berposisi siaga barangkali sesuatu tidak di inginkan terjadi ia bisa lebih cepat mengambil alih. namun tetap saja tidak bersentuhan dengan tubuh Cintya.
Lima menit berselang Cintya telah keluar dari toilet SPBU. kini ia sudah berganti pakaian dari seragam menjadi sebuah casual long dress berwarna hitam dan cream.
Masih saja Akrom tidak berani bertanya lebih jauh. terlebih saat Cintya kembali ke motornya hanya tatapan ketus yang menghiasi wajahnya. sorot mata yang masih membara terarah kearah Akrom.
Hampir satu jam Cintya melajukan motornya menuju pinggiran kota, di sebuah tebing yang berada di tepi pantai selatan jawa. Ia memarkirkan motornya dan melenggang masuk ke arah tepian tebing, mencari tempat sejuk di bawah pohon yang tumbuh di atasnya.
Akrom dengan langkah pelan-pelan mengikuti Cintya. di sebuah batu yang lebih tinggi, berada di bawah pohon tepat. Cintya duduk menghadap ke lautan lepas, matanya tajam mengarah ketengah lautan. dari bola matanya terpantul gambaran ombak yang sedang menggulung berkejaran kearah tepi.
"kamu mau menjelaskan apa?" buka Cintya tanpa menoleh kearah Akrom setelah sekian menit berlalu tanpa ada perkataan apapun.
"aku tahu, aku tidak lagi bisa bersembunyi darimu untuk menjelaskan semua. karena kamu sudah membawaku kesini, aku tidak bisa beralasan kesana-kemari lagi, dan aku juga tahu bahwa aku tidak akan meninggalkanmu disini hanya karena alasan menghindarimu" ucap Akrom mengawali jawaban atas pertanyaan dari Cintya.
Akrom menghembuskan nafas pelan sebelum melanjutkan kalimatnya. "sebelumnya aku minta maaf membuatmu khawatir, aku hanya perlu waktu untuk sendiri. makanya saat itu aku mengirim pesan 'jangan khawatir' juga karena aku mengkhawatirkanmu"
"kalau sudah tahu begitu kenapa tidak memberi kabar?" kini nada Cintya sedikit meninggi, ia menoleh kearah Akrom dengan pandangan heran dengan tingkah Akrom.
__ADS_1
"di atas tidak ada sinyal" jawab Akrom lemah.
"kenapa sebelum berangkat tidak mengirim pesan terlebih dulu?" tanya Cintya lagi dengan cepat.
"maaf, mungkin aku sedang tidak ingin di ganggu siang itu. ada banyak kekecewaan yang aku rasakan. namun tetap saja apa yang aku rasa benar tidak sepenuhnya benar" Akrom berucap lemah meratapi ke egoisannya.
"adakah kalimatku yang mengatakan kamu salah atas kekecewaan yang kamu rasa?" sergah Cintya langsung saat ia rasa Akrom telah menuduhnya menyalahkan rasa kecewa yang di alami Akrom. entah itupun rasa kecewa atas apa, Cintya belum menemukan jawabannya.
"aku tidak menyebutmu menyalahkanku, hanya kebenaran yang sebenarnya hanya milik Tuhan. seharusnya aku tidak seegois itu untuk mementingkan diriku sendiri hingga merasa kekecewaanku itu sudah benar" terang Akrom tidak ingin salah faham.
"begini, tentang masalah kemarin adalah soal rasa kecewaku ketika guru yang seharusnya di hormati dilecehkan dengan kalimat mereka. kekecewaanku selanjutnya adalah aku tidak dapat menahan emosiku hingga berkelahi. harusnya ada cara lain. kekecewaanku yang mendasar adalah, aku tidak bisa berbuat apa-apa hingga guru yang aku hormati mendapat pelecehan seperti itu" lanjut Akrom panjang lebar yang di simak dengan seksama oleh Cintya.
"kamu tidak kecewa dengan skorsing?" tanya Cintya yang heran karena Akrom tidak menyebutkan skorsing masuk dalam daftar kekecewaannya.
"tidak, itu konsekwensi. aku berbuat sesuatu mbak. itu ada resikonya." ujar Akrom mantab.
Cintya menarik nafas dalam-dalam. ia mencoba menerima semua alasan Akrom. hanya saja ia masih terganjal oleh ribuan pertanyaan yang masih membebani otaknya.
"justru dengan skorsing, aku bisa introspeksi diri" lanjut Akrom setelah sekian detik mereka terdiam.
"apa yang kamu dapat?" tanya Cintya menyelidik.
"aku tahu harus lebih menahan emosi, ada banyak cara lain menyelesaikan masalah. aku tidak seharusnya seegois itu" ucap Akrom singkat, karena ia sebenarnya mengulang kalimat yang tadi dijelaskannya kepada Cintya.
"lalu, siapa guru yang kamu maksud? sampai kamu merasa bersalah?" tanya Cintya masih dengan nada judes.
Akrom hanya terdiam, ia kaget dengan pertanyaan Cintya kali ini. netra yang sejak tadi tenang menatap kearah lautan, kini tengah gusar menunduk menyembunyikan pandangannya.
"siapa? kenapa tidak menjawab? kamu hanya mencari alasan untuk membuatku membenarkanmu?" lanjut Cintya setelah tidak mendapat jawaban dari mulut Akrom.
"mmm, itu" ucap Akrom seketika gagap untuk menjawab yang sebenarnya.
"sudahlah Krom. mungkin ada sesuatu lain yang kamu sembunyikan dariku. tidak seharusnya aku terlalu percaya diri mengajakmu kesini" ujar Cintya meraih tasnya.
"ayo kita pulang" ucap Cintya tengah berdiri meninggalkan tempat duduknya.
__ADS_1
"kekecewaan terbesarku adalah tidak bisa menjagamu" ucap Akrom sedikit pelan namun masih dapat terdengar oleh Cintya. masih ia dengan posisi duduk menghadap lautan.