Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Penyesalan Cintya


__ADS_3

Akrom telah selesai mandi dan mengganti bajunya dengan baju santai yang ia bawa. lalu ia keluar dari kamar dan menggantungkan bajunya yang beberapa basah akibat hujan ke tempat gantungan baju.


Didapatinya Cintya sudah tertidur terlentang dengan pulasnya masih dengan handuk di kepalanya menutupi rambut.


Akrom duduk di kursi dan sedang memikirkan sesuatu yang sangat mengganggu benaknya.


...----...


Setelah beberapa jam tertidur, Cintya terbangun dari tidurnya karena terasa haus, karena setelah hujan mereka sama sekali tidak terfikirkan untuk sekedar membeli camilan dan air minum.


Cintya kaget setelah tubuhnya kini sudah berselimut menutupi Sampai sebatas leher, dan handuk masih hinggap di kepalanya. Ia melihat ke seluruh sudut kamar mencari-cari sosok Akrom yang tadi di ingatnya ke kamar mandi.


"krom?" panggil Cintya berulang kali.


Ia bangkit dari kasurnya dan berjalan mendekat ke arah kamar mandi, di lihatnya lampu sudah mati dan tidak ada orang di dalam.


Cintya kembali ke tempat tidur dan di dapatnya kantong kresek berisi air minum dan roti serta camilan yang tergeletak di atas nakas.


"Krom kemana sih? nggak usah bercanda deh" panggil Cintya mencari Akrom.


di lihatnya tas Akrom sudah tidak ada. "hah? masa iya aku di tinggal pulang sih?" gerutunya.


Lalu di bukanya ponsel dan menghubungi nomor Akrom, lama tidak ada jawaban Cintya terus menghubungi ulang.


-Akrom-


"assalamualaikum" sapa Akrom dari ujung telfon sana dengan suara serak seperti orang yang sedang tidur.


-cintya-


"wa'alaikumsalam, kamu dimana sih? kok ninggalin aku? kamu pulang duluan? kok bisa? ngapain nggak bangunin aku? gimana sih krom?" omel Cintya panjang lebar.


Akrom hanya membalasnya dengan suara tertawa lirih.


-cintya-


"tuh nyebelin kan? udah ninggal malah di ketawain lagi. aku kecewa sama kamu krom, nggak konsisten sama janji ke bapak kamu" lanjut cintya sewot dan memutuskan sambungan telfonnya.


"huh dasar cowok nyebelin" gerutu Cintya.


Tak lama ponsel Cintya bergetar, terlihat panggilan video dari Akrom tertera di layar ponselnya.


-cintya-


"apa? mau pamer kalau udah pulang?" sergah Cintya secara langsung.


-akrom-


"lupa ya kalau harus salam dulu?" tanya Akrom sambil tertawa yang di tahan.


-cintya-


"wa'alaikumsalam. udah nggak usah ketawa" balas Cintya ketus.


"-akrom-


"nih lihat, aku di sini kok" Akrom mengarahkan kamera ponselnya untuk memperlihatkan sekeliling.


-cintya-

__ADS_1


"mana itu? kaya pernah lihat" tanya Cintya sambil mengingat-ingat sesuatu.


-akrom-


"*aku tidur di mushola tadi Tya, kamu udah aku beliin air sama roti buat makan. tadi belum sempet makan dari siang kamu"


-cintya-


"kok tidur situ sih? kan dingin krom?"


-akrom-


"tenang aja, aku inget tadi di Vespa ada sleeping bag, jadi aku pakai aja biar nggak dingin"


-cintya-


"ya tetep aja kamu diluar krom, kedinginan kamu nanti*" celoteh Cintya yang khawatir.


-akrom-


"*udah tenang aja, aman kok. kamu kalau perlu apa-apa bilang aja. kamu makan dulu gih itu"


-cintya-


"kamu kenapa tadi nggak bangunin aku krom? kamu tidur situ gara-gara aku tidur makan tempat ya*?" tanya Akrom dengan wajah tidak enak.


-akrom-


"enggak, kamu tidur nyenyak banget kasihan kalau di bangunin. lagian kita juga belum muhrim dan tidak ada unsur darurat, masa iya aku tidur seranjang sama kamu?" jawab Akrom memberi penjelasan.


-*cintya-


"ya kan kamu bisa tidur dibawah kek, ngapain harus di mushola Akrom?"


-akrom-


-cintya-


"iya aku makan, makasih ya krom? kamu udah makan?"


-akrom-


"udah kok, tadi makan roti itu juga. kamu makan dulu, nanti kalau perlu apa-apa bilang sama aku"


-cintya-


"iya Akrom, muridku yang paling baik. maaf ya jadi ngrepoti kamu?"


-akrom-


"aku mah udah biasa kamu repotin mbak, nggak usah sok nggak enak gitu deh"


-cintya-


"tuh kan, habis manis-manis gitu tiba-tiba jadi ngeselin banget? syukur deh kamu nyebelin jadi aku nggak ada penyesalan kamu tidur di luar*!" jawab Cintya sewot dengan memperlihatkan wajah cemberutnya.


-*Akrom-


"hehe, biarin. yasudah makan dulu gih, jangan lupa sholat isya' dulu. trus tidur lagi istirahat"

__ADS_1


-cintya-


"iya bos. siap*" balasnya semangat.


-akrom-


"*yaudah aku tidur dulu ya? kamu jangan malam-malam tidurnya biar besok pagi nggak kecapekan"


-cintya-


"iya krom, assalamualaikum"


-akrom-


"wa'alaikumsalam Tya*"


Cintya mematikan ponselnya dan segera meraih kantong kresek yang ada di atas nakas dan langsung menyantap isinya.


Setelah selesai, lekas ia menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat isya'.


Sehabis sholat isya' Cintya menyenderkan punggungnya di kepala ranjang memikirkan kejadian yang terjadi sepanjang siang ini.


"krom, maafin aku yang sudah menyusahkanmu hari ini, egoisnya aku yang seharusnya langsung memberimu maaf waktu itu tanpa syarat ini itu. jujur aku sudah memaafkanmu sejak hari itu" sesal Cintya dengan air mata yang sudah terjun bebas membelah pipi imutnya.


"krom, maafkan aku" ucap Cintya dalam hati, setelah mengingat apa yang harus di tanggung Akrom sejak pagi hari. Yang sudah harus mengantarnya perjalanan jauh, sesampainya di tujuan Akrom malah mendapat perlakuan tidak mengenakan dari kak Rizky, malam harus berbasah menjaganya, bertanggung jawab atas dirinya, bahkan untuk istirahat pun ia masih harus mengalah untuk tetap bertanggung jawab atas diri mereka.


Isak tangis memenuhi ruang kamar itu, sedikit tersamar oleh cuara gemercik hujan yan sudah berangsur reda.


Cintya meraih kerudung yang ada di dalam tas, mengenakan dan segera pergi keluar kamar hotel, sedikit berlari keluar menuju mushola tempat ia dan Akrom sholat Maghrib sore tadi.


Di tempat lain Akrom yang sudah tertidur, terusik oleh suara tangisan perempuan yang terdengar tidak jauh darinya.


"astaghfirulloh, saya numpang istirahat jangan ganggu ya?" ucap Akrom dengan suara seperti orang takut dimana posisi kepala masih tertutup topi sleeping bag.


"krom" panggil suara yang sedari tadi menangis itu.


Akrom tubuhnya menegang, setelah ia mengenali suara yang memanggil namanya, lantas ia membuka resleting sleeping bagnya mengintip kearah luar dan mendapati sosok Cintya sudah duduk di sebelahnya.


"loh kok kamu kesini? kenapa nangis?" tanya Akrom heran.


"krom, aku boleh memelukmu?" tanya balik Cintya tanpa menjawab pertanyaan Akrom.


"hah? kenapa? kita kan belum muhrim?" Akrom memandang wajah cintya.


"tolong jangan pandang aku seperti itu, aku malu, aku menyesal" ucap Cintya menundukan wajahnya masih dengan air mata mengalir di pipinya.


"kamu kemana?" tanya Akrom heran.


"maafin aku krom, harusnya aku memaafkanmu hari itu, memang aku sudah memaafkanmu. harusnya cukup begitu saja tanpa perlu syarat ini itu untuk memaafkanmu"


"maksudnya apa sih?"


"maaf krom, karena egoisku, kamu harus capek-capek nganterin aku, kamu harus bertengkar sama kak rizky, kamu harus tanggung jawab jagain aku sampai detik ini sekalipun kamu harus mengalah tidur disini demi jagain aku" tangis Cintya pecah menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya dengan posisi duduk meringkuk.


Akrom hanya tersenyum dan memegang atas kepala Cintya yang tertutup jilbabnya "Cintya, asal kamu bahagia, insya'ALLOH aku tetap usahakan buat kamu. dan apapun yang terjadi termasuk dihari ini, jujur aku senang sudah sedikit bisa menjagamu. meskipun sekali lagi itu dalam keterbatasanku"


Cintya mendongakkan wajahnya melihat sorot mata Akrom yang begitu teduh dengan senyum Manis di wajahnya.


"dan kamu jangan nangis. Cinta itu menguatkan bukan melemahkan" Akrom melepaskan tangannya dari kepala Cintya.

__ADS_1


Cintya yang melihat wajah Akrom merasakan ada kenyamanan yang terpancar darinya, ada rasa terlindungi meskipun ia tak bisa menyentuhnya secara fisik.


Cintya menuntaskan tangisnya di hadapan Akrom di serambi mushola malam itu.


__ADS_2